
2 minggu sudah berlalu. El akhirnya menuruti keinginan kedua orang tua angkatnya untuk membawa Chika dan Kie tinggal bersama mereka kembali.
Hari ini, hari bersejarah bagi Haris. Karna mulai hari ini ia akan melepas masa lajangnya dan memenangkan Maya, sang kekasih pujaan hati.
Tak lupa, El dan Chika menghampiri kursi pelayanan untuk mengucapkan selamat pada pasangan pengantin baru ini.
"Selamat ya om, akhirnya udah akan menikmati surga dunia juga. Butuh cd bf yang pernah om kasih sama aku dulu gak?" Chika berusaha menggoda Haris. Tanpa ia tahu jika Haris dan Maya sudah sering melakukannya.
El, Haris dan Maya pun hanya diam mendengar candaan dari mulut Chika. Bingung harus menjawab apa.
"Aiishh non Chika bisa saja. Koleksi saya mah masih banyak non. Kalau mau besok saya pinjemin kaset keluaran terbaru," jawab Haris.
Mata Chika membulat. Niat hati mau menggoda asisten suaminya malah dia yang kena senjata makan tua.
"Sayang, boleh tuh tawaran dari Haris. Siapa tahu kita bisa belajar gaya gaya terbaru," goda El sembari melempar lirikan buayanya.
"Gaya apa pah? Gaya renang ya?" sahut Kie yang sedari dari ternyata mendengar pembicaraan empat manusia dewasa di sekitarnya.
Gleekk...
Semuanya langsung terdiam. Mereka hampir lupa jika ada Kie di tengah tengah mereka. Kie anak yang cerdas dan belakangan ini rada ingin tahunya juga tinggi. Makanya Chika dan El berusaha menjaga lisan mereka saat bersama Kie.
"Kie, mama udah bilang berapa kali jangan suka menyahut pembicaraan orang lain. Itu gak baik sayang," tegur Chika sembari mengalihkan tema pembicaraan dengan Kie.
"Ih mama. Ngomel terus. Ayo pulang mah, pah. Kie udah ngantuk," protes Kie.
"Iya iya anak papa. Kita pulang ya. Sekali lagi selamat ya Haris dan Maya. Semoga kalian segera di mendapatkan memongan," ujar El.
__ADS_1
"Eh jangan dulu dong pak. Nanti kalau punya anak, pengeluaran saya bertambah dong," jawab Haris.
Tanpa disadari ucapannya barusan membuat Maya kesal. Bukan cuma Maya, Chika pun ikut merasa kesal mendengar jawaban Haris. Mana ada orang menikah, tapi belum siap punya anak.
"Om Haris," seru Chika.
"Hehehe, bercanda non," jawab Haris. "Sayang, mukanya jangan di tekuk gitu dong. Kan cuma bercanda. Ya aku malah segera punya anak sama kamu," Haris sedang melayu Maya yang sedari tadi sudah memasang wajah masam.
"Ihh, bebeb suka banget sih bikin aku emosi," Maya mencubit lengan Haris tanpa menghiraukan rengekan suaminya.
"Auuu, Auuu.. Sakit beb. Sabar dong, kalau mau manja manjaannya. Nanti aja ya dikamar."
"Tuh kan."
"Udah udah May, om. Kalau mau lanjut perang nanti aja ya dikamar. Sekarang aku mau pamit pulang, kasihan Kie udah ngantuk. Sekali lagi selamat ya Om, Maya. Semoga rumah tangga kalian langgeng sampai kakek nenek," sahut Chika.
"Makasih ya Chika," jawab Maya.
Haris hanya menggaruk garuk kepalanya, sedangkan Maya hanya tertunduk malu dengan kebiasaan suaminya.
"Ih Mas Haris emang bikin malu. Tapi gak papa lah, kan aku juga kecipratan juga uangnya," batin Maya.
Tak lama, El mengajak Chika dan Kie untuk pulang. Apalagi Kie sudah tertidur dalam gendongan El.
"Mas, kayaknya Kie kecapekan deh. Lihat, matanya udah merem gitu," ujar Chika.
"Iya sayang."
__ADS_1
"Aku bahagia deh mas. Ternyata pertemuan kita malah membuat Om Haris dan Maya berjodoh."
"Ini sudah garis Tuhan sayang. Maaf ya bila di awal pernikahan kita aku selalu membuat kamu menderita. Tapi aku janji sayang, mulai sekarang aku gak akan pernah membuat air mata kamu jatuh lagi. Sudah cukup kamu menangis akibat perkataan dan tindakan aku sama kamu. Dan sekarang aku hanya ingin membuat kamu dan Kie bahagia."
"Iya mas. Aku percaya sama janji kamu," jawab Chika.
Kini mobil El sudah melaju menuju rumah. Namun di pertengahan jalan, tiba tiba mata Chika tertuju akan sebuah warung makan dimana ia mengenali wanita yang sedang melayani pelanggan disana.
"Mas stop mas, stop," seru Chika.
Ccciiit...
Dengan cepat El menginjak pedal rem.
"Ada apa sih sayang?" tanya El kesal.
"Itu mas itu. Lihat deh. Itu bukannya tante Renata sama Om Pandu ya," jari Chika menunjuk ke salah satu warung makan di seberang jalan.
"Mana sayang?" mata El mengamati warung makan yang ditunjuk istrinya.
"Iya iya itu mereka. Terus kenapa? Udahlah gak usah peduliin mereka lagi. Mending kita pulang aja ya," ucap El kembali yang sudah bersiap menjalankan mesin mobilnya.
"Mas jangan gitu. Gimana pun tante Renata itu tante aku. Aku cuma pengen tahu keadaannya sekarang. Dan ngapain dia disana malam malam begini. Boleh ya mas?"
El membuang nafasnya. Tidak mungkin El menolak keinginan Chika dan membuatnya kembali bersedih. Baru saja ia berjanji untuk membahagiakan Chika dan Kie.
"Hmmm, baiklah. Kita kesana ya," El menyalakan kembali mesin mobil dan berputar arah menuju warung makan dimana ada Renata dan Pandu disana.
__ADS_1
"Makasih mas."
"Hmmm," jawab El malas.