Terjerat Pernikahan Di Atas Kertas

Terjerat Pernikahan Di Atas Kertas
Bunuh Diri


__ADS_3

Tak terasa waktu kini sudah hampir petang. El dan Haris sudah tiba di rumah. Namun tak terlihat keberadaan Chika di dalam rumah.


"Dimana gadis itu? Apa dia sudah pulang ke rumah temannya. Tapi kan aku sudah bilang kalau dia jangan kembali lagi kesana," batin El yang nampak gelisah.


Bi Ida yang kebetulan lewat langsung di panggil oleh El.


"Bi sini."


"Iya mas, ada apa mas El?" tanya Bi Ida.


"Chika dimana?"


"Oh mbak Chika. Dia masih tidur di kamar mas. Dari tadi belum bangun."


"Apa? Berarti dia juga belum makan? Atau jangan jangan dia mati ya bi. Kamu tadi tidak bangunin dia bi?"


"Ya enggak mas. Lah mas El kan pesen jangan dibangunin, ya enggak saya bangunin lah mas."


"Kalau gitu tolong kamu bangunkan dia ya bi, bilang saja saya mau mengajak dia jalan jalan. Jangan lupa suruh dia mandi."


"Baik mas," jawab Bi Ida.


Atas perintah El, Bi Ida bergegas menuju kamar tamu untuk membangunkan Chika.


Tok...Tok... Tok...


"Mbak Chika bangun mbak," panggil Bi Ida namun tak ada jawaban dari Chika.


"Mbak udah hampir malam, bangun mbak Chika," panggil bibi kembali namun masih belum ada jawaban dari Chika.


Karna Khawatir, Bi Ida langsung masuk kedalam kamar dan melihat Chika yang masih tertidur pulas.


Bi Ida menggoyangkan tubuh Chika dan terus berusaha membangunkan tidurnya.


"Mbak Chika, ayo bangun mbak."


Perlahan mata Chika mulai terbuka sambil mengucek ucek matanya.


"Eh bibi, udah pagi ya bi. Makasih ya udah bangunin aku," ucap Chika.


"Pagi? Ini udah malam mbak. Dan barusan mas El pulang dari kantor. Dia udah nunggu mbak Chika di bawah."


"Apa bi? Malam?" ucap Chika yang langsung menoleh ke jam dinding di kamar.


"Ya Tuhan, aku gak berangkat ke sekolah dong hari ini. Bibi kenapa gak bangunin aku pagi tadi sih."


"Tadi mas El pesan gak usah bangunin mbak Chika. Makanya bibi gak bangunin mbak. Sekarang mbak Chika buruan mandi, kata mas El dia mau ngajak jalan jalan mbak Chika," ujar Bi Ida.


"Hmmm, iya bi. Tolong sampein ke tuan El sehabis mandi aku turun buat menemui dia."


"Tuan? Kok sama calon suami manggilnya masih tuan sih mbak? Ya sayang atau abi atau papi gitu kek mbak."


Chika terdiam terpaku mendengar ucapan Bi Ida. Ia bingung darimana Bi Ida tahu tentang hubungan El dan dirinya.


"Bi, bibi tahu darimana?" tanya Chika heran.


"Dari mas El mbak. Tadi pagi mas El udah bikin pengumuman ke semua karyawan dirumah ini. Dia bilang kalau mbak Chika itu kekasih mas El, dan akan segera menjadi istrinya mas El. Wah selamat ya mbak, semoga hubungannya gak berhenti di tengah jalan. Dan rencana pernikahannya lancar."


"Oh iya bi, makasih," jawab Chika pelan.

__ADS_1


"Bibi balik ke dapur dulu ya mbak. Jangan lupa pesen bibi ya mbak."


"Iya bi."


Selesai mandi, Chika terdiam lama di balutan handuk yang menutupi tubuhnya.


"Yeah, aku kan gak punya baju sama daleman disini. Terus aku pakai apa? Masak iya pakai baju ini lagi," batin Chika.


Terpaksa Chika menggunakan baju lamanya, dan bergegas menemui El.


"Tuan, saya sudah siap," ucap Chika.


El memandangi dirinya dengan satu alis yang menaik.


"Kamu pasti belum mandi ya?" tanya El.


"Sudah ya tuan."


"Tapi kenapa baju kamu gak ganti?"


"Loh saya kan gak punya baju ganti disini tuan, jadi saya pakai saja baju lama saya," jawab Chika


El melirik ke arah Haris yang duduk di sampingnya.


"Haris," lirih El sembari memperlihatkan deretan gigi putihnya.


"Iya Pak El, maaf saya lupa. Tadi siang saya belum membelikan baju untuk non Chika. Maaf ya pak," jawab Haris.


"Hmmm, yasudah. Kebetulan mood saya hari ini lagi baik. Jadi saya sedang tidak ingin marah marah. Sekarang kamu pulang saja Haris, dan cepat istirahat. Beberapa hari ini otak kamu agak blong, mungkin karna pekerjaan yang terus menerus saya berikan pada kamu. Biar saya jalan berdua saja dengan Chika," ucap El.


"Alhamdulillah Pak El. Sehabis ini boleh kan saya matikan ponsel saya, biar Pak El gak mengganggu waktu istirahat saya?" tanya Haris.


"Sabar pak sabar. Bukannya hari ini Pak El sedang tidak ingin marah marah. Lah ini apa pak?" tanya Haris yang membuat El mengalihkan pandangannya ke Chika.


"Chika, kita pergi sekarang. Dan kamu Haris, matikan saja ponselmu. Kalau perlu kamu juga sekalian saja ikut mati," ucap El sembari berjalan meninggalkan Haris dan Chika terlebih dulu.


Bingung dengan perkataan bosnya, Haris terdiam sambil menggaruk garuk kepalanya dan mencerna kembali perkataan El.


"Tadi maksud Pak El apa ya? Apa dia menyuruh aku buat bunuh diri?" batin Haris dalam lamunannya.


Chika yang sudah berjalan terlebih dulu kembali berbalik saat melihat Haris masih terdiam di tempatnya.


Plakkk..


"Woi om, ngapain masih disini. Ntar si macan ngamuk lagi loh," teriak Chika tepat di telinga Haris.


"Astagfirullah, non Chika. Kok jadi ketularan Pak El sih. Suka teriak teriak."


"Lah salah sendiri malah ngelamun. Lagi galau ya om," tanya Chika sambil melirik jahil.


"Iya non kok tahu."


"Ya tahulah, Chika kan emang bisa baca pikiran orang."


"Berarti non bisa baca pikiran saya dong?"


"Bisa," bohong Chika sambil berusaha menahan tawa.


Haris kembali diam, dan ragu untuk menjalankan perintah El kali ini.

__ADS_1


"Heh om, kok diem lagi sih. Ayo keluar," ucap Chika.


"Non, saya mending disini aja deh. Saya gak mau bunuh diri. Kan dilarang ya non sama agama, saya takut masuk neraka," jawab Haris dengan polosnya.


Chika kembali menoleh ke arah Haris sambil memasang wajah bingung.


"Siapa yang nyuruh bunuh diri om?"


"Lah tadi pak El kan menyuruh saya mati non. Berarti saya di suruh bunuh diri dong non," jawab Haris yang langsung membuat Chika tertawa terbahak bahak.


Sambil memegang perutnya yang sakit karna ulah Haris, Chika terus saja menertawai kepolosan Haris.


"Non kok ketawa sih, saya kan belum nikah non jadi saya belum siap buat mati," ujar Haris.


"Ya ampun om, jadi itu yang buat galau. Lagian siapa yang menyuruh om buat bunuh diri. Tadi itu tuan El menggunakan bahasa kiasan untuk memperlihatkan kekesalannya sama om. Lah ini malah dikira bunuh diri beneran. Om om, ya wajar kalau tuan El udah gak bisa marah sama om. Habis om ini polos banget, eh tunggu polos sama bodoh kan beda tipis ya," jawab Chika sembari melanjutkan tawanya.


"Oh begitu ya non, hehehe."


Di dalam mobilnya, El mulai bosan menunggu Chika. Ia pun membunyikan klakson mobilnya.


Teeeet....teeeet.....teeet....


Suara klakson mobil El.


"Ya Tuhan aku sampai lupa tuan El sudah menunggu aku diluar. Argghh, ini semua gara gara om Haris sih," gerutu Chika sembari berlari meninggalkan Haris.


"Loh kok saya non, memang apa hubungannya saya sama non Chika yang lupa," ujar Haris sambil berjalan mengekor di belakang Chika.


Sesampainya di samping mobil El, terlihat jelas wajah kesal dan marah El.


"Maaf tuan, saya lama ya," ucap Chika.


"Darimana saja kamu?"


"Habis mengurus orang yang galau mau bunuh diri."


"Memang siapa yang mau bunuh diri?" tanya El.


"Itu dia," ucap Chika sembari menunjuk Haris yang sedang keluar dari pintu rumah El.


"Oh Haris, dia pasti mengira saya beneran menyuruh dia mati ya?" tanya El yang diangguki kepala oleh Chika.


"Sudah jangan mengurusi dia, cepat kamu masuk sebelum waktu semakin malam," pinta El


"Baik tuan," jawab Chika yang langsung masuk kedalam mobil.


El lalu melajukan mobilnya, dan pergi ke pusat perbelanjaan. Dan selama di mobil, tak ada pembicaraan antara Chika dan El. Hingga Chika yang mulai bosan, memulai untuk berbicara.


"Tuan kita mau kemana?" tanya Chika pelan.


"Ke mall buat beli baju yang kamu pakai besok saat menjemput kedua orang tua saya."


"Berarti besok aku ijin gak masuk sekolah lagi dong tuan?"


"Tidak, besok mereka sampai bandara sore. Jadi saya akan jemput kamu ke sekolah."


"Oh begitu ya tuan, okelah kalau begitu. Tapi orang tua tuan gak galak dan menyeramkan kayak tuan kan?"


"Ya besok kamu lihat saja sendiri. Ingat jangan buat tingkah yang memalukan di depan orang tua saya, mengerti!!"

__ADS_1


"Iya tuan mengerti," jawab Chika.


__ADS_2