
Langit mulai terang dan terdengar suara ayam yang menandakan waktu sudah pagi. El melihat ke arah jam dinding di kamarnya.
"Huft ternyata sudah jam 5 pagi, dan sampai sekarang aku belum bisa tidur karna memikirkan pertemuan Chika dengan mama dan papa nanti. Sudahlah lebih baik aku telpon Haris, dan memberitahunya untuk berangkat pagi. Aku kan sudah janji untuk menjemput Chika hari ini," batin El sambil meraih ponsel di atas meja samping ranjangnya.
Dengan segera El menelpon Haris, namun sayang panggilan pertamanya tak diangkat. El masih berusaha terus menghubungi Haris dan untungnya panggilannya kali ini langsung diangkat oleh Haris.
"Pagi Pak El, ada apa menelpon saya?"
"Maaf Haris aku sudah menelpon dirimu subuh subuh seperti ini. Apa aku sedang mengganggu tidurmu?"
"Tidak pak, saya sudah bangun kok."
"Terus kenapa kamu angkat telponnya lama?"
"Oh tadi saya sedang sholat subuh pak. Ya bagaimana pun kita kan harus melaksanakan kewajiban kita pak sebagai umat beragama. Apa Pak El sudah sholat?"
El terdiam dengan pertanyaan Haris. Sudah lama ia tidak menunaikan ibadah hanya karna rasa kecewanya pada Tuhan yang sudah memisahkan dirinya dengan Tania.
"Pak El, kenapa diam? Apa ada sesuatu yang ingin bapak tugaskan pada saya?"
"Oh iya Haris maaf. Kamu cepat mandi dan jemput saya sekarang. Kita kerumah temannya Chika sekarang. Saya kemarin malam sudah bilang akan menjemput dia dan mengantarnya ke sekolah pagi ini."
"Baik pak. Wah sepertinya benih cinta sudah tumbuh ya di hati Pak El."
"Cinta? Apa itu cinta saya tidak kenal. Daripada kamu menggoda saya, lebih baik segera mandi dan jemput saya sekarang."
"Baik Pak El." jawab Haris yang langsung mematikan panggilannya dengan El.
*********
45 menit kemudian...
El yang sudah selesai mandi langsung keluar dari kamarnya, bergegas menuju meja makan untuk sarapan. Namun baru saja meletakkan pantatnya diatas kursi, suara mobil Haris terdengar.
Beberapa saat kemudian, Haris tiba dan berjalan ke ruang makan untuk menemui bos nya.
"Pagi Pak El, apa kita mau berangkat sekarang?" tanya Haris.
"Duduk dulu Ris, ada yang mau saya bicarakan sama kamu," perintah El sambil mengolesi selai diatas rotinya.
Haris duduk menyebelahi El, dengan penuh rasa percaya diri ia mengambil roti dan ikut memakan roti bersama El.
Tingkah Haris barusan, membuat mata El seketika melirik ke arah Haris tajam.
"Hmmm, siapa yang suruh kamu ikut makan?" El berusaha menyindir Haris, namun itu tak membuat Haris meletakkan rotinya malah justru mengambil roti kembali.
"Loh lha Pak El menyuruh saya duduk berarti menyuruh saya makan juga kan pak?" jawab Haris tanpa rasa bersalah.
"Siapa bilang, saya itu mau cerita soal kejadian yang dialami Chika tadi malam."
"Owalah, yaudah bapak cerita aja. Saya dengarkan, tapi sambil makan roti ya pak. Perut saya masih kosong, nanti kalau saya gak mengisi perut saya, otak saya juga ikut kosong. Dan itu berpengaruh dengan imun tubuh saya pak. Kecerdasan saya juga akan turun. Nanti Pak El..."
"Cukup ya Haris. Ya ya ya, silahkan ambil roti itu. Tapi kamu harus dengar baik baik perintah saya."
"Baik pak," jawab Haris sambil melahap beberapa roti dihadapannya.
__ADS_1
El mulai menyusun strategi untuk mengambil alih perusahaan milik Pak Dirga. Dengan setia Haris mendengarkan semua penjelasan yang keluar dari mulut El. Ia menganggukan kepala, seperti mengerti apa yang sedang dibicarakan bosnya sekarang.
Selesai memberi pengarahan pada asistennya, mata El tiba tiba turtuju pada piring kosong di hadapannya. Matanya membulat ketika melihat semua roti di depannya sudah habis.
"Haris kamu lapar apa doyan?" tanya El yang seakan tak percaya jika roti diatas meja kini sudah berpindah tempat ke perut Haris.
"Dua duanya pak, habis dari semalam saya belum makan pak."
"Ya sudah, yang penting kamu tahu apa yang harus kamu lakukan hari ini kan?" tanya El.
"Tahu pak. Kalau perut udah kenyang begini kan otak juga ikut encer."
"Ya gimana gak kenyang, kamu habiskan semua roti di meja. Sebenarnya kamu pernah makan roti gak sih?" lirih El namun terdengar oleh Haris.
"Ya pernahlah pak, tapi roti yang saya makan gak selembut punya bapak. Ini beli dimana ya pak? Kok enak banget."
"Di pasar hewan, sudah ayo pergi nanti kita terlambat menjemput Chika."
"Baik pak," jawab Haris sambil memutar kedua bola matanya berpikir ulang maksud ucapan El tadi.
"Di pasar hewan ada yang jual roti seenak ini? Kok aku gak pernah tahu ya. Oh mungkin di sebelah pasar hewan ada toko roti. Mungkin maksud Pak El itu kali ya. Wah sekarang kecerdasanku sudah kembali, gak sia sia aku borong obat di apotek kemarin," batin Haris hingga tanpa ia tahu bosnya sudah pergi dari ruang makan.
Dengan langkah cepat, Haris berusaha mengejar El dan segera membukakan pintu mobil belakang. Setelah El masuk, Haris bergegas menuju kursi kemudi lalu menjalankan mobilnya.
"Cepat ya Haris, takutnya mereka sudah berangkat."
"Baik pak."
15 menit berlalu, mereka pun sudah tiba di depan rumah Maya. Dan kebetulan, Maya dan Chika sedang mengeluarkan motor.
"Cepat kamu turun, dan beritahu mereka untuk tidak pergi naik motor. Lalu suruh mereka masuk ke dalam," perintah El.
"Baik pak."
Sesuai perintah El, Haris langsung turun dari mobil dan menemui kedua gadis yang memakai seragam putih abu abu itu.
Dari jauh, Haris seperti tak percaya melihat perubahan rambut Chika yang membuatnya terlihat semakin menawan. Dalam hatinya sekarang, ingin sekali ia memuji gadis calon istri bosnya itu.
"Pak El ternyata benar benar merubah non Chika menjadi secantik sekarang. Duh, andai saja aku sekaya Pak El, aku juga mau melakukan perjanjian dengan non Chika. Dan kalau saja cerita di dongeng Aladin itu nyata, aku pasti senang dan segera meminta bertukar nasib dengan Pak El. Hahahaha, pasti lucu ya kalau Pak El jadi aku," batin Haris sambil tertawa membayangkan sesuatu di benaknya sekarang.
Selesai membayangkan hal konyol dalam pikirannya, Haris bergegas menghampiri Chika dan Maya.
"Pagi non Chika, mbak Maya." sapa Haris.
"Eh si om, pagi om," jawab keduanya bersamaan.
"Oh iya Pak El sudah menunggu kalian di mobil. Dan Kalian sebaiknya memasukkan kembali motornya, soalnya Pak El ingin mengantar kalian ke sekolah. Semalam katanya Pak El sudah bilang sama non Chika," ucap Haris.
"Oh iya om, aku malah lupa," jawab Chika.
"Wah berangkat naik mobil ya? Boleh boleh om. Lumayanlah gak keluar bensin hari ini. Bentar ya om, aku masukin motorku dulu," ucap Maya.
"Baik mbak."
Saat Maya sedang masuk kembali ke dalam rumah, Haris yang berdiri berdua dengan Chika langsung berusaha menggoda dirinya.
__ADS_1
"Ciye non Chika semalam habis ngedate ya sama Pak El. Gimana non rasanya, jalan sama si bos?"
"Rasa apaan. Udah jangan ngaco deh om. Ayo May buruan, nanti kita telat loh," teriak Chika dengan lirikan tajam ke arah Haris.
"Iya iya Chik," jawab Maya yang kemudian menghampiri Chika dan Haris.
Haris tersenyum geli melihat wajah Chika yang seketika memerah saat membahas bosnya.
"Silahkan non," ucap Haris sambil membukakan pintu mobil untuk Chika.
"Makasih om," jawab Chika dengan nada datar.
"Eh mbak Maya duduk di depan. Karna Pak El ada di belakang."
"Oh iya om," jawab Maya.
Setelah semua masuk kedalam, Haris langsung menjalankan mesin mobilnya untuk segera mengantar keduanya ke sekolah.
Dari spion depan, Maya menelan slivanya melihat ketampanan El. Bayangannya tentang lelaki tua yang akan menikahi Chika ternyata salah. Meski umur El 12 tahun diatasnya, namun El sama sekali tak terlihat tua.
"Oh jadi ini tuan yang akan jadi calon suami Chika. Yah, kalau model yang begini gue juga mau kali. Gak usah nikah karna perjanjian, nikah selamanya pun gue mau," batin Maya sambil memandangi wajah El.
Haris yang duduk di sebelah Maya dapat melihat gelagat Maya yang sedang memandangi bosnya. Dan muncul ide jahilnya untuk mengerjai seluruh orang di dalam mobil.
Ccciiittt..
Haris sengaja membanting stirnya ke kanan.
Bugghh...
Kepala maya terbentur ke pundak Haris yang membuat pandangannya pada El hilang seketika. Dan karna ulah Haris, Chika kini malah jatuh ke pelukan El. Hingga kedua mata mereka bertemu.
"Kamu gak papa," tanya El dengan matanya yang tertuju pada kedua bola mata Chika.
"Gak papa tuan," jawab Chika.
"Duh kenapa gue jadi deg degan gini sih lihat wajah si om. Ternyata kalau diamati dari dekat gini, si om ganteng banget ya," gumam Chika dalam hati.
Sadar jika Chika mengamati dirinya, El dengan segera melepaskan pelukan dari tubuh Chika dan membenahi kembali jasnya.
"Haris, kamu bisa bawa mobil gak sih?" teriak El.
"Maaf Pak, tadi ada tikus nyebrang."
"Cuma gara gara ada tikus kamu mau buat kita semua mati. Yaudah tabrak aja, kenapa harus menghindar,"
"Ya jangan gitu Pak, tikus kan juga makhluk hidup kasihan kalau sampai mati apalagi ketabrak.Tragis banget nasibnya."
Chika dan Maya terkikik mendengar alasan Haris. Namun mereka berusaha menahan tawa dalam hati. Apalagi terlihat jelas kekesalan di wajah laki laki di sebelahnya.
" Om om, bisa mati muda tuan El kalau mertahanin om jadi asistennya. Tapi anehnya tuan El kok malah betah sama dia seharian. Apa jangan jangan ada hubungan gelap ya antara om Haris dan tuan El. Hii, ngeri deh gue," batin Chika hingga membuat bulu kuduknya berdiri.
"Sudah ya Haris, sekarang lebih baik kamu jalankan kembali mobilnya. Saya sedang tidak ingin meladeni kamu," ucap El.
"Baik tuan," jawab Haris yang tertawa dalam hati karna sudah berhasil menjahili bosnya.
__ADS_1