Terjerat Pernikahan Di Atas Kertas

Terjerat Pernikahan Di Atas Kertas
Kertas Putih


__ADS_3

"Ris, tolong berhenti di toko bunga depan ya. Saya mau membelikan bunga mawar putih untuk Chika. Dia kan suka sekali bunga itu," titah El.


"Baik pak."


Kesalahan yang sudah dibuat El, membuat dirinya menyesal. Mungkin bunga ini sebagai tanda maaf darinya untuk Chika, ya meskipun ini masih tidak ada apa apanya di bandingkan dengan luka yang sudah ia buat untuk Chika.


Bunga kini sudah di tangan, serta kebenaran tentang sesuatu yang di ragukan El sudah terjawab. Bibir El tak pernah mengerucut. Senyuman lebar selalu nampak di wajahnya sembari mengingat kebodohannya kemarin.


"Nanti saat sampai di rumah, aku akan buat malam kedua, ketiga, keempat dan seterusnya untuk kamu sayang tanpa ada rasa marah dan kecewa. Rasanya aku sudah tak sabar menghabiskan malam ini bersama kamu," ucap El dalam lamunannya.


Mobil yang di kemudikan Haris sudah masuk ke halaman rumah. El langsung turun, dan segera ingin memberikan bunga yang sudah ia beli untuk istrinya.


"Selamat siang mas El," sapa Bi Ida.


"Siang bi, Chika dimana?"


"Non Chika ya mas? Sepertinya ada di dalam kamar sih mas, karna dari tadi bibi gak lihat non Chika."


"Kalau gitu saya ke kamar dulu ya bi. Oh iya bi, tolong buatkan bubur buat istri saya ya bi. Dan antar ke kamar kalau sudah matang."


"Baik mas."


El bergegas masuk ke dalam rumah. Tak sabar ia ingin menemui istri yang sempat ia kira membohongi dirinya.


"Pak El," Haris berseru, menghentikan langkah kaki El.


"Hmmm, ada apa?" El menoleh sejenak. Ia sudah bisa menebak apa yang ingin dikatakan Haris.


"Apa saya..."


"Sana pulang. Saya tahu kamu mau tanya itu kan?"


"Hehehe, iya pak. Kok bapak tau aja. Mau kencan pak sama Maya. Tapi boleh gak pak saya makan di sini dulu. Ya biar irit dikit pak."


"Terserah kamu. Ada lagi yang mau kamu bicarakan tidak? Jangan ganggu waktu saya sama Chika."


"Gak ada pak. Saya juga tidak pengen ganggu waktu bapak. Yang ada nanti bapak lagi yang ganggu waktu kencan saya sama Maya."


"Cih, jangan geer. Kalau saya ganggu waktu kamu ya wajar, kan saya gaji kamu. Kalau kamu ganggu waktu saya, itu yang gak wajar. Memang kamu bisa gaji saya," ujar El yang langsung membuat Haris terdiam seribu bahasa. Mana mungkin ia bisa menggaji seorang CEO sekelas El.


Haris menggaruk kepalanya, sambil melihat punggung El yang sudah berjalan masuk ke dalam rumah. Sedangkan Bi Ida cekikan melihat wajah Haris.


"Makanya mas, jangan berlagak mengancam Mas El. Dibalik omongannya bingung kan mau jawab apa? Untung aja Mas El itu sabar menghadapi Mas Haris," ucap Bi Ida.


"Aiishh bibi. Malah belain Pak El. Andai bibi jadi saya, pasti akan menganggap saya orang tersabar sejagat raya," jawab Haris dengan penuh percaya diri.


"Ya belain Pak El lah mas. Kan dia yang gaji saya. Kalau mas Haris yang gaji saya,baru saya belain Mas Haris."


"Udah ah bi. Hari ini saya selalu kalah berdebat dengan siapapun. Mungkin gara gara saya belum sarapan sampai jam makan siang. Bibi tadi masak apa? Saya mau numpang makan disini. Tadi bibi dengar sendiri kan, saya sudah mendapat ijin dari Pak El."


"Iya iya mas. Bibi denger. Sisa sarapan pagi ada nasi goreng seafood sama telor ceplok. Kalau masakan makan siang ada rendang sama daun pepaya. Soalnya non Chika tadi pagi minta di buatin rendang."


"Wah enak tuh bi. Daripada saya makan rendang di luar mahal, kalau disini kan gratis. Nanti biar saya irit juga kan kalau pergi sama pacar saya bi."


"Hmmm, terserah mas Haris ajalah. Kalau mau makan ayo ikut bibi ke dapur sekarang."


"Oke bi," Haris merangkul pundak Bi Ida sembari berjalan seiringan menuju dapur.


****


El hendak menaiki anak tangga menuju ke kamarnya dan Chika. Tiba tiba, ada seseorang yang menepuk pundaknya.


"Dari mana kamu El?" tanya nyonya Sarah.

__ADS_1


"Mama, bikin kaget aja. Dari luar beli bunga buat Chika mah."


"Romantis banget kamu El. Tapi tunggu bukannya hari ini Chika ke dokter ya. Tadi kamu gak mengantarnya ke rumah sakit?"


"Enggak mah."


Plakkk..


Geram, Nyonya Sarah memukul punggung El begitu keras. Dirinya merasa kesal, kok bisa istri lagi sakit malah disuruh berangkat ke dokter sendirian.


"Mah, kok mukul aku sih," gerutu El.


"Untung cuma mama pukul. Tangan mama ini udah gatal pengen jewer kamu juga. Orang istri lagi sakit kok malah disuruh berangkat sendiri ke dokter. Udah gitu minta tolong Pak Amin lagi buat nemenin Chika. Padahal hari ini kan kamu libur El. Mama itu gemes banget sama kamu. Beruntung banget kamu punya istri kayak Chika. Sabarnya seluas lautan," balas mama.


Mendengar ucapan mamanya, El pun terdiam. Memang benar apa yang di katakan mamanya. Chika sungguh seorang istri yang sabar menghadapi segala perlakuan buruk yang ia ciptakan. Tak pernah protes, tak pernah mengeluh. Justru dia malah menutupi hal yang membuat hatinya sakit dari mama dan papa mertuanya.


"Mah, udah ya marah marahnya. El mau ke kamar. Mau nemuin Chika sama kasih bunga ini buat dia."


"Hmmm, cepat sana. Terus ajak dia turun buat makan siang."


"Kayaknya El sama Chika gak turun buat makan siang mah. Tubuh Chika kan masih lemes, biar dia makan di kamar aja. Tadi aku udah minta Bi Ida buat bikinin bubur."


"Ya sudah kalau begitu. Mama juga mau ke kamar dulu. Jangan lupa, perhatiin istri kamu. Karna yang mama dan papa lihat, semenjak menikah kamu tidak pernah mempunyai waktu buat Chika."


"Iya mah. Mulai sekarang El akan mengutamakan Chika lebih dari apapun."


"Bagus. Minggu depan lebih baik ajak Chika bulan madu. Kalian kan belum bulan madu kan? Biar perusahaan Haris yang handle dulu."


"Iya mah. Itu soal gampang. Udah dulu ya mah, aku mau ke kamar. Mau menemui istri kesayanganku dulu."


"Dih gombal. Mesti sakit dulu ya Chikanya, baru bisa buat kamu perhatian sama dia."


"Mama...," seru El, membuat mamanya seketika tersenyum penuh kemenangan.


El melanjutkan kembali langkah kakinya. Satu per satu anak tangga ia naiki.


"Sayang," El berseru mencari cari keberadaan Chika.


Namun sepertinya Chika tak berada di kamar. El pun keluar kembali dari kamar. Mengelilingi seluruh isi rumah, namun Chika masih belum ketemu.


El melacak keberadaan Chika lewat ponselnya, tapi keberadaan ponsel Chika menunjukkan dirinya sedang ada di rumah. Beberapa kali El menghubungi nomor istrinya, namun hasilnya tetap saja tidak diangkat.


"Kemana kamu sayang?" batin El sembari melanjutkan pencarian Chika ke seluruh ruangan.


Dari kejauhan, Haris melihat bosnya begitu nampak gusar. Ia berjalan mendekati El, mencari tahu ada masalah baru apa yang sedang dihadapi El sekarang.


"Pak El, anda sedang mencari siapa?" tanya Haris.


"Chika Ris. Dari tadi saya cari gak ketemu. Di kamar juga gak. Semua pembantu juga udah saya tanyai, tapi gak ada yang melihat Chika. Kemana dia ya Ris. Apa dia marah gara gara saya gak mau menemani dia ke rumah sakit tadi," ucap El.


"Atau jangan jangan Non Chika pergi dari rumah pak," jawab Haris namun El malah memukul pundaknya.


Plakk..


"Kamu kalau bicara jangan ngawur. Saya yakin Chika masih ada dirumah, karna berdasar GPS di ponselnya menunjukkan dia ada dirumah."


"Lah tapi kok gak ada tanda tanda kehidupan dari non Chika ya pak. Atau non Chika pingsan pak."


Jeedeerr...


Wajah El memucat. Gara gara ucapan Haris, sekarang ia malah tambah panik.


"Ris, bantu saya cari Chika. Saya takut omongan kamu benar. Chika kan lagi sakit, jangan jangan dia jatuh pingsan dan gak ada yang tahu," perintah El.

__ADS_1


"Baik pak. Tapi kita kan bisa cek ke cctv pak. Terakhir kali non Chika pergi kemana."


"Benar juga kamu Ris. Ada cctv. Kita ke ruang kerja saya sekarang ya. Kita cek, Chika sedang dimana."


"Baik pak."


El dan Haris berjalan menuju ke ruang kerja El. Namun tiba tiba di tengah jalan Pak Edo berjalan mendekati menghampiri mereka berdua.


"Selamat siang Pak El," sapa Pak Edo.


"Siang pak, ada apa?" tanya El.


"Ini pak, saya mau mengembalikan ponsel non Chika. Saya tadi menemukannya di pos securtiy. Saya baru tahu saat ponsel ini berbunyi, dan saya lihat bapak yang sedang menghubungi non Chika," ujar Pak Edo sembari menyerahkan ponsel milik Chika pada El.


Sekarang El semakin bingung dan panik. Kok bisa ponsel Chika ada di pos. Pantas saja, saat dirinya mengecek keberadaan Chika dia ada dirumah. Tapi yang jadi pertanyaan El saat ini, kemana istrinya itu pergi?


"Kalau begitu saya permisi ya pak untuk kembali ke pos," pamit Pak Edo.


"Tunggu Pak Edo. Apa kamu lihat Chika keluar dari rumah?" tanya El. Sekarang ia mulai memikirkan kembali perkataan Haris sebelumnya. Mungkin saja Chika kabur karna perilaku El padanya.


"Enggak itu pak. Malah yang saya lihat non Chika tadi masuk ke dalam rumah. Sesaat setelah Pak El dan Pak Haris keluar."


"Ya sudah, terimakasih buat infonya. Se karna kamu bisa kembali ke pos."


"Baik pak."


Sesaat setelah kepergian Pak Edo, El menoleh kearah Haris. Paham dengan maksud El, Haris menganggukkan kepalanya. Mereka berjalan cepat menuju ruang kerja El.


Namun pertunjukan yang mereka tonton di layar laptop milik El membuat El terduduk lemas do kursi sedangkan Haris hanya menggeleng.


"Chika dengar pembicara kita tadi Ris. Dan sekarang dia pergi meninggalkan saya," El mengusap kasar wajahnya.


"Berarti benar dugaan saya pak. Non Chika kabur."


"Sekarang cepat kita cari dia Ris," El langsung beranjak dari kursinya. Tak mau membuang waktu dengan berdiam diri saja.


"Pak tunggu," panggil Haris. Saat ia melihat dari cctv sesaat sebelum pergi Chika membuang sesuatu ke dalam sampah.


"Ada apa Ris. Jangan bertingkah hal yang membuat saya marah lagi. Sekarang lebih baik kita segera mencari dan menemukan Chika."


"Iya pak, sebentar pak. Bapak tunggu sini dulu," ujar Haris yang langsung pergi mengambil sesuatu yang di buang Chika di sampah depan ruang kerja El.


"Ada apa sih Ris. Kamu mau kemana?" teriak El namun Haris rak menghiraukannya dan berjalan keluar dari ruang kerja El.


Penasaran, El pun menengok kembali ke layar cctv.


"Apa yang di buang Chika. Kenapa dia menangis sambil memegang perutnya. Apa jangan jangan...," batin El.


Haris kembali. Ia datang sambil membawa kertas putih yang sudah di buang Chika.


"Ris, jangan bilang.."


"Iya pak, non Chika hamil. Ini hasil dari laboratorium rumah sakit," Haris memberikan kertas hasil lab milik Chika ke tangan Haris.


Dueer..


Hati El semakin teriris. Seakan gelombang tsunami menerjang tubuhnya. Ia kembali mengingat ingat ucapannya dengan Haris tadi sebelum pergi ke rumah Daniel.


"Pak sepertinya non Chika mengira bapak hanya menginginkan anak dari dia untuk mendapatkan warisan. Sesuai persyaratan dari tuan Aristya."


"Iya. Pasti dia dengar semuanya. Ayo Ris, kita harus segera cari Chika. Saya gak mau sesuatu buruk terjadi dengan anak dan istri saya. Ayo ris," titah El sambil menarik lengan Haris.


"Baik pak."

__ADS_1


Didalam mobilnya, baru sekali selama ia bekerja ikut El, Haris melihat kegundahan hari El. Menangis dan terus menangis. El seperti tidak tenang. Ia menengok ke segala arah, mencari keberadaan Chika.


"Ini pak yang saya takutkan. Bapak kehilangan non Chika gara gara bapak salah menduga dan menilai non Chika. Apalagi sekarang non Chika lagi hamil. Saya gak tahu gimana perasaan bapak sekarang. Yang jelas, saya bisa melihat ketakutan, kepanikan dan kecemasan dari diri bapak. Semoga saja kita segera menemukan non Chika ya pak. Dan saya berjanji, saya akan membantu bapak sampai non Chika ketemu," Haris berbicara dalam hati sembari melihat El yang duduk dibelakang dari kaca depan kemudinya.


__ADS_2