
25 menit kemudian, sampailah mereka di depan rumah berlantai dua yang terlihat sangat unik. Banyak ukiran kayu, yang menambah kesan klasik rumah tersebut.
"Ini rumahnya Ris? Kamu gak salah alamat kan?" tanya El.
"Ya enggaklah pak. Bapak bisa di cek kan itu nomor rumahnya sama dengan yang ada di handphone bapak."
"Oh iya. Lumayan bagus ya konsep rumahnya," ujar El sembari memandangi rumah klasik itu.
"Bapak kesini mau menilai arsitektur rumah ini atau mau menjemput non Chika pak?Kita jadi turun sekarang gak? Nanti keburu non Chika..."
Belum selesai bicara, El sudah terlebih dulu keluar dari mobil. Ingin segera ia menyelamatkan putri hatinya.
Melihat bosnya turun dengan emosi yang menggebu gebu, Haris dengan cepat menyusulnya dan menarik tangan El.
"Pak tunggu pak, jangan gegabah," ujar Haris yang mendapat sorotan mata mendelik dari El.
"Bukan niat saya menasehati Pak El, tapi ada baiknya kita berpura-pura dulu baik dengan mereka. Baru kalau gak bisa di baikin kita pakai cara kasar," Haris meralat kembali ucapannya, takut El akan tersinggung nantinya.
"Hmmm, benar juga. Semakin kesini kamu semakin cerdas. Pertahankan ya. Sekarang ayo kita masuk," titah El.
"Baik pak."
Sesaat kemudian, ada dua lelaki bertubuh besar menghadang langkah mereka.
"Selamat siang, ada keperluan apa anda kemari?" tanya salah seorang anak buah Pandu.
"Siang pak, kami ingin bertemu tuan Pandu. Ini bos saya, kita sudah ada janji," Haris memasang tampang meyakinkan.
Kedua penjaga itu saling berbisik sembari melihat tampilan kedua lelaki di hadapan mereka dari atas hingga bawah.
"Kayaknya mereka orang kaya," ujar seorang penjaga.
"Iya juga. Mungkin rekan bisnis bos Pandu. Udah suruh masuk aja," ujar penjaga satunya.
Selesai berdiskusi, akhirnya mereka berdua mempersilahkan El dan Haris masuk ke dalam rumah.
"Silahkan duduk dulu, saya akan panggilkan tuan Pandu dan nyonya Renata."
"Terima kasih," jawab Haris.
__ADS_1
Penjaga tadi pergi ke dalam untuk memanggil Renata dan Pandu, sedangkan El mengamati seluruh ruangan yang cukup menarik hatinya.
"Rumahnya gak mewah, tapi unik ya Ris," ujar El.
"Pak, dari tadi bapak selalu memuji rumah Pak Dirga. Kalau suka tinggal buat yang sama aja dong pak. Uang bapak kan banyak, mau buat yang model begini 10 pun bisa," jawab Haris yang mulai bosan mendengarkan El bicara soal rumah Chika.
"Benar juga kata kamu. Besok rumah masa depan saya dan Chika akan saya buat seperti ini."
Haris memutar kedua bola matanya. Semenjak mengalami puber kedua, El semakin tidak waras. Selalu berkhayal, padahal belum tentu Chika juga mau.
Tak berapa lama, Pandu dan Renata datang. Meski wajahnya tegang, namun mereka berdua bersikap santai. Seolah olah tak mengerti maksud kedatangan orang terkaya nomor satu di negeri itu.
"Selamat siang," ujar Haris.
"Selamat siang. Bukankah anda tuan Elvano. Pimpinan Eristya Group?" tanya Pandu sembari mengulurkan tangannya.
El tak membalas uluran tangan tersebut dan tetap duduk di sofa dengan sorot mata yang tajam. Gimana mau baik, jelas jelas mereka sudah membawa Chikanya. Namun El tetap menjaga emosinya, mengingat pesan Haris sebelumnya.
Sangat sombong, itu yang di pikirkan Renata dan Pandu sekarang. Tapi mereka masih saja mengulas senyum di wajahnya, karna ini kesempatan besar untuknya mendapatkan hati seorang Elvano yang terkenal dingin, kaku seperti batu.
"Suatu kehormatan bagi kami bisa kedatangan tamu spesial di gubuk kecil kami. Kira kira ada tujuan apa tuan Elvano kemari?" tanya Pandu yang sudah mengetahui maksud kedatangan El.
El menatap Haris. Rasanya geram sekali ia melihat asistennya itu masih bersikap manis pada dua orang yang sudah menyakiti pujaan hatinya.
"Ris, kalau kamu kebanyakan bicara lebih baik saya aja yang bertindak," Mata El mendelik ke arah Haris, sebuah isyarat untuk tidak terlalu lama basa basi.
Mendengar pertanyaan Haris, baik Pandu dan Renata sama sama menoleh. Tebakan mereka ternyata benar. Pancingan mereka untuk menculik Chika sungguh membuat El mencarinya.
"Apa? Ponakan saya gak di sekolah?" Renata kini yang mulai beraksi.
"Iya nyonya, non Chika gak ada di sekolahnya," jawab Haris.
"Tapi dia gak kemari itu pak. Bahkan sudah hampir sebulan dia tidak tidur di rumah. Kami justru tidak tahu jika dia sedang menjalin hubungan dengan seorang pria berpangkat seperti anda tuan Elvano," sela Pandu.
El yang sedari tadi duduk mulai bangkit dari sofa. Senyuman licik itu kini terurai di bibirnya. Kayaknya sudah cukup untuk bermain main.
"Tuan Pandu, jika anda ingin berakting besok saya akan daftarkan anda casting di salah satu rumah produksi saya. Jangan buang buang waktu saya. Sekarang saya tanya dimana Chika?" teriak El.
Tak gentar, Pandu tak kalah membalas gertakan El.
__ADS_1
"Tuan Elvano yang terhormat. Saya kira anda ini pengusaha kaya yang tahu akan etika baik bertemu ke rumah orang. Ternyata hanya status anda yang kaya, tapi tutur kata dan tingkah lakunya zonk," ucapan Pandu begitu menyayat hati El. Beraninya orang seperti Pandu merendahkan dirinya.
Tangan El mengepal. Ia sudah bersiap untuk memukul wajah Pandu yang sudah berani menghina seorang Elvano.
Belum sampai melangkahkan kakinya, Haris sudah menghadang tubuh El dengan punggungnya.
"Biar saya aja yang memukul mulutnya pak. Jangan kotori tangan anda untuk manusia hina seperti mereka," Haris menoleh ke belakang dan meminta El untuk mengurungkan niatnya.
Bugh...
Haris memukul Pandu tepat di mulut Pandu.
"Rasain itu. Makanya jangan pernah anda menghina bos saya. Atau saya akan keluarkan jurus katak terbang biar buta sekalian itu mata anda," ucap Haris.
Satu pukulan Haris berhasil membuat Pandu yang tersungkur ke lantai. Ya tangan Haris seperti besi, satu pukulan saja bisa membuat lawannya mati kutu. Makanya El tak butuh bodyguard, karna cukup pergi dengan Haris semua aman.
"Sayang kamu gak papa?" Renata membantu suaminya kembali bangkit berdiri.
"Hei kalian, apa maksud kalian memukul suami saya. Bisa saya laporkan tindakan kalian ini ke polisi," Renata sedang mengancam El dan Haris. Berharap ini akan menjadi senjatanya untuk memeras El.
Bukannya takut, El dan Haris malah tertawa mendengar ucapan Renata.
"Lapor ke polisi? Silahkan. Karna saya juga akan melaporkan kalian atas dugaan penculikan dan penganiayaan pada Chika," jawab El sinis.
"Penculikan? Hahahaha.., jangan kasih tuduhan tanpa bukti. Ini akan semakin memberatkan anda di kantor polisi nanti," sahut Pandu.
Tuduhan palsu? Oh ya? Sepertinya anda lupa sekarang sedang berhadapan dengan siapa. Saya tahu Chika ada di dalam. Kembalikan Chika atau kalian akan menyesal," gertak El. Kini keadaan seakan berbalik, El ganti yang mengancam Renata dan Pandu.
"Penjaga, cepat usir mereka dari sini," Pandu berteriak. Meminta bantuan pada para anak buahnya.
"Baik bos."
Baru saja ketiganya hendak mendekat ke arah Haris dan El, tiba tiba satu amplop coklat berisi segepok uang di lempar kearah ketiganya.
"Berhenti, dan ambil uang itu. Jika masih kurang, saya akan kasih dua kali lipatnya," ucap El.
Haris syok. Dua tahun lamanya ia menjadi asisten setia El, tidak pernah bosnya itu memberikan uang sebanyak itu.
"Ah.. Enak banget ya jadi preman preman itu. Dapat duit segitu secara cuma cuma. Sayang banget tuh duitnya, kalau di kasih ke aku udah bisa buat nikahi 7 gadis di desa," Haris meenggerut kesal di dalam hati.
__ADS_1