
Dalam perjalanan pulang kerumahnya, El sama sekali tak mengucap satu patah kata pun. Chika yang duduk di sebelahnya, juga ikut diam. Sesekali ia menoleh ke samping, namun tatapan El hanya fokus menyetir kedepan.
"Kenapa kamu curi pandang sama saya. Udah mulai naksir?" ucap El tanpa menoleh kearah Chika.
"Huueek, naksir tuan bilang? Selera saya bukan anda tuan, walaupun tuan kaya tapi tuan tidak bisa membeli hati saya," jawab Chika dengan lantang.
Ccciiiiittt...
El mendadak mengerem mobilnya, karna baru sekali ini ada seorang wanita berani menolak bahkan merendahkan dirinya.
"Tuan, bisa nyetir gak sih? Masak kalah sama tukang angkot. Tukang angkot aja kalau nyetir itu selo loh tuan. Lah tuan kok malah nyetirnya ugal ugalan, udah gitu main ngerem mendadak. Tuan pikir nyawa kita ini dobel," gerutu Chika.
Brruuuaakkk
El memukul setir mobilnya dengan tangan begitu keras. Ia sudah muak mendengar sikap Chika yang termasuk berani dengan dirinya.
"BISA DIAM GAK KAMU!!" teriak El sambil memajukan wajahnya tepat di depan wajah Chika.
Sambil menelan Slivanya, Chika hanya bisa diam dengan mata yang membulat, berusaha memberanikan diri untuk tetap membalas tatapan El.
"Sekali lagi kamu berani mengatai saya dan merendahkan saya. Gak segan segan saya akan menghancurkan kamu. Biar kamu tau akibatnya jika kamu berani menghina Elvano Aristya. Mengerti!!"
"Mengerti tuan, saya minta maaf," jawab Chika dengan wajahnya yang mulai pucat.
"Awas saja jika kamu masih berani berbicara tanpa ijin dari saya. Saya akan batalkan perjanjian itu, dan kamu harus mengganti uang yang sudah saya keluarkan untuk kamu 100x lipat."
"Apa? 100 kali lipat tuan? Tapi di perjanjian kan hanya 10 kali lipat?"
"Hmmm, apa kamu lupa gadis bodoh. Di perjanjian kedua tertulis jika saya bisa membatalkan peraturan tanpa persetujuan dari kamu. Dan kamu wajib memenuhinya," El tersenyum sambil menepuk pelan pipi Chika.
"Iya tuan saya ingat. Baiklah, saya akan menurut dengan semua perintah tuan," jawab Chika dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Bagus, itu baru anak pintar. Sekarang saya mau melanjutkan perjalanan kita. Dan saya minta kamu tidak bicara tanpa seijin saya," ujar El namun tak ada jawaban dari Chika.
"Kenapa kamu diam? Kamu keberatan dengan apa yang saya minta?" ucap El kembali namun Chika masih saja diam dan menatapnya.
Kesabaran El benar benar diuji oleh Chika. Dengan suara keras, El mengangkat digunakan Chika dan berteriak tepat di depan wajahnya, lalu mengulang kembali ucapannya.
"Hei, kamu dengar saya bicara gak? Atau kamu sudah jadi orang bisu dan tuli, sampai kamu tidak bisa menjawab perkataan saya?" teriak El.
Air mata Chika turun begitu deras, namun ia sama sekali tak menundukkan wajahnya. El yang merasa iba langsung melepaskan tangannya dari dagu Chika.
"Kenapa anda begitu kasar tuan, bukankah tadi anda yang bilang dan meminta saya agar saya diam dan gak boleh bicara tanpa ijin dari tuan. Saya kan hanya menuruti keinginan tuan, tapi kenapa tuan membentak dan berteriak. Letak salah saya dimana tuan, huhuhu...," ucap Chika sambil menghapus air matanya yang masih mengalir.
El yang semula sudah kembali duduk dan menatap kedepan, seketika menoleh ke arah Chika karna tak percaya dengan jawabannya.
"Apa? Jadi kamu diam dan tidak menjawab perkataan saya karna menunggu ijin dari saya?" tanya El sambil mengernyit heran.
"Iya," jawab Chika lalu mengangguk.
El hanya bisa menggelengkan kepalanya, setelah mendengarkan alasan Chika.
__ADS_1
"Kamu itu kelas berapa sekarang?" tanya El pada Chika.
"Kelas 3 SMA tuan, kan tuan sudah tahu. Kenapa masih bertanya?"
"Ya memang saya sudah tahu, hanya saja saya ingin memastikannya lagi. Karna bagi saya, kamu itu terlalu bodoh buat ukuran anak kelas 3 SMA."
"Memang saya bodoh tuan. Kalau saya pintar, mana mungkin saya mau menyetujui perjanjian yang tuan buat."
"Sudahlah, capek saya berdebat dengan kamu. Maksud saya tadi, kenapa kamu menunggu persetujuan saya untuk menjawab perkataan saya?"
"Lah kan disuruh tuan?" jawab Chika sambil menunjuk El dengan jari telunjuknya.
El yang mulai kehabisan kata kata, memilih diam dan tak menghiraukan ucapan Chika. Ia kembali melanjutkan perjalanan pulang kerumahnya.
"Lebih baik aku mengalah saja. Yang ada kalau aku terus meladeni ucapannya, aku bisa ketularan bodoh sama seperti dirinya." batin El sembari memegangi kepalanya.
Beberapa saat kemudian, mobil El mulai masuk ke halaman rumah. Dan ia bergegas masuk kedalam rumah dan melupakan Chika yang masih didalam mobil.
"Gue ikut masuk apa didalam mobil aja ya? Tapi nanti kalau gue turun, tuan El kan gak nyuruh gue buat turun. Bisa bisa dia batalin perjanjiannya dan gue ganti rugi 100 kali lipat. Jadi mending gue tungguin aja di dalam mobil aja ya, daripada gue salah lagi." gumam Chika.
Akhirnya Chika memutuskan untuk tetap berada didalam mobil hingga ia pun ketiduran disana karna merasa lelah setelah seharian berkeliling mall dengan El.
Sedangkan El, dengan langkah cepatnya ia masuk ke ruang kerjanya. Dan disana ia melihat Haris sedang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.
"Haris, maaf saya terlambat," ucap El sembari mengancingkan kembali jasnya.
"Oh gak papa pak. Bapak habis pulang ngedate ya sama non Chika."
"Oh begitu ya pak," jawab Haris sambil tersenyum kearah El, namun El langsung melirik tajam kearahnya.
Mengerti dengan kode dari bosnya, Haris pun menghentikan candaannya dan kembali fokus dengan pekerjaannya. Ia memberikan semua info yang ia dapat dari Maya dan Haris pun mulai menceritakan semuanya pada El.
Sambil mengepalkan tangannya, El merasa ikut terbawa emosi mendengar semua kejadian yang menimpa Chika.
"Haris, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan?" ucap El sambil mengetuk meja kerjanya.
"Apa ya pak?" tanya Haris pura pura bingung.
"Haris, kamu juga jangan buat kesabaran saya habis. Cukup Chika saja yang sudah membuat darah tinggi saya naik."
"Oh iya pak, saya mengerti," jawab Haris.
"Memangnya apa?" tanya El.
"Cari bimbel buat saya dan non Chika. Biar kami ikut les dan menjadi orang pintar. Jadi Pak El tidak akan darah tinggi lagi."
"HARIS!!" teriak El sambil menggebrak mejanya.
"Bercanda pak, saya tahu kok apa yang harus saya lakukan. Saya akan membeli saham perusahaan Pak Dirga. Itu kan maksud bapak?"
El kembali duduk, dan menyilakan kakinya.
__ADS_1
"Betul, itu maksud saya."
"Hmmm, saya pintar kan pak?"
"Kadang kadang," jawab El singkat.
"Kerjakan semua yang saya perintahkan, dan saya tidak mau gagal."
"Baik pak, tapi pak jangan lupa ya...," ucap Haris namun langsung di potong oleh El.
El melemparkan amplop panjang coklat ke hadapan Haris.
"Saya sudah tau apa yang mau kamu bicarakan. Ini, kamu buka saja," ucap El.
"Ini gaji saya ya pak? Tapi ini kan belum tanggal 25, masih satu minggu lagi loh gajiannya pak."
"Bukan, itu hanya bonus. Nilainya mungkin gak seberapa. Tapi itu tanda terima kasih saya karna kamu selalu berhasil menjalankan perintah saya. Cepat buka, saya ingin lihat ekspresi kamu," ucap El.
"Bonus pak? Akhirnya, setelah satu tahun kerja sama bapak, baru sekali ini Pak El kasih saya bonus. Emang ya non Chika itu pembawa rejeki buat saya."
"Sudah jangan banyak bicara, cepat kamu buka dulu amplopnya."
"Baik pak," jawab Haris
Dengan cepat Haris mengambil amplop yang berada di hadapannya. Dan setelah membukanya, ia melihat isi amplop dengan mata yang berbinar dan mulut menganga.
"Pak, ini serius? Ini bonus buat saya pak?"
"Hmmm, kenapa? Kamu mau menolak."
"Tidak pak, saya pasti menerimanya. Masak uang lima puluh juta di tolak. Terima kasih ya pak buat bonusnya."
"Sama sama. Tapi ingat jangan gagal dengan perintah saya yang tadi. Karna kalau kamu berhasil, saya akan membelikan kamu mobil dan saya akan naikkan gaji kamu 5 kali lipat."
"Apa? 5 kali lipat pak?" ucap Haris yang berusaha memastikan kembali ucapan El.
"Iya, tapi kamu harus berhasil. Kalau perlu beli perusahaan Pak Dirga secepatnya."
"Baik pak, kalau begitu saya permisi pak. Mau transfer uang buat emak di kampung."
"Ya, silahkan kamu pulang. Tapi jangan lupa antar Chika kerumah sahabatnya."
"Beres pak, tapi non Chika dimana ya pak?"
"Paling diluar sama Bi Ida."
"Baik pak, kalau begitu saya permisi ya pak."
"Hmmm," jawab El.
Setelah kepergian Haris, El membuka kembali fotonya dahulu bersama Pak Dirga.
__ADS_1
"Saya janji pak, saya akan menjaga putri bapak. Dan saya akan mengambil perusahaan bapak dan saya serahkan pada Chika. Lalu setelah saya mendapatkan apa yang saya mau, saya akan membebaskan Chika, dan dia bisa hidup berkecukupan tanpa kekurangan apapun." batin El sambil memandangi foto yang ia ambil bersama Pak Dirga, papa Chika.