
Di dalam perjalanan, tiba tiba ponsel Haris berbunyi. Dilihat Haris, tertera nama Maya di layar ponselnya.
"Pak, apa saya minta ijin untuk mengangkat telpon sebentar boleh?" tanya Haris.
"Ya silahkan. Tapi harus tetap fokus menyetir ya Ris," ucap El.
"Baik pak."
Bukannya senang, wajah Haris nampak gusar. Sesekali ia menoleh ke arah El yang duduk di kursi belakang kemudinya.
"Ada apa Ris? Apa kamu sedang ada masalah sama Maya?" tanya El yang mulai curiga dengan gerak gerik Haris.
"Eh itu pak," Haris menggaruk garuk kepalanya. Bingung mau mulai pembicaraan darimana.
"Ada apa Ris. Jujur saja."
"Itu pak. Maya minta di jemput sekarang, karna dari pihak butik meminta Maya dan saya untuk datang lebih awal," jawab Haris dengan nada terbata bata. Sungguh ia merasa tak enak pada El.
El tersenyum. "Pergilah. Kamu cukup antar saya sampai depan rumah sakit. Nanti saya bisa minta tolong Reza untuk mengantar saya pulang," kata El.
"Baiklah pak. Sekali lagi saya minta maaf. Dan terima kasih untuk pengertian bapak ya."
"Hmmm. Terus undangan pernikahan kamu sudah selesai cetak? Kapan disebarkan?" tanya El.
"Baru jadi lusa pak, dan mungkin akan disebarkan 2 minggu lagi."
"Saya berdoa semoga rencana pernikahan kami dan Maya lancar sampai hari H ya Ris."
"Amin pak."
****
Rumah Sakit Cahaya Kasih..
Sesuai ucapan El, Haris hanya mengantar dirinya di depan rumah sakit dan Haris pun langsung bergegas menuju rumah Maya.
El menelpon Reza, mengabari jika dirinya sudah sampai di ruang tunggu dan tak lama Reza datang untuk mengantar El ke kamar nyonya Sarah.
"Mari pak," ucap Reza.
"Iya Za."
Kini tibalah El di sebuah ruang rawat kelas vvip.
"Nyonya dan tuan ada di dalam pak. Kedatangan anda sudah di nantikan mereka. Silahkan masuk pak," ucap Reza sembari membukakan pintu untuk El.
"Terima kasih Za."
"Sama sama pak. Kalau begitu saya permisi."
"Silahkan Za."
__ADS_1
Kaki El melangkah masuk kedalam kamar. Sudah lama ia tak memandang wajah mama angkatnya yang waktu kecil selalu tidur bersamanya.
"Sore mah, pah," sapa El.
"El," lirih nyonya Sarah dengan mata berkaca kaca.
"Duduklah disamping mama kamu El," perintah tuan Aristya.
"Baik pah."
Tangisan haru pecah didalam ruangan. Kerasnya hari tuan Aristya ternyata tak seperti yang di duga El. Mungkin selama ini mama dan papanya seakan sudah tak peduli lagi padanya dan berusaha menghancurkan hidupnya. Namun semua pikirannya salah. Ternyata dibalik kesuksesan perusahaannya ada campur tangan sang papa.
Ya, El menangis. Ternyata tender yang ia menangkan kemarin pun itu karna permintaan tuan Aristya pada Mr. Jackson untuk memberikan tender besar itu ke perusahaan El.
Suasana bahagia yang sudah lama hilang kembali terasa. Mereka bertiga kembali berkumpul, melepas rindu sejenak dan melupakan masa lalu yang kelam.
"El, apa Chika belum ketemu?" tanya Nyonya Sarah.
"Belum mah," jawab El sembari menggelengkan kepalanya.
"Tenang saja El. Mulai besok papa akan minta Reza untuk membantu Haris mencari Chika. Biarkan mereka berdua sesekali bekerja sama jangan cuma bisanya seperti kucing dan anjing. Selalu berdebat setiap bertemu," ujar Tuan Aristya yang disambut tawa istri dan putranya.
"Hahaha, El pikir hanya El yang tahu kalau mereka tidak akur. Ternyata papa juga tahu."
"Ya tahulah El. Sebenarnya masalah ini bukan dari Reza. Tapi dari asistenmu Haris itu. Lagian apa yang membuat kamu betah punya asisten seperti dia? Papa heran, jangan jangan Haris main pelet biar bisa kerja terus sama kamu."
"Papa ada ada aja. Haris itu baik pah. Dia yang sudah meminjamkan uang, rumah dan mobil saat El tidak punya apa apa."
"Darimana dia punya semua itu?" tanya Tuan Aristya heran.
Tuan Aristya hanya bisa menggeleng. Apa El ini tidak sadar, jika Haris sedang memoroti dirinya.
"Ya sudah gak papa. Asal kerjanya bener, papa gak masalah."
"Iya pah. Tenang aja kalau masalah itu. Kinerja Haris memuaskan kok pah. Setiap masalah yang El tugaskan buat dia selalu selesai dengan cepat," jawab El.
"Hmmm, bagus kalau begitu."
Daripada membahas kedua asisten mereka, tuan Aristya dan nyonya Sarah kembali membujuk El untuk kembali ke rumah mereka dan memimpin kembali perusahaan milik tuan Aristya.
"Baiklah, El akan kembali. Dan El akan kembali membantu perusahaan papa. Untuk perusahaan El biar diurus oleh Haris," ucap El.
"Terima kasih El," jawab papa yang langsung menarik tubuh El dan memeluk erat putranya.
****
Di pertengahan jalan, saat Haris hendak menuju rumah Maya mobilnya terhenti.
Grekk..
"Ah sial. Nih mobil kenapa sih?" gerutu Haris.
__ADS_1
Haris mencoba mengecek semua mesin mobil namun semua terlihat baik. Daripada ia bingung, Haris menelpon montir langganannua untuk datang.
Sambil menunggu, Haris sudah mengabari Maya jika mobil yang ia kendarai macet. Tak lupa Haris mengirim foto tentang kondisi yang ia alami pada Maya. Takut jika nanti Maya salah paham dan malah membatalkan pernikahan mereka.
"Daripada bosen, mending cari kopi deh disebelah sana. Kayaknya ada warung makan," ujar Haris.
Hanya tinggal beberapa langkah, jalan Haris terhenti. Melihat dari jauh wanita yang tak asing baginya.
Wanita itu terlihat tetap cantik dan sedikit lebih berisi. Hanya pakaiannya terlihat sangat sederhana.
"Non Chika, itu kan non Chika. Ya Tuhan, terima kasih. Akhirnya aku bisa menemukan jon Chika. Lebih baik aku segera mengabari Pak El untuk segera datang kesini. Mungkin aku tidak udah ke warung itu. Nanti kalau non Chika tahu, dia pasti kabur lagi," Haris berbicara sendiri dalam hati sembari membalikkan badannya dan menjauh dari arah warung namun tetap fokus mengintai Chika.
Beberapa kali Haris mencoba menelpon El namun El tak menjawab telponnya.
"Duh bos. Anda gimana sih. Urgent ini bos,kenapa gak diangkat angkat sih keburu non Chika kabur lagi," ucap Haris sambil terus berusaha menelpon El.
Di rumah sakit, El baru saja keluar dari toilet.
"El, dari tadi ponsel kamu bergetar. Mungkin ada telpon penting dari klien kamu," ucap nyonya Sarah.
El segera mengambil ponselnya dan melihat ada 20 panggilan tak terjawab dari Haris.
"Siapa El?" tanya tuan Aristya.
"Haris pah. Sebentar El angkat dulu ya."
"Iya El," ucap mama dan papa kompak.
Tak butuh waktu lama, panggilan ke 21 dari Haris diangkat oleh El.
"Ada apa Ris? Kenapa kamu menelpon saya sebanyak ini?" tanya El.
"Non Chika pak. Non Chika ketemu," suara Haris terlihat panik. Membuat El malah juga ikut panik mendengar ucapannya.
"Dimana? Cepat katakan dimana?"
"Di dekat terminal pak."
"Baik saya kesana sekarang. Dan pastikan jangan sampai Chika tahu keberadaan kamu. Dia pasti akan mencoba kabur lagi. Awas dia, Mengerti?" ucap El.
"Iya pak saya mengerti."
Sambungan telpon sudah terputus. Perasaan El seperti nano nano. Senang, sedih, takut, campur jadi satu. Ia tak mau berharap lebih dulu sebelum ia benar benar bisa langsung bertemu dengan istrinya.
"El mama dengar kamu menyebut nama Chika? Apa Haris bertemu dengan Chika?" tanya nyonya Sarah.
"Iya mah. Pah, El pinjam mobil papa dulu boleh. El harus segera ke tempat yang Haris beritahu tadi."
"Ini El. Pakai saja. Cepat bawa menantu dan cucu papa dan mama kesini ya El," ucap tuan Aristya sembari menyerahkan kunci mobilnya ke tangan El.
"Pasti mah, pah. El pergi dulu ya."
__ADS_1
"Hati hati El."
"Iya mah, pah."