
Setibanya di dapur, Chika hendak memasak beberapa makanan. Namun sayang, sepertinya stok di lemari habis. Buka kulkas hanya menemukan nugget dan sosis.
"Masak apa nih? Gak nemuin apa apa. Bahan kering cuma ada mie. Telor ,beras ,semua habis. Gak jadi bikinin Kie bubur dong. Yaudah gorengin nugget ajalah," batin Chika.
Disaat ia sibuk menggoreng, tiba tiba El muncul. Memeluk tubuhnya dari belakang, sambil memberikan sedikit tiupan kecil ke tungkuk lehernya.
"Fiuhhh...,masak apa istrku," ucap El.
Chika terperanjak kaget. Untung saja ia tidak melempar minyak panas diatas wajan ke wajah El.
"Mas,kamu to. Kok kamu kesini? Kie mana? Kamu tinggal dia sendirian ya di kamar?" selidik Chika.
"Enggak sayang. Ada Haris, dia lagi nemenin Kie mainan, katanya gak bisa tidur. Ini kamu masak apa?Kok cuma goreng nugget?"
"Iya mas. Stok bahan bakunya habis. Aku cuma nemu nugget sama sosis aja. Kalau aku masak semua, besok bibi gak ada makanan. Makanya aku cuma gireng beberapa aja buat Kie."
"Oh, yaudah deh."
"Eh iya mas, selama ini bibi kalau mau makan gimana mas?" Chika mulai penasaran. Lagian bangun rumah kok deket hutan. Gak ada tetangga ,gak ada tukang sayur apalagi warung. Tega banget sih kamu mempekerjakan bibi sama beberapa security disini?"
"Oh itu, kan aku sudah bilang. Ini rumah sengaja aku bangun biar kalau aku menemukan kamu, istriku yang tukang kabur ini gak bisa pergi pergi lagi. Dan kalau masalah bahan pangan, seminggu sekali Haris kesini buat kasih untuk makan mereka semua. Mungkin kemarin Haris lupa belanja, gara gara sibuk mau ngurus nikahannya sama Maya itu," jawab El.
Chika segera mematikan kompornya. Mengangkat nugget dari penggorengan lalu membalikkan badan dan menghadap suaminya.
"APA MAS?" Chika memelototi El dengan tatapan tajam.
"Apanya yang apa sayang?" tanya El heran.
"Itu soal Maya dan Om Haris. Mereka beneran nikah?"
"Iya sayang. Bulan depan mereka nikah."
"Ya Tuhan. Aku ikut seneng, gak nyangka gak cuma aku yang dapat suami gara gara perjanjian kita dulu. Ternyata Maya juga. Besok boleh ya mas aku ketemuan sama Maya sebentar. Aku kangen banget sama dia," bujuk Chika.
"Hmm, boleh tapi ada syaratnya," El memajukan bibirnya. Sudah pastilah ,Chika bisa mengerti maksud ucapan suaminya.
Mata Chika terpejam, tinggal beberapa centi lagi pesawat bibir El mendarat ke landasannya eh benalu datang lagi.
"Mama, papa," Kie berteriak dari jauh. Spontan Chika mendorong tubuh El hingga jatuh tersungkur ke lantai.
"Auu, Chika. Kenapa kamu dorong aku," protes El.
__ADS_1
"Maaf maaf mas. Itu ada Kie mas. Nanti kalau Kie lihat gimana," jawab Chika sambil mengulurkan tangannya. Mencoba membantu El bangkit dari lantai.
"Aisshh.. Gagal lagi gagal lagi," El mendesis kesal.
Hah, untung saja El dan Chika sudah kembali berdiri pada posisi mereka. Sesaat kemudian Kie sudah datang bersama Haris.
"Mama ,papa." Suara nyaring itu terdengar semakin dekat.
"Iya Kie. Mama sama papa disini," seru Chika.
Kie datang. Wajahnya di tekuk dengan bibir dikucir.
"Mama sama papa pasti lama," protes Kie.
"Itu Kie. Tadi mama sama papa ..."
"Bos kecil, mama sama papa itu," sahut Haris sambil menahan tawa.
"STOP TALKING RIS!!" gertak El. Ia tahu Haris mau meracuni Kie dengan pikiran kotornya. Dan El tidak akan mau mengulangi kesalahannya yang kedua. Membiarkan Haris bicara yang nantinya membuat Kie akan melontarkan seribu pertanyaan yang akan membuat dia dan Chika bingung untuk menjawabnya.
Haris langsung diam sambil menundukkan kepalanya. Kalau El sudah marah, siapa yang mau berani melawan. Daripada cuti nikahnya dicabut, mending nurut aja deh. Pikirnya.
"Sini Kie," ucap El sembari berjongkok dan melebarkan kedua tangannya.
"Iya lari sini."
Kie berlari menuju tangan yang siap mengangkat tubuh kecilnya. Ekor mata Chika meneteskan air mata. Empat tahun mereka terpisah, namun ikatan batin antara bapak dan anak ini begitu terasa.
"Non Chika," panggil Haris. Mata Chika yang semula melihat pemandangan haru antara Kie dan El beralih pada Haris.
"Iya om, ada apa?"
"Dapat salam dari Maya non. Katanya kalau ada waktu dia pengen ketemu sama non Chika."
"Aku juga kangen sama dia om. Sampaikan padanya, besok aku mau bertemu dengannya ya om."
"Iya non, nanti saya sampaikan."
"Eh iya om, katanya mau nikah ya sama Maya?"
"Iya non," jawab Haris malu malu.
__ADS_1
"Emmh, empat tahun gak ketemu dia sekarang dia kayak gimana ya om? Apa badannya tambah kurus? Soalnya kan dia pacaran sama Om Haris yang pelitnya minta ampun," ucap Chika jujur. Disamping El tertawa kecil, rupanya bukan hanya dia saja yang mengira Haris pelit. Istrinya pun sama.
Tak terima dengan penilaian kedua bosnya, tangan Haris melambai lambai. Ya memang kalau sama keluarganya El dia pelit ,tapi kalau sama calon istri gak pelit juga kali.
"Eitss,jangan salah non. Besok kalau non Chika ketemu Maya pasti kaget. Badannya ,uhuii cicuitt..,bohay. Apalagi ininya (Haris memegang dadanya sambil menaik turunkan kedua alisnya) berisi banget non," jawab Haris.
"Ah masak sih om."
"Iya non, lihat aja besok pas ketemu. Non bakal kaget. Itu tandanya susunya cocok non," Chika bingung sambil mengernyitkan dahinya. "Gak nyambubg banget sih omongan si om," batinnya.
"Bukan Maya yang nyusu kamu Ris. Tapi kamu yang nyusu dia. Gimana gak gede ,tiap hari kamu sesep terus," sahut El yang semakin membuat tambah bingung dengan pembicaraan kedua laki laki berotak kotor ini.
Haris dan Chika langsung menatap tajam ke arah El.
"Nyusu? Sesep? Maksudnya apa sih mas? Kok aku jadi bingunh sendiri," tanya Chika menyeledik.
"Waduh sepertinya aku salah bicara nih," batin El. Kedua bola matanya langsung mengarah ke Haris. Dilihatnya Haris sedang memalingkan wajahnya sambil mebgusap usap mukanya sendiri.
"Arghh bos El. Bisa di siram pakai minyak panas kalau sampai non Chika tau gaya pacaranku sama sahabatnya. Ember banget sih mulut Pak El. Belum pernah ngerasain di cor semen apa tuh mulut," Haris menggerutu sendiri sambil komat kamit kayak mbah dukun.
"Mas, ayo jawab. Siapa yang nyesep dan nyusu?" Chika memukul pundak suaminya namun arah matanya tertuju pada Haris.
"Oh itu sayang. Maksudnya Haris itu punya langganan susu segar dan Maya tuh kalau minum suka di sesep gitu. Kamu itu seneng banget kepo sama urusan Haris dan Maya sih. Mending kita makan di meja makan, kasihan Kie kayaknya udah laper gitu." El berusaha mengalihkan pembicaraan. Senjatanya cuma Kie untuk lari dari cecaran pertanyaan istrinya.
"Bener gitu om?" tanya Chika kembali.
"Eh iya non. Besok kapan kapan saya ajak non Chika ke susu langganan saya. Gimana?" tawar Haris. Namun El rupanya salah mengartikan lagi ucapan Haris. Dia pikir Haris mau menyusu Chika. Mata El sudah memerah, rasanya ingin memukul kepala Haris biar tidak bisa berpikir mesum tentang istrinya.
"Boleh om," jawab Chika semakin membuat mata El membulat.
Sadar kalau bosnya salah paham, Haris berpikir kabur adalah jalan satu satunya.
"Udah ya Pak El, non Chika , bos kecil saya mau tidur dulu. Selamat malam," pamit Haris yang langsung ngacir pergi sebelum tambah panjang nanto urusannya.
"Iya om."
"Iya uncle," jawab Kie. "Papa ,mama ayo makan. Kie udah laper," ucapnya lagi.
"Iya sayang. Mas Ayo, ngapain kamu ngeliatin om Haris."
"Oh iya sayang kita ke meja makan," El merangkul pundak Chika sambil menggendong Kie.
__ADS_1
Sambil berjalan, pikiran El masih memikirkan tentang ucapan Haris. "Awas kamu Ris, kalau berani mikir mesum lagi soal istriku, akan kubuat kamu jadi duda dalam waktu sehari," gumam El dengan rasa kecemburuan tak beralasannya.