
"Chika, lihat saya. Apa ada kebohongan dari mata saya?" El menarik dagu Chika, menatap matanya secara intens.
"Saya.. Saya.. Saya gak bisa mas."
Jueedaaar...
Harapan El musnah sudah. Tangan yang tadi menempel di dagu Chika ia tarik kembali. Rasa malu bercampur kecewa memenuhi seluruh isi hatinya.
El berdiri, memalingkan wajahnya dari hadapan Chika. Rupanya ciuman balasan Chika tadi malam, tak berarti apa apa baginya.
"Lupakan saja perkataan saya barusan. Tapi perjanjian kita akan tetap berjalan. Kamu tidak lupa bukan?" ujar El.
Namun saat kakinya hendak melangkah, Chika menarik tangan El kembali.
"Ada apa lagi," El rasa sudah tidak ada yang perlu di bicarakan lagi. Lebih baik dia pergi ke kantor untuk mengobati rasa patah hatinya.
"Saya belum selesai bicara mas."
"Yaudah bicara aja, saya dengarkan. Tapi jangan terlalu lama, saya masih banyak pekerjaan dikantor. Bukan hanya mengurus kamu yang selalu merepotkan saya," El kembali bersikap dingin. Toh Chika juga sudah menolak lamarannya, buat apa dia bersikap manis. Itu semua gak akan merubah keputusannya. Pikirnya!
Chika mencoba bangun dari tidurnya, lalu duduk di tepi ranjang. Tak lupa ia juga meminta El untuk duduk disampingnya, tapi sayang El justru menolaknya.
"Mas, tolonglah duduk sebentar," rengek Chika.
El mengusap wajahnya kasar. Malas sekali ia duduk disamping wanita yang jelas jelas tidak menerima cintanya. Tapi daripada Chika terus merengek, apalagi dengan memasang tampang melasnya itu membuatnya menuruti permintaan Chika.
"Sekarang saya sudah duduk. Kamu mau bicara apa?" El bertanya kembali tanpa menatap muka orang yang ia ajak bicara.
"Mas, lihat kesini. Kamu gak mau lihat wajah cantik calon istri kamu?" ujar Chika.
"Hmmm." El masih enggan menoleh.
"Hah apa calon istri maksudnya?" batin El.
Secepatnya El menatap Chika. Apa maksud calon istri? Bukankah ia tadi sudah di tolak?
"Maksud calon istri apa ya? Jangan kasih harapan palsu," ketus El.
Chika melebarkan senyumnya. Melihat El bertingkat seperti ini, membuatnya menahan tawa dalam hati.
"Makanya menghadap saya dulu, nanti saya jelasin. Kalau diajak ngomong itu natap wajah orangnya. Pernah sekolah gak sih," gerutu Chika.
"Sudah ya Chika, gak usah bertele-tele, tinggal bilang aja. Saya kasih waktu 10 detik buat bicara, gak bicara saya pergi," ancam El.
Chika masih saja diam, sembari mengamati laki laki yang ada disampingnya. Lelaki yang dulu begitu ia benci.
__ADS_1
"Sepuluh, sembilan, delapan, tujuh, enam, lima, empat...," El menghitung mundur setiap detik waktu yang ia berikan untuk Chika.
Hingga detik terakhir, Chika masih saja belum bicara.
"Sudah saya mau pergi kerja. Saya paling gak suka ada orang yang suka mengulur waktu saya!" satu kalimat terakhir diucapkan El sebelum ia pergi.
"Aku bersedia mas," teriak Chika.
El kembali menoleh ke belakang, melihat Chika yang tersenyum ke arahnya.
"Bersedia? Apa yang kamu bicarakan?" tanya El.
"Lah mas El tanya apa tadi?"
"Tanya kamu mau gak nikah sama saya?"
Baru saja berkata, El berlari dan langsung menggendong tubuh Chika.
"Itu tandanya?" El berusaha memastikan kembali apa yang baru saja ia dengar.
"Iya mas, saya mau. Saya mau menikah dengan kamu!!"
El menggendongnya Chika, memutar mutar tubuhnya dalam pelukan.
"Mas, mas, turunin aku. Kepalaku masih pusing," protes Chika.
"Hahahaha, aku lupa sayang. Maaf ya," El kembali menaruh Chika di atas ranjangnya dan menangkup wajahnya.
"Hmmm."
Tanpa aba-aba, El mencium bibir yang selalu membuat olahraga jantungnya.
Hingga lima menit kemudian, Chika yang sudah merasa kebas. Ia lalu melepaskan tautan di bibir mereka yang bersatu.
El mengusap sisa air di bekas bibir Chika, menatapnya dan mengecupnya lagi dan lagi. Sungguh bibir bocah yang selalu mengeluarkan kata kata yang membuatnya selalu kesal, kini berubah menjadi bibir yang membuat dirinya kecanduan untuk terus menciumnya.
"Arghh, mas El gak capek apa ciuman gini terus. Ternyata punya pacar yang lebih tua, nafsunya lebih menggelora. Baru ciuman aja selama ini, gimana malam pertamanya?" batin Chika saat El masih ******* bibir kecilnya.
Setelah merasa cukup puas meluapkan rasa cintanya, El melepaskan tautan bibirnya. Apalagi Chika sudah tak mengimbangi permainan lidahnya. Ya capek kali, hampir sepuluh menit ciuman.
El tersenyum, wajah tampannya seolah meluluh lantahkan kemarahan Chika akan sikap El barusan.
"Chika, ini nyata kan?" tanya El kembali. Ia masih belum yakin, karna yang ja tahu Chika sudah menolaknya.
"Ya iya mas. Kalau saya bohong, mana mau saya dicium kamu selama tadi."
__ADS_1
"Jangan bicara seformal itu sama calon suami," protes El.
"Iya."
"Terus kenapa tadi kamu bilang tidak di awal?"
"Siapa yang bilang gak. Tadi itu aku mau bilang, enggak nolak. Eh kamu udah main ngambek aja. Padahal aku mau bikin kamu deg degan, lah kok malah aku sendiri yang deg degan lihat kamu marah dan mau pergi gitu aja."
Wajah Chika begitu menggemaskan bagi El. Apalagi saat mulutnya mengkerucut, raya pengen menyosor lagi itu mulut.
El segera menarik tangan Chika, menggenggam kedua tangannya, dan memegang pipinya yang memar karna ulah om dan tantenya.
"Apa ini masih sakit?" tanya El sembari mengelus pipi Chika yang memar.
"Sedikit. Tapi udah gak kerasa kok mas. Karna jujur aku bahagia banget, ternyata perasaanku gak bertepuk sebelah tangan," ujar Chika.
"Calon istriku pinter merayu juga rupanya. Mulai sekarang ada aku di samping kamu. Dan gak akan ada yang bisa menyakiti kamu lagi. Apalagi om dan tante kamu. Dan untuk luka ini, akan aku balas seratus kali lipat."
"Sudah mas, gak usah. Gimana pun mereka tetap saudara mama dan papaku. Aku mohon jangan ya," Chika mencoba meminta El untuk tidak berbuat hal buruk pada om dan tantenya.
"Tapi.."
"Please mas," Chika mencium bibir El sekilas, ia tahu jika itu senjata ampuh untuk merayu El.
Cup...
Sayangnya El malah menarik tengkuk lehernya dan memperdalam ciuman mereka lagi. Sepertinya kesalahan jika Chika melakukannya tadi. Niat hati merayu, eh malah membangkitkan kembali gelora hati yang sudah padam.
Beberapa saat kemudian, Chika mendorong tubuh El dan segera melepaskan bibirnya.
"Mas udah dong, capek!" keluh Chika.
"Hahahaha, iya iya. Yaudah sekarang aku mau ke kantor dulu, nanti malam kita candlelight dinner ya. Aku ingin membuat moment moment terindah sebelum pernikahan kita."
"Iya mas? Memang moment apa? Jangan jangan...."
"Lihat saja nanti. Aku pergi ke kantor dulu. Kamu istirahat, jangan lupa makan dan minum obat. Ingat sayang, siap siap buat nanti malam. Siapkan stamina kamu ya," El mencium kening Chika sebelum pergi lalu bergegas keluar dengan senyuman yang sumringah.
Chika masih saja terdiam mematung. Bingung maksud perkataan El tadi.
"Stamina? Mas El mau ngapain? Apa iya dia mau minta...ahh.. Kenapa gak sabar sih. Kan habis nikah juga akan melakukannya,"umpatnya dalam hati.
Bersambung...
Apa ya yang akan dilakukan Mas El sama Chika nanti malam? Next episode ya kakak reader 😘
__ADS_1