Terjerat Pernikahan Di Atas Kertas

Terjerat Pernikahan Di Atas Kertas
Menyesal


__ADS_3

Chika tak kuasa lagi menahan tangisannya. Di dalam taksi, Chika kembali meratapi nasibnya. Sungguh kehilangan mama dan papanya benar benar membuat hidupnya terpuruk. Apalagi kehamilan tanpa suami ia harus lewati mulai sekarang.


"Baik baik ya di dalam perut mama sayang. Mama janji, mama akan berusaha menjaga dan merawat kamu. Mama akan cari pekerjaan agar kamu tetap bisa mendapat gizi yang baik di dalam sini," Chika mengelus elus perutnya. Mengajak bicara anak hasil buah cintanya dengan laki laki yang sempat ia banggakan.


Hampir sejam Chika berputar mengelilingi kota, tak tahu ia harus pergi kemana.


"Permisi mbak, maaf tujuan kita mau kemana ya? Karna sudah hampir satu jam kita mengelilingi kota," tanya bapak sopir taksi.


"Sebentar ya pak, saya pikir dulu," jawab Chika.


Namun seketika matanya membulat, melihat argo taksi yang terus berjalan hingga tanpa terasa nominalnya hampir 500 ribu.


"Ya Tuhan, kenapa aku gak sadar. Uang di dompet bisa habis kalau cuma buat berkeliling di taksi ini. Oh lebih baik aku ke rumah tante Renata aja. Cuma dia yang aku punya sekarang. Aku yakin tante dan om gak akan menyakiti aku lagi. Mereka kan sudah berubah. Toh mereka pasti bisa membantuku untuk pergi jauh dari Mas El," batin Chika.


"Pak, kita ke jalan cempaka aja ya," ujar Chika.


"Baik mbak."


Beruntungnya jarak kerumah Renata tak begitu jauh dari jaraknya sekarang. Tapi harapan Chika kembali hancur setibanya disana.


Saat sampai disana, tanpa sengaja ia mendengarkan pembicaraan antara Renata dan Pandu yang sengaja ingin memanfaatkan dirinya untuk menguras harta El.

__ADS_1


Bagaikan jatuh tertimpa tangga. Pembicaraan antara Renata dan Pandu semakin membuatnya terluka.


Rumah yang ia anggap harapan satu satunya untuk singgah sudah tak ada. Chika sudah tak tahu lagi dia mau kemana. Uang yang semakin menipis, memaksanya untuk berjalan kaki sejauh mungkin. Meninggalkan orang orang yang munafik di sekitarnya.


"Makam mama dan papa, aku ingin kesana sebentar. Hanya disana aku bisa merasa tenang," gumam Chika.


****


Selama perjalanan ke apartemen Daniel, entah kenapa perasaan El sedikit berkecambuk. Sikap istrinya tadi membuat El sedikit gelisah. Tak biasanya Chika bersikap dingin seperti tadi.


"Pak, anda kenapa?" Haris membuyarkan lamunan El untuk berani bertanya. Itu semua karna sejak keluar dari rumah, wajah El nampak gusar.


"Ris, kalau ternyata pikiran saya salah. Berarti saya sudah bersikap buruk dan keterlaluan ya sama Chika."


"Ya kamu benar Ris. Kalau pikiran saya salah, berarti saya sudah bersikap keterlaluan. Tapi jika yang saya pikirkan itu benar? Dia atau saya yang keterlaluan?" hati El kembali mengeras dan masih meyakini apa yang ia pikir tentang Chika itu benar.


"Sudah ya pak, jangan berpikiran buruk dulu. Lebih baik nanti bapak tanyakan pada orang yang sudah ahli dan mengerti dengan masalah bapak."


"Hmmm. Jalannya sedikit dipercepat ya Ris," titah El.


"Baik pak."

__ADS_1


Walau terlihat cuek dan dingin pada Chika. Tapi ia tetap peduli dengan Chika. Setiap detik, setiap menit dan setiap waktu ia selalu mengecek keberadaan istrinya lewat ponselnya.


"Dia lagi dimana ya, sedang apa? Apa keadaannya semakin membaik? Lebih baik aku cek dulu keberadaannya," El mengambil ponselnya. Melihat posisi Chika yang masih berada di rumah. Hatinya sedikit merasa lebih tenang. Ternyata kekhawatirannya tadi hanya ketakutan yang tak beralasan.


Sesaat kemudian, El bersama Haris sudah tiba di apartemen Daniel. Disana dirinya mulai menceritakan permasalahan yang selama ini membuatnya resah.


Bukannya solusi, Daniel malah menertawakan dirinya. Seorang CEO terkaya di negeri ini tak tahu ilmu tentang keperawanan.


Mimik muka El menjadi masam. Kenapa Haris dan Daniel swakan sedang mendengarkan lelucon dari mulutnya.


"Niel, cepat jelaskan sama aku. Apa benar Chika itu sudah tak perawan?" tanya El.


"Duduk lah dulu. Baru aku jelaskan," titah Daniel.


Satu setengah jam waktu Daniel terbuang hanya untuk memberi penjelasan pada El. Perlahan El akhirnya bisa tersenyum namun sesaat kemudian ia kembali teringat dengan istrinya yang berada di rumah. Mungkin tubuhnya semakin lemah karna sakit.


Penyesalan mulai menyelimuti hati El. Tanpa pamit pada Daniel, El menepuk pundak Haris dan mengajaknya untuk pulang.


"El kamu mau kemana?" seru Daniel.


"pulang," jawab El datar sambil berjalan keluar meninggalkan apartemen Daniel.

__ADS_1


Dalam langkahnya El berusaha menghubungi nomor istrinya, sayangnya beberapa kali panggilannya tak terjawab. "Kenapa gak angkat telponku sayang. Apa kamu sedang istirahat? Maafin sikapku selama ini. Seharusnya aku dari dulu tanya sama Daniel. Bukan langsung berbuat hal yang selalu menyakiti hati kamu. Sekarang aku sudah lega. Dan mulai hari ini, aku janji akan selalu mempercayai kamu," El berbicara sendiri dengan hatinya.


Di kursi kemudi depan, Haris sesekali menengok ke arah El. Akhirnya semua masalah sudah selesai, pikirnya. Tanpa mereka tahu, jika Chika sudah pergi meninggalkan semuanya. Dan sekarang ia entah berada dimana.


__ADS_2