
Saat El dan Chika berjalan menuju pintu keluar, tanpa sengaja mereka berpapasan dengan Tania dan Bayu.
"Hai El apa kabar?" sapa Bayu sambil menepuk pundak El.
"Ya kamu lihat sendiri, aku baik baik saja bukan," jawab El dingin.
"Hai El," sapa Tania namun tak dijawab oleh El.
Meskipun malas bertemu dan berbincang dengan mereka, namun El berusaha bersikap tenang di hadapan mantan dan sahabatnya yang sudah mengkhianatinya.
"Oh iya El, dia siapa?" tanya Bayu.
"Kenalkan dia Chika, calon istriku," jawab El sambil merangkul Chika dari samping.
Bayu dan Tania sekilas melirik ke arah Chika yang masih menggunakan seragam putih abu abunya.
"Serius El, ini calon istri kamu? Masih SMA?" tanya Bayu sambil memandangi Chika dari atas hingga kebawah.
"Iya, memang aku terlihat sedang berbohong. Ayo Chika kenalan dulu sama mereka," perintah El.
Chika mengulurkan tangan kanannya, sambil memperkenalkan diri.
Bayu dan Tania pun menyambut uluran tangan Chika dengan senyuman lebar.
Chika heran perubahan sikap El yang sekejap berubah manis dengan dirinya. Bahkan nampak jelas, jika Tania dan El daritadi saling bertatapan.
"Hmmm, sepertinya ada apa apa nih si om sama tante di depan aku. Emang tantenya cantik sih. Gak kelihatan kalau udah punya suami. Masih kelihatan kayak anak kuliah. Tapi kenapa ya si om kok kayak gak suka gitu lihat tante cantik," batin Chika sambil memandangi El dan Tania.
Bayu yang sadar akan sikap El pada Tania berusaha mengalihkan pandangan mereka.
__ADS_1
"Oh iya El, minggu depan datanglah ke acara pesta ulang tahun putriku di hotel Cakra. Itu pun kalau kamu ada waktu El, karna aku tahu kamu kan seorang bisnisman," ucap Bayu sembari memeluk Tania di depan El.
"Iya El, datang ya. Daniel juga sudah kami undang. Dan dia sudah janji pasti datang," sahut Tania.
"Tentu, kita akan datang. Iya kan sayang?" jawab El yang membalas perlakuan Bayu dengan memeluk Chika.
Tubuh Chika merinding karna pelukan dari tuannya. Dan panggilan sayang yang di ucapkan El membuat dia rasanya ingin muntah ditempat itu saat ini.
"Cih, dia panggil aku apa? Sayang? Lebih baik aku dipanggil gadis bodoh daripada aku dipanggil sayang olehnya," gumam Chika.
Tak mendengar panggilan darinya, El berusaha kembali mengulang ucapannya.
"Sayang, kita pasti datang kan?" tanya El.
"Iiii.iii...iya tante om," jawab Chika terbata.
Sambil tertawa, Bayu dan Tania menutup mulut mereka karna mendengar panggilan yang mereka dapatkan dari Chika.
"Diam kamu Bay, aku rasa tidak ada yang lucu. Dan aku rasa sudah tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Urusanku diluar masih banyak. Aku tidak ada waktu untuk meladeni candaanmu. Tenang saja, minggu depan aku pastikan aku datang bersama calon istriku."
"Maaf El, maaf. Aku hanya geli saja mendengar panggilan yang diberikan oleh calon istrimu ini. Aku tunggu janjimu El," jawab Bayu.
"Hmmm," jawab El dingin.
"Chika, kita pulang. Bayu, Tania aku pamit," ucap El sambil menarik tangan Chika.
"Om, tante aku juga pamit ya," sahut Chika.
"Iya Chika," jawab Bayu dan Tania kompak.
__ADS_1
Setelah sedikit menjauh dari pandangan Tania dan Bayu, El lalu melepaskan tangannya dari tangan Chika.
"Kamu jangan geer karna aku memanggimu sayang. Aku hanya ingin menunjukkan pada mereka jika aku sudah memiliki kekasih," ujar El.
"Iya tuan, saya tahu. Lagi pula saya risih kalau tuan memanggil saya seperti itu. Saya lebih suka tuan memanggil saya gadis bodoh daripada panggilan yang tadi."
"Memang kamu pantas saya panggil gadis bodoh karna memang kamu itu bodoh. Mana ada orang mau dikatakan bodoh kalau bukan kamu."
"Bukan bodoh tuan, tapi kalau dilihat orang kan aneh. Saya masih 18 tahun dan tuan hampir 30 tahun. Dipikir orang saya punya kelainan dong tuan, karna suka dengan om om. Dan pasti ada juga yang menilai saya kalau saya ini cewek BO nya tuan," elak Chika.
"Pandai juga ya kamu berbicara."
"Haduh tuan, sebenarnya Chika ini pandai atau bodoh sih. Lima menit yang lalu tuan bilang saya bodoh, tapi barusan tuan bilang saya pandai. Jangan jadi om om ababil ya tuan. Cukup jadi om om yang kejam aja," ucap Chika yang mendapat tatapan tajam dari El.
Kekesalan El bertambah mendengar celotehan Chika. Ia berjalan meninggalkan Chika tanpa membawa satu kantong belanjaan.
"Tuan, kok gak bantuin lagi sih. Berat tau," teriak Chika.
"Bawa saja sendiri. Itu semua juga punya kamu, jadi harusnya kamu yang bawa bukan saya," El menoleh lalu menjawab pertanyaan Chika.
"Barang gue? Maksud si om apa sih? Apa dia beliin ini semua buat gue? Tapi buat apa? Atau jangan jangan nanti masuk tagihan hutang lagi. Enggak, orang gue gak minta kok. Kan ini maunya dia. Kalau sampai di tagih, gue gak mau bayar," batin Chika sambil menenteng kembali kantong kantong belanjaan yang tergeletak di lantai.
Chika berusaha mengejar El yang sudah jauh meninggalkan dirinya. Dengan nafas yang tersengal-sengal, akhirnya Chika tiba disamping mobil El lalu mengetuk jendela mobilnya.
Tok.. Tok...Tok....
"Tuan buka, aku capek," keluh Chika sembari mengusap air keringat di dahinya.
"Cepat masuk, sudah lima menit saya menunggu kamu disini. Barusan Haris telpon, jika dia sudah berada dirumah. Jadi jangan buat dia menunggu terlalu lama, karna nanti dia pasti minta uang lembur dengan saya. Oh iya, mulai besok saya akan panggilkan guru olahraga buat kamu, biar kamu bisa dilatih berjalan cepat hingga tidak membuang buang waktu saya saat pergi dengan kamu," ucap El sambil menjalankan mesin mobilnya.
__ADS_1
"APA?" teriak Chika tapi tak dihiraukan oleh El.
"Bener bener deh si om ini, cuma gara gara gue jalannya pelan dia mau panggil guru olahraga buat gue. Lagian, siapapun orang yang jadi gue tadi pasti juga jalannya pelan. Kan barangnya segitu banyak. Tau gitu gue buang deh semua barangnya, biar gue bisa lari dan gak telat ke mobilnya," gerutu Chika dalam hati sambil mengkerucutkan bibirnya.