Terjerat Pernikahan Di Atas Kertas

Terjerat Pernikahan Di Atas Kertas
Arti Kehidupan


__ADS_3

Satu bulan sudah berlalu. El sudah membangun istana baru lagi untuk Chika dan Kie di dekat rumah papa dan mamanya. Bukan lagi di dekat hutan belantara.


Kehidupan keluarga mereka semakin harmonis. Dan kini Kie sudah mulai bersekolah. Chika dan Nyonya Sarah yang mengantar dan menunggu bocah tampan itu selama di sekolah.


Atas persetujuan Chika, nama Kie sudah diganti menjadi Kieandra Sivano Aristya. Karena El akhirnya menyampaikan rasa keberatannya dengan nama Basuki. Begitu juga Tuan Aristya, Nyonya Sarah, Renata, Pandu dan semua orang terdekatnya. Kebetulan akte kelahiran Kie juga belum di buat, jadi tak sulit untuk bagi El untuk mengganti nama putranya.


El sendiri sudah kembali fokus mengurus perusahaannya. Untuk perusahaan yang ia dirikan sendiri, kini sudah ia pasrahkan kepada Haris. Begitu juga Perusahaan milik Chika yang sudah di pimpin kembali oleh Pandu.


Siang ini, Renata datang ke rumah Chika sambil membawakan makanan kesukaan Kie. Bocah itu begitu dekat dengan Renata. Mungkin karena memang ada hubungan darah, jadi tak butuh waktu lama untuk Kie akrab dengan omanya itu.


"Chika, kenapa wajah kamu pucat?" Tanya Nyonya Sarah sambil menarik dagu Chika dan mengamati seluruh bagian di wajahnya.


"Argh, masak sih mah?"


"Iya Chika, benar kata mama mertua kamu. Lihat nih( Renata menyerahkan kaca kecil ke tangan Chika) bibir kamu pucat, mata kamu pun nampak sayu," timpal Renata.


"Apa perlu mama telpon El untuk pulang merawat kamu?"


Chika menggelengkan kepalanya. Menolak saran dari mama mertuanya. Jika El tahu dia sakit, dipastikan Chika tidak akan boleh mengurus Kie dan hanya akan disuruh berbaring terus di ranjang. Sungguh membosankan.


"Gak usah mah. Paling aku hanya masuk angin aja. Nanti minum obat juga sembuh."


"Tapi kamu jangan meremehkan sakit kamu Chika," ujar Renata.


"Iya tante. Besok kalau aku memang masih sakit, aku akan menemui Dokter Daniel di rumah sakit tante, mah"


"Ya sudah. Sekarang lebih baik kamu duduk saja. Biar Kie mama yang jaga," ucap mama.


"Iya mah."


Dua hari berlalu. Sesuai ucapannya El mengajak chika untuk pergi ke makam ibu kandungnya di Jogja menggunakan mobil. Kie yang sudah dekat dengan oma dan opanya, tak keberatan jika harus tinggal beberapa hari bersama mereka. Yang ada bocah itu malah bahagia, karena jika di rumah oma dan opanya Kie selalu mendapatkan apa yang ia inginkan tanpa harus mendengar omelan dari mamanya.


Perjalanan panjang di tempuh El dan Chika hingga mereka kini sudah tiba di pemakaman umum tempat tinggal Bu Asih sekarang.


Baru saja mobil El masuk ke gapura pemakaman, air mata Chika sudah mengalir di pipi. Kenangan dan kebaikan Bu Asih padanya dan Kie masi selalu tersimpan dalam memorinya. Dan andai Bu Asih masih hidup, Chika kan sangat bahagia karna ternyata orang yang selama ini menolongnya adalah ibu kandung dari suaminya.


"Chika, ayo turun," ajak El.


Chika masih mematung dengan tatapan kosong dan pikiran yang memenuhi otaknya. Tanpa ia sadari sedari tadi El sudah mematikan mesin mobilnya dan mengajaknya untuk segera turun.


"Chika," El kembali bersuara, sambil menepuk pundak istrinya.


"Eh mas, maaf maaf."


"Kamu lagi mikirin apa?"


Chika hanya menunduk. Sesak di dadanya begitu terasa jika ingat saat tubuh Bu Asih yang terbungkus kain kafan di pendam di tanah ini.


"Aku kangen ibu mas," ucap Chika pelan.


"Iya aku juga sayang. Bahkan kalau di bilang skit, aku yang lebih merasakan sakit itu. Karena sampai ibu meninggal aku belum sempat mencium kakinya dan melihat wajahnya," jawab El dengan deraian air memenuhi kelopak matanya.


Chika malah menjadi merasa bersalah. Ia lupa jika suaminya jauh lebih merasakan kesedihan yang dalam di hatinya. Tangan Chika menghapus air yang kini membasahi kedua pipi suaminya.


"Maafkan aku mas. Harusnya aku yang menghibur kamu dan menguatkan kamu di kondisi seperti ini. Bukan malah membuat kamu semakin terpuruk," ucap Chika.


El hanya tersenyum getir. "Sudah ya nangis nangisan nya. Mendingan sekarang kita turun. Lihat langitnya mendung dan pasti sebentar lagi akan turun hujan,'' ujarnya.


Chika mengangguk, dan sekarang dia dan El sudah berjalan menuju makam Bu Asih.


Suasana menjadi haru, saat untuk pertama kalinya Chika melihat suaminya menangis terisak bahkan sampai sesenggukan seperti ini. Begitu jelas ada rasa penyesalan dari mata suaminya. Sedari tadi El nampak tegar dan selalu bercanda , tapi sekarang dengan cepat el berubah menjadi rapuh saat melihat makam ibu kandungnya.


Waktu berjalan begitu cepat. Dan langit pun menjadi semakin gelap. Tetesan air terasa mengenai kepala Chika.


Chika berjalan mendekati suaminya yang masih duduk bersimpuh sambil memegang nisan yang tertancap di sana. Tangannya ia taruh di atas pundak El, membuyarkan keheningan yang terjadi sedari tadi.


"Mas, ayo kita kembali ke mobil. Lihat sebentar lagi akan turun hujan," ucap Chika.


El mulai bangkit berdiri, namun sebelum pulang ia kembali mencium nisan ibunya.


"Maafkan El ya bu. El belum sempat mencium kaki ibu. Dan yang bisa El lakukan sekarang hanya mencium batu nisan ibu. El pamit ya bu."


Air mata Chika kembali mengalir deras. Ucapan El terlihat sangat tulus. El yang sudah berdiri langsung meraih pinggang istrinya karena rintikan hujan turun semakin deras.


"Ibu kami pamit ya," satu kalimat terakhir terlontar dari mulut keduanya yang bergegas berlari masuk ke mobil.


El lalu mengambil sehelai tisu dan mengelap wajah Chika yang basah karena tetesan air hujan.


"Apa kamu kedinginan sayang?" tanya El.


"Enggak kok mas. Makasih ya mas, akhirnya kamu menepati janji kamu untuk lebih menjaga emosi kamu."


Tangan El mengelus pipi Chika yang mulus. "Karena aku tidak mau kehilangan kamu dan Kie lagi," ucapnya.


Otak mesum El kembali muncul. Suasana sangat mendukung. Hujan dan hanya ada mereka berdua tanpa ada Kie yang menganggu waktu mereka.


El mulai memajukan wajahnya, bibirnya tengah bersiap memakan habis bibir Chika. Tinggal beberapa centi bibir mereka menyatu, Chika menghentikan aksi suaminya sebentar.


"Mas tunggu," Chika menempelkan tangannya di dada El.


"Ada apa sayang?"


Chika mengambil sesuatu di dalam tasnya lalu memberikannya ke tangan El.


"Coba mas buka deh," ucap Chika.


Saat El membaca isi dalam kertas tersebut, kedua matanya menjadi nanar. Air mata kembali jatuh membasahi wajahnya.


"Kamu hamil sayang?" suara El terdengar serak dan berat. Lalu ia menatap Chika, memastikan apa yang ia baca itu benar


Sebuah senyuman lebar nampak di bibir Chika. Ia mengangguk lalu kini terlihat gigi putihnya tengah berdiri sejajar bersama dengan senyumannya yang lebar.


"Iya mas aku hamil. Kie akan punya adik."

__ADS_1


El berteriak kencang. Meluapkan rasa bahagianya. Ia lalu membawa Chika masuk ke dalam pelukannya sambil menghujani banyak ciuman di seluruh wajah Chika.


"Aku bahagia sayang. Dan aku janji, di kehamilan anak kedua kita ini aku akan selalu menjadi suami yang selalu ada di samping kamu. Kejadian Kie tidak akan pernah terulang lagi. Aku janji sayang," ucap El.


"Iya mas."


****


Sembilan bulan berlalu. Perut Chika membuncit dengan berat badannya yang sangat naik drastis. Meski tubuh idealnya sudah menjadi tong, tapi rasa cinta El semakin besar pada istrinya.


Sengaja El tidak berangkat ke kantor, karena minggu ini sudah memasuki hari perkiraan kelahiran anak keduanya.


Sore itu, El sedang menemani Kie bermain sepeda. Sedangkan Chika, duduk bersantai sambil minum teh bersama papa dan mama mertuanya. Matanya menatap nanar dua laki laki yang sangat berarti bagi hidupnya.


"Bahagianya aku memiliki kalian di dalam hidup ini," batinnya.


Tiba tiba perut Chika mengencang. "Mah,pah,sepertinya anak Chika mau lahir," ucapnya.


Nyonya Sarah dan Tuan Aristya langsung panik. Mereka berdua kompak berteriak memanggil El. Bukannya mencoba ikut tenang, El justru lebih panik dari mama dan papanya. Dia pun segera berlari, menghampiri istrinya.


"Ayo El cepat bawa Chika ke dalam mobil," titah Nyonya Sarah.


El malah mengacak rambut sambil matanya terus menatap Chika yang meringis kesakitan.


"El cepat bawa istrimu ke mobil," ucap Tuan Aristya.


"Gimana caranya El bawa Chika ke mobil mah,pah. Badannya segede ini, El mana sanggup jika harus menggendongnya," protes El.


Chika melotot. Disaat ia tengah kesakitan seperti ini,El justru meledek dirinya.


"MAS EL!!" gertak Chika sambil melotot kearah El.


"Aku gede begini kan juga gara gara kamu yang bikin aku melendung. Besok besok aku udah gak mau hamil lagi," ancam Chika.


"Jangan gitu dong sayang. Oke oke demi kamu dan anak kita, aku rela gendong kamu," kata El.


"Cepat El. Sebelum anak kamu lahir disini," desak mama.


"Iya iya mah."


Dengan raut wajah tertekan dan merem melek, El berusaha menggendong tubuh Chika ke dalam mobil. Ya El tentu tidak bisa berjalan cepat, tidak jatuh saja udah untung. Kalau bukan demi istri dan anaknya, El sudah menggelundungkan tubuh Chika ke mobilnya.


"Pah, awas nanti mama jatuh," celoteh Kie.


"I..Iii..iya.. Kii.. tubuh mana kamu berat banget."


Plak..


"Mas,apa kamu bilang. Arghh.. Sakit mas."


"Iya iya sayang. Sabar sayang, sebentar lagi kita sampai di mobil."


****


"Loh Ris, ngapain kamu disini?" tanya El.


"Lagi nungguin Maya mau lahiran pak."


"Kok bisa sama. Chika juga mau lahiran. Baru aja dia di bawa masuk ke dalam," ucap El.


"Ya sama pak. Maya juga di ruangan ini."


"Wah kok kebetulan sekali ya. Kita taruhan gimana anak siapa yang lebih dulu lahir."


"Boleh pak siapa takut. Saya yakin anak saya yang lebih dulu lahir. Kan masuknya duluan Maya daripada Non Chika," tantang Haris


"Belum tentu."


"Ya lihat saja nanti pak. Tapi kalau anak saya lebih dulu lahir, perusahaan bapak akan jadi milik saya. gimana?" Haris menaik turunkan kedua alisnya. Menantang bosnya di dalam keadaan genting seperti ini.


"Oke, tidak masalah. Tapi jika anak saya lebih dulu lahir, kamu harus bekerja dengan saya seumur hidup kamu."


"Oke,setuju. Deal pak?"


"Deal," El menjabat tangan Haris sebagai tanda taruhan sedang di mulai.


Oeekk..Oeekk...


Terdengar suara bayi menangis hingga keluar. El dan Haris sudah berdiri di depan pintu menunggu dokter memberi kabar bahagia kepada mereka.


"Itu tangisan anak siapa ya El. Anak kamu atau anak Haris?" tanya Nyonya Sarah.


"Jelas anak El lah mah," jawab El penuh keyakinan.


"Gak bisa. Itu pasti anak saya. Jadi bapak siap siap aja datang ke pengacara buat mengalihkan atas nama perusahaan kepada saya," ucap Haris.


"Cih, jangan terlalu pede. Kita tunggu saja."


Belum sempat dokter keluar lagi lagi terdengar suara tangisan bayi.


Oekk..Oeekk...


"Itu ada suara bayi lagi El," ucap Tuan Aristya.


"Iya pah. Ris berarti Chika dan Maya sudah melahirkan," El memeluk tubuh Haris sambil menjabat tangannya.


"Iya pak. Selamat ya pak atas kelahiran anak keduajya"


"Iya Ris. Kamu juga. Selamat atas kelahiran anak pertama kamu. Sekarang kita tinggal menunggu anak siapa yang lahir duluan."


"Tentu dong pak," jawab Haris penuh percaya diri.


Tak lama dokter keluar dan memberi kabar bahagia ini pada keluarga yang sedang menunggu di luar.

__ADS_1


Ceklek..


Suara pintu terbuka. Dengan cepat El dan Haris saling dorong untuk bertanya pada dokter dan dua orang suster yang membawa bayi mereka di tangannya.


"Selamat bapak Elvano atas kelahiran putranya," ucap seorang suster sambil memberikan bayi laki laki ke tangan El.


"Dan selamat pak Haris atas kelahiran putrinya," ucap seorang suster yang lain sambil memberikan bayi cantik itu ke tangan Haris.


"Terima kasih suster. Siapa yang lahir duluan?" tanya El dan Haris kompak. Tanpa mereka tahu, semua mata yang berada di sana tertuju pada mereka.


"Maksud Pak El dan Pak Haris apa ya?" tanya dokter.


"Ya yang lahir dulu siapa dok Anak saya apa anak Haris?" cetus El.


"Oh. yang lahir duluan.." Haris dan El sama sama memperlihatkan wajah tegang mereka.


"Tadi siapa ya sus," ucap dokter kembali.


Keduanya membuang nafasnya. Disaat tegang seperti ini, Dokter yang membantu persalinan malah lupa


"Dokter lupa ya?" sewot Haris.


"Oh tadi bayi nyonya Chika dulu yang lahir dan 2 menit kemudian bayi Nyonya Maya pak," ucap salah satu suster.


"Yes. Ris saya menang," sindir El.


Haris menundukkan kepalanya. Gagal lagi untuk menjadi milyader dadakan.


"Hei kalian kok malah ngobrol sendiri. Cepat adzani anak kalian," titah Nyonya Sarah.


"Iya Ris. Kamu ini gimana sih, cepat adzani dulu anak kamu," Ibu Nining menegur menantunya.


"Iya bu," jawab Haris.


El dan Haris telah selesai mengadzani anak mereka. Tiba tiba Kie menarik narik pakaian papanya.


"Papa papa, Kie mau lihat adik bayinya. Uncle Kie holeh lihat adik bayinya ya," rengek Kie.


El dan Haris sama sama medekatkan bayi kecil tepat di hadapan Kie


Cup...Cup...


Kie mencium bayi bayi lucu itu silih berganti. "Adik bayi, Kie sayang sama kamu dan kamu," ucapnya lirih


Semua tertawa dengan tingkah polos Kie. Sesaat kemudian El dan Haris sama sama menemui istri mereka di ruangan masing masing.


El berjalan mendekat ke ranjang istrinya. Chika terlihat begitu kelelahan.


"Mas," panggil Chika.


El mulai duduk di samping ranjang istrinya dan sebuah kecupan hangat mendarat di kening Chika.


Cup..


"Terima kasih karna sudah berjuang melahirkan dua jagoan untukku sayang," ucap El.


"Sama sama mas. Dan sekarang tinggal kamu yang menyelesaikan tugas kamu untuk menjadi panutan untuk mereka."


"Pasti sayang."


"Pah, Pah, Kie mau duduk di samping mama. Gendong pah," lagi lagi Kie mengganggu waktu berdua Chika dan El.


"Sini sayang. Mas tolong taruh Kie disampingku sini" pinta Chika.


El mendesis kesal. "Kie , Kie, Apa gak bisa kamu kasih waktu buat papa romantis romantisan dulu sama mama," batinnya.


Tak lama suster datang dan membawa pitra kedua El dan Chika.


"Ini bu bayinya. Tolong di kasih susu dulu ya," ucap suster.


"Baik sus."


Tuan Aristya dan Nyonya Sarah mulai berdiri dan berjalan ke arah bayi tampan El dan Chika.


"Kalau putramu yang ini lebih mirip Chika ya El," ucap Nyonya Sarah.


"Iya mah. Aku juga sependapat. Oh iya El, Chika siapa nama anak kalian ini?" tanya Tuan Aristya.


"Iya pah, siapa nama adik Kie," sahut Kie.


Chika dan El sama sama tersenyum. Mereka memang sudah lama mempersiapkan nama untuk putra kedua mereka.


"Kiondra Sivano Aristya pah,mah," ucap El.


"Wah nama yang bagus," jawab mama.


"Kok panjang pah namanya. Terus Kie manggilnya siapa?"


"Panggil aja Kio. Jadi anak papa yang tampan satunya bernama Kie dan adik Kie namanya siapa hayo?"


"Kio papa," jawab Kie.


Suasana bahagia sangat terasa disana. Ditambah kedatangan Renata dan Pandu, melengkapi kekompakan keluarga mereka.


Senyuman lebar tak pernah lepas dari bibir Chika. Semua penderitaan yang ia alami sebelumnya kini berakhir dengan kebahagiaan.


Tak menyangka Kebahagian itu bermula dari ia yang terjerat pernikahan di atas kertas dengan seorang pengusaha bernama Elvano yang sekarang sudah menjelma menjadi suami yang baik,tanggung jawab, setia, dan penuh perhatian.


"Mah, pah, ibu. Chika sekarang sudah bahagia disini bersama Mas El, Kie dan Kio. Semua yang pernah terjadi didalam hidupku selama ini tidak akan pernah aku lupakan. Karena sejatinya setiap kesedihan yang dialami, di waktu yang akan datang sudah menanti sebuah kebahagian. Begitu juga setiap ada air mata yang jatuh, sebuah tawa yang lepas dan lebar suatu saat akan terurai dari bibir. Terima kasih Tuhan karena kau telah mengirimkan tiga orang laki laki kedalam kehidupanku. Dari sini aku semakin mengerti arti kehidupan yang sebenarnya.


^^^Chika Priscilla Dirgantara^^^


...END...

__ADS_1


__ADS_2