
Satu minggu berlalu, di sebuah perusahaan besar El kembali bertemu dengan Papa angkatnya. Ingin rasa hati menyapa sang papa, namun tuan Aristya sama sekali tak menatap dirinya. Bahkan juluran tangan El pun tak di terima oleh papanya.
Kini didalam ruang meeting, baik tuan Aristya maupun El sama sama beradu presentasi di depan Mr. Jackson. Segala kemampuan mereka kerahkan untuk memenangkan tender besar ini.
Hingga di akhir meeting, Mr. Jackson mempercayakan tender besar ini kepada perusahaan El.
"Yes," ucap Haris sembari memeluk bosnya. "Kita menang bos," ucap Haris kembali.
"Iya Ris. Kita memenangkannya," jawab El.
Setelah Mr. Jackson keluar. Tuan Aristya bersama asistennya menghampiri El dan juga Haris.
"Selamat. Saya bangga dengan hasil presentasi anda. Anda memang layak memenangkan tender besar ini," ucap Tuan Aristya sembari mengulurkan tangannya.
"Papa, terima kasih pah," jawab El menyambut baik uluran tangan papanya.
"Anda lupa jika saya bukan papa anda. Reza kita pergi sekarang."
"Baik pak," sahut Reza. "Haris, selamat ya. Akhirnya setelah bertahun tahun, kamu bisa menang juga dari saya," ucap Reza sembari menjabat tangan Haris.
"Hahaha, kamu itu mau memuji saya apa menghina saya?" tanya Haris sinis.
"Dua duanya," jawab Reza sambil tersenyum licik.
"Pak El saya permisi dulu," pamit Reza kembali.
"Silahkan," jawab El.
Mata El terus melihat punggung papa angkatnya. Punggung itu yang waktu kecil selalu menggendong tubuhnya, mengajak berputar putar keliling rumah.
"Pah, segitu bencinya papa sama El? Maafkan aku pah, jika ambisi El memiliki warisan papa dulu menyakiti hati mama dan papa. Tapi jauh didasar lubuk hatiku, aku menyayangi kalian dengan sepenuh hati," batin El.
"Cih, Reza udah sombong, songong lagi," ucap Haris penuh emosi. Mata El pun langsung beralih kearahnya.
"Bedanya sombong sama songong memangnya apa Ris? Bukannya artinya sama?" tanya El heran.
"Ya artinya sama pak. Tapi tulisannya kan beda," Haris membuat El geram dengan jawabannya.
"Ya kalau itu saya juga tau Ris. Tulisan sombong dan songong itu beda."
"Nah makanya, kenapa bapak tanya tadi?"
"Sudah ya Ris. Daripada kita berdebat, lebih baik kita rayakan kemenangan kita ini. Kamu hubungi Clara, suruh dia pesan catering untuk makan siang seluruh karyawan besok ya. Kita adakan acara makan bersama di aula kantor."
"Baik pak. Sisanya makanan besok boleh saya bawa pulang kan pak?" tanya Haris.
"Buat apa?"
"Buat di kasih ke calon mertua pak."
"APA?? Kamu tega kasih makanan sisa ke calon mertua kamu Ris?"
__ADS_1
"Bukan tega pak tapi irit. Kalau beli kan mahal. Lagian besok saya sisihkan dulu buat mereka dan Maya pak. Boleh ya pak?"
"TERSERAH!!" jawab El sembari berjalan pergi meninggalkan Haris.
"Makasih Pak El," teriak Haris. Ia lalu bergegas mengejar El yang terlebih dulu mendahuluinya.
****
Hari demi hari berlalu, dan kini sudah bulan ke empat di tahun ke empat Chika meninggalkan dirinya. Belum ada perkembangan mengenai keberadaan Chika. Namun El tetap tidak menyerah, ia terus mencari tahu dimana istri dan anaknya berada sekarang.
Di sebuah kontrakan kecil, Chika tengah hidup bahagia bersama Kie, Putra semata wayangnya. Chika sendiri belum berani pergi ke makam orang tuanya. Ia takut jika dirinya nanti bertemu dengan El dijalan lalu El akan mengambil Kie darinya.
Sudah sebulan Chika bekerja sebagai pelayan warung makan di dekat terminal. Sedangkan Kie, dia sudah terbiasa tinggal dirumah sambil menonton tivi sendirian. Chika setiap jam 12 siang akan pulang untuk mengirim makanan buat Kie.
Hari itu seperti biasa Chika berangkat bekerja, sedangkan Kie berada dirumah.
"Kie, mama berangkat kerja dulu ya. Nanti siang mama pulang buat kirim makanan buat Kie. Kie mau apa?" tanya Chika sembari menciumi pipi embul Kie.
"Ikan ya mah," jawab Kie.
"Iya, nanti mama bawain Ikan goreng. Rumahnya mama kunci ya Kie, dan ingat pesan mama jangan keluar rumah lewat jendela. Didalam aja ya, nonton tivi kalau gak main mobil mobilan. Terus kalau Kie ngantuk bobok ya."
"Iya mah."
****
Di perusahaan Civano..
"Siapa ya bos?" tanya Haris.
El menaikkan kedua bahunya. "Paling Clara Ris. Masuk," titah El.
"Permisi Pak El, ada yang ingin bertemu dengan anda," ucap Clara.
"Siapa?"
"Saya pak," Reza datang tiba tiba dari arah belakang.
"Kamu!!" Haris berdiri sembari menunjuk rival lamanya.
"Haris duduk," titah El.
"Tapi bos," protes Haris.
"Duduk! Clara kamu boleh keluar. Dan tolong tutup pintunya."
"Baik Pak," jawab Clara sembari berjalan keluar lalu menutup pintu ruang kerja El.
Setelah pintu tertutup, Reza menunduk hormat pada El.
"Sore Pak El," sapa Reza.
__ADS_1
"Sore Za. Silahkan duduk."
"Terima kasih pak."
Haris menatap kesamping, dimana rival terberatnya selama ini sedang duduk di sebelahnya. Namun Reza tak menanggapi tatapan Haris. Karna sedari dulu, Reza tak pernah menganggap Haris sebagai rivalnya.
"Ada apa kamu kemari Za?" tanya El.
"Nyonya sakit keras di rumah sakit pak. Dan beliau selalu memanggil nama bapak. Tuan Aristya memerintahkan saya untuk kemari. Tolong ikut saya ke rumah sakit bersama saya pak. Kasihan nyonya Sarah. Beliau selama ini begitu rindu dengan Pak El," ucap Reza.
El terdiam. Dirinya tak menyangka jika mama angkatnya begitu merindukan dirinya. Dan ternyata kerinduan El juga dirasakan mamanya.
"Baik saya akan ikut bersama kamu," ujar El.
"Terima kasih pak," jawab Reza dengan tersenyum.
"Pak, biar bapak saya antar saja. Saya gak yakin si kutu kupret ini berkata jujur. Siapa tahu ada udang dibalik selangkang," sahut Haris hingga membuat mata El dan Reza sama sama melotot bingung. Tak mengerti dengan perkataan Haris.
"Maksud kamu udang dibalik batu ya Ris," El berusaha membenarkan peribahasa yang diucapkan Haris.
"Enggak pak. Kalau udang di balik batu udah biasa. Sekarang yang lagi ngehits itu ada udang dibalik selangkang," jawab Haris kembali.
Ingin rasanya Reza menertawakan Haris. Ia hanya menutup mulut dengan tangannya. Tidak enak juga kan, nanti dipikir ngetawain Haris, masalah lagi deh.
"Pak El kok betah ya punya asisten geblek kayak gini. Gak ada cool cool nya jadi asisten. Udah gitu di otaknya cuma cuan aja," gumam Reza sambil melirik ke arah Haris.
"Apa kamu lirik lirik, naksir saya ya?" tanya Haris dengan sadis.
Reza menggelengkan kepalanya. "Enggak saya masih normal keles."
Jengah dengan perdebatan kedua asisten yang tak pernah akur, dengan segera El melerai mereka.
"Sudah sudah. Ris, bukannya saya gak mau kamu antar. Tapi kamu kan mau fitting baju pernikahan dengan Maya di butik kan? Apa kamu lupa?" ucap El.
"Enggak lupa pak. Tapi saya ke butik habis magrib kok pak. Jadi saya bisa antar Pak El ke rumah sakit dulu. Saya mau memastikan jika ucapan kutu kupret ini benar dan gak mengada ada," jelas Haris.
"Cih, kamu pikir saya mau menculik Pak El?" sahut Reza sembari menatap Haris tajam.
"Sudah ya sudah. Saya capek lihat kalian bertengkar. Reza biar saya ikut mobil Haris saja. Yang penting saya datang ke rumah sakit buat ketemu sama mama kan?"
"Baik pak. Kalau itu mau bapak. Kalau begitu saya permisi pak. Oh iya nyonya di rawat di rumah sakit Cahaya Kasih," ucap Reza.
"Oke Za. Sampaikan ke papa saya akan kesana. Silahkan kamu duluan, nanti saya susul."
"Baik pak."
Sesaat setelah kepergian Reza, El bersama Haris menuju rumah sakit untuk memenuhi panggilan papanya.
"Mah, tunggu El ya mah. Pokoknya mama harus sembuh. El akan bawa buah buahan kesukaan mama. El sayang banget sama mama," kata El dalam hatinya.
"Ris, nanti kalau ada toko buah mampir ya. Saya mau beli buah kesukaan mama."
__ADS_1
"Baik pak."