
Pikiran Chika mulai bercabang dan bingung apakah ini hanya drama atau memang realita yang sedang ia dapatkan dari kedua orang tua El.
Disaat ada keraguan di hatinya, kedua orang tua El masih saja menertawakan dirinya.
"Tante dan om kenapa ketawa? Memang benar kan yang saya bilang, saya bukan Lolly tante saya Chika," kata Chika yang berusaha menegaskan kembali perkataannya tadi.
Lagi dan lagi, jawaban Chika itu malah semakin mengundang tawa kedua orang tua El.
Dan sesaat Nyonya Sarah menangkup kedua pipi Chika, mengelus elusnya dengan lembut sambil menatap kedua manik matanya.
"Iya saya tahu nama kamu Chika, hanya tante menggunakan bahasa kiasan untuk menggambarkan gadis cantik seperti kamu Chika," jawab Nyonya Sarah.
Perkataan mamanya El sedikit membuat dirinya lega. Tak perlu membuat siasat untuk menarik hati kedua orang tua El, cuma modal senyum dan mengeluarkan satu kalimat saja mereka sudah menyukai dirinya.
"Hahahaha bahasa kiasan? Keluarga tuan El emang penuh drama. Kenapa selalu menggunakan bahasa kiasan? Sesekali menggunakan majas hiperbola kek, majas personifikasi kek atau majas majas yang lain. Pantas saja om Haris gak bisa membedakan antara kata kiasan atau kenyataan. Huft, lama lama aku bisa jadi kayak si om, jadi lemot," batin Chika namun tetap dengan senyum yang ia tunjukkan di depan orang tua El.
"El, kamu sama Haris juga?" sahut tuan Aristya yang sedari tadi hanya menjadi pendengar setia disana.
"Enggak pah, El nyetir sendiri."
"Kalau gitu kita langsung pulang ke rumah saja El. Mama ingin mengobrol dengan Lolly kecil mama ini," sahut mama dan membuat Chika seketika menoleh.
"Chika tante ini Chika bukan Lolly," Chika menyambar perkataan Nyonya Sarah sambil menunjuk nunjuk dirinya sendiri.
"Hahahaha iya iya, maksud tante Chika," jawab Nyonya Sarah yang masih saja terus menertawakan dirinya.
Sambil tersenyum getir, dalam hati Chika kini sedikit menyimpan rasa kesal, "Lolla Lolly Lolla Lolly, asal merubah nama orang saja," umpat Chika dalam hati.
Malas mendengar pembicaraan Chika dan mamanya, ditambah melihat mimik wajah Chika yang mulai terlihat kesal, El langsung meraih koper yang ada di sebelah kedua orangtuanya.
"Ayo kita pulang mah, pah. Lanjut mengobrol sama Chika dirumah saja."
"Iya El, ayo," jawab mama.
__ADS_1
Meskipun baru bertemu satu kali, Nyonya Sarah nampak begitu menyukai Chika. Bahkan sikap mamanya tak pernah semanis ini dengan Tania dulu.
"Biasanya mama susah dekat dengan orang, tapi kenapa dia cepat sekali jatuh hati dengan Chika. Sebenarnya apa yang membuat semua orang menyukainya. Ya memang ada baiknya sih, berarti rencanaku akan berjalan lancar. Hanya saja aku tak menyangka ternyata kriteria calon menantu mama dan papa ada dalam gadis itu," batin El sambil mengamati dua wanita di hadapannya yang sedang bersendau gurau bersama.
"El," panggil papa dan seketika mengalihkan pandangannya.
"Eh iya pah, ada apa?"
"Dimana kamu mengenal dia. Apakah bibit, bebet dan bobotnya jelas? Karna jujur papa memang juga menyukai pilihan kamu kali ini, namun jika tidak jelas asal usulnya, papa juga akan mempertimbangkan kembali. Begitu juga dengan mama kamu. Ingat El, keluarga kita keluarga terpandang, jangan salah memilih calon istri. Mengerti El?"
"Iya pah, aku mengerti," jawab El dengan penuh ketegangan di raut wajahnya.
Mereka semua kini sudah di dalam mobil, dan El dengan segera melajukan mobilnya.
Ketika berada dimobil, tuan Aristya yang sedari tadi diam mulai membuka mulut dan ikut mengobrol bersama istrinya dan Chika.
"Chika, berapa umur kamu? Karna om lihat umur kamu jauh dibawah El ya?" tanya tuan Aristya.
"Oh umur saya 18 tahun om."
Merasa di sudutkan, Chika berusaha meminta pertolongan El dengan melihat El ke kaca spion. Dan nasib baik sedang berpihak pada Chika. Disaat bersamaan El juga melihat dirinya dari kaca, dan El sudah tahu jika saat ini Chika sedang bingung.
"Iya Chika masih sekolah pah dan dia sekarang kelas 3 SMA. Awal pertemuan kami seminggu yang lalu pah, di restoran Orient. Dan kami baru mencoba berhubungan tiga hari yang lalu, karna El merasa nyaman dan cocok dengan Chika begitu juga Chika, iya kan sayang?" El menjawab dengan rentetan kata yang sudah ia siapakan sebelumnya.
"Iya tu...eh iya mas," jawab Chika yang hampir saja membongkar rahasia mereka.
"Chika hampir saja. Kamu itu selalu membuat saya olahraga jantung. Untung saja kamu tidak lupa tapi bagus juga ya panggilan kamu barusan. Mas? Belum ada yang pernah memanggilku dengan panggilan tadi," batin El sambil tersenyum sembari memegangi dagunya.
"Wah, romantis sekali kalian. Ternyata pertemuan kalian seperti sinetron sinetron yang mama lihat di televisi," sahut mama.
"Hehehe, iya ya tante," jawab Chika dengan senyumnya yang ia paksakan.
Baru saja El dan Chika merasa lega, tuan Aristya kembali melontarkan pertanyaan.
__ADS_1
"Oh iya Chika siapa orang tua kamu? Dan apa pekerjaannya?"
Pertanyaan itu seperti sayatan dalam hati Chika. Setiap mengingat mama dan papanya, hatinya sakit menerimanya kenyataan jika dirinya sudah yatim piatu.
Chika tak bisa berkata apalagi menjawab pertanyaan itu. Hanya ada air mata yang berusaha ia sembunyikan dari kedua orang tua El.
Dengan suara yang berat, Chika mulai menjawab deretan pertanyaan tuan Aristya.
"Orang tua saya om? Papa saya namanya Dirga dan mama saya namanya Cantika. Tapi..."
Belum selesai bicara, air matanya kini sudah tak terbendung hingga mengalir begitu deras di pipinya.
"Tapi kenapa sayang?" Nyonya Sarah bertanya sambil menatap mata sayu Chika dan menunggu jawaban atas pertanyaannya.
"Orang tua Chika mengalami kecelakaan pesawat pah, mah. Dan mereka meninggal dalam kecelakaan itu. Papa juga mengenal papanya Chika, karna perusahaan mereka pernah bekerja sama dengan perusahaan kita satu kali," sahut El.
"Memang apa namanya perusahaannya El. Papa sudah lupa," jawab papa.
"Navindo Dirgantara group pah," jawab El sambil berharap papanya berhenti mencecar Chika dengan pertanyaan pertanyaan lainnya.
Tapi sayangnya, tuan Aristya kembali meluncurkan pertanyaan.
"Terus siapa yang memimpin perusahaan itu. Dan dengan siapa kamu tinggal Chika?"
Chika dan El sama sama diam. Saat Chika ingin berbicara jujur, El sudah mendahului dirinya.
"Chika tinggal dengan tantenya pah, dan perusahaan itu sementara di pimpin omnya sampai Chika berumur 21 tahun. Gitu kan sayang?"
"Iii...iii...iiya om," jawab Chika yang sebenarnya bertolak belakang dengan kehendaknya.
"Sudah sudah pah, jangan membuka kembali luka Chika. Dan kamu sayang, anggap tante seperti mama kamu dan om seperti papa kamu ya. Karna mulai sekarang kamu juga anak kami. Jangan sedih lagi ya Chika, keep smile," ujar Nyonya Sarah sambil membuka kedua tangannya untuk menyambut pelukannya untuk Chika.
Sekejap ketakutan Chika berubah menjadi rasa nyaman. Pelukan seorang ibu yang ia rindukan, kini dapat ia rasakan kembali. Seperti mimpi, Chika merasa menemukan tempat dimana yang selama ini dia cari.
__ADS_1
Namun ternyata berbeda dengan istrinya yang percaya begitu saja, tuan Aristya masih merasa ada sesuatu yang disembunyikan El dan Chika.
"Chika? Perempuan ini bukan kriteria El. Bahkan dia jauh berbeda dari Tania. Aku yakin ada yang janggal disini. Dan tidak mungkin El begitu cepat menjalin hubungan dengan wanita yang baru dia kenal seminggu. Semua ini aneh seperti sudah terencana dengan matang. Lebih baik aku menyuruh orang untuk mencari tahu semua tentang kehidupan Chika,"