Terjerat Pernikahan Di Atas Kertas

Terjerat Pernikahan Di Atas Kertas
Happy Family


__ADS_3

"Opa, mama sama papa mana? Mama... Huaaa...," tangis Kie semakin kencang. Membuat Tuan Aristya semakin bingung memikirkan cara untuk mendiamkan cucunya yang selalu saja menyebut mamanya.


"Mah, sudah ada jawaban dari El?" tanya tuan Aristya.


"Belum pah. Masih belum diangkat," jawab Nyonya Sarah singkat.


"Kie, sini sama oma ya sayang. Bentar lagi mama kembali. Tadi Om Haris lagi cari mama sama papanya Kie. Sini sayang duduk deket oma," bujuk Nyonya Sarah.


Bukan malah diam, Kie justru semakin mengeraskan suaranya. Beruntung, Chika sudah datang dan langsung mengambil Kie dari gendongan Tuan Aristya.


"Mama... Mama," seru Kie sambil menangis memeluk mamanya erat.


"Cup.. Cup.. Cup...Sudah sudah. Mama sudah disini. Maaf ya mah, pah," ucap Chika.


"Iya sayang. Terus El kemana nak? Apa dia baik baik saja? Dari tadi mama coba telpon El tapi gak diangkat."


"Aku baik baik saja kok mah," sahut El yang kini sudah berdiri di depan pintu kamar mamanya.


"Darimana saja sih kalian. Di telpon gak diangkat. Lihat Kie gak mau diam gara gara kalian," geram Tuan Aristya.


"Dari kantin mah," jawab El santai.


Chika melirik sinis ke arah El. "Mas, mas, aku berasa mengurus dua bocah sekarang," umpatnya.


"Mama, jangan pergi lagi ya," isak Kie.


"Gak akan sayang. Mama tahu Kie pasti mengantuk kan. Ayo bobok sambil di gendong mama sini," Chika mengusap ranmbut Kie dengan lembut. Mata Kie pelan pelan dan tidur terlelap dalam pangkuannya.

__ADS_1


Nyonya Sarah lalu memanggil El untuk duduk di dekat ranjangnya. Ia masih penasaran, apa El masih membenci ibu kandungnya atau sudah bisa menerima kenyataan dan memaafkannya.


El mulai menceritakan segala yang Chika ceritakan padanya. Bagaimana menderitanya ibu Asih selama ini. Bagaimana rasa sayangnya pada istri dan anaknya padahal ia juga tak mengenal siapa Chika sebenarnya. Dan ketulusan hati Bu Asih hingga membuat istrinya begitu sayang padanya.


El sungguh menyesal, tak sempat bertemu dengan ibu kandungnya. Tak pernah merasakan belaian dari wanita yang memperjuangkannya untuk bisa lahir ke dunia.


Rasanya dada Nyonya Sarah terasa sesak. Ia hanya tersenyum getir. Ada sedikit rasa cemburu dihatinya. Mendengar semua ucapan pujian yang dilontarkan El padanya. Andai saja ibu kandungnya masih hidup, sudah dipastikan perhatian El akan lebih terfokus pada ibu kandungnya bukan lagi dirinya yang hanya seorang ibu angkat.


Tuan Aristya berjalan menyebelahi ranjang istrinya, sambil mengelus punggungnya dengan lembut.


"Biarkan saja dia mencurahkan perasaannya soal ibu kandungnya. Toh dia juga sudah meninggal, jadi hanya kamu ibu El sekarang," bisik Tuan Aristya.


Beberapa jam berlalu. Kie juga sudah mulai bangun. El teringat akan janjinya pada Chika untuk menemani dia ke makam kedua orang tuanya.


"Mah, pah. El, mau antar Chika ke makam orang tuanya dulu ya," pamit El.


"Emh, kita..."


Belum selesai meneruskan perkataannya, Chika sudah menyanbarnya terlebih dulu. Dan El hanya bisa diam dan menuruti keinginan istrinya.


"Iya mah, nanti kita kesini. Mama mau kita bawakan apa?" tawar Chika.


"Gak usah sayang. Yang penting kalian kembali dengan selamat itu sudah cukup," jawab Nyonya Sarah.


"El, apa kalian masih mau tinggal di tengah hutan. Papa sudah tahu dari Haris, kalau kamu membangun rumah di pinggir hutan. Ingat El, tahun depan Kie mulai sekolah. Apa kamu mau anak kamu sekolah di hutan sama macan, monyet dan binatang lainnya. Dengan tarzan yang jadi gurunya?" sindir Tuan Aristya.


Nyonya Sarah dan Chika menutup mulut mereka dengan tangan. Menahan tawa gara gara melihat El mati kutu dan tak bisa menjawab ucapan papanya.

__ADS_1


Setelah berpikir, El menyadari ucapan papanya ada benarnya juga. "Baiklah, El akan pindah. Tapi si tukang kabur ini harus janji tidak akan pergi meninggalkan El lagi," lirih El.


"Ya ampun mas," Chika berjalan menghampiri suaminya si bucin akut.


"Aku gak akan kabur kalau kamu lebih bisa menjaga sikap kamu sama aku dan Kie. Kita kan udah bahas ini semalam."


"Janji ya sayang?" sebuah tatapan satu sedang menyelidik kearah Chika.


"Hmmm. Iya iya mas. Ayo jadi ke makam mama dan papa gak? Udah sore loh ini."


" Jadi dong sayang. Mah, pah, kami pamit dulu ya."


"Iya El, Chika," jawab keduanya kompak.


El lalu merangkul pinggang Chika sembari menggendong Kie. Pemandangan keluarga yang sangat harmonis dan pasti membuat siapapun akan iri melihatnya.


"Are you happy baby?" tanya El pada putranya.


Kie mengecilkan kedua matanya. "Happy itu apa pah?"


El menggelengkan kepalanya. Cukup lama hidup di desa, sepertinya El perlu memberi guru bahasa Inggris pada putranya itu.


"Happy itu seneng Kie," sahut Chika. Kie yang malu pun langsung memperlihatkan sederet gigi putihnya sambil tersenyum kearah papanya.


"Iya pah. Kie happy," El langsung mencabut pipi gembul Kie karna gemas dengan setiap ulahnya.


"Kie.. Kie...papa sayang banget sama kamu."

__ADS_1


"Kie juga pah."


__ADS_2