
"Chika dimana kamu sayang? Tolong maafkan aku yang sudah menyia-nyiakan kamu. Kalau kamu mau marah dan menghukumku silahkan. Tapi kamu jangan pergi. Apalagi kamu lagi hamil. Jangan buat aku merasa bersalah seperti ini," mulut El tak pernah berucap dengan kecemasan menyelimuti hatinya.
"Pak El. Bapak bawa handphone non, Chika gak?" tanya Haris yang membuyarkan lamunan El sejenak.
"Bawa, memang ada apa?"
"Kita bisa lacak taksi yang di pesan non Chika pak."
"Kamu benar Ris. Sebentar saya cek dulu."
Secepatnya El menghubungi taksi yang di pesan Chika tadi. Setelah mendapat info, El sedikit dapat bernafas lega. Meskipun tidak lega sepenuhnya, karna dirinya belum bertemu langsung dengan Chika.
"Kita ke rumah Renata," titah El.
"Baik pak."
Keahlian Haris dalam mengemudi kini ia pertunjukan. Tanpa mendapat aba aba dari El, Haris menjalankan mobil dengan kecepatan penuh. Mengingat perbuatan Renata dan Pandu pada Chika dulu, membuat El dan Haris sama sama khawatir. Mereka masih belum bisa percaya penuh dengan perubahan sikap Renata dan Pandu. Pasti ada udang di balik batu.
"Ris, saya takut," Haris terdiam. Baru pertama kali seumur umur dia ikut El, El mempunyai rasa takut. Karna yang ia kenal, El sama sekali tak pernah merasa ketakutan dalam hal apapun.
"Takut? Takut apa pak?" tanya Haris sambil terus menatap ke depan. Fokus dengan menyetirnya.
El memijat keningnya. Sesekali ia mengusap wajahnya.
"Gimana kalau Chika tidak ketemu. Saya menyesal Ris. Harusnya sejak awal saya menceritakan masalah saya sama kamu dan bertanya dengan Daniel. Bukannya langsung bersikap buruk pada istri saya sendiri," ucap El.
"Bapak jangan khawatir. Kita pasti bisa menemukan non Chika."
"Semoga ya Ris."
Mobil kini sudah terparkir di depan rumah Renata. El dan Haris pun bergegas masuk ke dalam.
Tok.. Tok..Tok..
El mengetuk pintu sambil menggedornha dengan keras. Dirinya begitu yakin Chika ada di dalam rumah itu.
"Sebentar," seru Renata.
Ceklek..
Pintu terbuka, Renata menatap El heran.
"Pak Elvano? Ada apa bapak..," belum sempat berkata, El mendorong tubuh Renata. Dan tanpa seijin Renata ia dan Haris langsung masuk ke dalam rumah sambil mengecek ke seluruh ruangan.
"Loh loh loh, ini ada apa? Anda tidak sopan sekali, masuk kedalam rumah tanpa seijin saya?" teriak Renata. Namun El menghiraukannya, yang terpenting ia segera ingin menemukan Chika dan menjelaskan semuanya.
"Chika, kamu dimana? Jangan sembunyi," El terus berteriak sambil mencari keberadaan istrinya.
"Non Chika, non, anda dimana?" imbuh Haris yang ikut membantu El mencari Chika.
Seluruh ruangan sudah ia masuki, dari lantai dikamar 2 hingga di lantai bawah, gudang, dapur, halaman, ruang tengah, ruang makan, bahkan kamar utama milik Renata dan Pandu juga ia masuki. Tapi hasilnya nihil. Chika tak berada disana.
Kesal dengan kedua tamu laki laki di hadapannya, Renata menatap mereka marah. Namun bukan rasa bersalah yang ia dapat dari ekspresi wajah El, justru El juga tak kalah menatapnya tajam.
__ADS_1
"Pasti dia sudah menyembunyikan Chika. Karna aku tak melihat Pandu disini," batin El sembari berjalan mendekati Renata.
Pelan tapi pasti. El melangkah dengan sorot mata yang penuh amarah. Keadaan kini berbalik, Renata malah takut. Sebenarnya ini ada apa? Pikiran Renata mencoba menerka nerka ada masalah apa antara El dan keponakannya.
El semakin berjalan mendekat. Mendorong tubuh Renata ke dinding. Kedua tangannya mengunci tubuh Renata.
Di jarak yang agak jauh, Haris menutup wajahnya dengan tangan. "Wah jangan jangan Pak El mau ngembat tantenya juga nih," pikiran kotor Haris kembali melintas. Padahal mana mungkin juga El doyan dengan Renata si nenek sihir.
"Renata, dimana Chika. Kamu sembunyikan dimana istri saya," pekik El.
Tubuh Renata menggigil. Jantungnya berdetak kencang. Ia semakin bingung sendiri. Kenapa El terlihat begitu marah. Apa yang sudah dilakukan Chika pada El.
"Chika? Aku tidak tahu El," ucap Renata dengan bibir yang mulai bergetar karna takut.
"BOHONG!! cepat bilang dimana Chika. Atau kamu mau aku buat sup asparagus daging manusia?" tangan El memukul keras tembok tepat di samping kanan wajah Renata.
Deg..
Tak hanya jantung dan tubuhnya yang bergetar. Wajah Renata mulai pucat. El bukan orang yang main main dengan ucapannya. Tapi dia benar tidak tahu keberadaan Chika. Gimana caranya ia membuat El percaya dengan ucapannya? Pikirnya.
"Sungguh El, aku tidak tahu. Chika tidak kemari," Renata berusaha meyakinkan El.
"Hahaha, kamu pikir aku percaya? Terus dimana suami kamu? Pasti dia yang sudah membawa Chika pergi bukan?"
Percuma juga Renata menjelaskan panjang lebar dan berusaha membuat El percaya. Di mata El dan Haris, baik Renata maupun Pandu sudah dianggap benalu yang hanya Chika yang percaya dengan tipu muslihat mereka.
El mencengkram leher Renata. Menekiknya hingga membuat Renata hampir mati gara gara dirinya.
"Pak hentikan, tolong kontrol emosi anda. Kiya jangan memakai cara yang keras. Dia tidak akan mengaku. Bisa jadi ini permintaan dari non Chika sendiri untuk merahasiakan keberadaannya," bisik Haris.
El melepaskan tangannya yang melingkar di leher Renata. Namun masih dengan mata yang menyelidik, El mengidentifikasi Haris. Menuruti ucapannya, entah cara apa yang mau di coba Haris untuk membuat mulut Renata mengaku.
"Nyonya Renata, maafkan sikap Pak El. Lebih baik nyonya mengaku saja. Dimana anda menyembunyikan non Chika. Sekarang Pak El itu suaminya, dia berhak tahu dimana istrinya berada," ucap Haris.
Renata mendesis kesal. "Harus berapa kali saya bilang, Chika tidak kemari."
Bruakk..
Sebuah vas bunga kecil kesayangan Renata di buang El. Membuat pecahan pecahan kaca kini berserakan di lantai.
"RENATA!! CEPAT BILANG ATAU SAYA BUNUH KAMU SEKARANG!" teriak El.
"Ada apa ini?" Pandu datang membuat El dan Haris seketika menoleh ke arah pintu.
"Ini dia orang yang kita cari Ris," ucap El sembari berjalan ke arah Pandu.
Sekarang giliran Pandu yang bingung. Tatapan mata El seolah akan berjalan mendekat dan membunuhnya.
"Berhenti," seru Renata. Berlari menghadang El.
"Oh menyerah juga kamu. Sekarang cepat bilang dimana kalian berdua menyembunyikan Chika," teriak El kembali.
"Chika?" lirih Pandu sambil menoleh ke arah Renata. Melihat ke arah mata istrinya, meminta jawaban akan maksud ucapan El.
__ADS_1
"Iya Chika. Dimana dia?"
Haris hanya bisa berdiam. Sepertinya ia hanya akan jadi penonton setia. Daripada ikut campur tanpa perintah, dirinya bisa mati di tangan dingin bosnya juga.
"Chika tidak kesini. Harus berapa kali aku bilang sama kalian. Chika tidak kesini," urat leher Renata nampak terlihat jelas. Ia sudah lelah dengan tuduhan El pada dirinya dan Pandu tanpa alasan.
"Bohong. Tadi aku sudah menghubungi sopir taksi yang terakhir mengantar Chika. Dan dia bilang Chika disini. Jadi cepat katakan, atau saya bunuh kalian hari ini."
Sedari tadi diam, kini saatnya Haris turun tangan. Sepertinya Pandu dan Renata sedang tidak berbohong.
"Pak El, apa mungkin non Chika sedang mengelabui kita. Tadi ponsel ia sengaja tinggal dirumah, karna non Chika tahu bapak memasang pelacak di handphonenya. Dan sepertinya masalah taksi, bisa jadi jon Chika benar turun disini, tapi sebenarnya dia tidak disini," Haris berisik ke telinga El.
"Bisa jadi Ris. Terus kemana Chika sekarang?"
"Kita cari dulu saja pak. Bagaimana?"
"Oh iya, dia pasti ke makam orang tuanya. Ya dia pasti kesana. Cepat kita datang kesana Ris."
"Baik pak," jawab Haris.
"Sekarang kalian saya bebaskan. Tapi kalau sampai saya tahu kalian berbohong, habis riwayat kalian," El meninggalkan sebuah ancaman sebelum dia pergi dari rumah Renata dan Pandu.
Pasangan suami istri ini akhirnya bisa membuang nafasnya. Merasa lega karna kedua malaikat pencabut nyawa sudah pergi dari rumah mereka.
Seolah masih menjadi teka teki, Pandu kembali mencari tahu ada kejadian apa hingga membuat singa jantan bangun dari tidurnya.
"Sayang, ada apa sebenarnya?" tanya Pandu.
"Aku juga gak tau mas. Yang jelas sepertinya ada masalah di rumah tangga Chika dan El. Kayaknya Chika kabur dari rumahnya. Tapi anehnya tadi El bilang kalau sopir taksi yang di tumpangi Chika mengantarnya kesini."
"Apa? Atau mungkin Chika tadi benar kesini dan mendengar pembicaraan kita sayang?"
"Oh iya ya. Bisa jadi mas."
"Arghh sial...coba saja kita tadi gak julid aku yakin El akan memberi apa yang kita minta asal Chika kembali sama dia," Pandu mendesis kesal. Kesempatan untuk mendapatkan uang dari El gagal. Ditambah Chika sekarang sudah tahu kalau dirinya dan Renata hanya baik do depannya saja.
"Ya sudah mas. Sekarang lebih baik kita juga ikut cari Chika. Siapa tahu kita menemukannya dan setelah itu kita bisa minta imbalan sama El."
"Benar katamu. Cepat kamu ganti baju. Kita pergi sekarang," titah Pandu.
"Oke mas."
El kembali nampak gusar. Tak hentinya ia memerintah Haris untuk mempercepat laju mobilnya.
"Chika dimana kamu sekarang. Jangan seperti anak kecil begini Chika. Kamu itu sedang mengandung. Apa kamu tidak kasihan dengan calon anak kita? Cepat kembali sama aku Chika. Aku berjanji tidak akan membuat kamu menangis lagi," batin El sembari melihat ke sepanjang jalan siapa tahu ia dapat bertemu dengan istrinya.
"Ris tolong lebih cepat lagi," perintah El.
"Baik pak."
Di tengah makam kedua orang tuanya. Ada seorang gadis yang kini meratapi nasibnya.
"Mah, Pah. Apa kalian diatas sana bisa melihat keadaanku sekarang. Mas El sudah menipuku, janjinya dengan mama dan papa itu semua bulshit. Semua itu bohong. Mas El hanya memikirkan soal warisan saja. Dia tidak pernah mencintai Chika. Dan lebih lagi, dia mengira Chika tidak perawan, dia pikir Chika ini cewek murahan. Padahal mama dan papa tahu, Chika bukan wanita seperti itu. Chika udah gak kuat hidup lagi di dunia ini. Ingin rasanya aku itu sama mama dan papa di surga, tapi sekarang ada nyawa manusia di dalam perutku mah,pah. Ada calon cucu kalian disini. Chika hanya minta doa mama dan papa dari atas sana ya. Semoga Chika bisa melewati ini semua ya mah, pah. Sekarang Chika mau pamit dulu sebelum mas El menemukan Chika disini. Chika pamit ya pah mah."
__ADS_1