
Setibanya di kamar, El membaringkan tubuh Chika di atas ranjang. Di tatap nya wajah cantik gadis di depannya yang kini sudah berganti status menjadi istri sah nya.
Rasanya El sudah tak sabar untuk menjalankan kewajibannya. Sebuah kecupan di kening, turun ke mata, hidung dan saat hendak mendarat di bibir Chika, dengan cepat Chika mendorong sedikit tubuh El.
"Mas, ganti pakaian, mandi baru itu tu," Mulut Chika rasanya masih malu untuk mengatakan making love.
"Tapi sayang.."
"Tolonglah mas. Badanku rasanya gerah. Aku ingin mandi."
"Baiklah. Sekarang aku bantu kamu melepaskan segala aksesoris yang menempel di kepalamu ya."
"Iya mas. Makasih. Eh tunggu mas, kita buka yuk kado dari om Haris. Aku penasaran deh."
"Buka aja sayang. Paling isinya nyeleneh kayak orangnya."
"Mas, jangan gitu. Kita harus menghargai pemberian orang. Sebentar aku buka ya."
"Hmmm."
Chika mulai membuka kado pemberian Haris. Namun matanya langsung membulat lebar. Saat tahu isi kado apa dari Haris.
"OM HARIS!!" teriak Chika hingga membuat El terkikik melihat beberapa cd bf di dalamnya.
"Mas kok ketawa sih. Lihat ini. Kaset apa ini mas," desis Chika.
"Kan aku udah bilang, paling isinya nyeleneh. Kamu sih gak percaya. Tapi boleh juga tuh buat kita praktekin nanti. Kita tonton habis ini, sekalian buat kamu belajar," El memberikan seulas senyum jahilnya pada Chika sambil berjalan mendekat ke arahnya.
"Mas kamu mau ngapain?"
"Masih mau nanya? Ya mau.. "
"Nanti ya mas. Nanti janji aku kasih jatahnya. Tapi aku mau mandi dulu," ucap Chika kesal.
__ADS_1
"Hahahaha, kamu ini kenapa sih yank. Aku ini mau bantuin kamu lepasin semua ini. Ih dasar bocil. Pikirannya menjurus terus," jawab El sambil menyentil hidung Chika karna gemas.
"Arghh mas El. Aku pikir."
"Hayo mikir apa? Kalau yang itu ya nanti dong. Harus di kasih pokoknya."
"Iya iya mas."
El dengan setia membantu Chika melepas semua benda yang melekat di kepalanya. Setelah semua mulai terlepas, Chika terlebih dulu masuk kedalam kamar mandi. Mengguyur seluruh tubuhnya dari atas hingga kebawah. Melepas segala penat karna acara dari pagi hingga malam hari ini memang sungguh melelahkan untuknya.
Satu jam kemudian..
Chika keluar dari kamar mandi menggunakan handuk piyama berwarna putih serta handuk yang melingkar di atas kepalanya. Aroma sabun tercium ke indra penciuman El. Di pelukannya tubuh Chika, rasanya sudah gak sabar ingin menikmati surganya dunia.
"I love you honey," El berbisik memberi tiupan kecil di area belakang telinga Chika. Membuat bulu kuduknya seketika berdiri.
"Mas, mandi dulu. Gak sabaran banget sih jadi orang," Chika mendesis kesal. Emang El ini gak beda jauh dari Haris. Sama sama mesum.
"Kiss me please," dengan manjanya El memeluk pinggang Chika.
"Iya iya. Mana..," El kembali menekan nekan bibirnya, meminta jatah sebelum berangkat mandi.
Cup..
Awalnya Chika hanya ingin memberikan sebuah kecupan singkat, tapi apalah daya. El memang tidak bisa menahan hawa nafsunya. Ia mencium bibir Chika dengan rakusnya, tanpa memberikan sedikit celah untuk Chika mengambil nafas. Dan membuat bibirnya terasa kebas.
Kini El mulai melancarkan aksinya. Mengambil handuk yang mengikat rambut Chika. Membuat rambutnya yang basah mulai terurai. Walau menolak, tubuh Chika tak bisa memungkiri jika ia juga sudah masuk ke dalam perangkap El.
Tangan nakal El mulai bergerilya, hendak melepas piyama yang menutupi tubuh istrinya.
"Stop mas, mandi dulu," titah Chika.
"Aissh sayang, nanggung. Habis kita melakukannya kita mandi bareng ya," rengek El.
__ADS_1
"Gak, gak mau. Dingin tahu mas."
"Gak akan dingin, kan ada aku." El kembali membuat pertahanan Chika goyah. Mau tidak mau, akhirnya Chika hanya pasrah bisa saat El mulai mengungkung tubuhnya di atas arena pertandingan.
Kecupan demi kecupan El berikan. Dari kening, turun ke kedua kelopak mata, turun lagi ke hidung dan pipi dan berakhir di sebuah bibir berwarna merah jambu.
Sambil terus menciumi seluruh wajah Chika, tangan El mulai melepaskan tali piyama. Membuat tubuh Chika kini nampak jelas dimatanya.
Mumpung masih hot hotnya, El bergegas melepas kencing bajunya. Memperlihatkan dada bidang dan perutnya yang berbentuk kotak kotak. Membuat Chika tak bisa berkedip melihat pemandangan yang indah.
Tangan Chika mulai membalas. Ia memegang tubuh El penuh rasa kagum. Sungguh sebuah anugerah ia bisa menjadi istri seorang yang tampan dan hampir sempurna ini.
Saat tubuh keduanya mulai memanas. Pedang pora milik El berusaha mencari tempatnya. Perlahan ia masuk, membuat Chika hanya menggigit bibir bawahnya. Merasakan sakit yang begitu dalam.
Jleb..
Chika menelan salivanya. Rasanya sungguh sakit namun juga enak. Seuntai senyuman diperlihatkan El dan berakhir dengan tautan bibir mereka berdua.
"Terima kasih sayang," ujar El.
"Sama sama mas," mata Chika mulai terpejam. Rasa lelah karna acara yang padat ditambah ronda malam dari El membuat dirinya sudah tak bisa lagi menahan kantuknya.
Ketika Chika mulai terlelap, El beranjak dari ranjang dan hendak membersihkan tubuhnya. Namun matanya seketika membulat, melihat seprei putih itu tak ada bercak darahnya.
"Bagaimana ini bisa terjadi? Bukankah tadi aku begitu susah untuk masuk kedalam. Tapi kenapa tak ada darah disana?Atau jangan jangan Chika sudah tak perawan? Itu tandanya, Chika sudah membohongiku. Dia sudah pernah melakukannya dengan orang lain, sedangkan aku baru sekali ini aku melakukannya. Dan bisa saja tadi ia hanya berakting kesakitan, seolah akulah orang pertama yang melakukannya. Cih, gak tante gak keponakan sama saja," batin El sambil menatap Chika yang tidur dengan lelah penuh amarah.
Rasa kecewa menyelimuti hati El saat ini. Ia tak percaya, bisa bisanya ia menyerahkan seluruh hatinya pada Chika. Gadis yang ia anggap polos dan lugu.
Ketika pikirannya mulai kalut dan gusar, El memutuskan untuk mandi. Didalam sana, air mata kekecewaan mulai jatuh. Kebahagiaan akan pernikahan kini berubah. Pikiran El masih saja mengira jika Chika sudah tidak lagi perawan. Namun kenapa tadi Chika seakan merintih kesakitan, saat pedang El menancap di sarangnya.
El mulai bergeming sendiri, galau dengan apa yang dihadapinya saat ini. Yang ia tahu, jika perempuan yang masih perawan itu pasti akan mengeluarkan darah di malam pertama mereka.
Berjam jam El berada di kamar mandi. Menenangkan pikiran dan emosinya. Perasaan di bohongi terus saja mengisi otaknya. Padahal cintanya pada Chika sungguh tulus dan besar.
__ADS_1
"Chika lihat saja. Akan aku buat kamu menderita dalam pernikahan kita. Kamu yang sudah tidak jujur dari awal. Dan aku akan membalas semuanya," El mengepalkan kedua tangannya. Berjanji dengan dirinya sendiri.