Terjerat Pernikahan Di Atas Kertas

Terjerat Pernikahan Di Atas Kertas
Biang Kerok


__ADS_3

Baru saja Chika memalingkan wajahnya, El kini sudah berdiri tepat dihadapannya.


"Kamu berani menertawakan saya?" tanya El sambil menatap Chika tajam.


"Oh tentu tidak tuan. Mana mungkin saya berani menertawakan tuan. Sudah tuan, jangan marah marah terus. Nanti tambah tua lho," jawab Chika yang sedang berusaha merayu El.


"CHIKA!!! KAMU!!" teriak El dengan tangannya yang menunjuk ke wajah Chika.


Melihat Chika dan El sedang berdebat, Haris pun berjalan mendekat ke arah El dan berusaha menenangkannya.


"Sudah Pak El, lebih baik kita segera susun rencana. Waktu kita sudah tidak banyak," bisik Haris.


"Benar kata kamu, saya harus sabar menghadapi Chika. Apalagi sekarang kamu juga sama kayak dia. Sama sama bodoh. Saya berasa jadi bapak yang punya dua anak," jawab El sambil berjalan menuju tempat duduknya.


"Maafkan kebodohan saya hari ini pak. Besok pagi saya akan ke apotek dan memborong obat penambah daya ingat dan kecerdasan otak. Biar saya bisa menjadi asisten yang pintar untuk bapak," ucap Haris sembari menggeser tempat duduk El.


"Ide bagus, kamu memang membutuhkan itu semua. Mungkin dulu waktu kecil ibumu kurang memberi asupan vitamin dan susu untuk kamu," jawab El sambil duduk ke kursinya.


"Kok Pak El tahu. Saya kan memang gak dikasih susu pak. Asi ibu saya gak keluar, kebanyakan disedot bapak saya pak. Mau beli formula juga gak punya uang. Alhasil saya dikasih air tajen," jawab Haris.


"Air tajen? Apa itu?"


"Air dari membersihkan beras pak. Kan putih putih itu terus direbus dikasih gula enak loh pak rasanya," jawab Haris.


"Huueek..apa itu. Gak doyan saya."


Chika yang tanpa sengaja mendengar percakapan kedua laki laki itu pun ikut menyambung ke percakapan mereka.


"Boleh dong om. Chika mau," sahut Chika dan kembali kedua laki laki di hadapannya langsung melirik dirinya.


"Boleh non, besok akan saya buatkan," jawab Haris yang seketika membuat El malah ganti menatap dirinya.

__ADS_1


"Oke om, buat tiga ya. Buat Chika satu, buat tuan El dua. Kan tuan El badannya gede, kalau satu pasti kurang," ucap Chika sambil tersenyum jahil ke arah El.


El terus memandangi Chika, sambil berjalan mendekat kearahnya. Wajah Chika mulai memucat, berpikir jika tuannya itu akan marah besar.


Karna takut, Chika memejamkan matanya sambil memundurkan tubuhnya hingga ia akhirnya terduduk di kursinya. Kan sangat terasa aroma parfum El mulai tercium dekat di hidungnya.


"OMG, nih om om mau ngapain gue. Masak iya dia mau cium gue. Ogah gue, kalau sampai dia cium gue, sama aja dia udah melanggar perjanjian dong. Tapi kan dalam perjanjian juga tertulis dia bisa merubah perjanjiannya kapanpun. Atau jangan jangan dia udah merubahnya tanpa sepengetahuan gue. Mati sudah riwayatku," batin Chika sambil berjalan mundur hingga terjatuh ke kursinya.


El semakin berusaha menggoda Chika. Ia melihat keringat mulai bercucuran di kening Chika saat ini. Merasa mendapat mainan, El terus saja mendekat ke arah Chika, bahkan wajahnya tepat berada di depan wajah Chika. Hanya tersisa jarak beberapa inci saja, bibir mereka akan bersatu.


"Cantik juga gadis ini, tapi sayang wajah dan otaknya tidak sinkron. Percuma dia cantik kalau otaknya bodoh," batin El sambil memandangi wajah Chika.


Haris yang memang masih perjaka dalam segala hal langsung menganga melihat adegan bosnya yang ia pikir hendak mencium Chika, dan karna rasa tidak enak Haris pun berbalik badan dan tanpa sengaja ia menekan tombol alarm di ruang kerja El.


Teeeeettt....


Suara alarm di rumah El berbunyi nyaring. Semua pembantu pun mulai berhamburan keluar rumah. Mereka mengira jika sedang ada kebakaran dirumah mewah El.


"Kebakaran, kebakaran..., " suara teriakan para pembantu El.


El pun mulai berdiri menjauh dari hadapan Chika. Diikuti Chika, yang dengan cepat membuka matanya dan langsung berdiri dari tempat duduknya. Namun nasib sial malah ia dapatkan. Ia jatuh tepat di pelukan El hingga bibir mereka akhirnya bersatu.


El membulatkan matanya saat bibirnya kini berada di bibir Chika. Apalagi tubuhnya saat ini ditindihi oleh tubuh kecil Chika.


"Ya Tuhan apa ini mimpi buruk? Ciuman pertamaku diambil sama om om. Oh tidak!!!" Ucap Chika yang langsung berdiri dan bangkit dari tubuh El lalu dengan segera mengusap bibirnya.


"Mataku sudah ternoda, barusan aku melihat apa Pak El," teriak Haris yang langsung mendapat timpukan dari Chika.


plaaakkk...


"Hei om, kamu baru mata yang ternoda aja udah histeris. Apa kabar aku? bibirku udah di nodai sama dia," gerutu Chika sambil menunjuk El dengan tatapan marah.

__ADS_1


"CHIKA!!!" teriak El.


"Kamu pikir saya senang dapat ciuman dari kamu? Cuiihh, terlalu bermimpi kamu. Harusnya kamu bangga bisa mencium bibir seorang pewaris tunggal Aristya group," jawab El sambil mengelap bibirnya.


Chika dan El pun saling melempar tatapan sinis.


"Sudah Pak El, jangan berdebat dulu. Kita harus segera menyelamatkan diri. Nanti keburu apinya membesar," ucap Haris sembari menarik tangan El.


Mereka bertiga berlari menuju pintu dan hendak keluar. Namun tiba tiba Bi Ida sudah berdiri tepat di depan pintu ruang kerja El sambil membawa tabung pemadam.


"Bi Ida, dimana yang kebakaran?" tanya El.


"Loh, bibi kesini mau kirim tabung kebakaran. Kan alarm yang bunyi dari ruangan mas El. Minggir mas, biar bibi semprot?" ucap Bi Ida yang langsung masuk ke ruangan El dan menyemprot seluruh ruangan.


Uhhhukkk..uhhhuukk...


El, Chika dan Haris mengibas ibaskan tangan mereka.


"Bi, stop!! Gak ada api di ruangan saya," teriak El.


Dengan segera Bi Ida pun keluar, dengan tangannya yang masih membawa tabung pemadam.


"Loh mas, tapi alarmnya dari ruang kerja mas El loh," ucap Bi Ida sambil membuka maskernya.


"APA? Tapi saya gak menekannya bi," jawab El yang seketika langsung menoleh ke arah Haris.


Tanpa rasa bersalah, Haris hanya tersenyum sambil menggaruk kepalanya.


"Sepertinya saya pak, yang gak sengaja menekan tombol tadi. Hehehe.."


El menarik nafas panjangnya, dengan tatapan yang mengerikan.

__ADS_1


"HARIS!! Jadi kamu biang keroknya. Lagi lagi kamu bikin masalah," teriak El yang membuat Haris spontan langsung menutup telinganya kembali dengan kapas.


"Om om, pakai acara tutup telinga pakai kapas lagi. Pasti bentar lagi, tuh manusia purbanya ngamuk. Lagian gak cuma tuan El yang marah, gue juga. Gara gara si om ceroboh, gue ikut kena imbasnya. Gue jadi kehilangan sensasinya ciuman pertama kan, Arghh dasar si om nyebelin," gerutu Chika sambil mengkerucutkan bibirnya.


__ADS_2