
Waktu jam kantor telah usai. El tengah menunggu Haris yang sedang mempersiapkan segala sesuatunya untuk nanti malam. Tak lama, Haris pun datang membawa dua bucket bunga di tangannya.
"Ris, darimana saja kamu. Sudah 10 menit saya menunggu disini," El menggerutu kesal. Namun keinginannya untuk memarahi Haris putus begitu saja, saat kedua matanya melihat dua bucket bunga yang indah di tangan Haris.
"Ini loh pak, tadi saya ambil pesanan bunga ini," jelas Haris.
"Memang kamu ambil dimana?"
"Di depan kantor pak. Kan saya bayarnya cod. Tadi udah pakai uang saya dulu pak, sekarang bapak tinggal ganti aja."
"Oh, ini ya bunga buat Chika. Bagus juga selera kamu. Uangnya akan saya transfer sekarang," ujar El.
"Terima kasih pak, sekalian sama ongkos kirimnya ya pak," Haris sengaja melebihkan biaya dua bucket bunga yang ia beli. Lumayan juga kan bisa buat beli kalung silver untuk Maya. Toh dia juga gak tahu mana kalung asli sama palsu. Pikirnya.
"Hmmm, sudah lihat aja. Masih kurang?" tanya El.
"Kalau sampai kurang kebangetan kamu Ris. Bisa jatuh miskin saya kamu porotin terus," gumam El.
"Enggak pak, cukup kok cukup," terulas senyum dari bibir tebal Haris.
"Terus rencana kamu buat malam ini apa?"
Haris membisikkan rencana yang sudah ia susun pada El. Senyuman lebar jelas terlihat di bibir El. Rupanya rencana Haris juga di setujui oleh bosnya itu.
"Pintar juga kamu Ris. Saya aja gak sampai kepikiran untuk berbuat seperti apa yang kamu rencanakan loh. By the way itu ide dari kamu sendiri, atau lihat google lagi?" tanya El.
"Ini pyur dari otak saya pak. Waktu kecil saya punya cita cita, ketika saya melamar seorang wanita saya cara itu yang akan saya gunakan. Tapi apalah daya saya pak, uang saya gak akan cukup. Makanya demi mewujudkan impian saya, saya nebeng bapak aja biayanya. Ya meskipun bukan melamar Maya sebagai seorang istri tapi itu udah cukup kok pak," jelas Haris.
El menahan tawa dalam hati. Kok bisa Haris berbicara seolah dia orang yang tak punya pekerjaan. Padahal gaji darinya lebih dari cukup untuk mewujudkan cita citanya.
"Haris, uang kamu itu sebenarnya buat apa sih. Kok kayaknya saya terlihat seperti seorang bos yang kurang memperhatikan kesejahteraan karyawannya. Apa perlu saya naikin gaji kamu," ucap El dalam hati.
"Mari pak, kita harus segera pulang. Agar bisa siap siap," ujar Haris. Mengingat waktu sudah hampir petang, takutnya nanti rencana yang sudah tersusun sangat rapi akan gagal begitu saja.
"Iya Ris, terima kasih."
__ADS_1
"Sama sama pak," jawab Haris sambil menutup kembali pintu mobilnya.
Kini El dan Haris sudah tiba di rumah. Dan betapa kagetnya El melihat Chika nampak anggun memakai gaun merah milik mamanya, dengan sepatu dan tas yang serasi dengan warna gaunnya.
"Lihat El, calon menantu mama cantik kan?"
"Cantik banget kamu sayang," jawab El.
"Makasih mas."
"Sana El mandi dulu. Masak kamu mau pergi dengan bau keringat yang menempel di tubuh kamu," mama menyela, membuat El akhirnya bisa mengedipkan matanya untuk pertama kali.
"Eh iya mah. Hampir aja El lupa. Sayang, aku mandi sebentar ya," ujar El. Tapi bukan El namanya jika tak punya malu. Dengan cepat ia menyambar pipi Chika meski di lihat oleh mama, Haris dan beberapa asisten rumah tangga disana.
Cup...
"Tunggu bentar ya sayang," ucap El sembari berjalan cepat menuju kamarnya.
"EL!!!! Kamu itu kebiasaan suka banget nyosor. Untung aja pipi, kalau bibir mama langsung panggil penghulu sekarang," teriak mama.
"Panggil sekarang aja mah. El juga udah siap kok. Kamu juga kan sayang?"
Blush...
Chika tak bisa berkata apa apa lagi. Jujur, dia juga pengen segera di halalkan oleh El. Tapi juga gak sekarang juga kali. Ujian aja belum, masak mau main nikah aja.
"El, sudah. Cepat mandi, atau biar Haris aja yang mengajak Chika jalan malam ini," ancam mama.
"OH NO!! Chika bisa pulang gak utuh mah kalau pergi sama Haris. Tunggu bentar ya sayang, lima menit aja kok," ucap El.
"Makanya mandi yang cepat!" jawab mama.
"Iya iya."
"Lima menit loh mas, kalau lebih aku pergi sama Om Haris aja," teriak Chika yang berhasil membuat El menjadi gusar. Terpaksa El hanya mengganti pakaiannya dan menghabiskan satu botol parfum dari Paris untuk menutupi bau keringatnya. Daripada ia harus melihat Haris membawa sang pujangga hati pergi.
__ADS_1
Di bawah Haris tersenyum penuh kemenangan. Hampir 3 menit, El belum juga keluar dari kamarnya.
"Hahaha, gak jadi nembak Maya malah dapat non Chika. Oh Haris, bisa betah dikamar kalau punya istri secantik non Chika. Tukang jamu bakal tiap hari aku panggil kerumah. Stok obat kuat juga bakal selalu ada," Kehaluan Haris kembali meronta sembari melirik Chika yang berdiri di sampingnya.
Namanya halu tetap aja halu. Tanpa disadari El sudah berdiri di depannya dan melihat Haris mengamati Chika tanpa berkedip.
Plakkk...
"Hayo mikir apa kamu Ris soal calon istri saya," El memukul pundak Haris, membuat dirinya sontak kaget dan berbicara sesuai dengan apa yang ia pikirkan.
"Kawin pak, mikir kawin sama non Chika!" jawab Haris spontan. Membuat semua orang yang berada disana kompak menatap dirinya.
"HARIS!!!" El berteriak sekencang motor gede melintas di jalan raya.
"Hehehe, bercanda Pak El, Nyonya Sarah, non Chika. Saya lagi belajar mau ikut stand up comedy. Gimana lucu gak?" Haris kembali mencari alasan untuk kabur dari medan perang.
"GAK!!" jawab ketiganya kompak.
Haris memasang wajah seimut mungkin, agar tidak mendapat amukan masal disana. Dengan sedikit puppy eyesnya, ia berhasil membuat ketiganya langsung tertawa.
"Sudah sudah, cepat kalian pergi. Bisa jadi gila mama kalau terlalu lama melihat wajah Haris seperti ini," ucap mama.
"Berhenti bersikap konyol Ris. Kita pergi sekarang. Kamu bawa mobil sendiri dan saya juga."
"Baik pak," jawab Haris.
"Ayo sayang kita pergi," El melingkarkan tangannya ke pinggang Chika.
"Iya mas."
"Mah kami berangkat dulu ya," pamit El dan Chika pada mama.
"Iya sayang," jawab mama dengan senyuman lebar di bibirnya.
Melihat kepergian El dan Chika, tanpa terasa nyonya Sarah meneteskan air matanya.
__ADS_1
"El, setelah sekian lama kamu menutup hati akhirnya kamu bisa membuka diri juga untuk wanita selain Tania. Terima kasih Chika, kamu sudah membuat El kembali ceria seperti dulu. Mama doakan kalian selalu bersama sampai maut memisahkan," batin mama.