
El yang sudah kehabisan kata kata, memutuskan untuk mengabaikan Haris yang masih berdiri di hadapannya sambil menunduk lesu dan memejamkan matanya.
"Chika, kamu lepas kapas di telinganya. Saya sudah lelah menghadapi Haris sehari ini," perintah El yang membuat Chika mengernyitkan dahinya.
"Gak mau, jijik tuan," jawab Chika spontan.
"Berani kamu membantah perintah saya. Cepat lepas!!" teriak El.
Suara teriakan El pun terdengar ke telinga Haris, dan ia dengan cepat melepas kapas dari telinganya.
"Sudah Pak El, kapasnya sudah saya lepas," ucap Haris hingga membuat Chika mengelus elus dadanya.
"Huft, akhirnya gue gak perlu lepasin kapas di telinga si om. Emang ya suara tuan El luar biasa. Pantes aja si om sedia kapas, besok besok cara dia akan gue pakai juga lah," gumam Chika sambil senyum senyum sendiri.
Lelah menghadapi Chika dan Haris, membuat tenaga El terkuras dan membuang buang waktunya.
Ia berjalan memasuki ruang kerjanya, diikuti oleh Haris dan Chika yang mengekor di belakangnya.
Sesampainya di ruang kerja, El menjelaskan secara detail rencana dirinya untuk mendekatkan Chika dengan kedua orang tuanya. Namun karna sudah jam 1 pagi, mata Chika kini mulai terasa berat.
"Hoaaaam, tuan saya ngantuk," ujar Chika sembari menutup mulutnya.
"Arrghh, kamu bikin susah saja. Haris apa kamu juga mulai mengantuk?" tanya El.
"Enggak sih pak. Hanya saja mata saya sedikit berat," jawab Haris.
Kesal dengan jawaban Haris, El melempar penanya ke wajah Haris yang sudah membuat ulah dalam waktu sehari ini.
"Bodoh, bedanya mata berat sama mengantuk itu apa? Kenapa kamu lama lama jadi tambah bodoh ya Haris. Apa perlu saya cari asisten baru untuk menggantikan kamu," ujar El yang sedang berusaha mengancam Haris.
"Akhirnya pak, kalau Pak El mau mecat saya dengan senang hati saya menerimanya. Lagi pula kan saya baru dapet bonus 50 juta dari bapak. Udah cukup lah pak, buat modal usaha di kampung," jawab Haris hingga membuat El kembali naik pitam.
El membulatkan matanya, ia tak percaya dengan jawaban Haris. Padahal ia hanya menggertak Haris, namun balasan jawaban Haris sungguh di luar dugaan El.
Bukan hanya El, Chika yang duduk di kursi sebelah Haris seketika menoleh ke samping.
"Apa si om mau keluar? Tinggal gue dong yang ngadepin macan tutul ini. Please om, jangan keluar dong. Nanti siapa yang bakal kasih duit lagi ke gue," batin Chika.
El berdiri dari kursinya dan berjalan menghampiri Haris lalu ia berdiri menyebelahi Haris sambil membisikkan sesuatu ke telinganya.
"Haris, kamu yakin mau keluar? Padahal gaji kamu mau saya naikkan jadi 10 kali lipat. Tapi ya sudah kalau kamu memang mau keluar, saya bisa apa," ucap El.
"Loh pak, saya tadi hanya bercanda. Ya biar gak tegang tegang banget lah pak suasananya."
"Oh jadi kamu tadi sedang mengerjai saya?" tanya El sambil berjalan kembali menuju kursinya.
"Sudah dong tuan, makanya jadi bos jangan seenak jidat. Di tinggal asistennya baru tau rasa," sahut Chika.
"Apa kamu bilang? Ulang sekali lagi," bentak El dengan suara tingginya hingga membuat nyali Chika seketika menciut.
__ADS_1
"Enggak tuan, maafkan ucapan saya," jawab Chika.
"Dih si macan udah beraksi. Mendingan nurut aja lah, daripada nanti perjanjiannya batal. Gue harus ganti rugi, udah gitu gak jadi dapet biaya gratis buat kuliah. Sabar Chika, sabar," gumam Chika sambil mengelus elus dadanya.
Beberapa saat kemudian, El mulai membuka lembaran kertas di dalam map. Ia langsung memberikannya pada Chika dan Haris. Semua jadwal kegiatan Chika setelah pulang sekolah, sudah terjadwal rapi dalam kertas tersebut.
Merasa sudah tidak ada pembahasan lagi, El melempar kartu kredit ke hadapan Chika sebelum ia pergi.
"Pakai ini, beli semua kebutuhan kamu. Saya tidak mau penampilan kamu terlihat kusut di depan orang tua saya," ujar El.
"Baik tuan," jawab Chika sambil mengambil kartu di depannya.
"Ingat Chika, jangan sembarangan menggunakan kartu itu. Karna saya dapat melacak kartu itu kamu gunakan dimana dan untuk apa,mengerti!!"
"Iya tuan mengerti."
"Bagus, Haris sekarang kamu bisa pulang," perintah El yang membuat Chika ikut berdiri.
"Baik pak," jawab Haris.
"Loh kamu mau kemana?" tanya El sambil menatap Chika.
"Pulang lah tuan, masak iya saya harus tidur sama tuan," jawab Chika.
"Tidak, kamu tidur sini. Tadi saya sudah suruh Bi Ida untuk menyiapkan kamar untuk kamu. Dan besok saya sendiri yang akan mengantar kamu ke sekolah," ucap El.
"Tapi tuan."
"Saya tidak menerima penolakan. Sekarang saya mau kembali ke kamar saya. Haris kamu bisa pulang, dan kamu Chika cepat tidur ke kamar tamu. Kamu sudah tahu tempatnya bukan?"
"Hmmm," jawab Chika sambil memutar bola matanya.
************
Keesokan harinya, Chika masih tertidur pulas di kamar. Karena kasur yang empuk dan kamar yang ber-AC, membuatnya sulit untuk membuka mata. Apalagi selimut tebal yang menutup tubuhnya, semakin membuat tidurnya terasa nyenyak. Sudah lama ia tidak merasakan ruang dingin dan kasur yang empuk.
El yang sudah bangun terlebih dulu menanyakan keberadaan Chika pada Bi Ida.
"Bi, apa gadis itu sudah bangun?" tanya El sembari mengambil roti di meja makan.
"Belum mas, sepertinya dia masih tidur."
"Hmmm, biarkan saja. Mungkin dia lelah setelah meeting bersama saya dan Haris. Sekarang juga saya minta kumpulkan seluruh pembantu dan security di rumah ini. Karna ada pengumuman yang ingin saya sampaikan."
"Baik mas, kalau begitu bibir permisi," pamit Bi Ida.
"Iya bi, silahkan," jawab El.
Selesai sarapan, El pun bergegas menuju ke ruang tengah dimana seluruh asisten rumah tangga dan security di rumahnya sudah berkumpul.
__ADS_1
Riuh suara para karyawan mulai terdengar. Ada yang mengira akan ada PHK masal. Ada juga yang berpikir jika bosnya tengah kehilangan sesuatu. Dan ada beberapa yang enggan menerka nerka. Hingga kedatangan El membuat semua terdiam.
Tanpa basa basi, El langsung menjelaskan maksud dan tujuannya mengumpulkan semua karyawan rumahnya di ruang tengah.
Akhirnya ia bercerita tentang hubungan dirinya dengan Chika. Dan rencana pernikahan mereka. Beberapa pembantu ikut bahagia mendengar pengumuman dari El. Namun ada beberapa yang iri melihat keberuntungan Chika yang berhasil menaklukkan anak majikan mereka yang tampan dan kaya.
Selesai memberikan pengumuman, El pergi ke ruang tamu dan hendak menunggu kedatangan Haris. Namun saat melewati kamar tamu, El teringat dengan Chika. Ia pun membuka sedikit pintu kamar yang kebetulan semalam lupa di kunci oleh Chika.
"Gadis malang, maafkan aku yang harus melibatkan kamu demi keinginan dan tujuanku. Kepergian Pak Dirga benar benar merubah hidup kamu," batin El sambil menutup kembali pintu kamar.
Saat menutup pintu dan hendak membalikkan badannya, tanpa sengaja El menabrak Haris yang sudah berdiri di belakangnya.
Bughh...
"Haris, kenapa kamu berdiri disini?" tanya El sambil membenahi jas kerjanya.
"Dari tadi pak, hehehe. Hayo Pak El ngapain mengintip non Chika. Udah mulai jatuh cinta ya?"
"Kamu kalau bicara jangan ngawur. Saya hanya kasihan melihat nasib dia sekarang. Dulu dia orang berada, namun karna kebodohannya sendiri dia kehilangan segalanya. Hingga dia mau menerima penawaran dari saya," jawab El.
"Iya Pak El. Saya juga iba melihat nasib non Chika. Tapi memangnya bapak gak berniat menjadikan non Chika istri bapak selamanya? Dia gadis baik, cantik dan berprestasi. Jadi apa kurangnya non Chika pak?"
"Entahlah Haris, perasaan saya pada Tania masih belum tergantikan oleh siapapun. Sulit bagi saya untuk melupakan dia."
"Ya sudah ya pak, jangan sedih. Saya jadi ikutan mewek kan. Lebih baik kita berangkat ke kantor saja pak daripada bapak nanti flashback ke masa lalu."
"Benar kata kamu Haris. Akhirnya kepintaran otak kamu kembali. Habis minum apa kamu hari ini?" tanya El sambil menepuk pundak Haris.
"Teeereeett....ini pak. Kemarin saya memborong semua obat penambah daya ingat. Ada aneka rasa pak. Ada strawberry, jeruk, anggur dan..."
"Stop ya jangan bicara lagi. Kita berangkat sekarang dan masukkan obat obat kamu ke dalam tas!!" perintah El sambil berjalan melewati Haris.
"Baik Pak El," jawab Haris yang dengan segera menyusul El.
Selama di mobil, rasa penasaran El tiba tiba muncul. Ia ingin tahu obat apa yang sedang diminum oleh Haris.
"Ris, bisa pinjam obat yang kamu beli tadi," ucap El.
"Bisa pak. Apa Pak El mau minum juga? Ada yang permen juga kok pak," jawab Haris yang semakin membuat rasa penasaran El bertambah.
Mata El seketika membulat setelah melihat obat yang diberikan oleh Haris.
"Ini apa Haris? Kamu beli obat untuk anak anak?"
"Iya pak, soalnya murah. Jadi saya beli yang itu aja. Kalau di borong kan habisnya gak terlalu banyak," jawab Haris sambil menggaruk kepalanya.
El hanya bisa menggelengkan kepalanya, melihat tingkah Haris yang semakin membuat dirinya sakit kepala.
"Ris Haris, saya sudah gak tau lagi jalan pikiran kamu. Udah dapet 50 juta masih aja mengirit. Apa kata orang jika tau asisten seorang Elvano Aristya gak sanggup beli obat. Mau di taruh dimana muka saya Haris," batin El sembari memijat mijat keningnya sendiri.
__ADS_1