
El membawa Chika ke salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota itu. El lalu mengajak dirinya untuk masuk ke salah butik.
"Kita mau ngapain kesini tuan?" tanya Chika.
"Kamu itu benar benar bodoh. Kalau kita masuk ke butik itu tandanya apa?"
"Beli pakaian tuan," jawab Chika polos.
"Itu kamu tahu, kenapa harus bertanya. Ayo cepat masuk, jangan buang buang waktu saya hari ini."
"Iya tuan, tapi tuan mau beli pakaian buat siapa?kalau buat tuan kan gak mungkin. Ini butik wanita lho tuan," terus menerus Chika meracau.
El lalu menghentikan langkahnya, dan tanpa sengaja Chika menabrak tubuhnya yang tiba tiba berhenti di depannya.
Buggh...
Tubuhnya langsung terpental jatuh ke lantai karna menabrak tubuh El yang tinggi dan berisi.
"Auu, tuan kenapa tiba tiba berhenti. Jadi nabrak kan. Mana tubuhnya gede gitu. Sakit ini tuan," gerutu Chika sambil berdiri kembali.
"Hmmm, salah sendiri dari tadi kamu bertanya terus. Telinga saya sudah panas mendengar celotehan dari mulut kamu. Bisa tidak sehari saja kamu tidak banyak bertanya."
"Ya bukannya Chika kepo tuan, hanya saja kenapa tuan mengajak saya kemari. Memang tuan mau membelikan siapa? Kan tuan gak punya pacar," tanya Chika kembali.
"Sudah kamu diam, dan tunggu saya duduk disana. Satu lagi, jangan banyak tanya dan bicara."
"Iya iya tuan. Tapi tuan juga jangan bentak, kasar dan marah lagi sama saya. Atau saya kasih pinalty ke tuan."
El mengernyit sambil berusaha mencerna perkataan Chika.
"Maksud kamu? Pinalty apa?"
"Apa tuan lupa, di poin ke empat tertulis jika tuan akan selalu bersikap manis dengan saya."
"APA?" teriak El yang kaget mendengar alasan Chika.
"Sialan, ini pasti kerjaan Haris. Dia menambahkan tulisan di perjanjian itu. Kenapa aku gak meneliti lagi perjanjian itu. Kalau begini gak cuma dia yang terjerat perjanjian itu, tapi aku juga," batin El menyesali keteledorannya.
Chika yang melihat El terdiam, berusaha membuyarkan lamunan tuannya itu.
"Tuan," panggil Chika.
"Hmmm, Iya ada apa?"
__ADS_1
"Tuan lupa ya sama isi perjanjiannya. Ya maklumlah kan emang tuan sudah berumur jadi daya ingatnya agak kendor."
"Barusan kamu bilang apa? Saya tidak lupa, saya ingat. Hanya saja saya pura pura lupa. Paham!!"
"Iya tuan, paham. Emang ya kalau sultan udah bicara gak akan ada yang boleh bantah.Sudah saya capek berdiri. Tuan sana pergi saya mau duduk dulu."
"Sultan? Siapa Sultan?"
"Oh Sultan itu abang tukang bakso di sekolah saya tuan," jawab Chika sambil menahan tawanya
"Sudah saya juga gak peduli siapa itu Sultan. Saya tinggal dulu. Awas saja kalau kamu bergeser dari tempat itu. Saya akan menagih uang yang sudah saya keluarkan untuk biaya sekolah kamu 10x lipat."
"Baik tuan, saya juga tidak akan pergi. Lagipula saya mau pulang naik apa? Uang sepeser pun saja saya gak punya."
"Bagus, anak pintar. Saya tinggal pergi kesana."
"Iya tuan, sudah dua kali tuan bilang begitu dan ini yang ketiga. Tapi dari tadi tuan gak pergi pergi juga," jawab Chika sambil tersenyum geli melihat tingkah tuannya.
"Berani ya kamu meledek saya."
"Tidak tuan, hanya bercanda. Capek kan kalau serius terus, sesekali tuan itu harus bercanda. Biar gak mati muda gara gara stres."
Pusing mendengar semua kicauan dari mulut Chika, El pergi tanpa menghiraukan Chika yang masih saja mengoceh.
Cukup lama El pergi meninggalkan Chika. Walaupun merasa bosan, Chika tetap saja duduk hingga menunggu El kembali.
Hingga beberapa saat kemudian, El kembali dengan membawa sepuluh kantong belanjaan di tangannya.
"Tuan habis borong pakaian ya? Mau buka kios ya tuan?" tanya Chika.
"Ini kamu bawa semuanya. Habis ini ikut saya ke counter handphone," El berucap hingga membuat Chika membulatkan kedua bola matanya.
"Segini banyak tuan? Bantuin ya tuan. Tubuh saya kan mungil begini, tuan memang gak kasihan?"
"Tidak. Cepat kamu bawa atau kamu mau pulang jalan kaki," ucap El sambil berjalan pergi meninggalkan Chika.
Mau tidak mau, akhirnya Chika membawa sepuluh kantong belanjaan dari El. Kesal? Tentu. Sambil berjalan, Chika selalu menggerutu kesal dengan sikap tuannya yang seenaknya sendiri.
"Gak kebayang deh gimana sama mama dan papanya tuh orang. Anaknya aja udah nyebelin, ngeselin dan gak punya hati gini apalagi orang tuanya ya. Kata pepatah, buah yang jatuh pasti tidak jauh dari pohonnya. Pasti orang tuanya si om ekstra lebih parah dari anaknya dong. Argghh, jadi pesimis kan gue buat bisa ambil hati mereka," gumam Chika sambil memejamkan matanya dan menggeleng.
El kembali memundurkan langkahnya karna melihat Chika yang masih berdiri jauh dibelakang sambil memejamkan mata dan menggeleng sendirian.
"Ehem, kamu kenapa? Jangan buat malu saya disini ya," ucap El dan Chika langsung membuka matanya.
__ADS_1
"Eh tuan, maaf tuan."
"Kamu ngapain kayak tadi. Kamu lagi mikir apa?"
"Oh enggak kok tuan. Sudah tuan ayo, katanya mau ke counter handphone."
"Hmmm, ayo. Makanya jalan yang cepat."
"Gimana mau cepat tuan, barangnya banyak banget," gerutu Chika.
"Terus maksud kamu bicara seperti tadi apa? Biar saya kasihan terus bantuin kamu bawa barang barang ini? Hahahaha, jangan mimpi. Cepat kita kesana," ujar El sambil berjalan terlebih dulu.
"Om om gila. Yang belanja siapa yang suruh bawa siapa. Kenapa dia tadi malah ngajak gue sih. Biasanya kan sama asistennya yang sama sama gila itu," Chika menggerutu kesal sambil berjalan menyusul tuannya.
Selesai membeli ponsel, El mengajak Chika membeli beberapa pakaian dalam dan perhiasan. Setelah mendapatkan semuanya, El mengajak Chika untuk kembali ke mobilnya. Namun di tengah jalan, Chika terjatuh karna tak sanggup membawa begitu banyak kantong belanjaan.
Brrukkk..
El menoleh kebelakang dan melihat Chika sudah terjatuh dengan tumpukan kantong belanja. Beberapa orang pun menghampiri Chika dan berusaha membangun Chika untuk bangkit dari lantai.
El pun bergegas mendatangi Chika.
"Chika kamu kenapa?" tanya El.
"Pak, kasihan adiknya kok disuruh bawa sendirian," ucap salah seorang yang pengunjung.
"Enggak kok tante, ini bukan salah..," kata Chika dan langsung di potong oleh El.
"Baik bu, terima kasih sudah membantu adik saya. Kami permisi ya," sahut El sambil mengambil beberapa kantong belanjaan dari tangan Chika.
"Nah gitu dong. Kan kasihan tuh adiknya. Sampai jatuh gitu,"
"Iya bu," jawab El kesal.
Dengan terpaksa El membantu Chika membawa kantong belanjaannya.
"Tuan sini, biar saya aja yang bawa."
"Sudah kamu bisa diam. Kamu mau bikin malu saya lagi? Ayo jalan yang cepat, ini sudah hampir malam. Saya ada janji dengan Haris dirumah," ucap El.
"Baik tuan, terima kasih ya udah di bantuin."
"Hmmm," jawab El kesal.
__ADS_1