
Dari tempat duduknya, El melihat Daniel terus saja memandangi Chika. El menoleh ke samping menatap Chika dari ujung rambut hingga ke ujung kaki.
"Kenapa Daniel terus memandangi gadis bodoh ini, apa yang membuat hatinya terpikat. Aku rasa selera Daniel begitu rendah. Kalau dibanding Tania, gadis ini tidak ada apa apanya," batin El.
Chika yang mengetahui jika El sedang mengamati dirinya, membuat ada kecemasan di hatinya saat ini. Khayalannya mulai terbang kemana-mana. Apalagi teringat jelas dalam benaknya, mata Daniel yang menggoda dirinya saat berkenalan tadi.
"Hiiii ngeri, kenapa gue di kelilingi sama om om genit sih. Tadi dokter Daniel temennya tuan El ngeliatin gue sambil kedip kedip, lah sekarang tuan El juga ikutan. Apa dia terpesona sama penampilan gue ya. Hmmm, emang sih gue cantik tapi juga jangan jadi rebutan gini dong," batin Chika sambil senyum senyum sendiri.
Melihat tingkah Chika, El langsung memeluk pundak Chika.
"Chika sayang," bisik El hingga membuat bulu kuduk Chika seketika berdiri merinding.
"Tuan, kenapa anda menyentuh saya. Ingat ya tuan, tertulis di perjanjian kalau anda..," ucap Chika yang langsung di potong oleh El.
"Dan kamu lupa jika tertulis juga saya bisa merubah perjanjian itu tanpa harus ijin dulu dari kamu," jawab El hingga membuat Chika seketika terdiam.
"Sudah lanjutkan makannya, dan saya akan antar kamu pulang ke apartemen. Saya memeluk kamu bukan karna saya mulai menyukai kamu, tapi lihat meja seberang sana. Daniel terus menatap kamu. Saya tidak ingin rencana yang sudah saya susun rapi gagal. Paham!!" ucap El Kembali.
"Paham tuan," jawab Chika.
Walau hatinya merasa kesal dengan perlakuan El sekarang, namun ada hari Chika merasa sedikit lega mendengar alasan El memeluk tubuhnya saat ini. Hingga akhirnya El mengajak Chika untuk pulang agar Daniel tidak terus mencuri pandang pada Chika.
"Kamu sudah selesai kan? Kita pulang sekarang," ucap El.
"Baik tuan."
Namun sebelum pulang, El mengajak Chika menghampiri meja Daniel.
"Niel, aku pulang dulu ya," pamit El.
"Oh iya El. Jangan lupa minggu depan datang ke ulang tahun putrinya Bayu dan Tania."
"Hmmm, tenang saja aku pasti datang bersama calon istriku yang cantik ini," jawab El sembari meraih pinggang Chika dan menarik tubuhnya.
"Yayaya, memang calon istri kamu ini cantik. Beruntung sekali El, kamu mendapat gadis secantik Chika," ucap Daniel sembari memandangi wajah Chika.
"Daniel, jaga mata dan sikap kamu pada calon istriku," ucap El saat melihat Daniel masih menatap Chika.
"Oh iya maaf El, aku hanya kagum dengan kecantikan ya sekarang. Berbeda sekali waktu dulu aku bertemu dia di rumah kamu."
"Hmmm, baiklah aku terima alasan kamu. Kalau begitu aku pamit pulang ya."
"Iya El. Oh iya Chika, senang bertemu denganmu," ujar Daniel sambil menjulurkan tangannya kehadapan Chika.
Namun saat Chika akan membalas ukuran tangan Daniel, El langsung menampik tangan Daniel.
"Chika kita pulang sekarang," ucap El yang langsung menarik tangan Chika dan membawanya pergi dari hadapan Daniel.
Daniel terkikik sambil kembali lagi ke tempat duduknya saat melihat punggung El.
"El, El, ternyata karna kejadian Bayu dan Tania kemarin membuat kamu lebih waspada untuk memperkenalkan pacar kamu pada sahabat kamu sendiri. Mana mungkinlah El aku mengambil dia dari kamu. Aku sudah menganggap kamu seperti saudaraku sendiri. Hanya saja jika kamu sudah melepas Chika, aku orang pertama yang akan mencarinya," batin Daniel sembari meminum kembali kopinya.
Sesampainya di luar, El langsung melepaskan tangan Chika dari genggamannya dan memberikan beberapa kantong belanjaan kembali ke tangan Chika.
"Chika, cepat bawa ini. Saya gak sudi bawa bawa seperti ini."
"Hmmm, iya iya tuan. Gitu aja nyolot," jawab Chika yang langsung mendapat tatapan tajam dari El.
"Eh tapi tunggu ya tuan, saya pamit ke toilet bentar. Kebelet nih. Titip belanjaannya sebentar ya tuan," ujar Chika sambil memberikan kembali kantong belanjaan ke tangan El.
__ADS_1
"Tapi Chika..."
Belum sempat menolak, Chika sudah terlebih dulu berlari.
"Argghh, kenapa jadi aku yang bawa ini semua. Bagaimana kalau ada rekan bisnisku yang melihat aku membawa banyak kantong belanjaan seperti ini," gerutu El.
Dari jauh, ada sepasang mata yang melihat Chika dan El. Ia pun bergegas mengikuti Chika dan menunggunya di luar toilet.
Setelah selesai, Chika pun langsung keluar dari toilet dan dengan segera menghampiri El yang sudah menunggu dirinya. Namun tiba tiba tangannya ditarik oleh seseorang.
Plaaakk...
Tante Renata memberikan satu tamparan keras ke pipi kanan Chika.
"Bagus ya Chika, ternyata sekarang kamu jadi simpanan om om. Kalau mama dan papamu melihat dari atas sana, dia pasti akan kecewa melihat putri kesayangannya menjadi seorang pelacur," ucap tante Renata.
"Tante?" jawab Chika sambil memegang pipinya yang terasa panas.
"Kenapa kaget? Tante gak menyangka, kamu menggunakan segala cara agar bisa hidup enak. Tante malu mempunyai ponakan seperti kamu," teriak tante Renata.
"Tapi tan, Chika sama..."
"Cukup Chika, jangan bicara lagi. Lihat diatas sana, mama dan papa kamu pasti menangis melihat kamu sekarang. Cih, kamu itu dari luar terlihat polos tapi dalamnya sama saja seperti mamamu."
"Cukup tante. Tante boleh hina aku semau tante tapi jangan sama kedua orang tuaku. Dan asal tante tau, mama jauh lebih menangis melihat perlakuan tante sama aku," ucap Chika sembari berlari meninggalkan tantenya.
"CHIKA TUNGGU!! TANTE BELUM SELESAI BICARA!!!" teriak tante Renata namun tak membuat langkah Chika berhenti.
Sambil menangis, Chika meratapi nasibnya sekarang. Apalagi kata kata tantenya, membuat dia kembali merasa bersalah dengan keputusan yang ia ambil.
"Kenapa nasib aku jadi seperti ini. Jujur, aku juga berat menerima tawaran tuan El,tapi aku gak ada pilihan lain. Aku harus membayar sekolah demi bisa ikut ujian. Dan cita citaku, aku ingin menjadi orang sukses hingga bisa mengambil kembali perusahaan papa dari tangan Om Pandu. Susah payah papa membangun perusahaannya, dan bodohnya aku malah menyerahkannya pada orang yang salah. Maafin Chika ya mah, pah, kalau diatas sana papa sama mama kecewa dengan apa yang Chika lakukan sekarang," batin Chika dengan air mata yang terus mengalir dari matanya.
Tanpa melihat jalan, Chika menabrak El yang sudah berdiri di hadapannya.
"Maaf tuan saya gak sengaja," ucap Chika sambil menunduk berusaha menutupi kesedihannya.
El mendongakkan dagu Chika, dan terlihat jelas mata Chika yang merah dan pipinya yang masih basah.
"Kenapa kamu menangis?" tanya El sambil menatap mata Chika.
"Gak papa kok tuan, hanya kelilipan."
"Hahahaha, alasan yang sudah banyak digunakan. Kamu pikir saya Haris yang bisa kamu bodohi begitu saja. Cepat jawab apa yang membuat kamu sedih. Apa Daniel yang sudah membuat kamu seperti ini?"
"Bukan tuan, bukan om tadi."
"Terus siapa?"
Chika masih saja diam seribu bahasa. Ia tidak mau jika El tahu akan semua yang terjadi pada dirinya. Padahal dibelakang Chika, El sudah mengetahui semua tentang dirinya.
"JAWAB CHIKA!!" teriak El kembali.
"Baik tuan saya akan cerita tapi jangan disini ya. Malu dilihat orang banyak. Suara tuan barusan membuat kita jadi pusat perhatian mereka. Apa tuan gak malu, jika besok tuan masuk koran karna sudah memarahi gadis di mall."
El menarik nafas panjang lalu membuangnya dengan kasar.
"Hmmm, benar juga kata kamu. Sekarang cepat jalan ke mobil, dan setelah itu kamu ceritakan pada saya apa yang membuat kamu menangis."
"Baik tuan," jawab Chika sambil berjalan seiring dengan El.
__ADS_1
Sesampainya di mobil, Chika mulai menceritakan semua kisahnya pada El. Tentang apa saja perlakuan tante dan om nya selama ini. Bahkan kecerobohannya yang sudah melimpahkan harta warisan kedua orang tuanya pada om dan tantenya.
Mendengar cerita Chika ditambah melihat gadis disebelahnya menangis membuat El merasa iba pada Chika. Dan dengan spontan El menarik tubuh Chika dalam pelukannya.
"Sudah jangan menangis lagi, sekarang kamu tidak sendiri lagi. Ada saya yang selalu ada disamping kamu. Mulai saat ini, gak akan ada yang membuat kamu sedih lagi. Karna saya akan selalu menjaga kamu dari siapapun," ucap El.
Perkataan El membuat Chika seketika diam dan menghentikan tangisannya. Entah kenapa, ucapan El barusan membuat hatinya terasa nyaman. Ia seperti mempunyai rumah baru untuk berteduh. Dan dengan keraguan hatinya, Chika perlahan membalas pelukan El dan menyusupkan wajahnya ke dada bidang El.
"Terima kasih tuan. Mungkin kemarin saya mengira perjanjian tuan akan menjerat saya, tapi dari sini saya yakin jika tuan orang baik. Dan saya berjanji akan membalas kebaikan tuan dengan membantu tuan mendapatkan apa yang tuan inginkan."
El lalu melepas pelukannya dari tubuh Chika, kemudian memakai selt beltnya.
"Hmmm, jangan cuma bicara tapi buktikan saja. Cepat kamu pakai selt belt kamu. Saya akan antar kamu ke apartemen, dan besok pagi saya akan menjemput kamu untuk berangkat ke sekolah."
"Tapi tuan, bolehkah malam ini saya tidur dirumah Maya. Saya butuh teman untuk bercerita tuan."
"Baiklah, tapi hanya malam ini saja."
"Terima kasih tuan," jawab Chika sambil memberikan senyuman cantiknya pada El.
Tiba tiba jantung El bergerak kencang, melihat Chika yang sedang tersenyum pada dirinya.
"Deggg..,kenapa sama jantungku. Sepertinya aku tidak mempunyai riwayat penyakit jantung. Tapi detakan ini begitu kencang saat mata Chika melihatku. Aku harus tenang. Mungkin sudah lama aku tidak pergi berdua dengan seorang wanita jadi aku merasa gugup. Lebih baik aku segera antar Chika kerumah temannya," batin El dengan matanya yang masih memandangi wajah Chika.
"Tuan, ayo jalan, kok malah ngeliatin saya terus," ucap Chika yang seketika membuyarkan lamunan El.
"Jangan geer kamu. Saya hanya melihat bedak kamu yang luntur."
"Bedak saya luntur tuan? Jadi kayak hantu dong wajah saya?"
"Ya begitulah, sudah lebih baik saya segera antar kamu ke rumah teman kamu. Dan cepat istirahat dan persiapkan diri kamu. Karna besok setelah pulang sekolah, kita langsung ke bandara untuk menjemput mama dan papa saya."
"Baik tuan," jawab Chika.
Setelah mengantar Chika ke rumah Maya, El berusaha menghubungi Haris.
"Halo Ris, kamu dimana?"
"Saya ada di apartemen pak, ada apa pak?"
"Loh kata kamu mau matikan ponsel, kenapa gak jadi?"
"Enggak pak, tadi non Chika bilang ke saya katanya Pak El hanya berpura-pura memperbolehkan saya mematikan ponsel. Dan hanya menggunakan bahasa kiasan untuk menyuruh saya mati."
"Ya iya Haris, jadi kamu baru sadar setelah Chika yang memberitahu kamu? Haris Haris, kenapa loading kamu jadi lama. Udah uninstall saja otak kamu dan beli yang baru. Cari yang spect nya lebih cepat. Tapi ingat ini hanya bahasa kiasan loh. Jangan beneran cari otak, karna gak ada yang jual."
"Hahahaha, iya pak. Kalau ini saya sudah paham. Oh iya ada apa Pak El menghubungi saya malam malam begini? Apa bapak masih bersama non Chika?"
"Tidak, dia barusan saya antar ke rumah temannya. Saya ada tugas baru buat kamu."
"Tugas baru? Apa Pak? "
" Hancurkan perusahaan Pak Dirga yang sedang di pimpin om nya Chika bernama Pandu. Dan setelah kamu bisa ambil alih, atas namakan perusahaan itu untuk Chika. Paham Haris?"
"Baik pak, besok pagi saya akan laksanakan perintah Pak El."
"Terima kasih Haris."
"Sama sama pak," jawab Haris.
__ADS_1
Haris tersenyum setelah panggilan dari bos nya berakhir.
"Pak El kayaknya udah mulai peduli sama non Chika. Memang ya, yang bisa meluluhkan hati Pak El hanya non Chika. Gayanya aja di depan non Chika berhati beku, ternyata kalau di belakangnya hatinya lembek kayak hello kitty. Pak El, Pak El, kapan dia sadar kalau perlahan dia sudah mulai mencintai non Chika," batin Haris.