
TPU Bunga Teratai....
Mobil El kini sudah terparkir di pemakaman yang luas dan sunyi. El membukakan pintu mobil, menggandeng tangan Chika untuk menghampiri makam kedua orang tuanya.
Jelas terlihat, mata Chika yang sudah di genangi air. Kesedihan itu begitu nampak dari sorot matanya.
Sebelum sampai, El menghentikan langkahnya. Membuat Chika ikut menoleh ke arah calon suaminya penuh tanya.
"Ada apa mas? Kok berhenti?" tanya Chika.
"Aku cuma mau berpesan, jangan menangis di atas makam mama dan papa ya. Kita ini sedang membawa kabar gembira, bukan kabar duka."
"Iya mas. Aku gak sedih kok."
"Bohong. Lihat mata kamu. Aku tahu kamu sekarang ingin menangis bukan? Jika kamu memang ingin menangis, menangislah sekarang dalam pelukanku. Jangan menangis disana," El membuka tangannya hingga Chika jatuh menyelusup ke dada bidangnya.
Didalam dekapan El, Chika sudah tak malu lagi menyembunyikan kesedihannya. Rasa kecewa karna mama dan papanya tidak akan ada di dalam moment bahagianya, membuat Chika menangis sesenggukan di dalam pelukan El.
"Luapkan semua, jangan ada lagi yang kamu pendam. Jika kamu sudah tenang, baru kita kesana," ujar El.
Chika semakin mengeratkan pelukannya, membuat kemeja El ikut basah karna air matanya yang menempel disana.
Setelah cukup puas menangis, El mengusap sisa sisa air di pipi kekasihnya.
"Udah lega?" tanya El yang langsung di angguki kepala oleh Chika.
"Makasih mas, kamu sudah menghiburku."
"Iya sama sama. Tapi ada satu hal yang mau aku sampein ke kamu."
"Apa mas?" Chika penasaran, sebab wajah El terlihat merutuk kesal.
El membuang nafasnya sembari menarik kemejanya.
"Lihat eyeliner sama bedak kamu. Menempel di kemeja putihku sayang. Kamu tahu gak, ini mahal loh harganya. Kok bisa bisanya kamu jadikan bajuku yang mahal ini jadi lap wajah kamu," ujar El.
Sontak ucapan El membuat Chika heran, kenapa calon suaminya lama lama seperti Haris. Pelit sekali. Sejak kapan pula dia jadi perhitungan seperti ini.
"Ih mas El," Chika memukul dada El karna kesal dengan ucapannya.
""Loh kok malah di pukul sih. Aku udah baik loh sayang, merelakan baju mahal aku buat jadi kain lap ingus kamu."
__ADS_1
"Oh gitu? Jadi gak ikhlas? Yaudah besok aku mau nangis aja di pelukan Om Haris. Paling gak, dia gak sepelit kamu," ujar Chika sambil berjalan meninggalkan El di belakang.
"Loh kok Haris sih. Dia kan udah sama Maya," teriak El tapi tak dihiraukan Chika sama sekali.
Jelas El langsung menyusul Chika yang sudah berjalan mendahuluinya. Niat hati ingin mengajak bercanda, kenapa malah dianggap serius seperti ini sih.
"Chika sayang, tunggu. Kok ngambek sih," teriak El kembali.
Chika menoleh sebentar. "Bodo, salah sendiri jadi calon suami kikir," ucap Chika sambil melanjutkan lagi langkah kakinya.
El terus saja berseru sambil mengejar Chika. Hingga akhirnya, tangan Chika bisa ia raih.
"Kok main pergi aja sih. Kalau di culik setan di kuburan sini gimana?" El mencoba membuat lelucon garing.
"Gak takut, setan disini udah bersahabat sama aku."
"Dih, masih ngambek aja. Aku tadi cuma bercanda sayang. Sejak kapan aku pelit sama kamu. Paling baju ini nanti aku buang, besok tinggal beli lagi deh. Selesai," ucap El dengan santainya.
"Mas!! Itu tinggal di kasih pemutih juga udah bersih kali. Sayang buang buang duit kalau beli lagi," Chika menggerutu kesal. Habis pelit kok sekarang malah mau buang buang uang, kan sayang.
"Ya gak papa sayang. Udah ya ributnya soal baju, sekarang kita buruan ke makam mama sama papa. Lihat langit udah mulai mendung, pasti sebentar lagi turun hujan."
"Terserahlah mas."
Setibanya disana, Chika kembali menangis. Ia terpaksa mengingkari janjinya pada El. Lagipula anak mana yang tidak menangis saat melihat makam orang tuanya.
"Mah, Pah, Chika datang," Chika mulai duduk di tengah tengah makam kedua orang tuanya.
El yang ikut merasakan kesedihan Chika, ikut duduk dan memeluk bahu Chika sembari menenangkan hatinya.
"Tadi kan udah janji gak nangis, kenapa sekarang nangis lagi?"
"Kangen mama sama papa mas."
"Iya, tapi mas gak suka lihat kamu sesedih ini. Niat kita kan minta restu sayang, bukan mah membuat mama dan papa sedih diatas sana."
"Iya mas," jawab Chika.
Mereka berdua mulai meminta restu pada kedua orang tua Chika. Dan sebelum pergi, mereka memanjatkan doa terlebih dulu.
Sesaat kemudian, ada tetesan air yang jatuh ke kepala mereka. Memaksa El untuk membawa Chika segera pergi dari sana. Ia tak mau, saat mendekati hari bahagianya nanti calon istrinya malah jatuh sakit.
__ADS_1
"Chika, kita harus pergi sekarang. Langit semakin gelap. Rintik hujan juga sudah turun."
"Iya mas."
"Mah, Pah. Aku dan Mas El pulang dulu ya. Sekali lagi Chika mohon restu dari mama dan papa," ujar Chika sembari mencium nisan mama dan papanya.
"Iya pah, mah. Saya janji saya akan selalu menjaga Chika sampai akhir hayat saya," imbuh El sambil merangkul pundak Chika.
Setelah mengucapkan kata perpisahan, El mengajak Chika untuk segera berlari sebelum air hujan akan semakin membasahi tubuh mereka. Untungnya mereka tiba di mobil terlebih dulu, baru air hujan turun begitu deras.
"Makasih ya mas, kamu sudah mau menemaniku menjenguk mama dan papa," Chika berkata sambil mengelap air yang ada di wajah El dengan tisu.
"Iya sayang. Sebentar lagi kamu akan menjadi tanggung jawabku. Dan aku yang akan menggantikan tugas kedua orang tuamu," ujar El yang berhasil membuat air mata Chika kembali jatuh.
"Mas, aku sayang banget sama kamu. Jangan pernah tinggalin aku ya."
"Gak akan sayang. Sampai kapan pun aku gak akan pernah meninggalkan kamu."
Tiba tiba, ingatan Chika kembali teringat dengan surat perjanjian mereka.
"Mas, soal kontrak itu?" lirih Chika.
"Sudah aku bakar. Dan tidak ada lagi perjanjian diatas kertas yang menjerat kamu. Karna kini yang menjerat kamu itu cintaku sama kamu sayang."
Pipi Chika seketika memerah seperti tomat. Mendengarkan setiap gombalan yang di lontarkan El padanya.
"Arghh mas El..," Chika malu, mendengar rayuan maut dari El.
"Jangan mendesah gitu sayang, ada yang bangkit dari tidurnya ini," Chika melotot. Semakin kesini pikiran El semakin menjurus.
"Mas El!! Mesumnya kambuh!" teriak Chika.
"Hehehe, bercanda sayang. Kita jadi ke rumah om sama tante kamu?" tanya El.
"Jadi mas. Kamu gak papa kan?"
"Hmmm, lihat saja nanti. Kalau mereka tak menyambut baik kedatangan kita. Kita langsung pulang."
"Iya iya mas."
Selama perjalanan, El terlihat santai. Berbeda dengan Chika. Meski hatinya ragu untuk bertemu om dan tantenya, namun ia tetap menemui mereka untuk meminta restu.
__ADS_1
"Semoga aja om sama tante gak bikin Mas El mengamuk disana. Dan semoga kejadian beberapa waktu yang lalu sudah membuat mereka sadar," batin Chika sembari menoleh ke samping, dimana El masih fokus menyetir.