
Mereka berdua kini sudah tiba di tempat tujuan. Chika sedikit syok, pikiran jeleknya kembali muncul merasuki otaknya.
"Mas, kenapa ke lapangan? Mau ngapain? Terus Maya sama Om Haris mana?" Chika melempari El dengan banyak pertanyaan. Wajahnya juga terlihat seperti ketakutan. Melihat suasana yang sepi dan gelap. Kalau mau main bola pasti orangnya banyak, kenapa ini enggak.
"Tutup mata kamu ya, aku mau bawa menunjukkan sesuatu sama kamu."
"Gak mau. Mas sama Om Haris pasti sengaja kan mau jebak aku sama Maya? Kenapa sih mas, toh nanti kalau kita menikah juga akan melakukannya," Chika terus saja menolak, saat El hendak menutup kedua matanya dengan kain.
"Please Chika, sekali aja kamu nurut apa kata mas. Ya ya ya," bujuk El.
"Emm..,"Chika mencoba menatap kedua mata El. Mencari tahu kebohongan disana.
"Gimana sayang?"
"Iya, oke. Tapi awas kamu mas, kalau sampai kamu sama Om Haris berbuat macam macam, aku laporin ke KPAI."
"Apa itu KPAI?" tanya El sedikit heran.
"Komisi Perlindungan Anak Indonesia," jawab Chika hingga membuat El malah menertawakan dirinya.
"Ishhh.. Mas. Kok ketawa sih. Aku serius ini," Chika mendesis kesal, membuat El mencubit pipinya karna gemas.
"Chika sayang, kamu lupa umur kamu itu udah 18 tahun. Kalau mau lapor itu ke kantor polisi. Lah kalau umur kamu di bawah 17 tahun baru bisa kamu lapor ke KPAI," ucap El.
"Arghh sama aja. Pokoknya awas kalau kamu macem macem mas."
"Iya sayang. Tenang aja aman aman," jawab El.
El mulai memakaikan sebelah kain hitam untuk menutupi mata Chika. Ia membawa Chika masuk ke tengah lapangan, dimana disana ia melihat tangan Haris sudah melingkar di pinggang Maya.
"Jadi mereka sudah sah menjadi sepasang kekasih? Gercep juga kamu Ris. Untung saja sebelum kesini tadi aku ada drama dengan Chika. Kalau enggak, berantakan sudah rencana kamu Ris," batin El.
"Pak," Haris melambaikan tangannya, memberi kode pada El yang langsung di angguki oleh El.
Ketika sampai di tengah lapangan, El membuka kain yang menutupi mata Chika.
"Lihat sayang,apa kamu suka?" tanya El.
Chika sungguh tak percaya, ada sebuah helikopter di hadapannya sekarang.
"Maksudnya apa ini mas?" Chika mengernyitkan dahinya. Masih belum mengetahui rencana apa yang sudah di siapkan oleh El.
"Ayo naik sayang, kita keliling di udara," ajak El. Namun Chika memundurkan langkahnya, menjauh dari helikopter di depannya.
Rasa trauma akan kehilangan kedua orang tuanya masih membekas di dalam hatinya. Segala sesuatu yang berhubungan dengan udara, menimbulkan rasa trauma di hatinya kembali muncul.
"Gak mas, aku gak mau," Chika berteriak histeris sambil terus berjalan mundur menjauh dari helikopter.
__ADS_1
"Sayang, kamu kenapa? Ada apa sama kamu?"
Chika hanya menggelengkan kepalanya sambil terus berteriak dan menangis histeris seakan melihat hantu di tempat itu.
Tiba tiba Maya teringat, semenjak kematian kedua orang tuanya Chika begitu takut dengan pesawat dan semacamnya. Ia pun memberitahu Haris yang kemudian langsung di sampaikan kepada El yang berdiri tak jauh darinya.
"Kenapa saya bisa lupa Ris, cepat kamu suruh bawa pergi jauh jauh helikopter ini dari hadapan Chika," titah El.
"Tapi bos, gimana dengan rencana kita?"
"Lupakan, yang terpenting saya gak mau membuat Chika sedih. Cepat Haris!!" El berteriak, membuat Haris lari memanggil petugas.
El mulai berjalan mendekati Chika yang masih saja menangis. Sebuah pelukan hangat, bisa sedikit meredakan kesedihan di hati Chika.
"Udah, udah. Jangan sedih lagi. Mama dan papa udah tenang di surga. Jangan buat mereka sedih ya, karna kalau kamu sedih itu akan membuat langkah mereka berat meninggalkan dunia ini," El memeluk tubuh Chika sambil terus menghiburnya.
"Tapi kenapa mereka tega meninggalkan aku sendiri mas," tangis Chika kembali pecah, membayangkan wajah kedua orang tuanya.
El mulai melepaskan pelukan, menarik dagu Chika dan menatapnya dalam dalam.
"Siapa bilang kamu sendiri? Ada aku sekarang. Ada Haris, ada Maya, ada mama dan papa yang sudah menganggap kamu anak mereka. Jadi kamu gak sendirian lagi."
"Makasih mas, makasih kamu udah datang dalam kehidupanku dan menyelamatkanku dari semua penderitaan ini."
"Iya sama sama," El kembali menarik tubuh Chika masuk kedalam dekapannya.
Tuaarr.. Tuaarr..
Kembang api bertuliskan I love you Chika menghiasi langit malam itu. Tulisan itu berhasil melebarkan kembali senyum di bibir Chika.
"Makasih mas," ujar Chika sembari menyandarkan kepalanya di bahu El.
"Hmmm, sama sama sayang," jawab El.
Tak lama kembang api kembali muncul dengan tulisan yang berbeda. Will you marry me Chika?
Chika kembali menegakkan kepalanya, menghadap El yang berada di sampingnya.
Sebuah kotak kecil El keluarkan dari saku jaket kulitnya. Entah romantis atau tidak, harapannya ini akan menjadi moment terindahnya bersama Chika.
"Jawab sayang, will you marry me?" El membuka kotak berwarna merah, berisi cincin berkata berlian yang ia berikan tepat di hadapan Chika.
Tanpa pikir panjang, Chika meneteskan air matanya. "Yess, I will mas," ujarnya.
El langsung memakaikan cincin itu di jari manis Chika lalu mencium kening Chika begitu dalam.
"Terima kasih Chika. Aku janji aku tidak akan pernah menyakitimu. Bahkan aku gak akan biarkan siapapun menyakiti kamu," janji El.
__ADS_1
"Janji mas?" Chika memberikan jari kelingkingnya.
"Janji," jawab El sembari melingkarkan jarinya ke jari Chika.
Tak sabar, El sudah ingin kembali mengecup bibir calon istrinya itu. Tinggal beberapa centi lagi, tiba tiba..
"Selamat ya pak, ini bunganya lupa," Haris datang dari arah belakang El bersama Maya.
"Aiishh.. Haris datangnya satu menit lagi kek. Emang gak pernah bisa lihat sikon," batin El kesal.
El mengambil bunga di tangan Haris dengan kasar. Ia sungguh kesal, gara gara Haris lagi ia harus kehilangan moment seperti di film favoritnya 'Eiffel I'm in love' dimana sehabis melamar ia mencium bibir kekasihnya.
"Sayang, semoga kamu suka ya," El memberikan sebuah bucket mawar merah ke tangan Chika.
"Suka mas, suka banget. Makasih ya."
"Iya sama sama."
"Chika, selamat ya sayang. Pokoknya kalau nikah nanti gue di undang ya," sahut Maya.
"Makasih May. Pasti dong May. Elo juga ya, selamat. Akhirnya naksir juga sama om om," Chika membuat Maya malu. Mungkin dia lupa kalau calon suaminya juga om om.
Karna waktu semakin malam dan rencana dinner di dalam helikopter gagal, El mengajak semuanya makan di sebuah restoran.
Namun sebelum pergi, ia melepas jaketnya dan memakaikannya ke tubuh Chika.
"Aku tahu kamu pasti kedinginan kan? Pakai aja sayang, aku gak mau lihat kamu sakit," ujar El.
Blush..
Pipi Chika semakin merah. Malam ini sungguh El membuat dirinya terbang melayang. Merasakan bagaimana rasanya menjadi ratu sejagat semalam.
"Terima kasih mas," Chika kembali terharu. Ia melingkarkan tangannya ke perut El.
"Hmmm. Udah jangan begini. Bisa bisa aku gak bawa kamu ke restoran tapi ke apartemen," ujar El dan Chika dengan spontan melepaskan tangannya dari tubuh El.
"Dasar mesum," desis Chika kesal.
"Tapi kamu suka kan?"
"Hmmm," jawab Chika dengan sedikit malu malu.
Gemas dengan tingkah calon istrinya, El kembali menarik tubuh Chika untuk masuk kedalam dekapannya. Jujur ia tak mau kalah mesra dengan Haris yang sedari tadi tak pernah melepaskan pelukannya dari pinggang Maya.
"Jangan pernah pergi dariku ya sayang," lirih El tepat di telinga Chika dan mendapat anggukan darinya.
"Baru kemarin aku kehilangan papa dan mama sekaligus. Tapi sekarang aku mendapatkan seseorang yang tulus menyayangi dan mencintaiku. Ketika kesedihan datang, percaya dan yakinlah, ada kebahagian di depan yang sudah menanti," gumam Chika yang sesekali menoleh ke arah El.
__ADS_1