Terjerat Pernikahan Di Atas Kertas

Terjerat Pernikahan Di Atas Kertas
Minta Endorse


__ADS_3

El berjalan dengan senyuman yang lebar. Hatinya tengah berbunga-bunga. Sekian lama ia merasa trauma akan cinta, menganggap cinta itu malapetaka, tapi mulai hari ini semua berubah. Semenjak datangnya Chika, rasa yang semula benci dan kesal sekejap berubah menjadi rasa sayang, perhatian dan cinta.


"Gak sabar buat nanti malam, pasti didalam dia udah mikir yang bukan bukan. Biarin aja, biar penasaran," batin El tersenyum saat mengingat wajah suram Chika tadi sebelum ia tinggal pergi.


Dari belakang, tiba tiba ada suara yang tak asing berteriak memanggil namanya.


"El tunggu."


Saat menoleh, mata El terbelalak lebar. Melihat kedatangan mamanya dengan kalung bunga di tangannya.


"Congratulation my boy. Sebentar lagi kamu akan melepas masa lajangmu ya," ujar mama sembari mengalungkan bunga di leher El.


"Ini apa mah?" tanya El bingung.


"Bunga lah El. Jangan bilang kamu gak tau bunga!" mata mama menyelidik, takut jika El tak tahu bentuk bunga selama ini.


"Ya aku tahu sih mah, tapi ini bunga kamboja loh. Bunga yang biasanya di kuburan," protes El.


"Udah jangan kebanyakan protes. Habis bunga di kebun mama belum mekar, adanya bunga ini. Anggap aja sama lah El,kan mendadak juga buatnya. Tapi lumayan bagus kan?" tanya mama diikuti suara deheman El.


Haris terkekeh dari arah depan pintu. Melihat bosnya memakai kalung bunga hasil karyanya.


Cekrekk...


Diam diam Haris mengambil foto El. Siapa tahu dengan memajang foto El dengan kalung bunga hasil karyanya, ia akan mendapat uang tambahan dari pemesanan kalung tersebut.


"Tinggal pasang di facebook dan instagram, aku yakin pasti banyak yang pesen nih. Modelnya aja ganteng gini," batin Haris sambil cekikikan sendiri melihat hasil jepretannya.


Selesai dengan sesi pengambilan gambar, Haris berjalan menghampiri El dan nyonya Sarah.


"Selamat ya bos. Akhirnya menikah juga," ujar Haris.


El menatap mata mama dan Haris silih berganti. Bingung, darimana mereka tahu jika dirinya baru saja melamar Chika. Cerita sama mereka saja belum, kok bisa tahu.


"Mah, Haris...," ucap El sambil menatap penuh tanya pada kedua orang di hadapannya.


"Maafkan kami El, tadi kami menguping pembicaraan kamu dan Chika dari balik pintu. Habis mama kepo sih, saat mama dengar kamu berteriak kencang," ujar mama dengan sedikit terkekeh.


"Wah kalau saya jangan ditanya bos, cuma disuruh nyonya," Haris mencari alasan paling aman.


"Sudah ya mah, El titip Chika. El mau kembali ke kantor. Masih banyak pekerjaan yang menunggu El disana," pamit El.


"Iya El. Hati hati," teriak mama.


"Catering, wedding organizer, gedung, make up artis sama undangan pernikahannya gimana? Mama pesenin aja ya," teriak mama kembali.


"Terserah mama," jawab El malas. Iya kan aja lah ucapan mamanya, toh siapa lagi kalau bukan mamanya yang mau membantu dirinya untuk persiapan pernikahannya dengan Chika.


El mulai berjalan menjauh, namun ia tak melihat Haris berjalan entah disamping atau di belakangnya.

__ADS_1


"Haris mana ya? Kok gak ada?" El celingukan mencari ke kanan, ke kiri dan ke belakang.


Rupanya dugaan El benar, orang ya ia cari malah asyik mengobrol dengan mamanya. Pasti sedang membicarakan soal pernikahannya dan Chika.


El mundur kembali. Ia segera menarik tangan Haris.


"Ris, ngapain disini. Ayo berangkat ke kantor, kerjaan kita masih banyak," tegas El.


"Loh sama saya juga ya Pak. Saya kira bapak ke kantor sendiri."


"Ris, ini mumpung mood saya lagi bagus loh. Kamu mau buat mood saya jadi jelek?"


"Eh enggak dong pak, mari pak saya antar ke kantor. Nyonya saya permisi dulu ya," pamit Haris.


"Iya Ris, makasih ya," ujar mama.


"Sama sama nyonya."


Sesaat El dan Haris keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobil.


"Mau kemana kita pak?"


"Ke rumah dora tanya peta," El menjawab penuh kesal.


"Dora? Doraemon apa dorayaki pak?"


"Rumahnya mana pak?" tanya Haris kembali.


El menarik nafasnya dalam dalam lalu membuangnya perlahan.


"Jl. Kenangan 5 dekat mall grand city," jawab El malas. Seperti orang bodoh ia meladeni ucapan Haris sekarang.


Haris menoleh ke belakang. Memasang wajah penuh tanya.


"Itu kan alamat kantor pak? Disana ada dora Explorer pak? Wah apa mau syuting dikantor ya pak?" Haris benar benar sudah membuat tangki kesabaran El yang semula full sekarang menjadi emergency.


Bruukk..


El melempar bantal kecil ke arah Haris.


"Ya memang ke kantor Haris. Dari tadi saya kan udah bilang ke kantor, tapi kamu masih aja nanya."


"Oh iya ya pak. Maaf ya pak. Makanya Pak El jangan nahan gaji saya. Biar saya lebih bisa fokus kerja pak," rengek Haris. Ia mencurahkan uneg unegnya yang dari kemarin ia tahan.


"It's oke no problem, saya akan berikan gaji kamu bulan ini. Tapi saya masih ada satu tugas lagi buat kamu."


"Tugas apa lagi pak?" Haris mendengus kesal dalam hati.


"Sini telinga kamu," El memanggil Haris, lalu membisikkan rencananya untuk Chika nanti malam.

__ADS_1


"Baik pak, laksanakan. Jadi saya juga ikut pak?" tanya Haris.


"Iya. Pokoknya semua harus berjalan lancar."


"Pasti pak. Tapi boleh gak pak saya ajak Maya?"


El mengernyitkan dahinya, memicingkan sebelah matanya, dan menatap Haris secara intens.


"Maya? Ada hubungan apa kamu sama dia?" tanya El menyelidik.


"Hehehe, hanya berteman sih pak tapi lagi on the way ke arah pacaran," jawab Haris sedikit malu malu kucing.


El tertawa, ternyata asistennya bisa aja mengambil kesempatan dalam kesempitan.


"Kamu menyukainya? Sejak kapan Ris? Kok saya gak tahu?"


"Belum suka juga sih pak. Lagi mengagumi."


"Cie cie... Akhirnya kamu bisa naksir cewek juga. Jangan kelamaan menyatakan perasaannya, keburu hilang di embat orang tuh Maya."


"Makanya nanti malam saya mau minta ijin buat ajak Maya pak. Karna nanti malam saya mau menyatakan cinta sama Maya. Kan mumpung ada Pak El nih, jadi saya minta sponsor ya pak buat nembak Maya. Bayari juga makan malam saya nanti," ujar Haris.


El terkejut bukan main. Mana ada orang mau nembak doi nya tapi minta di sponsori bosnya.


"Haris, Haris, mau ngajak jadian cewek aja minta di endorse apalagi besok nikah. Kamu itu kelewat banget pelitnya. Seumpama Maya menerima cinta kamu, semoga dia gak menyesal punya cowok pelit kayak kamu," batin El sambil mengelus elus dagunya sendiri.


"Gimana pak? Mau ya pak?"


"Hmmm, gimana ya Ris."


"Nanti saya akan buat moment terindah yang bikin non Chika klepek klepek sama bapak deh."


"Yakin bisa?"


"Yakin 1000 persen," jawab Haris penuh percaya diri.


"Oke, deal. Kamu boleh ajak Maya dan dating kalian saya yang bayar. Tapi kalau Chika menganggap semua biasa aja, dating kamu masuk ke kasbon, gimana? Setuju gak?"


"Oke pak siapa takut," Haris menerima tantangan dari El.


"Sekarang jalankan mobilnya dengan cepat agar segera sampai ke kantor," titah El.


"Siap 68 pak."


"Salah Ris, 86," ucap El.


"Oh iya kebalik pak. Siap 86," jawab Haris yang langsung menyalakan mesin mobil.


Breeemmm...!!

__ADS_1


__ADS_2