
Empat tahun kemudian...
Didalam ambulans, Chika terus menangis melihat kondisi Bu Asih yang sudah ia anggap ibu kandungnya sedang kritis dan hendak di bawa ke rumah sakit di kota.
Penyakit gagal ginjal yang di derita Bu Asih membuat daya tahan tubuhnya semakin lemah. 2 minggu sekali, ia harus melakukan cuci darah. Namun karna semua harta sudah dijual, Bu Asih hampir satu bulan tidak melakukan cuci darah dan membuat kondisinya kembali drop.
"Ibu harus kuat ya. Jangan tinggalin Chika bu," ucap Chika sambil menggenggam tangan Bu Asih yang lemah.
"Mama, mama, nenek kenapa mah? Kenapa mama nangis?" tanya seorang anak laki laki berwajah tampan, berkulit putih dan bermata bulat. Wajahnya seperti perpaduan antara wajah Chika dan El.
"Nenek sakit sayang. Kie bantu doa ya semoga nenek bisa sehat dan berkumpul lagi sama kita."
"Iya mah."
Mata Bu Asih terbuka perlahan. Melihat Chika dan Kie menangis, membuat dirinya juga ikut menangis.
"Chika," panggil Bu Asih lemah.
"Ibu, Ibu udah bangun. Ibu harus kuat ya. Kita lagi ke rumah sakit sekarang. Ibu harus bertahan ya," ucap Chika.
Bu Asih menggelengkan kepalanya.
"Nak, ingat pesan terakhir ibu ini ya. Nanti jika ibu sudah meninggal, pulanglah ke kota kamu. Ibu sudah menyiapkan uang untuk bekal kamu pulang. Ibu tahu dalam setiap doamu, kamu sangat ingin pergi ke makam kedua orang tuamu. Pulanglah nak, di desa banyak laki laki hidung belang yang sedang mengincar kamu. Ibu sudah tidak bisa menjaga kamu lagi. Janji ya nak sama ibu," ucap Bu Asih.
Chika hanya bisa diam. Darimana Bu Asih tahu apa yang ia ucapkan disetiap doanya.
"Ibu gak akan kemana mana. Ibu akan tetap bersama Chika dan Kie. Ibu harus bertahan ya bu."
"Maaf nak, ibu harus pergi. Kie, jaga mamamu ya. Nenek sayang Kie," satu kalimat terakhir Bu Asih ucapkan dan suara tangisan dari Chika dan putranya pecah di dalam mobil ambulans.
Chika mencoba meminta bantuan pada suster yang juga berada disana. Namun suster menggeleng. "Maaf mbak, ibu anda sudah meninggal."
"Ibu...," teriak Chika sembari memeluk tubuh Bu Asih.
"Nenek,jangan pergi nek," timpal Kie yang juga ikut memeluk neneknya.
Keesokan harinya, banyak orang yang hadir di pemakaman Bu Asih. Orang yang selama hidupnya beramal baik, dan suka menolong saat meninggal akan ditangisi oleh orang banyak.
Pemakaman begitu penuh. Satu per satu pelayat menghampiri Chika dan Kie untuk mengucapkan bela sungkawa. Disaat suasana sudah sepi pelayat, Hj. Nur dan istrinya menghampiri Chika.
"Nak Chika, kami turut berbela sungkawa atas meninggalnya Bu Asih ya," ucap bu haji.
"Terima kasih bapak, ibu. Karna sudah berkenan hadir mengantar ibu ke peristirahatan terakhirnya."
__ADS_1
"Iya nak. Bu Asih pernah bekerja bersama kami sebelum dia kembali bersama kamu dan membuka usaha warung makan. Disini kami hanya menyampaikan mandat terakhir dari Bu Asih," ucap Pak haji sembari mengeluarkan amplop coklat yang di berikan ke tangan Chika.
"Ini apa pak?" tanya Chika heran.
"Ini uang penjualan rumah Bu Asih. Dia meminta kami untuk membelinya dan memberikan uang ini kepada kamu untuk bekal kamu kembali ke Jakarta," sahut bu haji.
"Tapi pak, bu. Saya tidak bisa menerima ini."
"Tolonglah nak. Ini pesan terakhir ibumu sebelum di bawa oleh ambulans kemarin."
Akhirnya Chika menerimanya dan sore itu Chika dan Kie mengabulkan permintaan terakhir ibu Asih.
"Mah, kita mau kemana?" tanya Kie dengan suara pelonya.
"Kita akan ke tempat orang tua mama Kie. Dan mulai sekarang, Kie dan mama akan memulai hidup baru."
"Iya mah."
Bus yang di tumpangi Chika dan Kie sudah masuk ke wilayah ibu kota. Mata Kie berbinar, melihat bangunan yang menjulang tinggi dan besar ada disekitarnya.
"Mah, itu apa mah. Kok tinggi banget," tanya Kie yang terkagum kagum melihat menara yang sangat tinggi.
"Itu Monas sayang."
"Iya sayang, kapan kapan kita kesana ya."
"Hooollee..," seru Kie sambil melompat kegirangan.
Sesampainya di terminal, Chika mulai memutar otaknya. Ia mencari tempat tinggal yang sederhana dengan biaya kontrak yang tidak mahal. Dan sesegera mungkin ia harus mencari pekerjaan yang bisa membawa Kie untuk bekerja bersamanya demi menopang biaya hidup mereka sehari hari.
Di Perusahaan Civano Grup..
Hasil kerja keras El berbuah manis. Semua modal yang ia pinjam dari Haris berhasil membuat dirinya berada di puncak kesuksesannya. Sayang, semua terasa hambar selama ia belum bisa menemukan istri dan anaknya.
El duduk di kursi singgasananya. Memandangi foto pernikahanya dengan Chika serta mengamati cincin pernikahanya di jari manisnya.
"Dimana sekarang kamu Chika. Empat tahun waktu terbuang sia sia. Aku dan Haris belum juga bisa menemukan kamu. Apa kabar anak kita sekarang? Seperti apa wajahnya? Perempuan atau laki laki? Ya Tuhan, apa belum cukup engkau memisahkan aku dari istri dan anakku. Aku mohon kepadamu, pertemukan kami. Aku ingin membahagiakan mereka. Tolong dengarkan doa hamba," ucap El dalam hatinya.
Tok.. Tok.. Tok...
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan El.
"Masuk," titah El.
__ADS_1
"Bos, minggu depan kita harus presentasi di depan Mr. Jackson dari Inggris. Keuntungan yang bisa kita ambil jika memenangkan tender ini sangat besar. Hanya saja, musuh kita fi tender itu..," ucap Haris terputus. Membuat El semakin penasaran, karna wajah Haris sekejap memucat dan berkeringat.
"Siapa Ris? Kenapa kamu tidak lanjutkan ucapan kamu?" tanya El.
"Rival kita minggu depan tuan Aristya dan Reza," jawab Haris.
El mengelus elus dagunya. Rupanya bukan hanya Haris yang ragu untuk bisa memenangkan tender ini, tapi juga El. Dia tahu betul kualitas papanya dan asisten papanya. Namun mungkin sekarang saatnya ia membuktikan pada orang tua angkatnya jika dirinya bisa dan mampu mengalahkan mereka.
"Tolong kamu bilang pada Clara, untuk mempersiapkan materi presentasi minggu depan ke meja saya malam ini. Saya akan mempelajarinya dulu. Saya harus buktikan ke papa, kalau kita bisa Ris."
"Iya pak, saya setuju. Saya juga mau membuktikan pada Reza, si kutu kupret itu jika saya ini asisten yang cerdas bahkan lebih cerdas dari dia," ucap Haris sambil menarik kerah kemejanya.
El tersenyum. Ternyata Haris masih saja punya dendam kesumbat dengan Reza.
"Hahaha, Ris Haris. Kalau pun kamu di sandingkan dengan Reza di depan para CEO seluruh kota ini. Mereka pasti memilih Reza semua. Mana ada yang mau mempekerjakan asisten semacam kamu yang pikirannya hanya uang dan otaknya baru cerdas disituasi urgent saja," El tersenyum licik ke arah Haris.
Haris mengerucutkan bibirnya. Kesal dengan ucapan El barusan. Kok bisa bosnya itu menghina dirinya padahal selama ini yang setia di segala kondisi hanya dia.
Cepreet..
El menjepret mulut Haris dengan karet gelang tepat di bibirnya.
"Aduh, Pak El kenapa jepret saya pakai karet. Bapak gak tau apa, ini aset saya saat sedang menyusu Maya pak," ucap Haris dengan polosnya. Membuat mata El melotot.
"APA? Menyusu? Hubungan kamu dan Maya sejauh itu Ris? Mending cepat ambil cuti nikah sana, sebelum Maya melendung gara gara perbuatan kamu. Saya tidak mau, ada surat kabar memberitakan jika asisten perusahaan besar Civano menghamili seorang gadis," ujar El.
"Hahaha, bapak jangan serius seperti itu lah pak. Cuma menyusu kok gak lebih. Belum main tusuk menusuk. Akal sehat saya masih jalan kok pak," jawab Haris dengan santainya.
El membuang nafas kasarnya. "Huft.. Sama aja Ris. Kalau ada setan lewat gimana."
"Dikasih uang suruh pergi lah pak," jawab Haris membuat El langsung menepuk jidatnya.
"Mana ada setan mau uang Ris. Sudah daripada kelamaan bicara ngelantur sama kamu lebih baik kita pulang. Lagipula sudah jam 4 kan. Tapi seperti biasa kita cari Chika dulu ya Ris."
"Baik pak."
"Apa ada kabar dari anak buah kamu yang kamu sebar di setiap kota?"
"Belum pak, hasilnya masih nihil," jawab Haris lesu.
"Ya sudah Ris. Tapi saya tidak akan menyerah. Saya akan terus mencari anak dan istri saya sampai ketemu."
"Saya dukung pak. Semoga segala usaha bapak akan berbuah manis ya pak."
__ADS_1
"Iya Ris. Semoga," jawab El sembari menyambar jas kerjanya lalu berjalan keluar beriringan dengan Haris.