Terjerat Pernikahan Di Atas Kertas

Terjerat Pernikahan Di Atas Kertas
Janji Chika


__ADS_3

Chika dengan segera berjalan keluar rumah, sebelum El atau yang lainnya tahu dan melihatnya pergi meninggalkan rumah. Naas, baru saja ia menutup pintu dari belakang El dan Haris juga keluar untuk pergi ke apartemen Daniel.


"Kamu sudah pulang?" El kembali bersikap lembut. Bukan dengan nada yang keras seperti biasanya. Namun kepercayaan Chika sudah tak ada. Dia hanya menganggap sikap El hanyalah sebuah tipu muslihat.


"Sudah mas," keadaan kini berbalik, Chika menjawab pertanyaan El tanpa melihat matanya.


Sadar jika dirinya masih menangis, Chika secepat kilat mengusap air yang membasahi pipinya. Daripada El nanti akan mengintrogasi dirinya.


Sayangnya, Tangan El menarik dagu Chika, menengok ke kanan dan ke kiri. Memastikan kembali apa yang ia lihat itu benar.


Meskipun sudah menutupi kesedihannya dan kebencian dengan lelaki yang berada di hadapannya, ternyata itu tak berhasil mengelabui suaminya yang sudah terlanjur melihat dirinya menangis.


"Kamu habis nangis? Apa hasil pemeriksaan tadi di rumah sakit? Kamu sakit apa?" tanya El dengan nada sedikit cemas.

__ADS_1


"Gak mas. Aku baik baik aja. Hanya tekanan darahnya rendah. Emhh.. Aku permisi ke dalam ya mas," pamit Chika, namun dengan cepat El menarik tangannya, memeluk tubuhnya begitu erat.


Chika terdiam terpaku. Sekian lama ia menantikan pelukan hangat ini. Tapi kenapa, tubuhnya seakan ingin menolak. Ucapan El yang ia dengar barusan, begitu menyakitkan.


"Mas tolong lepas ya. Badanku masih sakit semua. Lagi pula kenapa kamu tiba tiba bersikap manis lagi sama aku?" El segera melepaskan pelukannya. Kembali menarik dagu Chika dan menatap matanya dalam dalam.


"Kenapa kamu menangis?"


"Siapa yang nangis, aku gak nangis mas."


"Gak mas," jawab Chika sambil berjalan masuk kembali ke dalam rumah.


Saat pintu sudah terbuka, dan El juga sudah melangkahkan kakinya ke dalam mobil. Chika menoleh sebentar. Dan tanpa sengaja Haris juga menoleh, menatapnya dirinya penuh curiga.

__ADS_1


"Non Chika kenapa lagi ya? Aku yakin dia tadi memang menangis, dan kenapa non Chika hanya melihat Pak El tanpa bertanya dia mau kemana. Ini sungguh aneh. Seperti ada yang sedang di tutupi Non Chika. Tapi apa?" Haris bergumam sejenak, lalu kembali menyusul El yang terlebih dulu berjalan di depannya.


Sedangkan Chika, ia menatap kepergian suaminya bukan dengan rasa kecewa seperti biasanya. Namun rasa benci dan marah. Pernikahan seumur jagung ini sangat meninggalkan goresan luka yang teramat dalam di hatinya.


"Hari ini aku berjanji dengan diriku sendiri, untuk terakhir kalinya aku menangisi sikap kamu. Dan sampai kapanpun aku tidak akan mengenalkan kamu dengan anakku. Karna aku masih sanggup menjadi orang tua tunggal untuknya," umpat Chika dalam hati.


El dan Haris sudah pergi dengan mobilnya meninggalkan rumah. Dan ini saatnya Chika beraksi. Kebetulan, taksi yang ia pesan menghubungi dirinya. Berkata jika ia sudah sampai di ujung jalan.


Chika celingukan, menoleh ke segala arah. Untung saja Pak Edo tak berada di pos security, membuat rencananya berjalan mulus.


Sebelum keluar dari halaman, Chika meninggalkan ponselnya di dalam pos. Ia tak mau jika El tahu kemana dirinya pergi nanti. Chika masih ingat jelas, jika El pernah berkata kalau ponselnya sudah disinkronkan dengan ponsel El. Membuat dirinya tahu kemana saja Chika jika sedang tak berada dirumah.


Kini dirinya sudah berada di luar rumah. Sebelum pergi, Chika kembali melihat ke rumah yang begitu besar dan mewah. Mengingat banyak sekali kejadian yang ia alami disini.

__ADS_1


"Mah, pah, Chika pamit. Terima kasih buat semua kasih sayang kalian buat aku. Aku sayang kalian mah, pah. Tapi mulai detik ini, Chika udah janji akan melupakan semua kenangan di rumah ini. Ini semua aku lakukan demi anak ini pah, mah. Dan buat kamu mas, aku sangat benci sama kamu. Aku pastikan jika anakku lahir nanti, dia tidak akan pernah aku beritahu siapa ayahnya," ucap Chika dalam hati.


__ADS_2