
Matahari mulai terbit, sinarnya masuk lewat balik jendela kamar El dan Chika. Mata El pun perlahan terbuka, melihat kesamping ranjangnya, melihat Chika sudah tak berada disana.
"Kemana dia? Apa dia sudah bangun? Atau memang dia tidak tidur? Ahh sudahlah buat apa aku memikirkan wanita kotor itu. Lebih baik aku bersiap untuk berangkat ke kantor," batin El yang mulai menginjakkan kakinya dan bergegas menyambar handuknya.
"Mas, minum dulu," Chika menyapa, membuat El langsung menoleh ke belakang. Dilihatnya Chika membawakan segelas susu putih hangat di tangannya.
"Minum saja sendiri, aku lagi tidak ingin minum susu. Dan kenapa kamu tidak membangunkanku. Kamu tahu, aku ada janji penting dengan klien yang selama ini sulit aku dapatkan," El membentak Chika dengan tatapan yang sinis. Sorot matanya mengisyaratkan kebencian yang dalam.
"Mas, kamu kenapa sebenarnya?" tanya Chika heran dengan mata yang mulai berkaca kaca.
"Aku? Pikir aja sendiri. Sudah, aku lagi malas berdebat. Aku mau mandi. Dan cepat kamu siapkan baju dan jas kerja aku. Jangan lupa siapkan juga tas kerjaku," titah El.
Bagai tertusuk duri yang tajam, hati Chika kali ini sudah tak sanggup lagi menerima semua perlakuan El. Dulu mungkin ia masih bisa menahan air matanya yang jatuh, dan hanya menangis di dalam kamar sendirian. Tapi kini ia sudah tak sanggup lagi menahan air yang mulai mrnggenangi bola matanya.
Tes..
Satu persatu air mata Chika jatuh. Dengan segera ia mengusapnya. Ia tak mau jika hal ini akan semakin memperburuk hubungan antara mereka.
Chika membalikkan badannya, sesegera mungkin ia menghapus air yang membasahi pipinya. "Iya mas, aku siapkan," ujar Chika.
Tanpa menjawab, El melanjutkan lagi langkah kakinya untuk ke kamar mandi.
Ingin rasanya Chika menangis kencang. Melepaskan segala penat di hatinya.
Dan tanpa terasa, terdengar suara pintu terbuka.
"Mana bajuku," tanya El.
"Ini mas. Aku pamit ke dapur dulu ya mas. Mau mengembalikan gelas ini. Tadi susunya sudah aku minum."
"Hmmm."
"Oh iya mas, lusa kamu bisa menemaniku ke kampus untuk daftar ulang?"
"Maaf gak bisa. Aku sibuk," jawab El ketus.
"Tapi mas.."
"Chika stop. Kamu ini sudah menjadi istri. Jangan bersikap childist seperti ini. Aku ini seorang pengusaha yang jadwal kerjaku padat. Jadi jangan terlalu sering menuntutku untuk selalu disamping kamu. Mengerti," bentak El.
__ADS_1
"Iya mas."
"Besok aku minta tolong Haris untuk mengantarmu."
"Iya mas," jawab Chika.
Sejak kejadian pagi itu, Sikap El semakin memburuk. Ia sering pulang larut malam dan tak memperdulikan Chika yang setiap hari selalu menunggunya di kamar.
Beberapa kali Nyonya Sarah dan Tuan Aristya berusaha mencari tahu dan mengintrogasi dirinya, namun Chika memilih untuk menutupinya dan berkata jika hubungan rumah tangganya baik baik saja.
Setiap hari, Chika setia menunggu El yang pulang hingga larut malam. Ya memang gak pulang sendiri, ia selalu bersama Haris. Tapi setiap Chika menanyakan pada Haris, Haris pun juga hanya diam. Karna sebenarnya Haris pernah sekali menanyakan pada El tapi kenyataannya El justru menghapus cuti tahunannya. Membuat Haris tak mau ikut campur dalam urusan rumah tangga bosnya.
Malam ini tepat satu bulan usia pernikahannya dengan El. Seperti biasa, Chika menunggu El, menantinya pulang dari kantor. Ia sudah mempersiapkan kue dan kado untuk El. Hingga akhirnya terdengar suara mobil yang berhenti di halaman rumah.
Chika menengok lewat jendela dan melihat Haris sedang membukakan pintu mobil untuk El.
"Akhirnya pulang juga kamu mas," batin Chika sambil tersenyum dan melihat ke cermin untuk memastikan penampilannya sudah sempurna.
Sesaat setelah El turun, Haris langsung tancap gas meninggalkan kediaman Aristya. Baru saja membuka pintu, El di kejutkan oleh kehadiran papanya dari belakang.
"Baru pulang El?" tanya papa.
"Eh iya pah."
"Kerja pah. Perusahaan ada sedikit masalah, jadi aku harus turun tangan untuk mengeceknya sendiri."
"Bohong. Papa sudah tanyakan sama Reza dan perusahaan sedang baik baik saja. Bahkan saya Chika wisuda kamu bilang pergi ke perusahaan cabang, dan ternyata kamu gak kesana kan? Ada masalah apa di rumah tangga kamu dan Chika sebenarnya?" El dibuat mati kutu oleh ucapan papanya. Alasan apa yang harus dia berikan pada papanya.
"Itu pah. Sebenarnya..."
Baru saja ia ingin membicarakan masalah yang mengganggu pikirannya pada sang papa. Tiba tiba Chika datang, dengan senyuman yang lebar.
"Mas El. Akhirnya kamu pulang mas," ujar Chika sembari mengambil tas kerja El dari tangannya.
"Iya sayang. Kamu belum tidur?" El melingkarkan tangannya ke pinggang Chika, dan mengecup keningnya di depan papanya
Cup..
Chika seperti terbang melayang. Sudah lama El tak bersikap semanis ini dengannya. Ia berpikir sejenak, mungkin karna ini sebulan usia pernikahan mereka, jadi El kembali bersikap hangat dengan dirinya.
__ADS_1
"Belum mas, oh iya ayo kita ke kamar. Ada yang ingin aku tunjukkan sama kamu," ucap Chika.
"Apa?"
"Makanya ayo mas," Chika menarik tangan El. Mereka lalu berpamitan pada tuan Aristya untuk masuk ke kamar mereka.
Melihat hubungan antara Chika dan El yang harmonis, ketakutan tuan Aristya pun hilang. Mungkin saja ia sudah salah mengira dan berpikir jika ada masalah di pernikahan Chika dan El.
Sesampainya di kamar, El langsung melepaskan tangan Chika dari genggamannya.
"Apa yang mau kamu tunjukkan," tanya El dengan tatapan yang datar.
Chika segera mengambil kue yang ada di bufet kamarnya.
"Happy anniversary one month usia pernikahan kita sayang," sebuah roti berukuran mini Chika berikan tepat di hadapan El. Dengan sedikit senyum, Chika sedikit berhasil membuat hati El tersentuh.
"Makasih ya sayang," jawab El dengan tangan yang membelai rambut Chika.
"Sama sama sayang."
El menarik dagu Chika, mendekatkan bibir mereka untuk bersatu. Chika mulai memejamkan matanya, menantikan bibir El yang mendarat di bibirnya.
Tinggal beberapa milimeter lagi bibir mereka berdua bertaut, El kembali mengurungkan niatnya. Kebencian itu kembali hadir, menghilangkan begitu saja rasa cinta dan mengubahnya menjadi emosi yang menggebu gebu.
Bruakk..
El menghempaskan kue yang berada di tangan Chika, hingga seketika mata Chika kembali terbuka lebar.
"Mas, kenapa kamu buang?" tanya Chika dengan mata yang sudah berkaca kaca.
"Gak aku buang, tadi tersenggol tanganku. Lain kali gak usah pakai acara beginian, kayak anak masih pacaran aja. Ingat suami kamu itu bukan ABG, yang harus pakai acara perayaan untuk memperingati tanggal jadian atau tanggal pernikahan," ujar El.
"Tapi mas.."
Lagi dan lagi, belum selesai bicara El begitu saja pergi dan meninggalkan Chika. Hingga ia selesai mandi, El sama sekali tak mengajak Chika bicara dan langsung tertidur dengan membelakangi tubuh Chika.
Entah sudah berapa kali buliran bening itu keluar dari mata Chika. Kenapa dengan El? Mana laki laki bernama Elvano yang selalu membuat dirinya nyaman?
Bantalnya mulai basah dan karna sudah lelah Chika tidur dalam tangisan.
__ADS_1
Sadar jika istrinya sudah masuk ke alam mimpi, El kembali membalikkan tubuhnya. Mengamati wajah Chika yang mulai membengkak.
"Aku ingin lihat seberapa kuat kamu bertahan hidup denganku. Dan jangan harap kamu bisa lepas dari penderitaan ini. Karna ini belum ada apa apanya dengan penderitaan yang kamu berikan sama aku, Chika. Kamu sudah membuat aku jatuh cinta sama kamu. Dan karna cinta ini aku tersiksa. Aku harus menyakiti hati kamu, padahal aku sendiri juga tersakiti. Kenapa Chika, kenapa kamu harus berbohong. Jika saja kamu jujur dari awal, aku juga akan menerima kamu apa adanya. Tapi, apa yang aku dapat. Sebuah kebohongan yang menyakitkan," ucap El dalam hati sembari mengelus pipi istrinya yang sudah tertidur lelah.