
Ketiganya langsung membuka amplop itu. Matanya berbinar binar. Gimana enggak, uang itu jauh lebih besar dari yang di berikan Pandu pada mereka.
"Baik tuan, tapi janji nanti sisanya dikasih lagi?" ujar seorang penjaga.
"Hmmm, sekarang pergi dari sini," titah El.
"Baik tuan," jawab ketiganya kompak.
"Kalian? Mau kemana kalian?" teriak Pandu.
"Maaf bos, uang dari bos kurang. Kalau mau kami disini beri uang kami yang jauh lebih banyak dari tuan ini berikan," jawab seorang penjaga.
Pandu bergeming sendiri. Mana bisa ia membayar ketiga premannya tadi lebih besar dari uang yang El berikan pada mereka.
"Dasar pengkhianat," celoteh Pandu. Sayang celotehannya tak mempan untuk membuat ketiga bodyguardnya kembali.
Sekarang tinggallah mereka berempat diruang tamu. Suasana kembali mencekam. El berjalan mendekat ke arah Pandu dan Renata.
"Dimana kalian sembunyikan Chika," tegas El.
Sayang seribu sayang, Pandu dan Renata masih saja berkelit. Mereka masih yakin, jika El hanya sedang menduga duga tanpa mempunyai bukti.
"Tuan Elvano, apa perlu saya pertegas jika orang yang sedang anda cari tidak berada disini. Sekali lagi tuan menggertak bahkan memukul saya, tidak segan segan saya telpon polisi sekarang juga. Bahkan kalau perlu saya panggil wartawan untuk membuat berita tentang anda," Pandu berusaha mengancam El.
Plokk.. Plokk.. Plokk..
El bertepuk tangan. Tak lama kemudian Haris mengikuti El untuk bertepuk tangan. Padahal ia juga gak tahu sih kenapa bosnya itu tepuk tangan. Dia hanya ikut ikut aja, biar ramai.
El melirik ke belakang, meminta Haris untuk menghentikan gerakannya. Dan tak butuh waktu lama, Haris menghentikan aksinya.
Mata El kembali ke pusat sumber masalah. Ia memberikan ponselnya ke hadapan Pandu dan Renata.
"Mau telpon polisi? Ini sudah saya tekan nomornya, tinggal kalian panggil aja. Biar saya gak susah susah menelpon mereka untuk menangkap kalian," El kini yang gantian menggertak.
Wajah Renata sudah berangsur memucat, namun berbeda dengan Pandu. Ia masih yakin, jika El hanya asal menuduh tanpa bukti.
__ADS_1
Pandu mengambil ponsel El, dan ia pun sungguhan menekan panggilan ke kantor polisi.
"Berani juga nyali anda tuan Pandu. Kalian itu manusia bodoh. Kalian pikir saya kesini pasti hanya asal menuduh bukan? Sayangnya saya tidak sebodoh kalian. Saya tahu Chika berada disini karna saya memasang pelacak di handphone Chika. Sekarang kalian apa masih mau mengelak? Panggil saja polisi, tapi bukan untuk menangkap saya dan asisten saya melainkan menangkap kalian," ucap El sembari tertawa puas.
Sungguh ucapan El seperti kilat petir yang langsung menyambar tubuh Pandu dan Renata. Baru saja di tekan, Pandu dengan cepat mematikan panggilannya setelah mendengar perkataan El tadi.
"Maksud anda apa tuan Elvano?"
"Sudah ya, jangan main kucing kucingan lagi. Buang buang waktu dan tenaga saya. Sekarang kalian bilang dimana Chika! Atau mau saya kirim kalian ke penjara sekarang juga," ujar El.
Merinding, hanya itu yang dirasakan kedua orang di hadapan El. Mereka mau mengelak, juga sudah tidak bisa. Sepertinya tidak mudah melawan Elvano, anak orang yang berkuasa di negeri ini.
"Diatas tuan, Chika ada diatas," Renata menyerah. Akhirnya ia memilih berkata jujur pada El daripada ia harus membusuk di penjara.
"Haris jaga mereka, saya mau mengecek ke atas. Kalau mereka bohong, cepat hubungi malaikat Izrail sekarang juga," titah El.
"Baik pak," jawab Haris singkat.
Sembari melihat punggung El yang sedang menaiki anak tangga, Haris menggaruk garuk kepalanya.
"Gimana caranya aku menghubungi malaikat Izrail. Ketemu aja belum pernah, jadi aku juga belum bisa minta kontaknya," batin Haris.
Pandu dan Renata saling melempar tatapan. Sungguh ucapan antara El dan Haris ingin membuat mereka tertawa, tapi mereka tahan. Takut Haris akan melakukan hal buruk pada mereka.
El kini sudah berada di lantai dua. Setiap kamar ia coba masuki, namun ia tak menemukan Chika. Hingga tiba di kamar terakhir, di ujung paling kanan.
Hatinya sedikit ragu. Dan ia merasa sudah di kibuli oleh om dan tantenya Chika. Semoga Chika ada didalam, hanya itu harapan El saat ini. Karna jika tidak, mungkin dua Liang lahat sudah ia siapkan untuk Pandu dan Renata nantinya.
Ceklekkk...
Kedua mata El membulat lebar. Dilihatnya orang yang ia cintai tengah terbaring tak sadarkan diri di ruangan itu.
El melangkah cepat. Ia segera mendekati tubuh Chika yang lemah. Amarahnya kini semakin membara, melihat ada sebuah suntikan diatas meja dan sebuah botol kecil disampingnya. Ditambah kedua pipi Chika yang memar, mungkin karna tampar yang keras dari Pandu dan Renata tadi.
"Apa yang sudah mereka lakukan pada Chika. Awas kamu Pandu, Renata. Aku akan balas semua perbuatan kamu," umpatnya dalam hati.
__ADS_1
Kedua tangan El mulai mengepal. Nafasnya pun tak beraturan. Ditambah sorotan matanya yang begitu tajam, membuat El ingin sekali membalas perbuatan kedua manusia laknat di bawah.
"Chika bangun, saya sudah datang untuk menyelamatkan kamu. Chika, Chika," El menepuk nepuk pipi Chika, tapi Chika masih saja tidur karna efek obat bius yang masih ada di dalam tubuhnya.
Secepatnya El menggendong tubuh Chika dan membawanya pergi dari kamar itu.
"Ris, cepat ke mobil. Kita harus segera bawa Chika ke rumah sakit," ujar El.
"Loh non Chika kenapa Pak?"
"Tanya sama mereka, apa yang sudah mereka lakukan pada kekasih saya. Dan setelah ini kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan," El menatap sinis wajah Renata dan Pandu yang sedari tadi hanya bisa menunduk.
"Mengerti pak."
Belum melangkah, Pandu membuat El kembali meradang.
"Kalian gak bisa bawa pergi Chika. Karna kami om dam tantenya. Kami yang berhak mengurus Chika," ujar Pandu.
Tubuh El yang semula berada di depan mereka, kembali memundurkan langkahnya,berdiri sejajar dengan sepasang suami istri ini.
"Tidak bisa kamu bilang? Saya akan tambahkan laporan ke polisi tentang perbuatan kalian selama ini pada Chika. Bahkan kalian sudah mengambil hak yang seharusnya milik Chika. Oh iya satu lagi, terima kasih karna sudah menjual perusahaan Pak Dirga pada saya ya. Dan bersiaplah kalian akan hidup di dunia yang semestinya kalian berada," El membalas ucapan Pandu dan semakin membuat dirinya dan Renata mati kutu.
Bagai jatuh tertimpa tangga, mereka sungguh tak menyangka ternyata perusahaan kakak iparnya itu sudah di ambil alih oleh El dan tentu saja itu semua akan kembali pada Chika.
El bergegas pergi dari rumah itu, namun saat sampai di depan pintu, kepalanya kembali menoleh ke belakang.
"Urusan kita belum selesai tuan Pandu. Saya akan membalas setiap penyiksaan yang kalian berikan pada Chika. Dan saya pastikan, kalian akan menyesal karna sudah berurusan dengan saya. Untuk Chika, saya akan segera menikahinya dan kalian sudah tidak berhak lagi atas dia. Camkan itu!!" El meninggalkan sebuah pernyataan sebelum pergi.
Pandu dan Renata hanya bisa diam sambil melihat kepergian El. Hatinya seketika menciut. Semua rencana mereka gagal total.
"Sayang ini gimana? Kalau tuan El lapor polisi gimana? Aku gak mau tinggal di penjara," Renata terus saja mengoceh.
"DIAM!!" Pandu berteriak. Baru sekali ini ia menggertak Renata selama mereka menikah.
"Sayang kamu bentak aku?"
__ADS_1
"Iya. Ini semua karna kebodohan kamu. Coba aja kamu gak bilang Chika ada disini, kita gak aja merasa ketakutan seperti ini."
Sekarang mereka tinggal menunggu, apakah malaikat Izrail yang menjemput mereka atau polisi? Yang jelas, El tidak akan membiarkan keduanya lolos dan membahayakan nyawa Chika lagi.