
Selesai memeriksa Kie dan Chika, Dokter Daniel memberikan beberapa resep obat dan juga meminta pada Chika dan El untuk tidak memberikan makanan yang berat dulu untuk Kie.
"Sepertinya lambung Kie bermasalah El. Jadi tolong kasih bubur dan buah dulu aja ya. Jangan makan yang berat berat dulu," ucap Daniel.
"Jadi lambung Kie bermasalah?" tanya El sambil menaikkan satu alisnya.
"Ya. Untuk kedepannya tolong perhatikan semua nutrisi yang ingin di berikan pada Kie ya. Kasihan dia masih kecil."
"Hmmm," suara deheman keluar dari mulut El.
"Makasih Dokter Daniel," sahut Chika.
"Sama sama Chika. Dan untuk kamu, sepertinya kamu hanya kelelahan saja. Minum banyak vitamin, air putih dan istirahat yang cukup ya."
"Baik dokter," jawab Chika.
Perkataan Daniel tadi membuat arah mata El tak beralih dari Chika. Jemari Jemari jemarinya mulai mengetuk ngetuk papanya sendiri. Ia sudah tidak sabar untuk mengintrogasi istrinya dalam mengurus Kie.
Mengerti situasi sedang buruk, Daniel berpamitan pulang. Sepertinya akan ada perang bharatayuda antara El dan Chika.
Tak lama Daniel pamit pulang. Kini hanya tinggal dirinya, Kie dan Chika. Sorot mata El beralih kembali ke arah Chika.
Chika yang sudah bisa menebak apa yang akan terjadi segera berdiri sambil menggendong Kie. Jujur seharian ini ia sudah lelah bekerja. Ditambah banyak drama yang terjadi antara dirinya dan El. Apalagi tenaganya juga terkuras habis setelah melayani El diatas ranjang. Malas berdebat, Chika memilih menghindari saja.
Sayangnya El langsung menarik tangannya, memaksanya untuk duduk kembali.
"Ada yang ingin aku tanyakan sama kamu," ujar El sinis.
"Soal apa? Aku tahu mas, pasti soal ucapan Dokter Daniel tentang penyakit Kie kan?" jawab Chika tanpa membalas tatapan mata suaminya.
El mendesis kesal. Makanan apa yang selama ini Chika berikan untuk Kie?Perasaan El semakin tak karuan.
"CHIKA!! Lihat aku. Bisa gak kamu menghargai orang yang sedang mengajak kamu bicara," bentak El. Kie yang tadi sibuk mengelus elus pipi mamanya, spontan langsung memeluk Chika. Suara El membuat dirinya ketakutan lalu menyusupkan wajahnya ke dada mamanya.
"Mas, bisa bicara pelan. Lihat, Kie sampai ketakutan seperti ini," jawab Chika kesal.
"Pelan kamu bilang? Gimana aku mau bicara pelan, kamu saja seakan acuh saat aku ajak bicara."
"Acuh? Aku bukan acuh mas. Tapi bisa kan kita bicarakan ini nanti setelah Kie tidur. Sekarang aku mau ke kamar Kie, aku mau menemani dia tidur. Permisi," pamit Chika.
Namun lagi lagi, El mencengkram lengannya. Membanting tubuhnya ke atas sofa. "Duduk aku bilang," seru El.
Chika hanya pasrah. Sifat keras kepala El memang tidak pernah bisa berubah.
"Apa, kamu mau bicara apa?" tanya Chika.
"Soal Kie. Kamu kasih makan apa dia hingga lambungnya bermasalah. Kamu itu gak becus jadi ibu. Anak sekecil Kie bisa terkena penyakit lambung. Bisa gak sih ngurus anak?" gertak El.
Marah, sedih dan kecewa. Itu yang dirasakan Chika sekarang. Apakah kembali memberikan kesempatan pada El suatu kesalahan. Entahlah, yang jelas Chika sudah tak bisa membendung tangisannya.
Chika memindahkan Kie dari pangkuannya ke atas sofa. Kemudian ia menatap El penuh amarah.
Plakk...
Untuk pertama kalinya, Chika menampar pipi El begitu keras.
__ADS_1
"Kamu sadar mas apa yang kamu bilang? Aku gak becus urus anak? Kamu itu selalu saja menuduh tanpa bukti. Aku lelah mas. Mungkin kembali bersama kamu itu sebuah kesalahan. Dan sebaiknya kita gak usah bersama lagi. Carilah istri yang bisa mengurus kamu dan carilah seorang wanita yang bisa mengurus dengan becus anak kamu nantinya. Ayo Kie kita pergi dari sini," ucap Chika sambil menggendong kembali Kie dan bergegas pergi.
"Mau kemana kamu. Aku tidak akan membiarkanmu pergi bersama Kie. Jika kamu mau pergi, pergi saja tapi jangan bawa Kie. Dia juga anakku. Aku juga punya hak atas dia," jawab El tegas.
Chika menghempaskan tangan El yang mencegkram tangannya begitu erat.
"Lepas mas. Kamu bilang apa tadi? Hak? Sekarang aku tanya, apa kamu pernah memenuhi kewajiban kamu sebagai ayah Kie. Dimana kamu saat aku hampir kehilangan nyawaku ketika melahirkan Kie. Dimana kamu saat aku dan Kie hampir mati kelaparan ketika kami kembali lagi ke kota ini. Dimana kamu.."
Belum selesai dengan ucapannya, El memeluk tubuh Chika dan Kie. "Jangan di teruskan sayang, aku minta maaf. Aku hanya emosi mendengar lambung Kie bermasalah. Sudah jangan ingatkan soal itu lagi. Iya aku yang salah. Sudah ya jangan berucap lagi," ucap El.
Sekuat tenaga Chika berusaha melepaskan pelukan suaminya. Namun El terlalu memeluk dirinya dan Kie begitu erat. Sehingga Chika tak bisa lepas dari pelukan suaminya yang egois itu.
Huaa....Tangis Kie pecah juga. Pertengkaran kedua orang tuanya membuat dia begitu takut. Apalagi pelukan El membuat dirinya sesak.
"Mama mama...," teriak Kie.
"Mas lepas, Kie kesakitan," ucap Chika.
"Aku tidak akan melepaskan kalian. Janji dulu jangan coba untuk pergi dariku."
"Iya iya, tapi lepas mas."
El melepaskan pelukannya. Kie semakin menangis. Nampak sekali ekspresi wajahnya yang ketakutan saat melihat El.
"Papa jahat, papa jahat. Papa kayak setan, jahat," celoteh Kie.
"Maafin papa sayang. Besok Kie mau apa, kita beli semua yang Kie mau. Tapi jangan bilang papa jahat lagi ya Kie ya," rayu El.
"Gak mau. Papa jahat sama Kie dan mama. Ayo mah pulang, Kie gak mau disini," ucap Kie.
Kacau, El mengusap wajahnya kasar. Ditambah lagi tatapan Chika begitu kejam dan sinis padanya.
"Lihat mas, gak semuanya kamu bisa beli dengan uang. Sekarang kamu sudah tahu kan, bahagia itu tidak harus kaya. Kie lebih senang tinggal di gubuk kecil, asalkan tidak ada hal yang membuatnya takut," cetus Chika.
"Tapi Chika.."
"Mama ayo pulang mah, Kie gak mau disini. Ayo mah pulang," rengek Kie sambil arah matanya terus menatap mata El penuh rasa takut.
"Iya kita pulang ya sayang." Chika mencoba menenangkan Kie sejenak. Dan sesaat kemudian ia berlalu melewati El.
"Mas, tolong izinkan aku pergi. Bilang pada om Haris, untuk mengantarku dan Kie kembali ke rumah kami. Dan tolong jangan ganggu aku dan Kie lagi. Segera urus perceraian kita, agar kamu bisa mencari istri dan calon ibu untuk anakmu kelak yang sesuai dengan kehendak kamu," ucap Chika dan setelah itu ia berjalan menatap depan tanpa melirik El sedikit pun.
Jedeerr.. Netra El berlinangan air. Beberapa menit yang lalu, baru saja ia berkumpul dan bercanda dengan istri dan anaknya, apa ia harus kehilangan lagi semuanya? Tidak, El tidak bisa melepas begitu saja.
Kaki Chika sudah hampir di depan pintu. El berlari, mengejar kebahagiaan yang hampir hilang lagi.
"Chika, Kie," seru El.
Dalam tangisnya, El memeluk tubuh Chika dari belakang. "Maafkan perkataanku tadi. Aku bukan suami yang baik, tapi kamu itu seorang istri dan mama yang baik sayang. Tolong bantu aku untuk menjadi suami dan papa yang baik untuk kamu dan Kie. Dan jangan pernah lagi tinggalkan aku sendirian. Aku mohon Chika," lirih El.
Tes..
Chika ikut hanyut dalam kesedihan suaminya. Air matanya mengalir tak kalah deras.
"Berapa kali kamu minta maaf mas. Berapa kali kamu memohon padaku untuk tidak pergi?"
__ADS_1
"Aku tahu aku salah. Dan aku selalu mengingkari janjiku. Tapi aku akan berusaha untuk berubah. Tolong sabar menghadapi sikapku yang tempramen ini sayang."
Kie yang berada di pelukan Chika, melihat mata El yang terus mengeluarkan air. Jari jari kecilnya mengusap air di pipi papanya.
"Papa jangan nangis," ucap Kie. Bukan menjadi tenang, El justru semakin menangis. Putra kecilnya itu memiliki hati yang tulus seperti Chika.
"Kie...," seru El sambil menciumi tangan kecil Kie.
"Maaf mas, aku harus pergi," sahut Chika sembari melepaskan tangan El yang melingkar di perutnya.
"Chika aku mohon Chika. Jangan pergi, maafkan aku," teriak El yang masih bersikeras memeluk Chika semakin erat.
"Mas, sakit. Lepas mas."
"Enggak, aku gak akan lepasin kalian."
"Tapi aku mau nidurin Kie di kamar. Ini udah malam, waktunya dia tidur."
Seketika bibir El tak bergerak. Ia membalikkan tubuh Chika dan menatapnya dalam dalam.
"Kamu tidak jadi pergi sayang?" tanya El pelan.
Chika menggelengkan kepala sambil melebarkan senyumannya. "Enggak mas. Aku bisa lihat, kamu benar benar ingin kembali pada kami. Dan aku juga akan membantu kamu merubah sifat dan sikap kamu," ucapnya.
"Makasih sayang," El mencium kening Chika dan El sambil membawa mereka kedalam pelukannya.
Disaat suasana bahagia, tiba tiba terdengar suara yang membuat El dan Chika langsung tertawa.
Kriukkk.. Kriukkk..
"Mama papa, Kie laper," ucap Kie.
"Hahaha, Kie lapar?" tanya Chika dan El kompak yang langsung diangguki oleh Kie.
El mengelus pucuk rambut putranya. "Biar aku suruh bibi masak aja sayang," ucapnya.
"Gak usah mas. Biar aku aja yang masak. Mendingan kamu bawa Kie ke kamar aja."
"Beneran?"
"Heem." Chika mengangguk. "Kie kamu sama papa dulu ya, mama mau masak buat Kie sama papa."
"Iya mah."
"Sini Kie sama papa dulu ya," ucap El sembari mengambil Kie dari gendongan Chika.
"Ayo my boy, kita ke kamar. Kita main tembak tembakan ya," El menggendong Kie diatas kepalanya sambil menggoyangkan tubuh kecilnya. Membuat bocah kecil itu tertawa hingga terbahak bahak.
"Papa papa, nanti Kie jatuh," teriak Kie.
"Gak akan Kie."
Dari jauh hati Chika begitu bahagia. Akhirnya Kie bisa merasakan kasih sayang seorang papa yang sudah lama ia tidak dapatkan.
"Kie, mama akan melupakan rasa marah mama pada papa kamu demi kamu sayang. Yang penting Kie bahagia. Karna bagi mama, kebahagian kamu adalah segalanya," batin Chika.
__ADS_1