
Keesokan harinya, saat matanya terbuka, Chika sudah tak mendapati El di kamar. Padahal jam di dinding masih menunjukkan pukul 6 pagi.
Chika berjalan mendekati jendela kamarnya. Menengok ke bawah, siapa tahu suaminya sedang berolahraga. Sayang, El tak terlihat berada di halaman. Hanya beberapa tukang kebun yang ia lihat disana.
Penasaran, Chika melangkahkan kakinya menuju ruang kerja El. Mungkin saja suaminya yang dia anggap gila kerja itu sudah berada disana. Karna tidak mungkin jika El ke kantor, karna hari ini hari sabtu.
Ceklek..
Chika membuka pintu di ruangan kerja El. Ia tak mendapati suaminya disana. Bahkan ruangan itu masih nampak rapi.
"Mas El kemana ya? Kok main ngilang aja sih," batin Chika sembari menutup pintu.
"Lolly, kamu sedang mencari El?" tanya mama.
"Eh iya ma. Mas El kemana ya? Mama lihat Mas El gak?" Chika berbalik bertanya. Membuat mama mertuanya menatapnya dengan tajam.
"Tadi El bilang ada rapat dadakan dengan semua karyawan. Dia baru saja berangkat dengan Haris. Memangnya El gak pamit sama kamu?"
Chika menggeleng. Tatapannya begitu sayu. Gimana mau pamit, semalam saja El kembali bersikap buruk dan melukai hatinya. Seharusnya dia yang marah, tapi kenapa ini kok malah jadi El yang marah.
Sungguh semakin hari sikap El semakin membuat Chika bingung. Tapi percuma juga, setiap dirinya bertanya yang ada El malah semakin membentak dirinya. Dan itu semakin membuat Chika jadi terluka.
"Lolly, kenapa kamu diam? Kalian sedang ribut lagi? Bilang sama mama, biar mama tegur El," Chika merasa terdesak. Rasanya ingin ia menceritakan perubahan sikap El semenjak malam pernikahan mereka. Hanya saja, Chika selalu ingat pesan dari mamanya, untuk tidak mengumbar masalah keluarganya ke orang lain.
"Enggak kok mah. Kita baik baik saja. Mungkin saja Mas El gak enak hati buat bangunin aku dari tidur."
"Yakin? Tidak ada yang kamu sembunyikan?" mama mertuanya bertanya kembali dengan nada yang semakin di tekan.
"Enggak kok mah. Beneran gak ada apa-apa."
"Iya mah, semalam mereka terlihat romantis sekali. Papa lihat sendiri kok, gimana sikap El yang begitu lembut pada Chika," sahut Tuan Aristya dari belakang.
"Oh yaudah kalau begitu. Syukurlah kalau kalian tidak ada masalah. Mungkin saja El sedang ada pekerjaan berat yang menforsir tenaga dan pikirannya ya. Kamu yang sabar ya Chika. Nanti kalau El ada waktu, akan mama suruh dia mengajak kamu untuk pergi bulan madu," jawab nyonya Sarah.
"Iya mah, kalau gitu Chika ke kamar dulu ya mah. Kayaknya badanku sedikit bermasalah, Chika mau pamit istirahat di kamar ya mah,pah."
"Iya nak. Apa mau papa panggilkan dokter Daniel?" tanya Tuan Aristya.
"Gak usah mah. Chika hanya butuh tidur aja."
"Baiklah, sekarang kamu tidur. Nanti mama suruh Ida membuatkan bubur untuk kamu."
"Makasih mah, pah."
"Sama sama nak," jawab tuan Aristya dan nyonya Sarah kompak.
Dengan langkah cepatnya, Chika kembali ke kamar. Meluapkan kembali kesedihannya di dalam kamar. Untuk kesekian kalinya, ia harus menutupi kelakuan El di depan mama dan papanya.
"Mas, kenapa kamu seakan menyiksa aku dengan sikap kamu. Letak salahku dimana sebagai seorang istri. Jika ada yang tidak kamu sukai, kenapa kamu malah mendiamkan aku seperti ini. Kapan kamu berubah mas," batin Chika sambil menangis sesenggukan di dalam kamar.
__ADS_1
Raga dan batinnya perlahan melemah. Suhu tubuhnya semakin siang semakin tinggi. Nafsu makannya pun hilang. Chika hanya bisa berbaring di ranjang. Ia tak sanggup untuk berdiri dan menopang tubuhnya sendiri.
Beberapa kali nyonya Sarah dan tuan Aristya menengoknya ke kamar, melihat kondisi tubuh menantunya.
"Pah, suruh El pulang. Bilang istrinya sakit," titah nyonya Sarah.
"Nomor El gak aktif mah."
"Haris lah pah. Telpon Haris. Suruh sampaikan ke El."
"Oh iya. Papa telpon Haris sekarang," jawab tuan Aristya.
****
Di dalam mobil, Haris mulai bosan. Kesal bercampur ngambek, Haris dan El sama sama diam didalam sana. Ingin rasanya Haris demo. Sudah setiap malam ia harus menemani El untuk pulang larut. Sekarang waktu weekend bersama Maya pun harus gagal. Tanya pun percuma, El tak pernah menjawab setiap dirinya menanyakan masalah apa yang di hadapi bosnya.
Seketika keheningan itu hilang, saat ponsel Haris berdering nyaring.
"Tuan Aristya?" batin Haris sembari menegok ponsel yang ia ambil dari saku celananya.
"Pak El, tuan Aristya menelpon saya. Bolehkah saya mengangkatnya?" Haris meminta ijin pada El. Semenjak menikah Haris sudah tidak berani menggoda bosnya yang sekarang berubah menjadi garang.
"Angkat saja. Kalau papa tanya, bilang kita diundang untuk berjamu ke rumah Mr. Smith," perintah El.
"Baik pak."
Haris mengangkat telponnya yang sengaja ia loudspeaker agar El tidak berpikiran negatif padanya.
"Apa El bersama kamu?"
"Iya tuan."
"Bilang ke anak itu. Istrinya sedang sakit dirumah. Suruh dia pulang. Masak iya rapat dari pagi sampai sore belum selesai."
"Maaf tuan, tapi tuan El sedang ada jamuan dengan Mr. Smith."
"Oh, Mr. Smith dari Polandia?"
"Iya."
"Ya sudah nanti kalau sudah selesai, suruh dia segera pulang. Suhu tubuh Chika semakin tinggi ini. Soalnya Chika menolak untuk di periksa. Siapa tahu jika El yang membujuknya, dia mau."
"Baik tuan, nanti akan saya sampaikan ke pak El."
"Oke Ris. Terima kasih ya."
"Sama sama tuan," jawab Haris yang langsung mematikan panggilannya dengan tuan Aristya.
Haris melirik ke arah kaca spion. Seolah ingin menanyakan keputusan El. Siapa tahu ini kesempatan dirinya untuk membujuk El pulang agar dia bisa kencan dengan Maya.
__ADS_1
"Yes kesempatan nih, semoga aja Pak El khawatir dengan keadaan non Chika dan mengajak untuk pulang ke rumah sekarang. Biasanya Pak El kan paling parno kalau lihat non Chika sakit," batin Haris dengan bibir yang sedikit melengkung.
"Kenapa kamu ngeliatin saya seperti itu?" tanya El dengan nada yang sinis dan tatapan yang sedikit tajam.
"Oh enggak ada apa apa pak? Apa kita mau pulang sekarang pak?"
"Tidak. Saya masih ingin putar putar keliling kota sambil mengukur jalan," jawab El. Membuat Haris membulatkan kedua matanya. Apa mungkin El mempunyai ide gila untuk membuat tol pribadi. Pikiran Haris sungguh tidak masuk akal. Gara gara El menghilangkan cuti tahunnya, dan penambahan jam kerja, otaknya kini sudah tidak bisa berjalan dengan lancar.
"Maksud Pak El mengukur jalan apa pak? Mau bikin proyek jalanan?" tanya Haris.
Plaakk..
El menimpuk kepala Haris dengan tangannya.
"Bodoh, saya hanya menggunakan kata kiasan. Makanya jangan kebanyakan pacaran sama Maya," gerutu El.
"Pacaran? Semenjak Pak El menikah, malah saya gak ada waktu buat pacaran pak. Apa bapak lupa, hampir 24 jam waktu saya itu bersama bapak," protes Haris. Siapa tahu dengan sindiran barusan, membuat El sadar jika dirinya merasa keberatan dengan jam kerja dari El.
Sayangnya, harapan itu pupus. El kembali tak bergeming dan malah melanjutkan kegiatannya menikmati pemandangan dari balik jendela. Sembari mengukur jalanan ibu kota.
"Ris," panggil El setelah 30 menit ia diam.
"Iya pak."
"Lusa tolong kamu antar Chika ke kampus untuk daftar ulang."
"Loh bapak tidak ikut?"
"Tidak, saya mau main golf dengan Mr. Nakamura."
"Baik pak. Tapi apa boleh saya menanyakan sesuatu pak?" Haris berusaha memberanikan dirinya. Mengeluarkan semua unek unek yang mengganjal di hati dan pikirannya.
"Apa?"
"Emm.. Apa Pak El ada masalah dengan non Chika saat malam pertama? Karna yang saya lihat, sikap bapak berubah sejak malam itu," ujar Haris. Membuat jantung El berhenti berdetak sejenak. Hatinya kembali sakit jika mengingat kenyataan di malam itu.
Cukup lama diam, Haris merasa yakin jika ada sesuatu yang sedang di tutupi oleh El. Meski tak menjawab, Ia paham benar dengan sifat bosnya yang angkuh dan dingin itu.
"Jika bapak berkenan, bapak bisa cerita sama saya. Siapa tahu saya bisa memberikan solusi untuk bapak," ujar Haris kembali. Namun kali ini El justru menatapnya tajam dari kaca.
"Bukan urusan kamu. Sekarang kita pulang. Dan kamu saya kasih waktu untuk kencan dengan Maya," ucap El.
"Baik pak. Tapi ini gak lagi prank kan pak? Nanti baru saja saya pergi, bapak manggil saya lagi."
"Tidak. Kamu bisa matikan ponsel kamu. Tapi besok kamu datang kerumah. Ada sesuatu yang ingin saya bahas dengan kamu," titah El.
"Besok pak? Tapi besok kan minggu. Waktunya libur kerja," protes Haris.
"Ya mau atau gak. Kalau gak mau juga gak papa. Kamu temani saya malam ini dan gak bisa malam mingguan dengan Maya. Dan besok kamu juga harus tetap kerumah. Kalau tidak cuti tahunanplus uang THR saya tunda untuk 2 tahun kedepan," El mengancam Haris. Dan dengan terpaksa, Haris menyanggupi permintaan El.
__ADS_1
"Ya daripada nanti hubunganku sama Maya putus gara gara gagal kencan, udah gitu gak dapet cuti tahun depan plus uang THR. Mending nurut aja deh sama bos El. Jangan protes dulu, kayaknya masalah si bos berat. Ya siapa tahu aja besok si bos mau bertukar pikiran sama aku. Gini nih susahnya kerja ikut orang kaya yang lagi galau, jadi ikutan galau juga kan," umpat Haris dalam hati sambil memijat keningnya. Berusaha sabar menghadapi kelakuan dan semua keputusan yang keluar dari mulut El.