
"Haris, ngapain kamu masih disini. Dan kenapa juga kamu senyum senyum lihat saya dan Chika? Sedang mikir apa kamu?" El menggertak keras, membuat Haris bangkit dari sofa.
"Lagi mikir gimana ya hasil cetakan non Chika sama Pak El nantinya. Pasti ganteng sama cantik ya pak," Haris berkata sesuai dengan apa yang ada di dalam pikirannya.
El berdiri, berjalan, lalu mendekati Haris yang sudah mulai berdiri saat menyadari perkataannya yang salah.
"Ris...," El sudah menampakkan deretan gigi putihnya.
"Pulang pak. Saya pulang,itu kan maksud bapak. Ini juga udah berdiri, udah mau pulang kok pak. Permisi ya pak," Haris lari terbirit birit, sebelum ia akan mendapat hukuman dari bosnya.
Saat sampai di luar pintu apartemen, Haris membuang kasar nafasnya. Memegang dadanya seakan jantungnya sudah mau copot. Ditambah ia teringat sorotan mata El yang menampakkan seperti seorang ayam yang kehilangan induknya.
"Huft, hampir aja aku di semprot Pak El. Gajiku bisa gak keluar bulan ini. Haris, Haris, mulut apa mulut sih ini. Udah tahu bos kamu itu gengsi bilang cinta, pakai acara ngomongin cetakan segala. Arghh ini gara gara mulut emak sih, sukanya ghibahin tetangga, jadi nurun kan ke anaknya," Haris berdiri dari balik pintu sambil berbicara sendiri.
Setelah kepergian Haris, Chika yang semula tertawa melihat tingkah Haris mulai sedikit takut. Membayangkan seorang wanita dan pria hanya berdua di sebuah apartemen. Apalagi tak ada tanda tanda El untuk pulang.
"Tuan El kok gak pulang juga? Biasanya kan sama si om. Apa dia bawa mobil sendiri ya? Tapi kayaknya enggak deh. Tadi kan mobilnya di tinggal dirumah. Berarti itu tandanya dia tidur sini dong? Apa jangan jangan...," batin Chika yang sudah memikirkan hal buruk tentang dirinya dan El.
Ketika urusannya dengan Haris selesai, El kembali berjalan ke arah ranjang Chika. Namun belum sampai di tempatnya Chika sudah berteriak.
"STOP!! tuan jangan nodai saya," teriak Chika dengan mata tertutup dan tangannya yang maju kedepan,meminta El menghentikan langkahnya.
El terdiam sejenak, lalu akhirnya melepaskan tawanya sambil melanjutkan kembali langkahnya menuju ranjang Chika.
"OM STOP!! atau aku bakal kabur lagi," Chika berusaha mengancam untuk menghentikan langkah El.
Sayangnya ancaman itu tak berarti untuk El. Ia terus berjalan mendekat ke arah Chika sambil menyunggingkan sedikit senyum di ujung bibirnya.
Chika meringkuk di balik selimut yang menutupi badannya sembari memejamkan mata. Berharap ada malaikat penolong yang membebaskan dirinya.
__ADS_1
Di dalam benaknya, hal buruk itu benar akan menimpanya. Saat langkah El terdengar semakin mendekat kearahnya. Ia berpikir El akan merampas kesuciannya hari ini. Apalagi tadi ia sudah membuat kemarahan El memuncak karna kabur begitu saja.
Tap.. Tap.. Tap
Langkah itu terdengar semakin mendekat.
"Ya Tuhan, lindungi aku dari om om mesum ini. Aku mengaku kalau aku mencintai dia, tapi bukan berarti aku harus memberikan segalanya kan? Ditambah lagi, belum tentu dia juga mempunyai perasaan yang sama kayak aku. Bisa bisa ucapannya tadi di ulang lagi. Kalau kita melakukannya atas dasar suka sama suka. Dan aku juga menikmatinya. No, no, no, ayo Chika tunjukkan keberanianmu," batin Chika.
Karna sibuk dengan hatinya sendiri, Chika tak sadar jika suara langkah kaki itu sudah tak ada. Chika penasaran, ia mengintip sedikit dari balik selimut mencari keberadaan tuannya.
"Gak usah pakai mengintip segala. Saya masih disini," ucap El sambil memperlihatkan senyum tampannya.
Chika kembali menelusupkan wajahnya ke dalam selimut.
"Om, aku mohon jangan..," belum selesai bicara El sudah mengacak pelan rambutnya sambil mendekat ke arah telinganya.
Chika mulai membuka matanya, dan mengeluarkan kepalanya dari balik selimut. Dilihatnya punggung El yang sudah berjalan menjauh sambil menenteng bantal di tangan kanannya.
"Malam juga tuan, semoga tuan juga mimpi indah," Chika membalas ucapan El.
El menghentikan langkahnya, menengok ke belakang, melihat senyum wanita yang niat awalnya ia hanya jadikan alat untuk mendapatkan warisan kedua orang tuanya dan sekarang sudah mengisi hatinya.
"Hmmm. Jangan bicara lagi. Cepat tidur, sekarang sudah jam 4 pagi. Setidaknya kamu harus merebahkan tubuhmu sejenak. Bukannya kamu harus sekolah hari ini? Tapi jika kamu masih lelah, lebih baik kamu istirahat. Biar nanti saya suruh Haris untuk ke sekolah."
"Baik tuan."
"Oh iya satu lagi. Mulai sekarang jangan panggil saya tuan. Panggil saja saya mas."
"Loh kenapa memangnya tuan?"
__ADS_1
"Karna jika kamu masih memanggil saya tuan, saya takut jika kita sedang bersama kedua orang tua saya, kamu salah memanggil saya," El mencari alasan untuk tidak membuat Chika curiga.
"Baik tuan," jawab Chika hingga membuat mata El kembali memelototinya.
"Eh maaf, maksud saya mas. Baik mas El," Chika meralat kembali ucapannya.
"Hmmm, bagus. Sekarang cepat tidur. Mau saya matikan lampunya atau saya nyalakan?" tanya El.
"Nyala saja mas," ucapnya sedikit kaku.
"Ya sudah, jangan lupa kunci juga pintunya. Saya gak mau kamu nanti berpikir saya akan memperkosa kamu saat kamu sedang tidur."
"Hehehe, iya mas. Ya maklumlah kalau saya berpikir mas akan melakukan hal itu. Secara mas kan umurnya jauh di atas saya."
"Memang tampang saya ada tampang tampang penjahat kelamin apa? Jangan suka berstatment sendiri. Kalau kamu berada di apartemen ini berdua sama Haris itu baru kamu khawatir. Secara dia kolektor video porno," jawab El yang tanpa sengaja sudah membongkar rahasia terbesar Haris.
Mulut Chika menganga lebar mendengar perkataan El barusan. Sadar ia sudah keceplosan, dengan segera El menutup pintunya.
"Apa mas?" tanyanya dengan suara sedikit terbata.
"Lupakan, saya tadi asal bicara. Saya keluar dulu. Dan ingat pesan saya, cepat tidur!! Mengerti?"
"Iya mas. Mengerti."
Sesaat kemudian El keluar dari kamar Chika. "Haris, maafkan saya yang sudah membongkar jati diri kamu. Besok saya akan ganti rugi. Saya tidak akan potong gaji kamu atas semua kesalahan kamu. Sekali lagi maafkan saya ya Ris," batin El sambil mengacak rambutnya, menyesali ucapannya barusan.
Di dalam kamarnya, Chika terkekeh mengingat ucapan El.
"Om, om, aku gak nyangka ternyata yang pikirannya mesum itu om Haris, bukan mas El. Kelihatannya aja lugu, polos dan sedikit bego, gak taunya bringas juga. Pantes aja jadi jones, udah pelit pikirannya kotor lagi siapa juga yang mau. Siap siap deh om jadi bujang lapuk seumur hidup," Chika tertawa sendiri dalam lamunannya. Apalagi sekarang wajah Haris tiba tiba muncul dalam bayangannya.
__ADS_1