
Langit semakin gelap, dan jam kini sudah menunjukan pukul 9 malam. Namun El dan Haris belum mendapat petunjuk dimana Chika sekarang. Wajah El pun semakin nampak gusar. Semua tempat yang biasa Chika kunjungi sudah ia datang, tapi tetap saja istrinya belum di temukan.
"Pak El, bagaimana kalau kita lanjutkan pencariannya besok?" tanya Haris sedikit ragu.
"TIDAK!! Saya tidak akan pulang kalau tidak bersama Chika. Nanti mama dan papa pasti akan mengintrogasi saya Ris."
"Tapi Pak El, besok kita ada janji dengan Mr. Smith untuk pergi meninjau lokasi proyek bersama beliau. Saya hanya ingin mengingatkan bapak soal itu. Karna kalau sampai Mr. Smith kecewa dan membatalkan kerjasama dengan perusahaan kita, perusahaan akan mengalami kerugian yang sangat besar. Dan itu tentunya akan membuat Tuan Aristya marah besar. Belum lagi ada Rena yang selalu menjadi kaki tangan Tuan Aristya. Pasti dia akan memberitahu masalah perusahaan pada beliau," jelas Haris panjang lebar, berharap El tidak melupakan urusan perusahaannya.
El berpikir sejenak. Bimbang keputusan apa yang harus ia ambil. Rasa bersalahnya pada Chika tidak akan membuatnya bisa tidur tenang, sedangkan istri dan calon anaknya entah berada dimana. Tapi, jika dia tidak mengikuti ucapan Haris. Papanya akan marah besar dan menganggap dirinya tidak berusaha mengurus perusahaan.
Resah, gelisah, panik, khawatir dan takut. Perasaan itu menjadi satu berkecamuk didalam hati El. Baru kali ini, seorang Elvano nyalinya menciut. Tak terlihat lagi keberanian dan ketegasan dari matanya. Yang terlihat saat ini hanya ketakutan akan kenyataan yang akan ia hadapi.
"Baiklah Ris. Kita pulang. Saya tahu kamu juga lelah. Kita lanjutkan pencarian Chika besok lagi. Tapi ingat, jemput saya di waktu subuh agar kita bisa mencarinya dulu sebelum ke kantor," ucap El. Mungkin untuk kali ini El harus mendengarkan saran Haris. Daripada ia mengambil keputusan yang gelisah di saat hayi dan pikirannya sedang tidak berjalan baik.
"Baik pak," jawab Haris. Setidaknya ia bisa tidur sebentar meluruskan punggungnya yang terasa pegal karna seharian mengemudi.
"Huft...," suara desisan nafas Haris. "Kemana sih non Chika. Pakai acara ngambek segala, bikin susah saya aja. Pak El juga sih pakai acara main tuduh sembarangan jadi ribet kan rumah tangganya. Ya semoga aja besok non Chika bisa ketemu. Gak pas pacaran gak pas nikah, selalu aja aku yang jadi korban. Kalau sampai aku jadi jomblo lagi, Pak El dan Non Chika harus tanggung jawab," Haris menggerutu kesal di dalam hatinya.
Beberapa saat kemudian, mobil mereka sudah sampai di kediaman Aristya. Setelah menurunkan bosnya, Haris kembali melakukan mobilnya untuk pulang.
Kaki El melangkah berat masuk rumah. Pertanyaan tentang Chika pasti akan ia dengar dari mulut mama dan papanya. El bingung, alasan apa yang harus ia berikan pada mereka.
Baru saja masuk ke dalam rumah, Tuan Aristya dan Nyonya Sarah ternyata sedari tadi menunggu kepulangannya.
"El," panggil tuan Aristya.
"Iya pah."
"Kamu darimana? Dimana Chika?"
__ADS_1
"Chika, emm.. Chika," El masih mencari alasan yang tepat, untuk membuat mama dan papanya berhenti menanyakan Chika padanya. El tidak mau masalah rumah tangganya terdengar ke telinga mama dan papanya.
Melihat El yang kelabakan, Nyonya Sarah berjalan menghampiri putra angkatnya.
"El, cepat jemput Chika. Kami sudah tahu kalau kalian sedang berselisih paham. Dia ada di apartemen Daniel," ujar mama.
"Apartemen Daniel mah? Ngapain dia ada disana?" suara El sudah menggelegar, memenuhi seisi ruangan. Siapa yang gak cemburu melihat istrinya di apartemen lelaki lain.
Tanoa mendengar penjelasan mama dan papanya, El berlari ke kamar mengambil kunci mobilnya disana.
Saat dirinya hendak keluar, papanya berteriak. Menghentikan langkah kakinya yang sudah berada di depan pintu.
"El, kamu jangan salah paham dengan Daniel atau Chika. Papa tahu kamu cemburu, tapi tolong dengarkan penjelasan kami dulu. Tadi Daniel sudah cerita banyak pada kami," titah tuan Aristya.
El membalikkan badannya. Kembali berdiri di depan mama dan papanya.
"Begini El. Papa sudah tahu masalah kamu dan Chika. Soal keperawanan Chika. Daniel cerita, kalau tadi siang kamu konsultasi dengannya. Tapi yang papa ingin tanyakan, apa alasan Chika pergi dari rumah? Apa kalian bertengkar sebelum kamu memutuskan untuk konsultasi dengan Daniel?" papanya berbalik bertanya, membuat El kembali diam.
"El, harusnya kamu jangan main tuduh pada istri kamu. Kamu kan punya mama, kenapa kamu tidak bertanya pada mama sih El," imbuh Nyonya Sarah.
Merasa terpojok, El menggaruk kepalanya. Kalau dijelaskan sekarang, sama saja ia membiarkan istrinya berlama lama di apartemen laki laki lain meskipun itu sahabatnya sendiri. Apalagi Daniel seperti memiliki perasaan lebih pada Chika. Arghh, campur aduk rasanya perasaan El sekarang.
"Mah, pah. Nanti El akan jelaskan semua tapi sehabis El menjemput Chika ya. El mohon pengertian kalian."
"Hmmm, ya sudah. Papa akan tunggu kalian pulang dan menjelaskan semua pada kami. Oh iy satu lagi, lain kali handphone itu dinyalakan. Kata Daniel dia sudah mencoba menghubungi nomor kamu dari tadi untuk memberitahu keadaan Chika. Tapi kamu malah menolak panggilannya bahkan mematikan ponselmu," ujar tuan Aristya.
"Iya pah," jawab El sembari berjalan cepat menuju mobilnya.
Saat di dalam mobil, El kembali menyalakan ponselnya. Terdapat banyak sekali panggilan dan beberapa pesan yang Daniel kirim untuknya.
__ADS_1
"Arghh sial.. Harusnya sudah dari tadi siang aku bisa membawa kamu untuk pulang. Kenapa tadi aku gak angkat telpon Daniel sih. Sudahlah, yang penting Chika sudah ketemu. Paling tidak perasaanku sedikit lega, ya walaupun masih bingung juga kenapa Chika bisa ada disana. Nanti kapan kapan aku tanya Daniel. Mending sekarang aku telpon dia dan memastikan keadaan Chika baik baik saja," batin El sembari mengambil headset bluetooth yang ia pakai ke telinganya sembari menelpon Daniel dan memintanya untuk menjaga Chika hingga ia datang untuk menjemputnya.
Di Apartemen Daniel..
Chika kini berada di dapur, kembali makan entah untuk yang ke berapa. Kehamilannya membuat perutnya terus lapar.
Kriiiingg...
Suara ponsel Daniel.
"Chika sebentar saya angkat telpon dulu ya," ujar Daniel.
"Iya dokter."
Dengan segera Daniel berpamitan ke dalam kamar sesaat setelah ia melihat El yang sedang menghubunginya. Ia tak mau membuat Chika pergi lagi, karna sudah mengingkari janjinya untuk tidak memberitahu El tentang keberadaannya.
Curiga dengan tingkah Daniel, diam diam Chika menyusul Daniel ke kamar. Apa mungkin yang menelpon Daniel tadi El? Penasaran, Chika pun mengusung pembicaraan Daniel di telpon dari balik pintu.
Dan dueer...
Firasatnya benar. Daniel mengingkari janjinya. Ternyata tadi siang, membeli makanan Untuk dirinya hanyalah sebuah alibi Daniel untuk bisa pergi ke rumah El.
Tak mau bertemu El dan takut kalau suaminya tahu jika dirinya hamil, Chika pun bergegas berlari keluar. Gimana pun ia harus segera pergi dari apartemen Daniel sebelum El datang dan nantinya ia akan mengambil anaknya dari dia.
Dan tanpa sepengetahuan Daniel, Chika sudah meninggalkan apartemennya diam diam.
"Sayang, kita harus pergi dari sini. Mama janji, mama akan bawa kamu ke tempat dimana laki laki brengsek itu menemukan kita. Sabar ya sayang, mama tahu kamu kuat," Chika mengajak bicara anak di dalam perutnya. Semoga saja anaknya tidak lemah di dalam kandungan.
Selesai berbicara dengan El di telpon, Daniel keluar dan ia tak melihat Chika ada di tempat. Namun karna ada suara gemercik di dalam kamar mandi, Daniel mengira Chika sedang berada disana. Dan tanpa ada rasa curiga, Daniel kembali melanjutkan pekerjaannya di ruang tamu.
__ADS_1