
Si gembul Kie kini sudah rapi dan wangi. El lalu menggendong Kie dan menciumi putranya yang semakin terlihat tampan dengan pakaian yang modis.
"Chika, lebih baik kamu mandi dan ganti pakaian dikamarku. Beberapa pakaianmu dulu yang ada di apartemen sudah ku pindahkan kemari," ucap El.
"Terus Kie gimana mas?" tanya Chika.
"Kan ada aku dan Haris."
"Oh yaudah deh. Tapi aku gak tahu kamar kamu mas."
"Nanti aku antar."
"Yaudah mas. Kie mama mandi dulu ya. Kie jangan nakal ya sayang," ucap Chika sembari mengelus elus rambut Kie.
"Iya mah. Mama mandi di kamar Kie aja," jawab Kie. El kembali gusar. Apa iya Chika akan mengiyakan permintaan putra mereka lagi?
"Enggak Kie. Mama mau mandi di kamar papa, kan baju mama ada disana."
"Yaudah deh mah. Tapi jangan lama lama ya mah."
"Iya sayang."
Meskipun perlu sedikit drama, akhirnya El bisa membawa Chika pergi dari Kie. Ia lalu membawa Chika masuk kedalam kamar mereka.
"Ini sayang kamarnya," ujar El sembari membukakan pintu untuk Chika.
"Iya mas. Sekarang lebih baik kamu temani Kie ya. Aku mau mandi dulu," kata Chika. Tapi El malah tersenyum. Mungkin Chika lupa jika suaminya sudah dari tadi mengincarnya.
Ceklek...
Pintu kamar sudah tertutup dan El dengan segera mengunci pintu kamarnya lalu melangkah memeluk tubuh Chika dari belakang.
Deg...
Jantung Chika berdebar kencang. Tubuhnya pun terasa panas dingin. Apalagi El kini tengah sibuk memberikan ciumam di belakang telinganya yang membuat rasa geli gimana gitu di tubuhnya.
"Argh mas, kamu mau ngapain. Kasihan Kie sendirian di kamar," Chika berusaha melepaskan tangan yang melingkar di perutnya.
"Ada Haris sayang. Kita main sebentar ya. Apa kamu gak kasihan sama barang pusaka milik suami kamu ini?"
"Tapi mas, aku belum mandi. Seharian aku kerja. Badanku gerah mas," celoteh Chika.
"Sebentar saja," El melanjutkan kembali ciumannya ke tubuh Chika.
Meski mencoba menggunakan seribu alasan, itu tak membuat El melepaskan dirinya. El mulai beraksi. Ia semakin memberikan kecupan kecupan yang bisa membuat tubuh Chika mengejang.
Tak butuh waktu lama bagi El membuat tubuh Chika memanas. Empat tahun tak disentuh, Chika menerima semua sentuhan yang diberikan El.
El membalikkan tubuh Chika, menautkan bibir mereka berdua. Tangan El mulai menyelesup masuk ke dalam pakaian Chika, memainkan sesuatu yang berada di puncak sana
Suara desahan yang keluar dari mulut Chika, membangkitkan nafsu yang sudah lama tak tersalurkan. Ia membawa Chika ke ranjang panas mereka, membuka setiap benang yang masih tertempel di tubuh istrinya.
"Sayang, sudah lama aku menantikan saat ini," bisik El sembari mengecup kembali bibir Chika.
Chika tersenyum, jujur ia juga sama seperti El. Merindukan belaian darinya. Hanya saja dia malu untik berkata demikian.
Perlahan tapi pasti, kini tubuh mereka sudah polos. El mengungkung tubuh Chika di bawah tubuhnya.
__ADS_1
"Sayang, pelan pelan aja ya. Aku ingin menikmatinya."
"Iii..ii..ya mas."
Suara desahan dan erangan memenuhi seluruh kamar. Entah berapa kali El menyemburkan bisanya di rahim Chika. Semoga saja akan banyak benih tumbuh disana. Harapnya.
"Mas, udah ya. Kasihan Kie. Memangnya kamu belum puas?" tanya Chika.
"Belum," jawab El sambi tersenyum licik dan kembali membuat ranjang mereka bergoyang.
****
Di kamarnya, Kie mulai bosan. "Pakde," Kie memanggil Haris.
"Iya bos kecil. Eh tunggu tadi kamu panggil aku apa?"
"Pakde. Habis Kie bingung mau panggil apa?"
"Ya jangan pakde juga dong bos kecil. Panggil uncle aja gimana?" Haris mengedipkan matanya. Berharap Kie mau menerima tawaran darinya.
"Iya deh, uncle," jawab Kie.
"Nah gitu dong. Anak pintar. Ayo kita main mobil mobilan lagi," ajak Haris.
Kie menggelengkan kepalanya. "Gak mau uncle, bosen. Kie mau nyusul mama aja deh. Habis mama lama sih," ucap Kie sambil berjalan menuju pintu.
Dengan sigap Haris menggendong Kie dan membawanya duduk diatas kasur empuknya.
"Uncle, Kie mau susulin mama," rengek Kie.
"Kuda uncle? Kie mau dong ikut mama sama papa main kuda kudaan. Ayo bawa Kie kesana om."
Haris menggaruk garuk kepalanya. Kayaknya ia salah bicara deh. Mungkin dipikir Kie, mama dan papanya sedang berkuda beneran.
Saking sibuk melamun, tanpa sadar Kie sudah keluar dari kamarnya.
"Loh bos kecil mana nih? Argghh bisa marah Pak El kalau bos kecil mengganggu quality timenya bersama non Chika," batin Haris.
Rupanya benar, Kie sudah menggedor gedor pintu kamar papa dan mamanya. Anak pintar itu terlebih dulu bertanya pada bibi disana, sebelum tahu dimana kamar orangtuanya.
Tok..Tok..Tok
"Papa, mama," teriak Kie.
Haris berusaha membawa Kie pergi dari sana. "Aduh bos kecil, ayo pergi," ucap Haris.
Tak mau dipaksa Haris pergi, Kie berteriak memanggil manggil mamanya. Hingga memaksa Chika meminta El untuk melepaskan pisau yang masih menancap di dalam sana.
"Mas Kie nangis mas. Cepet minggir," cetus Chika yang langsung memakai pakaiannya kembali.
El mendesis kesal. Ia melihat barang panjang itu masih mengencang. "Aishh...turun dulu. Yang mau ditancepin udah pergi. Ayo turun," ucap El sambil mengetuk ngetuk pusaka miliknya.
"Huaaa....Mama...mama...," teriak Kie.
Pintu mulai terbuka. Chika segera mengambil Kie dari dalam pelukan Haris.
"Kie kamu kenapa?" tanya Chika.
__ADS_1
"Uncle nakal mah. Kie gak boleh kesini sama uncle," jawab Kie. Chika langsung menatap Haris yang tengah salting sendiri.
"Ada apa Kie," El datang menyahut.
"Papa mana kudanya?" tanya Kie.
Chika dan El saling bertatapan. "Kuda?" tanya keduanya.
"Iya mah,pah. Kata uncle ini papa sama mama main kuda kudaan. Kie mau lihat kudanya pah, mah. Kie juga mau ikut main kuda kudaan sama mama dan papa."
Mata El dan Chika langsung menatap Haris yang sedang nyengir sambil garuk garuk kepala.
"RIS,," ucap El dengan nada penuh penekanan.
"Maaf Pak El, non Chika. Saya hanya berkata jujur sama bos kecil."
"Ahh om Haris mah," gerutu Chika. "Jujur ya boleh, tapi jangan jujur yang menyusahkan orang seperti ini dong," gumam Chika.
"Mah ,pah ayo masuk. Kita main kuda kudaan," ajak Kie.
Chika mengedipkan matanya. Mencoba mengode El untuk memberikan penjelasan pada putra mereka.
"Kudanya udah pergi Kie. Besok kita pergi beli kuda ya," ucap El.
"Pergi kemana pah. Kie gak lihat ada kuda lewat sini," jawab Kie kembali. El semakin bingung, gimana caranya menjelaskan pada Kie.
Melihat El yang nampak bingung, Chika mencoba mencari celah untuk membuat Kie melupakan soal kuda.
"Kie, mau masuk?" sahut Chika.
"Mau mah. Loh ini leher mama kenapa?" Kie kembali membuat El dan Chika kelabakan. Saking terburu buru, Chika lupa menutup bekas kiss mark dari El.
"Oh ini ya Kie. Ini..."
"Di gigit kuda bos," ucap Haris sambil tertawa puas.
"OM HARIS!!" seru Chika sembari memelototi Haris namun Haris masih saja tertawa.
El berjalan mendekati Haris, membuatnya Haris langsung terdiam seketika.
"Besok kuda untuk Kie kamu yang belikan dan pakai uang kamu Ris. Mengerti!!" bisik El.
"Tapi bos."
"Chika, Kie, ayo masuk. Om Haris mau menghitung uang buat beliin Kie kuda besok."
"Horee...beneran pah kudanya?" tanya Kie.
"Hmm, ayo masuk ke kamar. Mama mau mandi," El mengajak Kie dan Chika masuk kedalam kamar. Tanpa memperdulikan rengekan Haris.
"Bos, harga kuda mahal bos. Bos," seru Haris.
Bruakkk..
El menutup pintunya dengan keras. Haris pun langsung diam tak berani berkata kata lagi.
"Bos El mah gitu. Udah dapat enaknya ,eh masih aja kurang. Uangku bakal berkurang deh buat beliin kuda bos kecil. Nasib, nasib..," Haris berjalan pergi sambil mengumpat dalam hati.
__ADS_1