
Seperti tersambar petir di pagi Haris, Perkataan El membuat Haris spontan menginjak pedal rem mobilnya.
Ciiiiitt...
Jedddakkk..
Untuk kedua kalinya Haris membuat El benar benar marah. Tampak terlihat benjolan di kening El, akibat ulah Haris ini.
"Hariis!!" lirih El pelan namun penuh penekanan.
Haris menoleh ke kiri, dan melihat El sedang mengelus keningnya.
"Aduh, potong gaji lagi deh kayaknya." batin Haris dengan mata terpejam.
"Buka mata kamu Haris," perintah El.
Saat membuka matanya pelan pelan, wajah El begitu dekat dengan wajahnya sambil menunjuk benjolan di keningnya.
"Lihat ini Haris, gara gara kamu..."
Baru saja El hendak memarahi asistennya itu, suara klaskson mobil di belakang bertubi tubi terdengar.
Teeeet... Teeeet.. Teeett...
"Pak, marahnya bersambung dulu ya. Daripada kita di demo mobil di belakang," ujar Haris didalam hatinya bersorak bahagia.
"Hmmm, ya sudah saya pause dulu marah saya. Cepat jalankan mobilnya," pinta El.
"Baik Pak El, laksanakan."
Haris tersenyum sekilas, melirik El yang masih mengatur nafasnya.
"Haris," ucap El dan membuat Haris kembali memasang wajah datarnya.
"Iya pak, bapak mau melanjutkan marahnya yang tadi?"
"Bukan, ini kan masih jam 7. Kita mampir sebentar ke toko buku ya. Beberapa hari ini jantung saya berdebar kencang saat berdekatan dengan Chika. Apa gadis itu menularkan penyakit jantung ya sama saya? Makanya saya mau cari buku yang bisa menangkal penyakit itu," ujar El.
Takut gajinya akan di potong lagi karna keteledorannya, Haris juga ikut memasang wajah datarnya.
"Maafkan saya pak bila ucapan saya nanti menyinggung perasaan bapak. Tapi jujur ini dari hati saya yang paling dalam...," ucap Haris hingga membuat El berpikir tentang hal buruk soal Haris.
"Dia mau bilang apa? Jangan jangan selama ini dia menyukaiku? Kalau sampai iya, awas aja Haris gak cuma saya potong gaji kamu, tapi juga saya akan memecat kamu," batin El dengan bulu kudunya yang mulai berdiri.
"Kamu mau bicara apa?" tanya El dengan mode dinginnya.
Haris menarik nafas panjang panjang, lalu membuangnya perlahan.
"Baik pak, tapi saya minta tolong jangan potong gaji saya lagi ya," ucap Haris.
"Ya sudah cepat bilang, jangan bertele-tele."
"Begini pak, yang pertama ini kan masih jam 7 tidak ada toko buku yang buka pak. Kedua, setahu saya penyakit jantung itu tidak menular, dan mungkin apa yang bapak rasakan itu namanya getaran cinta. Ketiga, kenapa juga harus ke toko buku untuk mencari tahu, karna setahu saya tidak ada buku yang mempelajari soal itu. Kan sekarang jamannya sudah canggih, bapak tinggal buka google aja," jawab Haris.
El menoleh sekilas ke samping kanan, dengan raut wajah yang tidak bisa di artikan.
"Cih cinta? Itu tidak mungkin, karna dia bukan selera saya. Sekarang langsung ke kantor saja daripada bicaramu ngelantur kemana mana. Nanti kalau sudah sampai di kantor, saya mau cek di google. Apa ada virus baru yang masuk ke negara ini setelah corona. Karna rasanya itu tiba tiba muncul tiba tiba hilang. Apa kamu pernah merasakannya juga?" ujar El
"Belum sih pak, mungkin on the way pak," jawab Haris spontan.
"Hmmm, bisa jadi. Tapi tumben sekali Ris, otak kamu berjalan dengan baik. Beberapa hari ini saya senang, karna kamu sudah kembali cerdas dan pintar. Bukan Haris yang beberapa hari lalu yang selalu membuat darah tinggi saya naik terus."
"Hmmm terima kasih pak atas pujiannya. Jadi untuk hal ini gaji saya dinaikan ya pak," Haris berusaha merayu El.
"Iya, nanti saya potong dulu habis itu saya naikkan gaji kamu."
__ADS_1
"Terima kasih Pak El," jawab Haris bingung.
Haris sedikit heran dengan jalan pikiran bosnya. Sepertinya virus bodoh itu kini sudah mulai menjalar ke otak El.
"Dih Pak El ini gimana, daripada dipotong terus di naikin kan lebih baik gak usah di potong aja. Selesai kan? Lah ini malah muter muter. Sepertinya sisa sisa obat saya, saya kasih ke Pak El ajalah. Dia lebih membutuhkannya," gumam Haris.
****
Siang harinya, El yang masih meeting di kantor melihat ke arah jam yang sudah menunjukkan pukul 2 siang. Pikirannya tentang Chika membuat konsentrasinya menurun, ia pun meminta Haris untuk melanjutkan meeting ini besok.
Setelah semua karyawan keluar dari ruang meeting, El mengambil kunci mobil di ruangannya di ikuti Haris yang mengekor dibelakang.
"Pak El mau berangkat sendiri atau mau saya temani?" tanya Haris.
"Saya sendiri saja. Kamu awasi kantor dan para karyawan ya."
"Baik pak," jawab Haris.
Namun di tengah langkahnya yang hendak keluar ruangan, tiba tiba ponsel El berbunyi.
"Mama," lirih El sembari mengangkat ponselnya.
"Halo mah, udah mau berangkat ya?"
"Iya El, tapi tiba tiba penerbangannya delay karna cuacanya buruk disini. Jadi mama dan papa agak terlambat sampai sana."
"Oh iya mah, kalau gitu nanti sebelum pesawatnya take off mama kabari El ya."
"Oke my boy. See you."
"See you mah," jawab El yang langsung mematikan ponselnya.
El kembali membalikkan badan, dan menghampiri Haris yang masih berdiri dibelakangnya.
"Baik pak, tapi gimana dengan perusahaan?"
"Kamu suruh Laura menghandle semuanya. Jika ada apa apa di kantor, suruh dia menghubungi saya atau kamu."
"Baik pak, saya akan ke ruangan Laura dan setelah itu saya akan menyusul bapak ke mobil."
"Hmmm, kalau begitu saya turun dulu. Jangan lama lama di ruangan Laura, ingat dia sudah mempunyai calon tunangan."
"Iya pak, lagipula kalau saya terlalu lama disana saya jadi ingat penolakan yang Laura berikan pada saya," ujar Haris sambil memasang wajah sedihnya.
"Sudah sudah jangan diingat lagi. Masih banyak wanita diluar sana yang lebih dari Laura, hanya saja saya gak tau ada yang mau sama laki laki pelit dan perhitungan seperti kamu tidak," ucap El sembari berjalan pergi meninggalkan Haris dengan sedikit senyum di bibirnya.
"Cih Pak El, sebenarnya dia mau menghiburku atau mau menghinaku sih," umpat Haris dalam hati.
Kini El dan Haris sudah pergi menuju sekolah Chika. Sesekali El melihat ke jam tangan yang melingkar di tangan kirinya. Dengan sedikit goyangan dikaki kanannya, terlihat jelas wajah gusar El yang memikirkan Chika.
"Pak, anda kenapa? Kebelet pipis ya? Apa mau mampir ke pom bensin dulu?" tanya Haris dengan polosnya.
"Bukan, saya hanya khawatir sama gadis itu. Ini sudah hampir jam setengah 4, apa dia sudah pulang atau masih di sekolah ya Ris. Kasihan dia, kalau menunggu terlalu lama," jawab El.
"Hiiiddiiihh, kayaknya ada yang beneran mulai perhatian nih sama non Chika."
"Bicara apa sih kamu Ris, siapa juga yang perhatian sama dia," elak El.
Namun bukan Haris namanya jika tidak bisa membuat El untuk mengakui perasaannya. Haris kembali memutar otaknya sambil mencari ide jahilnya untuk membuat El mengakui perhatiannya pada Chika.
"Beneran pak gak khawatir. Awas loh pak, setahu saya banyak sekali preman di dekat sekolah non Chika. Atau jangan jangan non Chika dibawa kabur sama preman preman disana ya pak, secara non Chika sekarang tambah cantik, bisa jadi...," ucapan Haris yang belum tuntas langsung di potong oleh El.
"Makanya jalannya yang cepat, nanti kalau sampai terjadi sesuatu sama Chika kamu yang saya hukum," tegas El.
"Baik pak," jawab Haris.
__ADS_1
Dalam hatinya kini, antara marah, kesal dan tertawa. Bagai nano nano sikap El juga bisa membuat Haris gila.
"Pak El, Pak El. Jomblo bikin susah, jatuh cinta apalagi. Dia yang salah, aku yang dihukum. Emang ya bos itu selalu menang," batin Haris kesal.
Mobil El mulai nampak dari kejauhan, dan Chika sudah berdiri dengan kedua tangan di pinggangnya.
"Ya bakal ada pertengkaran lagi deh di mobil. Wajah non Chika kelihatan kesel gitu. Ya gimana gak kesel, Pak El pakai acara meeting tadi. Lupa kan kalau jemput non Chika," gumam Haris sambil keluar dari mobil.
"Siang non, silahkan masuk," ujar Haris sembari membukakan pintu mobil untuk Chika.
"Bukan siang om, ini udah sore. Tau gak aku kira kalian lupa jemput aku. Setengah jam lagi aku pulang naik angkot," gerutu Chika.
"Maaf non, kalau mau marah jangan sama saya. Sama Pak El saja ya."
"Kalau itu pasti. Sudahlah aku mau masuk. Mau aku marahi tuan El."
"Bagus non, saya mendukungmu dari belakang."
"Hmmm," jawab Chika malas.
Baru saja Chika duduk, El sudah memberikan senyuman tampannya ke arah Chika. Rasa marah dan kata kata yang sudah ia persiapkan, seketika hilang dari ingatannya. Rasa marah itu seketika berubah menjadi rasa ingin memuji sesosok pria disampingnya.
"Maaf Chika, saya lupa menjemput kamu," ujar El.
"Oh gak papa tuan, jadi kita ke bandara sekarang?"
"Jadi tapi pesawat mama dan papa saya agak terlambat. Kamu sudah makan?"
"Belum tuan," jawab Chika.
"Kamu mau makan apa?"
"Pengen makan di restoran Korea, boleh ya tuan," rengek Chika berharap keinginannya akan dipenuhi.
"Baiklah, Haris kita cari restoran Korea. Nanti kamu juga ikut makan ke dalam bersama saya dan Chika," ujar El yang membuat senyum lebar di bibir Chika.
"Baik Pak El," jawab Haris sambil menjalankan mobilnya.
"Arghh non Chika ini gimana sih, katanya mau marah marah. Lah kok malah senyum senyum lihat Pak El. Gak seru ah, gak jadi liat Cinta sama Rangga bertengkar," batin Haris sembari mengamati Chika dan El dari spion depan.
Dari belakang, Chika melihat Haris nampak gelisah dengan air yang mengalir di wajahnya. Ia pun menggaruk garuk kepalanya, seakan sedang memikirkan sesuatu.
"Tuan, apa om Haris lagi sakit? Kok keringetan kayak gitu," bisik Chika.
"Saya juga gak tahu, sebentar saya tanya dia dulu ya," balas El.
"Haris kamu kenapa? Apa kamu sakit?" tanya El pada Haris.
"Tidak Pak, hanya saja saya belum pernah makan masakan Korea. Saya sedang memikirkan masakan apa ya yang enak disana?"
"Oh jadi om lagi mikir itu ya," sahut Chika.
"Iya non, kira kira non punya rekomendasi makanan enak gak?"
"Ada om, kimchi. Dijamin om pasti suka."
"Oke non, makasih ya buat rekomendasinya. Nanti saya pesan apa tadi non namanya?"
"Kimchi om," jawab Chika.
"Oke non."
El langsung memalingkan wajahnya dan melihat ke luar jendela.
"Kita lihat aja apa dia doyan makanan yang di bilang Chika tadi. Karna saya gak yakin, Haris akan menyukainya. Dia kan terbiasa makanan rumahan, mana suka dia makan kimchi. Tapi ya siapa tahu lidahnya sudah naik level," umpatnya dalam hati.
__ADS_1