Terjerat Pernikahan Di Atas Kertas

Terjerat Pernikahan Di Atas Kertas
Obat Perangsang


__ADS_3

Disaat El sedang menikmati waktu berdua dengan Chika, ponselnya bergetar. Sekilas ia menengok ke layar ponsel.


"Oh mama, bentar ya mah. El titip Kie dulu. Jarang jarang El punya waktu berdua seperti ini dengan Chika. Karna tiap dirumah, Kie selalu saja mengganggu," batinnya sambil mengurai senyuman licik.


"Mas, kenapa kok senyum senyum gitu?"


Deg..


El memutar otaknya. Alasan apa yang sekiranya membuat Chika tidak tahu jika mereka sedang di cari papa dan mamanya. Sudah bisa dipastikan, Kie kembali ingin mengganggu waktu berdua mereka lagi.


"Mas," panggil Chika kembali.


"Oh enggak sayang. Aku seneng aja bisa bersama kamu lagi. Apa kamu tahu, selama empat tahun kamu hilang aku seperti orang yang sudah tidak punya tujuan hidup. Cuma Haris selalu meyakinkan aku jika suatu saat bisa menemukan kamu. Dan lihat sekarang, aku benar benar menemukan kamu dan membawa kamu kembali pulang."


Blush..


Kedua pipi Chika langsung memerah. Entah malu, atau kesal mendengar gombalan suaminya. Secara, empat tahun ia membesarkan Kie tanpa ada El disampingnya.


Mengingat semua itu, Chika menundukkan kepalanya. Jasa Bu Asih tidak akan terlupakan.


"Chika sayang, kamu kenapa? Aku tahu ada yang mengganggu pikiran kamu bukan?" El menaikkan dagu Chika, melihat mata Chika yang mulai mengembun.


"Aku hanya ingat ibu," jawabnya singkat dengan raut kesedihan di wajahnya.


"Ibu? Maksud kamu mama dan papamu? Habis ini kita ke makam mama dan papa. Kemarin aku sudah berjanji akan menemani kamu kesana."


"Kalau itu pasti mas. Hanya aku juga rindu sama Bu Asih, ibu kandung kamu mas. Aku sungguh masih tak percaya, kamu ternyata anak ibu yang dicari itu. Dan bukan anak mama Sarah."


El menarik tubuh Chika masuk kedalam pelukannya. Mereka berdua sama sama larut dalam suasana yang bisa dibilang sedih namun juga bahagia.


Sayang, pelukan itu tak bertahan lama. Setelah Haris melihat bosnya malah sibuk bermesraan dikantin.


"Dasar Pak El. Pasti dia sengaja gak angkat telpon tuan dan nyonya biar bisa berduaan sama non Chika disini. Kok ada ya bapak yang gak mau kalah dari anaknya sendiri," Haris bergumam sejenak sebelum ia melanjutkan langkahnya menuju meja kursi El dan Chika.


"Ehem ehem," suara deheman Haris membuat El dan Chika langsung menoleh ke sumber suara.


"Ris, sedang apa kamu disini?" tanya El.

__ADS_1


"Iya om, ada apa?" sambung Chika.


Haris menggaruk garuk kepalanya. "Dicari bos kecil pak," ucapnya singkat.


Bola mata Chika membulat. Sibuk menghibur El ia malah melupakan Kie begitu lama bersama oma dam opanya.


"Ya Tuhan, aku lupa. Ayo mas cepetan balik ke kamar mama. Pasti Kie sedang nyariin kira dari tadi," ucap Chika.


"Lah memang sudah dari tadi non. Beberapa kali tuan, nyonya dan saya menelpon Pak El tapi gak diangkat. Sekarang bos kecil lagi nangis di kamar nyonya. Kejer banget nangisnya non," sela Haris.


Tatapan Chika langsung melirik suaminya tajam. Sekarang dia tahu apa yang membuat suaminya dari tadi senyum senyum sendiri.


"Mas kamu itu ya. Selalu aja gak mau kalah dari Kie," kata Chika sambil berlalu melewati suaminya.


Plak..


El langsung memukul pundak Haris dengan keras. Ucapannya barusan pasti sudah membuat istrinya kesal. Apalagi Haris melapor jika Kie sedang menangis akibat menunggu mama dan papanya yang tak kunjung kembali.


"Dasar bodoh," desis El kesal.


"Aduh, bapak. Kok pundak saya dipukul sih," protes Haris.


"Pak El... Tunggu pak.. Tunggu sebentar," seru Haris.


El menghentikan laju jalannya sebentar, membuat tubuh Haris menabrak tubuh El yang berhenti mendadak.


Bugh...


"Aduh, bapak ini gimana sih," protes Haris.


"Gimana? Apanya yang gimana? Saya kan berhenti karna kamu yang menyuruh saya berhenti. Masih mau protes? Apa kamu sudah siap untuk tidak.."


"Eh jangan dong bos. Saya gak marah kok. Mau bos El menghajar saya pun saya gak akan marah. Yang penting jangan cabut cuti nikah saya ya bos."


"Hmmm. Tadi kamu kenapa memanggil saya?" tanya El penasaran.


"Eh itu bos," Haris kembali menggaruk garuk kepalanya yang tak terasa gatal.

__ADS_1


"Itu apa? Mau kasbon buat uang saku honeymoon kamu? Atau mau minta tambahan cuti nikah?" hardik El.


"Itu semua iya sih bos. Tapi saya punya ini (Haris mengeluarkan 1 sachet tablet obat)."


El memicingkan sebelah matanya. Bertanya tanya pasti ada ide gila di otak asisten mesumnya ini.


"Ini apa Ris?" El mengambil obat di tangan Haris sambil mengamati dengan jeli. Namun tidak ada keterangan obat apa yang sedang di bawa Haris.


"Hehehe, itu obat perangsang bos."


"APA?" kedua bola mata El seperti sudah mau copot. Buat apa Haris memberinya obat itu? Dan buat apa dia mempunyai obat itu.


El menarik kerah Haris. Apa maksud Haris memberinya obat seperti itu.


Tatapan tajam El bagai singa yang ingin memangsa Haris. Bisa jadi bukan hanya cuti yang di batalkan, atau kasbon yang tidak di acc. Sudah pasti pernikahannya dengan Maya pun akan dijamin gagal total.


"CEPAT KATAKAN RIS. BUAT APA KAMU KASIH INI KE SAYA!" ucap El dengan otot otot di leher yang terlihat jelas.


"Tunggu pak, tunggu. Jangan marah dulu. Ini saya kasih buat bapak biar permainan non Chika seimbang dengan bapak. Kata bapak nanti malam pasti non Chika tidak akan kasih jatah kan? Lah kalau minumannya dicampur obat ini, bapak akan tetap dapat jatah. Gimana?" goda Haris.


El hanya manggut manggut. Sambil memikirkan kembali ide gila asisten Haris yang terkenal sebagai raja bokep.


"Boleh, boleh. Siniin obatnya. Tapi gimana sama Kie?" tanya El yang kembali bingung dengan hatinya.


"Bos kecil ya Pak El? Duh, ita saya lupa pak."


"Aiishh..," El mengembalikan obat itu kembali ke tangan Haris. "Simpan buat kamu saja. Kamu yang lebih butuh untuk malam pertama itu kamu. Saya tahu, Maya pasti tidak sanggup meladeni kucing jantan yang sedang birahi macam kamu Ris."


Gleekk..


Haris menelan slivanya. Niat hati mencoba menggoda bosnya malah kena bom bunuh diri.


El menyunggingkan senyum liciknya pada Haris sebelum pergi.


"Ris, Haris. Bentar lagi mau nikah punya stok obat begituan, buat apa coba. Pasti selama ini kamu sudah sering memberinya pada Maya. Dan kalian sudah sering melakukannya. Tapi saya salut sama kamu, karna kamu berani mempertanggung jawabkan apa yang sudah kamu lakukan," ucap El dalam hati.


Haris masih menundukkan kepalanya. Akhirnya rahasianya dengan Maya terungkap tanpa ia sadari.

__ADS_1


"Yah, aku tahu si bos mikir apa. Sudahlah mau tahu juga gak papa. Toh minggu depan aku kan udah resmi menikahi Maya," umpat Haris.


__ADS_2