Terjerat Pernikahan Di Atas Kertas

Terjerat Pernikahan Di Atas Kertas
Gara-Gara Kapas


__ADS_3

Setelah selesai mencari apartemen, Haris hendak menghubungi El. Namun ia terkejut melihat ponselnya yang mati.


"Ya Ampun, kenapa aku bisa lupa mengecek handphoneku. Ada apa Pak El dari tadi menghubungiku? Lebih baik aku pulang dulu ke apartemen untuk mengisi baterai handphoneku," batin Haris yang dengan segera pulang ke apartemennya.


Sesampainya di apartemen, Haris pun langsung mencharge ponselnya sambil menyalakan kembali ponselnya. Matanya terbelalak melihat 250 panggilan dari bosnya.


"Kenapa Pak El menelponku sebanyak ini. Apa yang terjadi? Apa petugas yang aku suruh ke rumah belum datang ya?" gumam Haris.


Belum lama ia memikirkan bosnya, El sudah kembali menghubungi dirinya.


"Duh Pak El udah nelpon lagi, aku ambil kapas dulu deh. Aku mau sumpel telingaku, pasti dia akan berteriak. Gak lucu kan kalau sampai gendang telingaku pecah gara gara omelannya," batin Haris.


Setelah menutup lubang telinganya dengan kapas, Haris akhirnya mengangkat telpon dari bosnya. Dan benar dugaannya, El langsung berteriak keras di telpon.


"HARIS!!!! DARIMANA KAMU!!!" teriak El.


"Maaf pak, tadi handphone saya low bat. Saya baru tahu setelah cari apartemen untuk non Chika. Makanya saya pulang ke apartemen untuk mengisi baterai ponsel saya pak."


"Jadi sekarang kamu sudah pulang?" teriak El kembali.


"Iya pak, memangnya ada apa?"


"Kamu itu pura pura lupa atau memang sudah bodoh sih Haris. Di Mobil kan ada power bank, Lagi pula kamu juga bisa mengisi di mobil kam. Ngapain kamu pulang," teriak El penuh kemarahannya.


"Eh iya pak saya lupa. Kenapa saya ikut menjadi bodoh seperti ini sih pak. Ini pasti gara gara saya tadi satu mobil dengan non Chika ya pak. Saya lupa belum di semprot, jadi kena deh virus non Chika," jawab Haris sambil tertawa kecil.


Teringat dengan kata semprot yang dimaksud Haris, El kembali murka dengan asistennya itu.


"HARIS!!! Gara gara kamu, saya kehabisan oksigen hari ini."


"Loh kok bisa pak? Memang stok oksigen di rumah habis?"


"Sudahlah Haris. Saya gak mau membahas itu sekarang. Bisa jadi ikut bodoh saya kalau terlalu lama bicara di telpon dengan kamu. Sekarang kamu kerumah, dan bawa juga Chika kerumah. Ada yang mau saya bicarakan sama kalian, penting."


"Sekarang pak?" tanya Haris kembali.


"Ya sekarang, barusan saya bilang sekarang itu tandanya sekarang," teriak El.


"Baik baik pak, saya akan menjemput non Chika."


"Cepat!!"


"Baik pak," jawab Haris yang lalu menutup ponselnya.


Haris bergegas mengambil kunci mobil dan ponsel yang sedang ia charge.


Dan beberapa saat kemudian, ia pun tiba di depan rumah Maya, sahabat Chika.


Sebelum masuk, Haris pun melihat jam yang melingkar di tangannya.


"Huft udah jam setengah sembilan. Apa non Chika bisa diajak kerumah Pak El ya. Mau bilang apa aku sama kedua orangtuanya Maya," batin Haris.

__ADS_1


Ia pun mulai melangkah masuk kedalam rumah Maya. Namun nasib baik sedang berpihak padanya.


Chika dan Maya baru saja kembali dari membeli camilan di luar.


"Loh om, kok kesini malam malam. Ada apa?" tanya Chika yang langsung turun dari motor Maya.


"Eh non, kebetulan non Chika disini. Kita disuruh kerumah Pak El sekarang. Katanya ada hal penting yang mau dibicarakan."


"Sekarang om? Ini udah malam lho. Gak bisa besok apa? Bilang gih sama bos kamu itu,aku gak mau," gerutu Chika.


"Tolonglah non, ikut saja. Jangan mempersulit semuanya."


"Oke aku ikut. Tapi...," ucap Chika namun Haris langsung mengeluarkan dompetnya.


"Ini, cukup kan non?" jawab Haris sambil menberikan 5 lembar uang merah ke hadapan Chika.


"Hahahaha, om tau aja yang aku mau. Oke deh aku ikut," jawab Chika.


"May, gue pamit ya. Nanti gue telpon kalau gue udah mau balik," pamit Chika.


"Oke Chik, hati hati ya."


"Oke May," jawab Chika.


"Om Pinky, titip sahabatku ya," goda Mata namun tak dihiraukan oleh Haris.


Haris melirik kearah Chika dengan lirikan tajam, dan ia melihat Chika hanya tersenyum sambil tangannya membentuk huruf V.


"Peace om, cuma Maya kok yang tahu," lirik Chika.


Selama di dalam mobil, lagi lagi Chika menertawai Haris hingga membuat Haris berusaha bersikap tenang di depannya.


"Kenapa non masih ketawa. Inget kejadian tadi siang?" tanya Haris dengan tatapan lurusnya.


"Enggak kok om."


"Terus kenapa masih ketawa?" tanya Haris yang masih penasaran.


"Gak papa,pengen ketawa aja. Oh iya om, mau tanya dong gimana ceritanya tuan El bisa mempekerjakan om?" tanya Chika sambil senyum senyum sendiri.


"Oh, itu saya lulus seleksi online."


"Online? Cari asistennya online? Pantes aja," ujar Chika yang semakin membuat Haris penasaran.


"Pantes apa non?"


"Pantes aja kurang satu ons, hahahaha," jawab Chika.


Haris hanya melirik Chika sekilas, tanpa mau lagi melanjutkan pembicaraan mereka.


Dan beberapa saat kemudian, mobil Haris tiba di halaman rumah El.

__ADS_1


Chika dan Haris pun bergegas masuk, dan mereka diminta langsung masuk ke ruang kerja El.


Tok...Tok...Tok...


"Siapa?" tanya El dari dalam ruangan.


"Saya sama non Chika pak," jawab Haris.


"Masuk," teriak El.


Haris dan Chika pun langsung masuk ruang kerja El sesuai perintahnya.


"Permisi pak," sapa Haris.


"Hmmm, cepat kalian duduk," perintah El.


"Baik pak," ucap Haris.


"Silahkan non," ucap Haris kembali sambil menggeser kursi untuk Chika.


"Makasih om," jawab Chika yang masih saja tertawa melihat Haris.


"Non Chika ini kenapa sih. Ketawa terus, nanti kalau Pak El nanya terus dia cerita, aku jadi malu kan," Haris berkata dengan dirinya sendiri.


Setelah semua duduk, El pun mulai bercerita tentang kepulangan kedua orang tuanya. Chika yang memahami rencana El pun mengangguk pelan. Sedangkan Haris bingung dengan pembicaraan mereka yang tidak terdengar olehnya.


"Haris kamu paham kan perintah saya?" ucap El namun tak ada jawaban dari Haris.


"Haris kamu dengar kan perkataan saya barusan?" tanya El dengan nada meninggi.


"Enggak pak, gak dengar," jawab Haris spontan.


Chika pun tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Haris yang lupa dengan kapas di telinganya.


"Ya gak bakal dengarlah tuan, itu lubang telinganya aja di tutup kapas," ucap Chika yang membuat El pun berdiri.


"APA? HARIS BUANG ITU YANG ADA DI TELINGA KAMU!!" teriak El dengan suaranya yang menggelegar.


Haris dengan segera mengambil kapas yang menutupi lubang telinganya.


"Haduh kok bisa aku lupa ada kapas di telinga. Ini semua gara gara kapas sialan. Bentar lagi pasti Pak El bakal motong gajiku. Udah handphone mati, sekarang malah pakai acara budeg. Sial,sial..," batin Haris sambil mengutuk dirinya sendiri.


Sambil berdiri, Haris menundukkan setengah badannya.


"Maaf pak maaf," ucap Haris dengan wajah yang mulai memucat.


"Buat apa kamu pasang kapas disana?" tanya El.


"Ya buat jaga jaga pak, biar gendang telinga saya gak pecah karna suara teriakan Pak El di telpon tadi," jawab Haris polos.


"HARISSSSSSSS!!!!!!" teriak El karna tak menyangka dengan jawaban Haris.

__ADS_1


Chika pun hanya tertawa melihat tingkah kedua lelaki di hadapannya. Dan tanpa disadari Chika, mereka sudah menatap dirinya dengan tatapan kemarahan.


"Mati gue, kayaknya bentar lagi gue dapet amukan masal nih. Mending duduk aja deh, pura pura gak lihat dan gak dengar apa apa," batin Chika sambil memalingkan pandangannya.


__ADS_2