Terjerat Pernikahan Di Atas Kertas

Terjerat Pernikahan Di Atas Kertas
Tukang Ngeles


__ADS_3

Di ruang tamu, Haris mencoba menghitung uangnya di dompet. Tak lupa ia juga mengecek isi saldo di m-bankingnya.


"Demi si bos kecil deh, aku rela merelakan sedikit uangku buat dia. Ya anggep aja kado buat bos kecil karna sudah kembali berkumpul dengan Pak El," ucap Haris dalam hati.


Saat Haris sedang sibuk dengan kalkulatornya, tiba tiba bibi datang bersama dokter Daniel.


"Malam Mas Haris, dokternya sudah datang," ucap bibi.


"Iya bi, makasih," jawab Haris. "Dokter Daniel, silahkan duduk dulu, sebentar lagi saya panggilkan Pak El. Tapi saya masukkan uang saya dulu ya dokter," ucap Haris kembali.


Daniel mengangguk. "Silahkan Pak Haris."


Uang yang semula berderet rata di atas meja tamu, secepatnya dimasukkan Haris kedalam tas. Sesekali matanya menengok ke bawah, siapa tahu ada uangnya yang jatuh disana. Hilang satu lembar kan sayang.


Melihat tingkah Haris, Daniel hanya bisa mengelus dada. Tak mengira asisten seorang pengusaha kaya raya di negeri ini memiliki asisten semacam Haris.


Setelah selesai dengan kesibukannya yang tak bermanfaat, Haris bergegas menuju kamar El. Sedangkan Daniel, tetap menunggu di ruang tamu sambil menikmati secangkir teh buatan bibi.


"Dokter, saya tinggal dulu ya," pamit Haris.


"Iya Pak Haris," jawab Daniel singkat.


Haris mulai menaiki anak tangga. Dan sesampainya di depan pintu, ia mendengar canda tawa El bersama Chika dan Kie. Hatinya begitu bahagia, akhirnya bosnya sudah bisa menemukan kembali separuh hatinya yang hilang selama ini.


Walau berat untuk mengganggu waktu kebersamaan El dan keluarga kecilnya, Haris pun terpaksa mengetuk pintu kamar El untuk memberitahu kedatangan Dokter Daniel.


"Pak El," lirih Haris sembari mengetuk pintu kamar El.


Ceklek...

__ADS_1


Pintu terbuka. Wajah El masih saja masam. Mungkin masih kesal dengan Haris yang tak bisa diandalkan.


"Ada apa lagi Ris?" tanya El dengan tatapan dingin.


"Itu Pak, Dokter Daniel sudah datang."


El melihat jam yang melingkar di tangannya. "Darimana saja dia, jam setengah sembilan baru datang," umpatnya.


"Suruh dia menunggu sebentar," titah El.


"Baik pak."


Haris berlalu pergi. Tak lama kemudian, El datang dengan menggendong Kie dan menggandeng tangan Chika.


"Kok baru datang Niel?" tanya El.


Daniel beranjak bangkit dari sofa tamu. Semua kata yang ia hendak lontarkan kepada El hilang. Arah matanya malah tertuju pada dua orang yang ada di dekat El.


"Iya. Chika sudah kutemukan. Dan ini Kie, Putra ku," ucap El.


"Ayo Kie kasih salam sama Dokter Daniel," sahut Chika.


"Iya mah." Kie menjulurkan tangannya kehadapan Daniel sambil memperkenalkan dirinya. "Hai Dokter, namaku Kie," ucapnya kembali.


"Halo Kie, aku dokter Daniel. Untung kamu mirip mamamu Kie, ramah dan tampan," Daniel berucap, namun ia malah membangunkan seorang singa yang baru saja jinak.


Bola mata El menatap tajam ke wajah Daniel. Baginya, Kie itu mirip dengannya. Karna dia itu putranya.


"Maksud kamu bicara tadi apa Niel. Dia tidak mirip denganku? Terus dia anak siapa?" tanya El geram.

__ADS_1


Dokter Daniel memijat keningnya. "Jangan bilang El mengira Kie bukan anaknya nih. Masalah lagi nanti sama Chika," batin Daniel.


Kesal mendengar perkataan suaminya, Chika spontan tangan Chika sudah gatal, dan ia pun langsung mencubit pinggang suaminya. "Kamu mikir apa mas. Apa kamu mau bilang Kie bukan anak kamu? Ayo cepat bilang, biar aku dan Kie pergi buat selamanya dari kehidupan kamu," ancam Chika.


El mengelus rambut istrinya. Membelai sambil tersenyum.


"Emang aku bilang begitu? Jangan suka berstatment sendiri," ucap El.


"Cih, dasar tukang ngeles."


"Les apa sayang? Matematika, bahasa inggris atau apa?" goda El sambil mengelus elus pipi Chika. Mencoba untuk meredakan emosinya.


"Dih, gak lucu."


"Papa, mama. Jangan bertengkar. Kie jadi pusing tau," ucapan Kie seakan menjadi penengah perdebatan kedua orang tuanya. Daniel yang juga berdiri disana, semakin gemas dengan tingkah Kie yang lucu.


"Sudah El, Chika. Baru saja bersama, mau berpisah lagi?" sahut Daniel.


"Enak saja kamu Niel. Jangan bicara sembarangan," gerutu El.


"Hahaha. Sudahlah El, sekarang kamu menyuruhku jauh jauh kemari ada apa?"


"Kie dan Chika sepertinya sakit Niel. Tolong periksa mereka ya," ujar El.


"Baiklah. El aku masih penasaran, ngapain kamu ngapain bangun rumah di dekat hutan begini? Aku kira kamu sedang mengerjaiku tadi. Menyuruhku datang jauh kesini. Aku kira aku tadi nyasar," celoteh Daniel.


"Kamu taulah Niel alasanku membangun rumah disini. Biar dia gak kabur kabur lagi Niel," mata El melirik ke samping. Dilihatnya Chika sedang berpura-pura tidak mendengar ucapannya barusan.


Daniel tersenyum. Rupanya sempat kehilangan istri dan anaknya membuat akal sehat El sedikit tak berjalan baik. Trauma, Daniel sudah bisa menebaknya. Makanya El sampai nekat membangun rumah tanpa tetangga yang jauh dari perkotaan.

__ADS_1


"Sini Kie duduk sama Om dokter. Biar om periksa ya."


"Oke Om dokter," jawab Kie yang langsung duduk di pangkuan Daniel.


__ADS_2