Terjerat Pernikahan Di Atas Kertas

Terjerat Pernikahan Di Atas Kertas
Amnesia


__ADS_3

El segera melepaskan bibirnya dari bibir Chika, ketika mendengar ada seseorang yang melihat adegan mereka. Pelan pelan El mulai membuka matanya, dan ia melihat orang yang menyapanya tadi hanya senyum senyum sendiri dengan sedikit memicingkan sebelah matanya.


"Daniel? Sedang apa kau disini?" tanya El dengan degup jantung berdetak kencang.


Ya, orang yang memergoki dirinya dan Chika adalah sahabatnya Daniel.


Daniel mulai keluar dari lift, berjalan dan kini berdiri sejajar dengan Chika dan El. Nampak jelas mimik wajah Daniel saat ini. Ia terus saja menatap mereka sambil tersenyum mengingat apa yang baru saja ia lihat.


Chika yang merasa malu dengan Daniel, langsung memalingkan wajah sambil terus memegangi bibirnya.


"Aku ini kenapa? Kenapa lagi lagi aku diam saat tuan El mencium bibirku. Tadi saat di dalam lift bibir kami hanya bersentuhan. Tapi yang sekarang? Aku benar benar merasakan ciuman dari bibirnya, permainan lidahnya, bahkan hembusan nafasnya. Chika ada apa dengan kamu?" Untuk kedua kalinya, Chika kembali mengutuk dirinya sendiri.


"Oh iya El, pertanyaanku belum kamu jawab. Sedang apa kamu dan Chika disini?" tanya Daniel kembali.


"Bukan urusanmu. Harusnya aku yang bertanya kenapa kamu bisa tiba tiba datang kesini? Kamu pasti membuntutiku dan Chika kan?"


Daniel tertawa, sepertinya temannya itu sudah amnesia. Ia lupa jika Daniel juga tinggal di apartemen itu di lantai yang sama juga.


"El, El, sepertinya kamu lupa jika aku tinggal di apartemen dan lantai dimana kamu berdiri sekarang. Aku rasa kamu memang sedang di mabuk kepayang dengan Chika ya. Sudahlah El, aku mau istirahat. Sehari ini aku menangani banyak pasien. Kalian lanjutkan lagi saja aktivitas kalian yang tadi, tapi jangan disini ya El. Lihat diatas kepalamu ada cctv," ujar Daniel hingga membuat mata El dan mata Chika sekejap merosot bersama.


Spontan Chika dan El pun menoleh keatas, memastikan kebenaran akan ucapan Daniel.


"Ya Tuhan, benar kata dokter ini. Ada cctv, bagaimana ini. Kalau sampai menyebar ke sosial media dan semua teman di sekolah mengetahuinya, mau dimana wajahku nanti. Mereka akan mengira aku simpanan om om kalau enggak aku cewek BO. Aiishh.. tuan El pakai acara cium cium aja sih. Sehari ini udah berapa kali dia melanggar perjanjian," batin Chika dengan penuh kekesalan didalam hati.

__ADS_1


Pandangan Chika bepindah tertuju ke arah mata El. Walau diam, nampak terlihat sorotan mata Chika seakan meminta pertanggung jawaban dari El.


Tak mau kalah dari Chika, El membalas tatapan Chika dengan sinis. Bahkan keduanya kini seperti kucing dan anjing yang sudah siap menerkam mangsanya masing masing.


"El aku pergi dulu ya. Kalau mau lanjut menyelesaikan urusan rumah tangga kalian, silahkan di lain tempat ya. Jangan buat security memaksa kalian keluar dari apartemen ini karna membuat kegaduhan. Memang kamu siap jika kamu masuk surat kabar besok?" perkataan Daniel seperti membangunkan El dari tidurnya. Ia hampir saja lupa dengan jati dirinya sebagai Elvano Aristya, putra pengusaha terkaya di negeri itu.


"Terima kasih Daniel, sudah mengingatkanku," ucap El dengan tangannya yang menepuk bahu kanan Daniel.


"Sama sama El, kalau begitu aku pamit. Dan jangan lupa lusa ada acara ulang tahun putrinya Tania dan Bayu. Kamu datang kan El?"


"Tentu, kamu tahu sifatku. Jika aku sudah berjanji pasti akan ku tepati."


"Okelah El, aku pergi dulu. Chika cantik, saya pamit ya. Hati hati sama El, jangan mau di gigit lagi," Daniel kembali memancing emosi El.


Namun baru saja El akan melempar bom molotov ke wajah Daniel, sahabatnya itu sudah kabur dengan cepat. Ia sudah tahu ucapannya itu akan membuat El kembali naik darah.


Sekarang tinggal tersisa El dan Chika kembali. Sayangnya, celotehan Daniel sedari tadi tidak pernah membuat pandangan Chika pada El berubah. Matanya itu masih saja menatap sinis mata El. Keadaan seakan berbalik. Chika kali ini yang dibuat marah dan emosi oleh El.


"Kenapa kamu menatap saya seperti itu?" tanya El dengan berusaha tetap bersikap tenang.


"Masih mau tanya? Apa perlu kita ke bagian teknisi untuk minta rekaman cctv dan mengingatkan tuan dengan apa yang sudah tuan perbuat pada saya?"


El seketika terdiam. Mau menjawab, tapi memang dia bersalah. Dia sendiri juga bingung kenapa dia tadi begitu menginginkan bibir Chika.

__ADS_1


"Kenapa diam?udah sadar kalau salah?" tanya Chika hingga membuat El sedikit terkejut dengan sikapnya.


"Hmmm, jangan terlalu percaya diri. Bukannya kamu juga senang dan menikmati ciuman yang saya berikan. Sudahlah Chika, kita sama sama khilaf. Jangan seolah kamu menjadi korban. Sekarang cepat kita masuk ke apartemen kamu, Haris pasti sudah bosan menunggu kita yang tak kunjung kembali," ucap El yang langsung melangkah pergi meninggalkan Chika.


Tapi sayangnya ucapan El itu seperti jarum yang menancap dalam ke hati Chika. Chika masih berdiri sambil menunduk. Menyalahkan diri sendiri, karna pertahanannya goyah. Merasa menjadi wanita murahan, yang rela memberikan ciuman pertamanya pada lelaki yang tidak pernah menghargai dirinya.


Air mata terus mengalir di pipinya. Apalagi punggung El semakin jauh meninggalkan dirinya.


"Buat apa aku mengikutinya. Lebih baik aku pergi saja," batin Chika sambil membalikkan badannya kembali, menunggu pintu lift itu akan terbuka.


Sadar tak ada langkah kaki mengikuti dirinya di belakang, El kembali menoleh. Dan benar, Chika masih berdiri di depan lift sambil menunggu pintu lift terbuka.


"CHIKA BERHENTI!!" teriak El, namun Chika sama sekali tak menjawabnya.


Ting...


Pintu yang sudah di tunggu Chika mulai terbuka. Kakinya mulai melangkah masuk kedalam lift. Sedangkan El berusaha berlari mengejar Chika.


Terlihat El semakin mempercepat langkahnya, berusaha mengejar waktu sebelum pintu itu tertutup dan akan membawa Chika pergi darinya. Pintu lift mulai tertutup pelan pelan.


"CHIKA TUNGGU!!" teriak El,dan..


Bersambung..

__ADS_1


Apa babang El berhasil menahan pintu lift itu atau malah dia benar akan kehilangan jejak Chika?


Next episode ya guys..😊😊


__ADS_2