Terjerat Pernikahan Di Atas Kertas

Terjerat Pernikahan Di Atas Kertas
Pemandangan yang Indah


__ADS_3

Kie dan Chika sangat takjub melihat bangunan rumah mereka. Apalagi Kie, buatnya ini seperti mimpi. Biasanya ia tinggal di rumah sederhana, tapi sekarang istana yang biasanya ia lihat di buku dongeng sekarang menjadi nyata.


"Mama, mama rumahnya bagus banget ya. Kie mau bobok disini aja mah," rengek Kie.


El tersenyum, melirik Chika yang kebetulan juga sedang melirik dirinya.


"Apa kamu senyum senyum," cetus Chika.


"Kamu lihat kan, anak kita aja minta tinggal disini. Memangnya kamu mau buat Kie sedih?" bisik El.


Rupanya strategi El untuk membawa Kie kerumah akan berhasil. Mulut Chika mengerucut. Mau tidak mau, Chika pun menuruti keinginan Kie.


"Iya Kie mulai sekarang kita akan tinggal bersama papa disini," ucap Chika hingga membuat El mendekatkan wajahnya ke telinga Chika.


"Jadi, maksud kamu?" El berusaha memastikan kembali ucapan Chika.


Kepala Chika mengangguk pelan dengan sedikit menguras senyum manisnya. "Ya mas, aku akan memberimu satu kesempatan lagi. Tapi jika kamu mengulanginya, maaf aku sudah tidak bisa memaafkanmu lagi," ucapnya.


Spontan bibir El hendak menyosor bibir Chika. Dan sepertinya El lupa jika kini mereka bertiga bukan lagi berdua.


Kie mendorong kepala papanya. Ia merasa cemburu pada papanya yang sudah beberapa kali hendak mencium mamanya di depannya. "Berhenti papa, jangan cium cium mama terus. Gantian Kie dong yang cium mama, iya kan mah?" tanya Kie dengan polosnya.


"Hahaha, iya iya my boy," jawab El sambil mencubit pipi gembul Kie.


Suasana berubah menjadi gelak tawa. El memeluk istri dan Kie kedalam dekapannya. Semuanya sudah kembali. Keharmonisan dan keutuhan keluarganya sudah kembali.


"Jangan pernah pergi dariku lagi ya sayang," El mengecup kening Chika dan Kie bergantian.


Terharu dengan sikap suaminya, air mata Chika terjatuh. Bukan air mata kesedihan seperti biasanya, namun air mata bahagia.


Kepala Chika mendongak, menatap El dengan mata yang berkaca kaca. "Semoga kamu selalu bersikap hangat dan manis terus sama aku dan Kie ya mas," jawab Chika dan El pun langsung membawanya kembali ke dalam pelukannya.

__ADS_1


Sesaat melepas rindu, El memperlihatkan kamar Kie. Meminta Chika untuk memandikan putra mereka dan mengganti pakaian lusuh yang dipakainya.


"Sayang, Kie pakai baju ini dulu ya. Besok kita belanja yang lebih banyak dari ini. Maaf, karna aku tidak tahu anak kita laki laki atau perempuan, makannya didalam lemari juga ada beberapa baju anak untuk perempuan," ucap El.


"Iya mas, gak papa. Besok kan bisa di sumbangin ke panti asuhan."


"Jangan, buat adiknya Kie aja gimana. Nanti malam kita bisa membuatkannya untuk Kie," El merajuk, memeluk tubuh Chika dari belakang. Sambil memberikan sentuhan sentuhan yang membuat bulu kuduk Chika berdiri.


Baru saja menikmati kehangatan tubuh istrinya, lagi lagi Kie datang. Menggagalkan rencana El untuk membangkitkan nafsu birahi istrinya.


"PAPA!!!" Kie berteriak. Tangannya menarik baju El sambil memelotinya. Kie tidak terima, buat Kie Chika hanya boleh dimilikinya. Hingga El pun terpaksa melepaskan tangannya yang melingkar di perut istrinya.


Chika hanya tersenyum, melihat wajah suaminya yang masam.


"Sifat Kie itu kayak kamu mas. Mau menang sendiri. Sekarang rasain, menghadapi orang yang bersifat sama dengan kamu. Sama sama egois," ujar Chika pelan.


El hanya mendesis kesal. "Aishh...," El mengacak acak rambutnya sendiri. Sungguh Kie selalu saja mengganggu papanya yang sedang bermanja dengan mamanya.


"Eh jangan dong my boy. Papa janji, papa gak akan deket deket sama mama lagi deh."


"Janji?" Kie memberikan jari kelingking kecilnya ke hadapan El.


Wajah El semakin gusar. "Ah gimana nih. Masak iya aku gak bisa cium sama peluk istriku sendiri. Nih pisau kan juga butuh diasah. Udah empat tahun gak diasah, bisa berkarat nanti," batin El sambil mengamati wajah Chika yang sedari tadi terlihat menahan tawa.


"PAPA!!" seru Kie.


"Iya iya, papa janji," jawab El terpaksa. Jari kelingkingnya pun sudah melingkar di tangan Kie.


"Nah gitu dong. Nanti malam mama bobok sama Kie disini ya," Kie mencium pipi Chika sambil memainkan rambut mamanya.


"Iya sayang. Mama nanti malam bobok sama Kie. Sekarang kita mandi ya pakai air hangat, sebelum pak dokternya datang sayang."

__ADS_1


"Iya mah," jawab Kie.


Pemandangan yang sungguh indah antara ibu dan anak. Tapi El malah menatap iri pada putranya sendiri. "Kalau begini terus, kapan gantian aku yang bisa dipeluk dan dicium kamu sayang," batin El.


Chika kini menggendong tubuh Kie dan membawanya kedalam kamar mandi. Sesekali ia menoleh ke belakang, melihat El sibuk mengusap usah wajahnya sendiri. Chika tahu betul apa yang sedang membuat suaminya galau tingkat dewa.


"Mas, mas, kasihan banget sih kamu. Jujur aku masih sedikit gak percaya jika selama empat tahun ini kamu tidak mempunyai wanita idaman lain. Tapi dari sikap kamu dan semua yang kamu berikan untuk aku dan Kie sekarang, aku jadi sadar ternyata selama ini bukan hanya aku yang tersiksa dengan perpisahan kita. Tapi kamu juga," gumam Chika.


Sesaat kemudian, Kie sudah selesai mandi. El segera keluar dari kamar, meminta bantuan Haris untuk mengurus Kie sebentar. Hasrat El untuk menyetubuhi istrinya sudah tidak bisa ditahan. Hanya Haris yang bisa membantunya. Sambil menunggu Daniel yang kesasar entah kemana.


"Ris, kamu tahu kan tugas kamu," ucap El.


"Tahu dong pak. Pasti Pak El mau berkebun kan?"


"Ya iyalah. Sayang Ris, sudah empat tahun menganggur nih barang," arah mata El menunjuk sesuatu yang berada di bawah.


"Hahaha, baik pak. Saya akan urus bos kecil tapi.. "


" Sudah saya transfer. Lumayan bisa buat uang saku kamu bulan madu sama Maya," jawab El.


"Arghh... pak El. Bos pengertian. Mari kita temui bos kecil pak."


"Hmmm, tapi ingat. Kalau kamu gagal menjaga Kie uang yang saya transfer dikembalikan 2 kali lipat. Mengerti!!"


"Tenang saja pak. Tidak akan kembali uang bapak. Yang ada nanti saya minta tambahan lagi karna berhasil mengurus bos kecil."


"Ya sudah kita lihat saja. Saya hutuh bukti bukan hanya sekedar omong doang. Sekarang kita cepat datangi Chika dan Kie."


"Baik pak," jawab Haris sambil berjalan mengikuti El dari belakang.


Dalam langkahnya, Haris terus saja tersenyum melihat El berjalan nampak tergesa. Seperi sedang kejar tayang. "Pak El, Pak El, dia pasti udah gak sabar nih mancep mancep ke goanya non Chika. Penantian bapak empat tahun bermain solo akan berakhir sebentar lagi pak. Karna burung peliharaan bapak itu sudah menemukan kembali sangkarnya," ucap Haris dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2