
"Silahkan masuk non," Haris membukakan pintu mobil belakang untuk Chika. Masih dengan perasaan yang kesal, Chika hanya masuk tanpa menjawab ucapan Haris.
Di sampingnya, El melirik sekilas. Perasaannya masih kesal, karna melihat Kie masih pingsan di dalam pelukannya.
"Jalankan mobilnya sekarang Ris," El memerintah Haris dengan tatapan datar.
"Baik pak."
Haris menjalankan mobilnya, meninggalkan perkampungan yang kumuh dan kotor.
"Mas, sini biar Kie aku gendong saja," ucap Chika. Tangannya hendak mengambil Kie dari pelukan El.
"TIDAK!! Aku tidak akan memberikan putra kita pada kamu! Mama macam apa kamu itu yang tega membuat anaknya sakit hingga pingsan. Hati nurani kamu dimana Chika. Kamu ajak dia bersembunyi di dalam lemari. Kamu mau bunuh anak kita, HAH!" teriak El.
Air mata Chika jatuh. Sikap El sama sekali tak berubah. Ia masih kasar dan suka berteriak. Bertindak sesuka hatinya sendiri.
Chika mengusap air matanya. "Hati nurani kamu bilang? Kamu punya kaca gak mas di rumah. Yang gak punya hati itu kamu, demi uang warisan papa kamu nikah sama aku. Gara gara aku tidak mengeluarkan darah di malam pertama kita, kamu kira aku tidak perawan dan wanita murahan. Kamu berpura-pura baik agar kamu bisa mempunyai anak dari aku lalu mengambilnya supaya kamu bisa memiliki harta papa. Jadi siapa yang gak punya hati, aku atau kamu?" teriak Chika.
"DIAM KAMU CHIKA!!" Emosi El meluap. Netranya menatap Chika tajam, tatapan penuh amarah.
Lemas, itu yang dirasakan Chika. Seharian bekerja hingga lembur di warung membuat tubuh Chika melemah. Apalagi jatah makannya sengaja tak ia makan demi bisa membawa ikan Nila untuk Kie.
Kepalanya terasa pusing, matanya berkunang kunang. Chika memijit mijit pelipis alisnya dan tak melanjutkan perdebatannya dengan El.
Melihat gerak gerik Chika, El sudah tahu. Tangannya memegang dari Chika.
"Tubuh kamu panas sayang. Kamu sakit?" tanya El.
"Tidak. Jangan sok peduli," Chika berbohong. Daripada ia harus mendapat perhatian hanya dari belas kasihan.
"Bohong. Jangan keras kepala. Jika memang pusing, bersandarlah di bahuku," titah El. Tangannya mendorong kepala Chika dan menaruhnya di pundak.
Ingin menolak, tapi rasa sakit di kepalanya memaksa Chika menuruti perintah El. Kepala Chika kini berada di pundak kanan suaminya. Dan perlahan matanya Chika pun terpejam.
Garis wajah bahagia El terlihat jelas. Tak kalah bahagia, Haris hanya senyum senyum sendiri mendapati pemandangan yang selama empat tahun tak pernah ia saksikan.
"Akhirnya semua berakhir indah," umpat Haris.
"Ris, kamu sudah kabari Daniel untuk segera datang dan kamu tidak lupa mencantumkan alamatnya kan?" tanya El.
"Sudah dong pak. Rebes semua."
"Rebes?" El mengernyitkan dahinya dan sedikit memicingkan matanya.
"Maksudnya beres pak."
El menggelengkan kepalanya. Semakin hari bahasa Haris seperti anak jaman now. Mungkin efek berpacaran dengan Maya yang berstatus sebagai mahasiswi semester akhir. Pikirnya.
"Mama.. Mama," mata Kie perlahan terbuka. Perlahan ia mengamati wajah yang sedang menggendong tubuhnya.
"Kie, kamu sudah bangun?" tanya El.
Wajah Kie mulai memerah. Matanya juga mulai berkaca kaca. Dan Huaa.., tangis Kie pecah. Dia pikir sekarang dirinya sedang di culik.
"Hussst kamu jangan nangis, nanti mama bangun," bujuk El namun malah membuat Kie semakin menangis kencang.
"Huaa.... Mama..., Mama..., " teriak Kie yang terus memanggili mamanya.
Mendengar suara tangisan Kie, membangunkan Chika dari tidurnya.
"Kie, ada apa sayang? Kenapa kamu menangis?" Chika langsung mengambil Kie dari pelukan El.
__ADS_1
"Mama, mama. Kie takut mama."
"Takut sama siapa sayang. Gak usah takut, ada mama disini," ucap Chika. Tangannya mengelus elus rambut Kie, berusaha menenangkan Kie dari tangisnya.
"Om itu siapa mah?" tanya Kie sambil menunjuk wajah El dengan jari telunjuk kecilnya.
Chika bingung, harus menjawab apa pada putranya. Apa sudah saatnya dia jujur pada Kie.
Chika memijat keningnya sejenak. "Dia itu.. emhh..dia..."
"Saya ini papa kamu," El langsung menjawab pertanyaan Kie. Dia ingin putranya tahu jika dia adalah papanya. Siapa tahu Kie tidak akan takut lagi padanya.
"Bohong. Om bohong. Papa Kie udah mati. Iya kan mah?" jawab Kie dengan polosnya.
Semakin bingung. Perasaan Chika berkecamuk menjadi satu. Ditambah lagi, El menatapnya, seakan meminta penjelasan atas apa yang diucapkan Kie.
"Chika...," kata El dengan suara penuh penekanan.
"Iya kan mah, papa Kie udah mati ya," sahut Kie.
Sungguh kedua laki laki di depannya membuat Chika pusing tujuh keliling. Haris hanya menjadi pendengar setia. Lumayanlah dapat tontonan gratis persis di sinetron.
"Itu mas..,itu Kie...," bibir Chika bergetar. "Aku harus jawab apa? Kalau bilang tidak, Mas El akan marah dan akan mengambil Kie dari aku. Tapi kalau bilang jujur pada Kie, pasti Kie yang marah karna aku sudah membohongi dirinya selama ini. Argghh..,kenapa aku sendiri yang malah kalang kabut begini," Chika tengah berperang sendiri dengan batinnya.
"Mah," Kie kembali menatap wajah mamanya sambil mengusap usah pipinya.
"Om ini bohong, papa Kie kan sudah mati," jawab Chika.
Ucapan Chika bagaikan petir di siang bolong. Menyambut tubuh El, dan membuat hati El hancur saat itu juga.
"CHIKA!!" seru El.
El mencengkram lengan Chika. "Katakan pada Kie jika ini bohong, cepat Chika. Dia anakku, dia berhak tahu siapa papa kandungnya," El berseru, namun Chika masih mencoba bersikap tenang dan tak mau menghiraukan ucapan laki laki yang masih berstatus sebagai suaminya.
"Non Chika ini suka banget sih bikin Pak El naik darah. Gak sadar apa suaminya udah mau menginjak kepala empat. Kalau kena serangan jantung kan dia bisa jadi janda beneran," gumam Haris dari kursi kemudinya.
"Cepat jelaskan pada Kie dan tarik ucapan kamu tadi. Bilang pada dia kalau ucapan kamu tadi salah. Cepat Chika!!" teriak El.
"Kenapa mas? Ucapanku benar bukan? Aku tidak pernah punya suami. Kamu menikahiku hanya karna..," belum selesai bicara El mencium bibir Chika di depan Kie dan Haris.
Haris menelan salivanya, pertunjukan Rangka dan Cinta kembali dilihatnya. Mata Chika langsung melotot. Tak percaya dengan segala perlakuan El padanya.
Kesal, Chika pun langsung mendorong tubuh El dengan satu tangannya.
"Kamu gila mas," ucap Chika.
El tersenyum licik. "Makanya cepat jelaskan yang sebenarnya pada Kie. Atau kamu mau aku meminta hak ku pada kamu di depan Kie?" bisik El tepat di telinganya.
Bulu kuduk Chika seketika berdiri. Ia kenal betul dengan sifat suaminya yang tak pernah main main dengan ucapannya.
"Oke oke, aku akan jelaskan pada Kie. Tapi pelan pelan," jawab Chika kesal.
"Yaudah cepat," titah El.
Chika menarik nafas lalu mengeluarkannya perlahan. Ia memegang kedua pipi Kie yang tengah sibuk memainkan rambut panjangnya.
"Kie," panggil Chika.
"Iya mah."
"Dulu mama cerita kalau papa Kie mati kan?" tanya Chika yang langsung diangguki oleh Kie.
__ADS_1
"Nah sekarang, papa Kie udah hidup lagi. Dan om yang di depan Kie itu papa kamu sayang," Chika kembali bersuara dengan lembut. Semoga saja Kie tidak akan marah padanya. Harap Chika.
Kie melepaskan tangannya dan mencoba mengamati wajah El dari pelukan Chika.
"Berarti papa hidup lagi mah?" tanya Kie.
"Iya sayang," jawab Chika dan kembali membuat El melirik matanya tak suka. Sayang, Kie membalas lirikan El tak kalah sinis. Bapak dan anak kini saling beradu tatapan tajam mereka.
Kedua tangan El mengepal. Nafasnya sudah tak beraturan. Ingin marah, tapi khawatir jika putranya semakin takut padanya. "Cih, kapan aku meninggal. Chika awas saja kamu nanti ya. Aku akan menghukum kamu dengan semua yang kamu katakan pada anak kita." batin El kesal. Apalagi sekarang ia melihat Chika sedang tersenyum, seakan puas dengan apa yang ia katakan.
"Berarti om ini setan dong mah?" tanya Kie kembali. Sungguh telinga El menjadi semakin panas mendengar pembicaraan disampingnya.
"Iya. Makanya sekarang Kie jangan panggil dia om tapi papa ya sayang."
"Iya mah. Papa setan. Iya kan mah?" tanya Kie dan langsung diangguki oleh Chika.
"APA??" El berteriak. "Papa setan? Kamu kira aku setan Chika!!" ucap El kembali.
"Sudahlah mas. Yang penting kamu dipanggil papa kan?"
"Tapi.. "
"Papa Setan jangan marahin mama dong. Nanti kalau dibikin mati lagi sama Tuhan gimana?"
El meremas tangannya. Sudahlah daripada berdebat dengan anak dan istrinya lebih baik dia mengalah.
"Terserah kalian. Yang penting kalian bahagia," ucap El.
Chika dan Kie sama sama tertawa. "Apa tubuhnya masih panas?" tanya El sambil memegang kening Kie.
"Udah gak terlalu mas," jawab Chika.
"Sini, biar papa yang pangku kamu."
"Gak mau!" jawab Kie.
"Kie, gak boleh begitu sama papa ya sayang. Anak baik gak boleh berani sama orang tua. Ayo Kie duduk sama papa sana," ucap Chika.
Kie mengangguk. "Iya mah."
Setelah Kie berada di pelukannya, El menghujani banyak ciuman ke wajah putranya. Melepas rasa rindu yang sudah lama terpendam.
Air matanya satu per satu menetes. Perjuangannya untuk mencari anak dan istrinya tidak sia sia. Rasa haru dan bahagia begitu terasa di dadanya.
"Papa sayang sama kamu," ucap El.
"Tapi Kie gak sayang sama papa setan," jawab Kie yang langsung disambut gelak tawa Chika dan Haris.
"Sabar mas, semua butuh waktu," bisik Chika.
"Iya aku tahu. Dan untuk kamu, apa kamu sudah bisa memaafkanku Chika?" tanya El membuat Chika seketika terdiam.
"Entahlah mas. Kasih aku waktu."
Sebelah tangan El menggenggam tangan Chika.
"Aku janji akan merubah sikapku dan kita akan bahagia dengan keluarga kecil kita sayang," ucap El namun hanya dibalas Chika dengan senyuman.
Melihat pemandangan Kie dan El, tangis haru terpancar dari mata Chika.
"Mas, apa kamu bisa bersikap lembut seperti ini terus? Apa aku masih bisa percaya sama kamu mas?" Chika memalingkan wajahnya. Mengusap air yang jatuh membasahi kedua pipinya.
__ADS_1