Terjerat Pernikahan Di Atas Kertas

Terjerat Pernikahan Di Atas Kertas
Telpon Polisi


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pandangan mata El tak pernah beralih dari Chika. Diamatinya gadis yang duduk disebelahnya. "Cinderella nyasar tapi membawa kebahagian," seuntai senyum El melihat Chika yang sedang asyik menikmati indahnya lampu kota dari balik jendela.


"Mas, kalau nyetir lihat ke depan jangan lihat ke samping. Kalau nabrak gak jadi nikah loh," Chika membuyarkan pandangan El darinya.


"Kamu tahu sayang?"


"Ya tahu lah. Ekor mataku itu selalu memperhatikan kamu sedari tadi."


Rasanya gemas sekali melihat pacarnya berbicara seperti ini. Tak bisa menahan setan yang masuk ke dirinya, El menepikan mobilnya sebentar saat berada dijalan yang agak sepi. Berniat ingin menuntaskan apa yang belum sempat terlaksana saat dirumah tadi.


"Mas, kok berhenti disini. Mau ngapain?" tanya Chika heran.


Tanpa aba-aba, El menarik tangan Chika lalu mencium bibirnya.


Kaget bukan main, itu yang Chika rasakan. Spontan ia mendorong tubuh El untuk menjauh dari hadapannya.


"Mas, kalau mau cium itu ijin dulu. Jadi aku bisa ambil nafas," gerutu Chika.


"Ihh..jadi tambah gemes kalau kamu menggerutu seperti ini. Sekarang boleh ya aku cium kamu," El meminta ijin sesuai perkataan Chika tadi.


Deg...


Jantung mau copot, wajah memerah dan tangan berkeringat. Rasanya kok malah udah mau malam pertama aja. Padahal cuma mau kissing aja. Lagipula ini kan bukan yang pertama, sebelumnya juga udah pernah.


Perlahan wajah El mulai mendekat, tinggal beberapa centi lagi bibir mereka akan bertemu. Namun Chika segera memalingkan wajahnya kembali, membuat El menghentikan aksinya.


El nampak gusar, susah sekali sih bibirnya untuk merasakan bibir manis gadis yang sudah membuat dirinya kecanduan.


"Maaf mas, aku nerveous," ujar Chika.


"Gak papa. Maaf kalau aku terlalu memaksa kamu. Sekarang kita lanjutin perjalanan kita lagi," El kembali pada posisi duduknya dan siap untuk menjalankan mesin mobil.


"Mas," panggil Chika.


"Hmmm, kenapa lagi?"


"Kamu marah ya?"


"Enggak, biasa aja."


"Masak? Kalau gak marah lihat aku dong," pinta Chika.


"Buat Apa? Ini udah malam, nanti.." ucapan El terhenti saat Chika mulai menarik wajahnya.


Cup..

__ADS_1


Secepat kilat Chika mencium bibir El. Gadis kecil itu juga sudah mulai ketagihan dengan bibir El.


Tak mau melewatkan kesempatan, El memperdalam ciuman mereka. Menikmati bibir yang sudah menjadi candu buatnya.


Lama sudah mereka menyatukan tali kasih di dalam mobil. Mungkin mereka sudah lupa akan petuah orang tua, jangan berduaan di tempat yang gelap, takut ada setan lewat.Namun untuk saat ini petuah itu tak berarti lagi untuk mereka.


El semakin buas. Ia tak pernah memberikan ruang untuk Chika bernafas. Beberapa kali Chika berusaha melepaskan tautan bibir mereka, namun El kembali menarik tengkuk lehernya lagi.


"Ahh..ngapain juga tadi aku cium mas El. Jangan jangan ini kali ya yang dibicarakan dia di kamar. Berarti bener dong, dia mau mengambil keperawananku sekarang," pikiran Chika mulai traveling kemana mana. Mengira El akan berbuat sesuatu di luar norma.


"Emhh..mas lepas. Dosa dosa," Chika berteriak,berusaha untuk menyadarkan El yang ia kira sedang khilaf.


Secara spontan Chika mendorong tubuh El untuk kedua kalinya. Bisa hamil sebelum nikah kalau ini terus dilanjutkan. Pikirnya.


"Mas, udah dong. Aku risih," protes Chika.


"Hmmm, iya iya sayang."


"Susah ya kalau pacaran sama orang dewasa, pikirannya kalau lagi berdua selalu aja menjurus. Gak sabaran banget jadi orang," Chika terus meracau membuat El cekikan dalam hati.


"Kenapa senyum senyum gitu? Apanya yang lucu?" tanya Chika.


"Gak ada."


El terus saja tersenyum. Padahal dulu laki laki yang ada di hadapannya ini selalu memasang wajah menyeramkan.


Bulu kuduk Chika perlahan mulai berdiri. Semakin El tersenyum, semakin membuat Chika ngeri berada bersamanya sekarang.


"Mas, sehat kan? tanya Chika sembari memegang kening El. Barangkali ada yang konslet di otaknya.


"Sehat sayang."


"Terus kenapa masih senyum gitu? Aku jadi takut loh. Takut kalau mas jadi gila."


"Siapa juga yang gila."


"Gini ini yang bikin aku khawatir sama mas kalau kebanyakan pergi sama Om Haris. Ketularan piktornya," ujarnya namun malah membuat El malah tertawa.


"Tuh kan. Mending pulang aja. Bete aku sama mas," celoteh Chika kembali. Ia sudah mulai kesal dengan sikap El yang ia rasa aneh. Bukan aneh, mungkin ia sedang memikirkan cara untuk menggauli dirinya. Dasar Chika.


Cup..


Satu ciuman jatuh ke pipi kanan Chika.


"Jangan marah lagi. Aku ketawa itu karna melihat kamu yang semakin hari semakin bawel. Gak bisa bayangin aja kalau udah nikah nanti, pasti kamu kerjaannya ngomel terus," ucap El.

__ADS_1


"Ihh... Mas. Kok bilang aku bawel sih."


"Kan kenyataannya. Udah ya kalau mau marah marah lagi, nanti aja. Sekarang aku mau mengajak kamu ke suatu tempat. Dan semoga kamu suka. Kasihan juga Haris dan Maya udh menunggu lama disana," jelas El.


"Maya? Ada Maya juga mas?"


"Iya, katanya sih Haris mau nembak Maya."


"APA?? Nembak Maya?"


"Iya sayang kenapa? Kok kaget gitu."


"Mas cepetan jalanin mobilnya. Cepet panggil polisi mas. Awas aja kalau sampai Om Haris nembak Maya. Bakal aku tembak balik dia. Beraninya dia nembak temenku. Bener bener cari mati tuh om om," celoteh Chika. Ia mengira Haris akan membunuh Maya dengan cara menembaknya.


Paham dengan pikiran Chika, El kembali terkekeh. Calon istrinya ini polos atau bodoh. Anak kelas 3 SMA, gak ngerti dengan arti kata nembak yang ia maksud.


"Chika, Chika. Kok bisa kamu mengira Haris mau membunuh Maya, padahal maksud kata nembak saya tadi itu menyatakan cinta. Duh, sepertinya aku harus mengajari kamu saat malam pertama kita nanti. Paling aku bilang mau nyoblos kamu, di kiranya lagi coblosan pemilu. Duh aduh Chika Chika," batin El sembari menggelengkan kepalanya.


"Aiishh... Mas cepet jalanin mobilnya," Chika menggerutu. Kenapa sih pacarnya sekarang jadi lemot.


"Iya sayang."


"Yaudah buruan mas jalanin mobilnya. Ini aku lagi panggil polisi."


Diluar dugaan, ternyata Chika sungguhan memanggil polisi. Dengan segera El mengambil ponsel Chika dan mematikan panggilan itu.


"Eh kamu ngapain Chika. Nembak yang saya maksud itu bukan nembak dor. Tapi Haris mau menyatakan cinta sama Maya," jelas El.


"Owalah. Lah mas gak bilang sih," Chika merasa lega sejenak, namun matanya kembali melotot mendengar perkataan El barusan.


"Eh tunggu, tadi mas bilang apa? Menyatakan cinta? Gak gak, aku gak setuju. Yang ada Maya bisa jadi budak **** om Haris. Pokoknya cepet mas kita harus segera sampai sana. Sebelum Maya nerima cinta Om Haris."


"Tapi sayang..."


"Gak tapi tapian. Gak berangkat sekarang gak jadi nikah, gimana?"


El malah jadi galau. Di satu sisi ia juga kasihan jika Haris jadi jomblo akut lagi. Tapi dia juga gak mau dong gagal nikah. Apalagi ia sudah tak sabar ingin menerkam tubuh Chika di ranjang.


"Cepet mas," titah Chika.


"Iya sayang iya. Ini mau berangkat." jawab El yang langsung menjalankan mesin mobilnya.


Didalam mobil, sesekali El menoleh ke arah Chika yang nampak cemas. Padahal dirinya sendiri juga gelisah.


"Bisa gagal rencana Haris punya pacar. Gimana caranya bisa buat Chika percaya, kalau Haris gak main main sama Maya," batin El sambil memikirkan cara untuk meyakinkan Chika.

__ADS_1


__ADS_2