
"Pak El, tunggu saya," Haris berteriak, membuat langkah El terhenti.
"Ada apa Ris? Kenapa kamu ikut saya? Saya sudah tidak punya apa apa. Lebih baik kamu kembali dan tetap bekerja di perusahaan papa," El kembali melanjutkan langkah kakinya.
Haris tetap tidak kembali. Dirinya malah berjalan mengekor mengikuti El dari belakang.
"Ris, ngapain kamu ikutin saya," ujar El yang langsung berhenti hingga tubuh Haris menabrak dirinya.
"Hehehe, Pak El jangan galak galak lah. Kita ini sekarang setara pak. Sama sama orang tidak punya."
"Makanya, karna sekarang kita sama buat apa kamu ikut dengan saya!" seru El.
Haris malah tersenyum. Biasanya dia akan takut melihat wajah El, namun ini malah tidak.
"Apa dia ingin mengejek dan menghinaku dengan keadaanku sekarang? Atau dia diminta papa dan mama untuk mengawasiku. Sudahlah, lebih baik aku pergi. Daripada aku mengurus Haris. Malah bikin sakit hati," batin El.
El kembali melanjutkan langkahnya keluar dari kediaman Aristya, orang tua angkatnya. Ia semakin mempercepat langkah kakinya, berusaha menghindar dari Haris yang masih saja membuntutinya.
Karna sibuk menoleh ke belakang, El menyebrang tanpa melihat situasi.
Brukkk..
Haris dan El jatuh di tepi jalan. Dari kejauhan Haris berlari saat melihat El hampir tertabrak.
"Bapak baik baik saja?" tanya Haris.
"Iya saya baik baik saja Ris. Buat apa kamu menyelamatkan saya. Saya bukan lagi bos kamu. Dan kenapa kamu masih mengikuti saya? Apa mama dan papa yang menyuruh kamu untuk mengawasi saya?" tanya El menatap curiga pada Haris.
Haris menggeleng. Ia duduk bersila, menatap kedepan dengan sedikit lengkungan terulas di bibirnya.
"Tidak pak. Tadi tuan malah menyuruh saya untuk meninggalkan bapak dan bekerja dengan beliau. Bahkan tuan Aristya memberi saya tawaran gaji 3M tiap bulan tapi saya menolaknya," kata Haris.
Kedua bola mata El melotot. 3M di tolak Haris? Apa ini gak mimpi? Itu tawaran gaji yang sangat tinggi. Bahkan gaji yang ia berikan pada Haris hanya 0,1 dari tawaran papanya. Kenapa Haris menolaknya? El masih bingung dengan keputusan Haris.
__ADS_1
"Apa saya gak mimpi? Kenapa kamu malah memilih untuk tetap bersama saya?" tanya El karna penasaran. Dirinya masih tak percaya dengan apa yang baru saja Haris katakan.
Haris mengangguk. "Iya pak. Selama ini bapak selalu baik dan royal sama saya. Ya meskipun sering menyusahkan dan mengurangi waktu tidur saya sih pak," ucap Haris hingga membuat El kembali menatap dirinya sinis.
"Tapi saya sudah tidak punya rumah, mobil bahkan perusahaan Ris. Lebih baik kamu cari pekerjaan baru saja," titah El sambil berdiri kembali.
"Bapak tenang saja. Saya kan punya apartemen yang pernah bapak berikan untuk saya. Mobil pemberian dari bapak juga masih ada dan uang bonus setiap bulan dari bapak juga masih utuh. Silahkan bapak ambil lagi semuanya, kita bisa mulai dari nol pak. Kita buat perusahaan yang lebih besar dari milik tuan Aristya. Saya yakin, Pak El mampu. Dan saya janji saya akan selalu berada di samping bapak dan membantu bapak mencari non Chika."
El sungguh terharu. Ia tak menyangka, dibalik sikap Haris yang mata duitan dan otaknya seperti udang ternyata dia punya hati yang baik dan setia.
"Terima kasih Ris. Kamu memang asisten sekaligus sahabat dan saudara saya. Disaat saya keluar dari rumah papa, saya kita hidup saya sudah hancur. Keserakahan saya membuat saya kehilangan segalanya termasuk istri dan calon anak saya. Tapi ternyata saya masih punya kamu. Sekali lagi terima kasih Ris," El memeluk Haris dengan haru. Bukan pelukan seorang bos pada asistennya, namun pelukan seorang sahabat dan suadara.
"Sama sama Pak. Tapi tolong lepas dong pak. Semua orang lagi ngeliatin kita. Dipikir nanti kita pisang makan pisang dong pak," ucap Haris.
"Pisang?" El melepaskan pelukannya sambil menatap Haris heran.
"Tapi saya gak makan pisang Ris," ucap El kembali.
Haris menepuk jidatnya. Semenjak menikah, Haris merasa otak bosnya itu semakin lemot. Gara gara darah dia kehilangan istrinya, sekarang ngomong pisang juga gak ngerti.
"Bukan pak. Sudah ya jangan bahas pisang. Lebih baik kita ke apartemen sekarang mengambil mobil dan mencari non Chika. Terus kita susun rencana untuk mendirikan perusahaan dengan uang yang ada di tabungan saya."
"Tapi Ris, jika saya gagal mendirikan perusahaan gimana? Uang kamu akan habis."
"Itu bukan uang saya pak. Itu uang bapak. Lagipula saya yakin Pak El mampu."
"Terima kasih atas kepercayaan kamu pada saya Ris. Dan jika saya berhasil, saya akan mengembalikan semua uang kamu."
"5x lipat ya pak?" goda Haris.
Mata El membulat. Baru saja ia memuji Haris, sekarang sifat mata duitannya kembali muncul.
"HARIS!!" seru El.
__ADS_1
"Gimana pak, deal ya?" Haris menaik turunkan kedua alisnya sambil tersenyum licik.
"Baiklah, deal."
"Nah gitu dong pak. Itu taksi yang sudah saya pesan datang. Kita jangan buang buang waktu. Kita buktikan ke tuan dan nyonya, kalau Pak El mampu tanpa uang mereka."
"Iya Ris. Benar kata kamu. Ayo."
****
Di sebuah desa kecil di bawah kaki gunung Merapi. Chika bersama Bu Asih sudah tiba di rumah. Saat masuk ke desa Bu Asih, para mata lelaki bujang dan beristri memandangi Chika tanpa berkedip.
Untungnya, Bu Asih orang asli sana yang di hargai masyarakat kampungnya. Maka dari itu, jika ada yang berani menggoda Chika sama saja cari mati dengan Bu Asih.
"Maaf ya nak, rumah ibu jelek," ujar Bu Asih.
"Ahh, tidak juga bu."
"Kamar kamu di ujung sana ya nak. Lebih baik kamu mandi. Nanti ibu belikan pakaian batu untuk kamu."
"Tidak usah bu, Chika pakai pakaian ibu aja. Sayang, kalau uang di buang buang."
"Kamu yakin?"
"Iya bu. Yaudah Chika ke kamar dulu ya bu. Habis itu aku mandi," ujar Chika.
"Iya nak."
Di dalam kamarnya, Chika mengamati seluruh ruangan. Mungkin kamarnya ini hanya seperempat dari kamar mandi di rumah suaminya. Namun perasaannya jauh lebih nyaman berada di sini.
"Baik baik di perut mama ya sayang. Mama yakin laki laki itu tidak akan bisa menemukan kita di desa terpencil seperti ini. Apalagi sekarang ada Bu Asih. Meski hidup pas pasan, percaya ya sayang kita masih bisa bahagia. Karna buat mama uang bukan alat untuk membeli kebahagian seseorang." gumam Chika.
"Nak Chika cepat mandi, ibu sudah siapkan air panas untuk kamu," teriak Bu Asih.
__ADS_1
"Iya bu," jawab Chika yang langsung bergegas keluar sambil membawa handuk di tangannya.