Terjerat Pernikahan Di Atas Kertas

Terjerat Pernikahan Di Atas Kertas
Jurus Jitu


__ADS_3

Malam ini, Chika dan El menghadiri acara ulang tahun putri Tania dan Bayu. Namun karna ada meeting di kantornya, mereka pun terpaksa datang terlambat ke acara itu.


"Bay, Tan, Sorry aku sama Chika datang terlambat. Acaranya sudah selesai ya?" tanya El.


"Hmm, baru saja selesai El. Aku fikir kamu tidak datang," ujar Bayu dengan nada sedikit menyindir. Ditambah lagi ia sengaja menggendong putri kecil mereka sembari merangkul pundak Tania di depan El.


Sayangnya, El bukan lagi El yang dulu. Ia hanya tersenyum melihat Bayu yang sengaja ingin membuatnya cemburu. Tapi hati El bukan lagi milik Tania, karna cintanya kini hanya untuk Chika.


Diraihnya pinggang Chika. El juga tak segan menunjukkan keromantisannya dengan Chika di depan Bayu dan Tania.


Suasana berubah menjadi tak nyaman. Baik El dan Bayu hanya saling menatap tanpa berbicara. Hingga akhirnya Chika berusaha mencairkan suasana yang seperti berada di gurun sahara. Panas dan saling lempar tatapan tajam.


"Hai, nama kamu siapa?" sapa Chika sembari mengulurkan tangan ke arah putri kecil di depannya.


"Dinda tante."


"Namanya cantik kayak orangnya. Aku tante Chika."


"Salam kenal ya tante," ujar Dinda sambil membalas uluran tangan di depannya.


"Oh iya Ini ada kado buat kamu dari om El sama tante Chika, semoga Dinda suka ya."


"Makasih tante," Dinda menerima kotak hadiah pemberian Chika dan El.


"Mah, Dinda mau kesana ya. Mau buka kado dari tante ini."


"Iya sayang, tapi di kamar aja ya bukanya."


"Iya mah," jawab Dinda lalu berlari menuju ke kamarnya.


Lagi dan lagi, suasana kembali memanas. El masih saja tak bergeming, begitu juga dengan Bayu. Chika yang sudah mengetahui masa lalu El dengan Tania dan Bayu paham betul dengan perasaan kekasihnya. Sebaik apapun hubungan mereka saat ini, tak kan membuat luka hati El akan pulih seperti sedia kala.


"Eh ayo kalian makan dulu. Tapi makanannya hanya tinggal ini," Tania berusaha memulai pembicaraan. Membuyarkan keheningan yang tercipta.


"Iya El, ajaklah pacar berondong kamu ini makan," imbuh Bayu.


Walau semula tak memperdulikan semua celotehan Bayu, hati El mulai memanas. Ia tak jika Chika dianggap bocah olehnya. Perkataan Bayu barusan. seakan seperti sedang meledek dirinya.


Sebelum emosi El meledak, Chika segera menggenggam tangannya, memberikan kode mata seakan mengartikan untuk tetap diam.


"Mas, kamu bilang apa sih," Tania menyenggol lengan suaminya. Ia merasa tak enak hati. Ucapan suaminya terlihat sedang memancing huru hara dengan El.


"Maaf Tan, Bay, kita hanya kesini sebentar. Lagipula sudah tidak ada Daniel dan acara pun sudah selesai. Jadi kami mau pamit pulang saja," El mencoba bersikap tenang di hadapan Bayu dan Tania.


"Tapi kenapa buru buru El?" tanya Tania.


"Bukan buru buru Tan, hanya saja kalian pasti sudah lelah dengan acara ini. Oh iya satu lagi, jangan lupa datang ya ke acara pernikahanku dan Chika bulan depan. Undangannya masih dalam tahap pembuatan. Aku berharap kalian bisa datang."


"Pasti El, pasti kita akan datang. Iya kan sayang?" Bayu kembali mencoba memperlihatkan kemesraannya dengan Tania.


Tak mau kalah, El membalasnya. Ia memeluk pinggang Chika dan mengecup pucuk rambutnya sekilas. Membuat mata Tania membulat, tak percaya jika El sungguh sudah melupakan dirinya.


"Syukurlah kalau kalian bisa datang. Kami tunggu. Kalau begitu kami pamit ya Bay, Tan."

__ADS_1


"Iya El hati hati. Terimakasih kasih kamu sudah mau menyempatkan waktu untuk datang kemari," sahut Tania sembari melempar senyuman ke arah El.


"Sama sama Tan," jawab El.


"Salam ya mbak buat Dinda," Chika menyela pembicaraan saat melihat Tania sedang mengamati El tanpa berkedip.


"Oh iya Chika, nanti aku sampaikan," jawab Bayu dan Tania kompak.


Chika mulai jealous, apalagi El dan Tania saling melempar tatapan.


"Mas El ngapain sih. Kok ngeliatin Tania sampai seperti itu. Apa dia masih cinta ya sama mantannya ini," umpatnya dalam hati.


Sadar dengan mata Chika yang memperhatikan dirinya, El segera meraih tangannya dan menggenggamnya begitu erat.


"Jangan mikir aneh aneh, aku sudah tak ada perasaan apapun sama dia. Di hatiku cuma ada kamu seorang," bisik El.


Blush..


Sekejap ketakutan dan kecemasannya hilang. El sungguh bisa membuat hatinya seperti berada di permainan rollercoaster. Membawanya terbang melayang ke atas awan.


Kini Chika berbalik membalas perbuatan mereka berdua. Ia menggelendot manja dalam pelukan El. Sesekali ia menoleh ke belakang, melihat mimik wajah Tania yang nampak jelas seperti tak menyukai pemandangan antara dirinya dan El.


"Wanita aneh. Udah punya suami masih aja lirik lirik calon suami orang. Salah sendiri, gak bisa setia sama satu laki laki. Dilihat dari sudut mana pun, Mas El memang masih unggul daripada suaminya. Lagian suami suka nyinyir kok di pelihara. Nyesel kan tuh tante tante," batin Chika dengan senyum penuh kemenangan.


****


Hari demi hari silih berganti, dan tanpa terasa kini sudah berganti bulan. Ujian Chika juga sudah selesai, dan sesuai janjinya ia mau menikah dengan El bila sudah menyelesaikan ujiannya.


Seminggu lagi acara pernikahan El dan Chika akan dimulai. Pasangan ini semakin berani mengumbar kemesraan mereka di depan umum. Bahkan setiap pulang sekolah bukan lagi Haris yang menjemput Chika, melainkan calon suaminya yang setiap hari menjemputnya.


"Mas," panggil Chika.


"Ada apa sayang?"


"Sebelum fitting baju, kita ke makam mama dan papa dulu ya. Kita kan belum minta restu mereka."


"Oke, kita kesana sekarang," El mengelus pipi Chika, mengiyakan permintaannya.


"Tapi mas, ada satu lagi," ujar Chika.


El langsung memicingkan sebelah alisnya. "Apa?"


"Habis dari makam, ke rumah om sama tante sebentar ya. Mau kasih undangan ini juga. Gimana pun mereka masih saudaraku mas."


"Gak usah sayang, buat apa. Jangan pernah berkomunikasi lagi sama mereka," El menolak keras permintaan Chika, takut sesuatu buruk terjadi lagi dengan calon istrinya.


"Mas..," rengek Chika. Ia memasang wajah memelas, dengan mata berkaca kaca membuat El sudah tak bisa menolaknya lagi.


Tanpa berkata, El membetulkan posisi duduknya, memakai sabuk pengamannya, dan siap menjalankan mesin.


"Habis dari makam kita kesana," ucap El membuat Chika tersenyum dan langsung memeluk lengan El dengan manja.


"Makasih sayang."

__ADS_1


"Hmmm. Kalau sampai mereka tidak menerima kedatangan kita, gak usah memaksa lagi. Kita langsung pulang. Ngerti!!" El memberi ultimatum Chika. Secara dia gak mau terlihat mengemis restu di rumah Pandu dan Renata.


Chika mencoba merajuk, melihat calon suaminya sudah memasang wajah masam.


Cup..


Chika melancarkan aksinya, rayuan itu pasti bisa membuat mood El membaik. Sayang seribu sayang, cara Chika itu memang sudah di nantikan El.


Secepatnya El meraih tubuh Chika, memperdalam ciuman mereka. Tak peduli waktu siang atau malam, El menciumi bibir hingga turun ke leher jenjang Chika.


Karna terlalu semangat melancarkan aksinya, tanpa sadar El menekan bel di mobilnya.


Tiiiinnnnnn....


Keduanya sama sama kaget. Dari luar mobil, banyak mata tertuju pada mobil mereka. Untung saja, kaca mobil El tak bisa terlihat dari luar.


Chika mulai membenahi dua kencing baju yang sudah di lepas oleh El.


"Mas, cepat jalankan mobilnya. Disini banyak setan," Chika menggerutu kesal.


"Emang di luar banyak setan. Kayak gak pernah lihat orang pacaran di mobil. Tapi kamu jangan khawatir sayang, gak akan terlihat dari luar kok," El tersenyum licik penuh arti. Seakan meminta ingin melanjutkan aksinya tadi.


"Bukan mereka setannya, tapi kamu mas. Jangan mesum, seminggu lagi kamu mau ngapain aku terserah kamu."


"Beneran?"


"Hmmm," jawab Chika malas.


"Gak pas datang bulan gak?"


"Gak tahu. Lihat saja nanti."


El nampak gusar, ia mengusap kasar wajahnya sendiri. Kalau sampai tamu bulanan datang, berarti tandanya ia harus menunda menyebar benih di ladang istrinya.


Dari samping Chika tersenyum melihat wajah El yang acak adul gak jelas.


"Tenang mas, aku sudah haid bulan ini. Jadi minggu depan kamu akan tetap bisa melakukannya," Chika tersenyum tipis dengan sedikit belaian di rambut El.


Bibir El seketika melebar. Ia seperti memenangkan lotre untuk bisa masuk ke ladang kosong.


"Kamu ya...," El sudah mendekatkan wajahnya, hendak kembali mencium bibir yang sudah menjadi candu buatnya.


"Eitss,mau apalagi mas. Sudah dong, kapan berangkatnya kalau mas terus begini."


"Iya iya. Sini aku pakaiin sabuk pengaman kaku ya," El menarik selt belt milik Chika lalu memakailannya.


Cup..


Sedikit kecupan kilat menjadi penutup pembicaraan mereka.


"Aiishh Mas El....," teriak Chika kesal.


"Cuma kecupan sayang, bukan ciuman. Mau lanjut marah atau mau berangkat sekarang?" El berbalik mengancam Chika.

__ADS_1


"Berangkat," jawab Chika singkat sambil mengerucutkan bibirnya.


__ADS_2