Terjerat Pernikahan Di Atas Kertas

Terjerat Pernikahan Di Atas Kertas
Jatuh Hati


__ADS_3

Sesampainya di depan sekolahnya, Chika dan Maya bergegas untuk segera turun dari mobil. Namun saat akan membuka pintu,tiba tiba tangan Chika di tarik oleh El hingga tubuh mungilnya jatuh di dalam pangkuannya tuannya itu.


Tak sengaja atau memang di sengaja,tangan El melingkar di perut Chika, menatap matanya hingga membuat jantungnya berdebar kencang.


"Arghh, kenapa jantungku seperti mau copot lagi saat melihat wajah dia sekarang. Ayolah El jangan buat dia geer nantinya. Kamu harus tetap bersikap dingin," batin El dengan nafas yang tak beraturan.


Haris yang berada di kursi kemudian depan menahan tawa melihat El dan Chika yang saling berpandangan.


"Tiuuuttiuuutt...ada suara ambulans pak," Haris berusaha membuyarkan kedua insan yang seperti tak menganggap ada dirinya.


Suara Haris spontan membuat El melepas tangannya dari perut Chika. Sedangkan Chika, pipinya menjadi merah merona karna malu.


"Huft, pasti si Om seneng kan lihat gue sama tuan El tadi. Berasa nonton Habibie sama Ainun dia," gumam Chika dalam hati.


"Tuan, tolong tangannya dikondisikan ya. Inget perjanjian," Chika menggerutu kesal sambil matanya melirik ke arah Haris.


Mendengar ucapan Chika, El malah tertawa dengan mata datar ke depan," Hahahaha, bisa bisanya kamu membentak saya. Bukannya berterima kasih karna saya sudah menangkap tubuh kamu yang berat ini, kamu malah mengira saya mencuri kesempatan. Jangan geer jadi perempuan dan jangan bermimpi akan jadi nyonya Elvano sungguhan," jawab El dengan mode dinginnya.


"Ya ya ya, saya juga gak ada niat dan mimpi untuk menjadi nyonya Elvano sungguhan. Jadi tuan juga jangan berharap kalau saya akan menyukai tuan. Sudahlah saya mau turun, jangan tarik tarik tangan saya lagi. Nanti kalau jatuh, ditangkap lagi, terus bilang saya geer."


"Hmmm, yaudah cepat turun sana!! Saya tadi hanya ingin berpesan pada kamu, jika nanti siang saya akan menjemput kamu untuk ke Bandara. Jadi jangan pulang sebelum saya datang, mengerti!!" El berkata tanpa menatap Chika.


"Hmmm," jawab Chika tak kalah dingin.


Dari kursi kemudi depan, Haris menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia merasa bersalah,karna ulahnya malah membuat El dan Chika menjadi bersitegang.


"Aduh, kayaknya aku salah lagi deh. Coba aja tadi gak bilang ada ambulans lewat, sekarang Pak El sama non Chika pasti udah cup a cup deh," batin Haris sambil mengusap kasar wajahnya.


Dari luar, Maya kembali mendekat kearah mobil.


"Chik, ayo buruan masuk," teriak Maya.


"Iya May, bentar."


Baru satu kakinya diturunkan dari mobil, Chika kembali duduk disebelah El sambil membuka tangan kanannya.


"Tuan, minta uang saku dong. Aku gak punya uang, nanti gak bisa jajan dong. Di kantin gak bisa pakai card, gak ada mesin EDC nya," ucap Chika.


El langsung menoleh sambil memicingkan sebelah matanya.


"Kamu pikir saya bapak kamu, main minta uang jajan," ucap El.

__ADS_1


Tanpa disadari El, ucapannya barusan membuat mata Chika berkaca-kaca, mengingat dirinya yang sudah tak mempunyai seorang ayah.


"Tuan lupa ya saya memang gak punya ayah. Sudah tuan, saya masuk dulu. Lagipula saya sudah terbiasa tidak mempunyai uang jajan sejak papa meninggal," ucap Chika berjalan keluar dari mobil sambil menghapus air matanya.


"Duh Pak El, jadi nangis kan non Chikanya. Nanti kalau dia marah, rencana bapak bisa gatot loh pak," ucap Haris yang berusaha mengompor-ngompiri bosnya.


"Gatot? Apa itu? Makanan kamu dari desa?" tanya El.


"Ya di desa saya ada sih pak makanan gatot, tapi ini kan di kota. Jadi gatot itu gagal total pak. Wah Pak El gak gaul," ujar Haris.


"Oh iya benar juga kata kamu Haris, tumben beberapa hari ini otak kamu agak jalan. Kalau begitu tunggu saya sebentar, saya mau temui gadis itu dulu."


"Baik pak," jawab Haris dengan sedikit senyuman dari bibirnya.


El bergegas keluar dari mobil, dan mengejar Chika yang sudah pergi bersama Maya.


"Chika tunggu," teriak El.


"Ada apalagi tuan?"


El berjalan menghampiri Chika, dan ia langsung mengeluarkan dompet dari saku belakang celananya.


"Apa segini cukup?"


"Chika, cukup tidak? Atau mau saya tambah lagi," ucap El kembali.


"Tidak tuan, itu terlalu banyak. Ini saja cukup kok," jawab Chika sambil mengambil satu lembar uang biru.


"Chik, loe bego atau gimana sih. Ambil aja semua," bisik Maya pelan.


"Enggak usah, segini udah cukup kali May," jawab Chika.


"Kalau gitu saya masuk ya tuan, terimakasih buat uang jajannya."


"Hmmm, tapi apa kamu yakin itu cukup?"


"Cukup tuan, tenang saja."


"Baiklah, kalau gitu saya pergi. Dan jangan lupa, tunggu saya menjemput kamu pulang sekolah nanti."


"Baik tuan."

__ADS_1


Namun sebelum pergi, El mengusap pipi Chika dan menghapus sisa air yang membasahi pipinya.


"Jangan sedih lagi, maafkan perkataan saya tadi ya."


"Iiiii...iii...iya tuan," jawab Chika dengan nada yang sedikit syok akan perlakuan El.


"Ya Tuhan, lembut sekali tangan tuan El. Andai saja dia bisa bersikap seperti ini terus. Bisa bisa aku beneran jatuh hati sama dia," batin Chika.


"Hmmm, belajar yang rajin. Dan ingat cita cita kamu."


"Baik tuan," jawab Chika sambil tersenyum manis kearah El.


Di dalam mobil, Haris terkekeh dengan sikap lembut El pada Chika.


"Hmmm, gaya bener Pak El pakai acara pegang pegang segala. Non Chikanya juga, ternyata senyum senyum pas di pegang pegang. Tadi didalam mobil aja pada bilang soal perjanjian. Nah sekarang kegep juga kan. Sebenernya mereka itu udah saling suka, cuma sama sama gengsi aja. Yang satu bilang gak mau punya pacar om om, yang satu gak mau punya pacar bocah. Eh ujung ujungnya lihat aja nanti," Haris berbicara sendiri di dalam mobil.


Tak berapa lama, El kembali masuk kedalam mobil dan duduk menyebelahi Haris.


"Haris jalan sekarang," perintah El.


"Baik pak," jawab Haris.


Selama di mobil, Haris masih saja tertawa sendiri hingga membuat mata El merasa terganggu dengan ulahnya.


"Kamu kenapa Ris, gak gara gara over dosis minum obat kan? Jangan bilang kamu jadi idiot sekarang," ucap El.


"Enggak pak, saya habis lihat dan ketemu Cinta sama Rangga aja. Pak El pernah kan nonton film AADC?"


"Hmmm, pernah. Dulu waktu SMA saya pergi nonton itu sama Tania. Oh iya jadi kamu habis ketemu sama pemeran Cinta sama Rangga ya?"


"Ketemu pak, makanya wajah mereka yang saling bertatapan tadi masih terngiang di benak saya." ucap Haris.


"Oh ya? Kapan kamu ketemu mereka?" tanya El dengan polosnya.


"Di depan gerbang sekolah non Chika pak," jawab Haris yang membuat El mengernyitkan dahinya.


"Hah masak? Tapi saya gak lihat ada artis disana."


Bukannya segera menjawab, Haris malah semakin tertawa dan membuat El menjadi bingung.


"Haris, kenapa kamu tertawa. Memang apanya yang lucu. Saya beneran gak lihat mereka tadi."

__ADS_1


"Ya gak lihatlah pak, orang Cinta itu non Chika dan Rangganya itu bapak," jawab Haris sambil melanjutkan tawanya.


"HARIS!!! SAYA POTONG GAJI KAMU BULAN DEPAN!!" teriak El dengan suaranya yang naik tiga oktav dari biasanya.


__ADS_2