
"Ada masalah apa papa sama mama memanggilku untuk pulang?" tanya El yang langsung masuk ke ruang kerjanya tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.
Bukannya langsung menjawab, mama dan papanya malah memberikan tatapan tajam penuh amarah pada El.
Di dalam ruangan itu bisa terasa aroma peperangan antara orang tua dan anaknya akan di mulai. Memang sedari dulu El dan kedua orang tuanya tak pernah sependapat.
Apalagi El bukanlah putra kandung tuan Aristya dan nyonya Sarah. Ia hanya anak yang diambil di sebuah panti asuhan, sejak nyonya Sarah sudah dipastikan tidak bisa mempunyai keturunan akibat operasi pengangkatan rahim yang ia alami.
Flashback on....
35 tahun yang lalu, sebuah kecelakaan hebat terjadi. Mobil Sarah yang dikemudikan adiknya Sirih seperti sudah di incar oleh seseorang. Sesaat setelah mereka keluar dari rumah sakit, untuk memeriksakan kandungan Sarah, tiba tiba ada sebuah mobil yang terus memepet mobil mereka.
"Kak, nih mobil kenapa sih?" tanya Sirih.
"Dek, jalannya hati hati dong. Kakak takut," jawab Sarah.
"Iya kak, ini juga udah hati hati. Tapi mobil merah dibelakang kita sepertinya sengaja memepet mobil kita terus kak," ujar Sirih kembali.
Karna sibuk melihat spion belakang, tanpa disadari Sirih di perempatan depan sudah ada truk muatan yang menghadang mobil mereka.
Duaar...
Mobil mewah berwarna kuning itu berputar putar di jalanan, dan menewaskan Sirih di tempat kejadian. Tapi berbeda dengan Sirih, Sarah selamat dalam kecelakaan itu.
Akibat benturan keras di perutnya, Sarah terpaksa kehilangan buah hatinya bersama Aristya. Bahkan ia harus mengalami operasi pengangkatan dinding rahim yang membuatnya di pastikan tidak akan memiliki keturunan seumur hidup.
Karna kejadian itu, Sarah depresi hingga akhirnya Aristya pergi ke sebuah panti asuhan dan melihat sesosok anak laki laki yang sedang duduk sendiri sambil bermain mobil mobilan.
"Siapa anak itu, berapa umurnya dan kenapa dia bisa di panti ini?" tanya Aristya pada pemilik panti.
"Namanya Vano tuan, usianya menginjak 5 tahun. Dulu dia di temukan di sebuah gubuk kecil di dalam kardus. Dan pihak kepolisian menaruhnya di panti ini. Dia anak yang suka menyendiri dan sulit bergaul dengan anak lainnya," jelas pemilik panti.
Aristya diam sejenak, sembari memegangi dagunya.
"Saya akan adopsi dia, tapi ingat tidak ada yang boleh tahu jika Vano adalah anak yang saya ambil di panti. Karna mulai hari ini dia bagian dari keluarga Aristya. Mengerti?"
"Mengerti tuan."
"Sebagai tanda terima kasih saya, saya akan memberi sumbangan seumur hidup ke panti ini."
__ADS_1
"Terima kasih tuan, saya pastikan tidak ada yang tahu tentang siapa Vano sebenarnya," jawab Ibu pemilik panti.
Hingga hari itu tiba. Vano masuk ke sebuah rumah yang seperti istana. Dan semenjak kehadiran Vano, emosi Sarah mulai stabil. Karna Vano selalu membuat hari harinya menjadi indah. Dan namanya sudah dirubah menjadi Elvano Aristya.
Sarah dam Aristya menganggap El sudah seperti anak kandung mereka. Hanya saja siapa El semakin besar semakin menjadi anak pembangkang. Ya mungkin itu sifat dari orang tua kandungnya, tapi Aristya tidak masalah karna sifat mereka memiliki sifat yang sama sama keras.
Dan karna alasan itu, El ingin menguasai harta kedua Aristya dan Sarah. Ia sadar dia hanyalah anak pungut. Sayang, ambisi itu dapat dibaca oleh Aristya. Hingga suatu hari hubungan El kandas dengan Tania. Bahkan beberapa kali El menyalahkan kedua orang tuanya atas kandasnya hubungannya.
Akhirnya Aristya memberikan syarat pada El jika mau menjadi pewaris tunggal, ia harus segera menikah dan semua harta akan dialihkan atas nama dirinya.
Flashback off...
"Kalau bicara dengan orang tua bisa sedikit sopan tidak El? Semalam tidur dimana kamu?" nyonya Sarah mencoba bicara baik baik pada putranya itu.
"Bukan urusan kalian. Kenapa kalian masuk ruanganku tanpa ijin?" kini giliran El yang membuat emosi mama dan papanya meluap.
Haris yang baru tiba hanya berdiri di depan pintu. Mau masuk takut di marahi nyonya dan tuan besarnya, tapi kalau mundur bisa di potong gajinya karna tak menurut dengan perintah bosnya.
"Gimana ini, mending berdiri aja lah disini. Lumayan kan kalau dapet info, bisa buat senjata dapat uang dari tuan El," batin Haris sambil menahan tawa di dalam hati.
Tiba tiba ada suara langkah kaki mendekat kearah dirinya. "Haris masuk, kamu juga terlibat bukan?" nyonya Sarah membuat Haris hanya diam sambil berjalan mengekor di belakang nyonya Sarah.
"Pah, mah, mau kalian apa sih? Kalian sudah membuat aku menunda pertemuanku dengan klien. Katanya mau bicara?" El mengepalkan kedua tangannya, membuat rasa penasarannya semakin memuncak.
"Jelaskan ini? Apa maksud dari isi di dalam kertas itu?" El terdiam melihat map berisi perjanjian dirinya dan Chika serta terdapat tanda tangan Haris disana sebagai saksinya.
"Kenapa mereka bisa menemukannya? Berarti benar dugaanku, kalau papa dari kemarin mencari tahu soal hubunganku dengan Chika. Ahh sial..," gumam El. Ia merutuki kebodohannya, harusnya map itu jangan ia taruh di rumah itu.
Tak hanya El, wajah Haris juga ikut menegang. Ditambah pandangan nyonya Sarah tak beralih dari dirinya.
"Ris, siap siap aja jadi penggembala kerbau di desa. Habis ini gak bisa lagi deh naik mobil mewah, yang ada naik traktor di sawah," batin Haris dengan kepala tertunduk.
Baik El dan Haris sudah tak bisa berkata apa apa. Bukti sudah di tangan, ditambah kebohongan kebohongan yang lain yang sudah di dapat dari papanya dari Reza.
"Kenapa diam El? Segitu terobsesinya kamu pada harta papa? Kami sudah menganggap kamu seperti...," Pak Aristya menghentikan ucapannya, saat ekor matanya beralih ke Haris yang juga berdiri disana.
"Pah, sudah," nyonya Sarah berusaha menyadarkan suaminya.
Suasana kembali sunyi. Tak ada kelanjutan pembicaraan mereka, hingga tuan Aristya berjalan mendekat ke arah El.
__ADS_1
"Jauhi Chika!!"
Ucapan papanya seperti sambaran petir bagi El. Baru saja ia mulai membuka hati, sekarang sudah di pisahkan lagi.
Seharusnya El senang bukan? tapi ternyata tidak. Entah kenapa hatinya hampa dan sakit saat mendengar permintaan papanya.
"Tapi pah, El sudah mulai mencintai Chika," ujar El yang akhirnya mau mengakui perasaannya di depan Haris dan kedua orang tuanya.
Tuan Aristya dan istrinya saling bertatapan. Ada sedikit lengkungan di bibir mereka.
"Baiklah El. Jika benar kamu mencintai Chika, nikah dia dan berikan kami cucu. Karna harta papa akan sepenuhnya menjadi milik kamu jika kamu bisa memberikan kami cucu, gimana?" tuan Aristya berhasil membuat El galau bukan main. Bagaimana bisa ia memberikan cucu pada mereka, jika dia sendiri gak tahu Chika juga mencintai dia atau tidak.
El mengusap wajahnya kasar. Bingung apa harus bilang iya atau enggak. Sedangkan dibelakang El, Haris memalingkan wajah merasa puas dengan tekanan yang dialami bosnya.
"Rasain bos, emang enak dikasih pilihan. Itu yang kemarin saya alami waktu bos mengancam saya," dalam hatinya Haris cekikian melihat wajah El yang mulai gusar.
"Gimana El? Putus atau lanjut?" tanya papa kembali.
"Kasih El waktu pah," jawab El.
"Tidak!! Kami sudah anggap kamu menolaknya. Jadi mama sudah anggap hubungan kamu dan Chika selesai," mama benar benar membuat El semakin gila.
"Baik baik. El akan menikahi Chika secepatnya dan memberikan cucu untuk kalian," sebuah kalimat keluar dari mulut El, hingga membuat tuan Aristya, nyonya Sarah dan Haris melebarkan senyumnya.
"Kami tunggu janji kamu El," jawab papa.
"Ada lagi yang mau kalian bicarakan? El ada janji sama klien. Jika tidak El mau pergi sekarang."
"Pergilah El, jangan lupa bawa lolly mama kerumah siang ini ya," sela mama.
"Hmmm," jawab El sembari pergi meninggalkan ruang kerjanya.
"Ris, kita ke kantor sekarang," ujar El.
"Baik pak."
Haris bergegas mengejar El yang terlebih dulu berjalan di depannya. Dan tiba tiba saja ponselnya bunyi. Sebuah pesan ia dapat dari tuan Aristya.
"Terima kasih buat infonya. Saya sudah transfer uangnya ke rekening kamu," tulis tuan Aristya.
__ADS_1
Bibir Haris melebar, sesaat setelah mengecek saldo di m-banking nya.
"Aku kira bakal dapat bom bunuh diri, eh gak taunya dapat rejeki nomplok. Ini yang namanya sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Udah dapet uang dari anaknya, dapat pula dari bapaknya. Haris emang otak kamu encer. Pinter banget mengais rejekinya. Maafkan saya ya Pak El, habis bapak pelit sih. Jadi saya cari tambahan aja dari tuan Aristya. Toh bapak seneng juga kan bisa celap celup sama non Chika sehabis nikah. Saya untung bapak juga," batin Haris sembari memasukkan ponselnya dengan hati bahagia.