
Suasana di dalam mobil seperti angin yang bertiup kencang di malam hari. Dingin dan tanpa suara. Namun itu bukan hal baru bagi Chika, karna memang sudah biasa dia berada di situasi seperti ini jika mereka hanya tinggal berdua.
Lama kelamaan, keheningan itu membuat Chika mulai merasa tak nyaman. Apalagi pikirannya tentang sikap El, membuat rasa penasarannya mulai membara. Sesekali dia melirik ke samping,melihat lelaki di sebelahnya yang nampak gusar.
"Tuan," Chika berusaha memecahkan keheningan diantara mereka.
"Hmmm, ada apa?"
"Tuan kenapa? Kok tuan kelihatan panik? Dan tadi tuan juga bilang gawat. Sebenarnya apa yang terjadi tuan?"
"Papa sedang menyelidiki tentang kamu," jawab El singkat.
"Oh cuma itu," Chika membalas, sembari mengalihkan pandangannya dari wajah El.
El segera menepikan mobilnya. Ucapan Chika seakan membangkitkan kembali api yang sudah padam. Setelah berhenti, El melihat ke kursi sebelah kiri, menatap Chika dengan penuh kekesalan di dalam hati.
"Cuma kamu bilang?" El berteriak meluapkan kemarahannya pada Chika.
"Iya tuan. Ada yang salah?" Chika menjawab dengan satu alisnya naik keatas.
"Salah besar. Gimana kalau papa tau soal kamu. Soal kehidupan kamu. Soal kamu yang sudah tidak lagi tinggal dengan om dan tante kamu. Soal perusahaan kamu yang di ambil om kamu. Gimana kalau sampai papa tahu semuanya Chika?" El menatap tajam mata Chika. Terpancar rasa takut, marah, emosi, semua terlihat di mata itu.
Chika mulai menggeser duduknya, menghadap El dan membalas tatapan itu tak kalah sinis.
"Salah sendiri tuan bohong. Kalau jujur dari awal itu akan lebih baik. Hidup tuan itu penuh kepalsuan. Ya kalau memang semua terbongkar, tinggal cari cewek lagi yang di kontrak dong tuan. Beres kan?" jawab Chika dengan entengnya.
Perkataan Chika kali ini sepertinya sudah membangunkan singa yang sedang tidur. El lalu meremas kedua pundaknya, menatap mata gadis yang berada di hadapannya.
"CHIKA!! Jangan buat saya marah! Apa kamu lupa mama begitu menyukai kamu. Mana mungkin saya mudah mendapat ganti kamu. Lagipula kamu lupa jika kamu sudah menandatangani perjanjian di atas kertas dan materai. Apa kamu lupa itu Chika?"
Chika terdiam, hatinya sakit. Sampai meninggal, mama dan papanya tak pernah berbicara kasar padanya, apalagi membentak dirinya tepat di depan wajahnya.
Buliran bening mulai memenuhi kedua bola mata Chika. Ketakutan akan kemarahan El membuatnya ingin menangis saat itu juga. Ingin menahan, tapi sulit. Buliran itu satu per satu mulai jatuh di pipinya.
Entah kenapa, hati El langsung luluh melihat gadis kecil didepannya menunduk lesu. Tapi, karna gengsinya yang tinggi, El hanya memberikan selembar tisu pada Chika.
"Nih, hapus air mata kamu dan berhenti jadi perempuan cengeng. Karna saya benci wanita rapuh."
"Baik tuan, terima kasih tisunya," jawab Chika namun tak ada jawaban keluar dari mulut El.
"Dasar beruang kutub," batin Chika kesal.
Suasana kembali seperti sedia kala. Hening tanpa suara. Namun karna rasa penasarannya masih belum terjawab, Chika kembali membuka suaranya.
"Tuan," lirih Chika.
__ADS_1
"Hmmm, ada apa lagi Chika."
"Kenapa tuan harus panik? Bukankah mama dan papa tuan menyukai saya?"
El tertawa kecil. Baginya kepercayaan diri Chika itu teramat tinggi. Tak tahu tapi sok tahu.
"Chika oh Chika. Kamu itu over pede. Ya memang mama saya itu menyukai kamu, begitu juga papa saya. Tapi mereka berbeda. Mama saya itu sangat mudah di bodohi, berbeda dengan papa saya. Dia berpura-pura bodoh, namun otaknya begitu cerdas," jelas El.
Jawaban El malah berbalik membuat Chika kini yang tertawa.
"Jadi orang bodohnya sekarang ada tiga dong tuan."
"Maksud kamu?" tanya El dengan sedikit kerutan di dahinya.
"Saya, om Haris dan nyonya besar. Hahahaha."
Ciiiiitt....
El menginjak pedal rem mobilnya.
"CHIKA!! BISA BISANYA KAMU MENGHINA MAMA SAYA!!" seru El hingga membuat seluruh urat di lehernya nampak terlihat.
"Loh tuan kok marah. Kan yang bilang bodoh itu tuan sendiri loh. Dih, jangan durhaka tuan sama orang tua. Surga itu di telapak kaki ibu. Lah ini malah ngatain ibunya bodoh," Chika berusaha membuat El kembali mengingat memorinya.
"Kapan saya bilang kalau mama bodoh?"
Sambil melajukan kembali mesin mobilnya, El berusaha mengingat perkataannya tadi.
"Oh iya tadi aku bilang mama mudah di bodohi, berarti aku beneran menghina mama dong. Mama, ampuni anakmu yang durhaka ini," batin El sembari mengutuk dirinya sendiri.
Berdebat dengan Chika seperti membuang buang waktu. El sudah tak menghiraukan semua celotehan dari mulut Chika. Dan kini sampailah mereka di sebuah apartemen termewah dikota itu.
"Ayo turun, kita sudah sampai. Haris sudah menunggu didalam hampir setengah jam," ucap El sambil melepas selt beltnya.
"Iya iya tuan," jawab Chika malas.
Sesaat kemudian, El mengajak Chika turun dari mobil, membawanya masuk ke dalam lift dan menekan angka 13.
Mata Chika membulat dan wajahnya mulai memucat. Ingatan tentang film horor lantai 13 yang pernah ia tonton bersama Maya masih tersimpan di memorinya.
"Lantai 13? Jangan jangan cuma aku penghuni disana," lirih Chika dengan kaki yang mulai gemetar dan tangannya mulai berkeringat.
El memicingkan sebelah matanya, melihat gerak gerik perempuan di sebelahnya sekarang.
"Dia kenapa lagi. Ada ada aja tingkahnya hari ini," umpat El dalam hati.
__ADS_1
"Hei, kamu kenapa?" El menepuk pundak Chika hingga membuatnya terperanjat.
"Tuan, jangan bikin kaget dong," jawab Chika sambil memegangi dadanya.
"Salah sendiri melamun. Kamu kenapa?"
Chika menggeser kakinya, berdiri begitu dekat disamping El.
"Tuan sini sini," Chika meminta El untuk mendekatkan telinganya.
"Ada apa? Kenapa harus bisik bisik? Jangan jangan otak mesum kamu kambuh ya?" ucap El dengan senyum jahilnya.
"Dih, siapa yang mesum. Tuan itu yang otaknya mesum."
"Terus kamu kenapa main tarik tarik baju saya begini?"
Sebelum berkata, Chika menoleh ke kanan dan ke kiri,melihat situasi sekitar padahal hanya ada dia dan El didalam lift itu.
"Tuan, pernah lihat film lantai 13 gak? Film horor yang serem banget itu," tanya Chika.
"Gak pernah,saya gak suka nonton film horor. To the point aja, kamu itu kenapa?"
"Kenapa apartemen saya di lantai 13 sih tuan. Nanti kalau banyak hantunya gimana?kayak di film itu," Chika berusaha mengajukan protes pada El.
"Ya kamu tinggal panggil pawang hantunya saja."
"Emang siapa pawang hantunya tuan?" tanya Chika dengan polosnya.
"Haris," jawab El sambil menyunggingkan bibirnya.
"TUAN EL!!" teriak Chika dengan tangan memukul dada bidang El.
Niat hati ingin melindungi diri, namun El malah membuat Chika jatuh ke dalam pelukannya.
Wajah mereka berdua begitu dekat, mata coklat yang bulat itu nampak terlihat jelas. Keduanya hanya saling menatap, tanpa bisa berucap.
Jantung El dan Chika sama sama berdetak kencang.
"Rasa apa ini? Kenapa wajah tuan El semakin tampan?" gumam Chika.
"Gadis bodoh ini, bisa bisanya dia membuat aku merasakan getaran ini lagi. Tapi entah kenapa semakin hari aku justru terjerat dengan perasaanku sendiri. Sepertinya aku sudah mulai menyukainya," batin El sambil mengamati kedua bola mata Chika.
Tiba tiba mata Chika mulai terpejam, melihat wajah El semakin mendekati wajahnya. Dan akhirnya..
Ting....
__ADS_1
Bersambung....
Kira kira apa ya yang terjadi dengan Chika dan El??