Terjerat Pernikahan Di Atas Kertas

Terjerat Pernikahan Di Atas Kertas
Permak Rambut


__ADS_3

Saat berada di mall, El langsung mengajak Chika untuk masuk ke salon langganan keluarganya. Dan ia meminta kapster disana untuk mempermak Chika.


Walau hatinya berat, Chika hanya bisa pasrah atas apa yang dilakukan El. Ia pun menurut, dan duduk di kursi. Sedikit demi sedikit, potongan rambutnya mulai jatuh ke lantai.


"Oh no, rambut panjangku," batin Chika sambil rambutnya di lantai.


Rambutnya yang panjang sepunggung kini tinggal sebahu,hingga membuat wajahnya terlihat lebih fresh. Rambut depannya pun diberi poni yang menambah kesan imut di diri Chika.


"Sudah selesai mbak, tuh kan cantik banget. Kelihatan lebih bersih dan aura kecantikannya tambah terlihat kan?"


"Gitu ya mas, eh maaf mbak. Beneran cantik kan?"


"Iya. Duh jangan panggil eike mas atau mbak dong. Panggil aja eike sist,oke."


"Iya mbak, eh maaf mas, duh salah lagi sist maksudnya."


"Nah gitu, yuk eike bawa ke bos El. Pasti si bos langsung terpesona lihat kamu deh."


"Iya sista," jawab Chika.


"Hahahaha sista, bagus juga panggilannya. Hayuk buruan kita temui bos El. Eike pengen lihat reaksi dia saat lihat kamu nanti."


"Hayuk sist," ucap Chika sambil berjalan mengekor di belakang kapster tadi.


Sambil berjalan, mulut Chika komat kamit berharap apa yang dikatakan kapster tadi tidak akan terjadi. Ia tidak mau jika nanti tuannya itu akan benar benar terpesona dengan penampilan barunya.


"Semoga aja tuan El gak akan cinta beneran sama aku. Bisa bisa aku jadi tawanan dia seumur hidup," batin Chika.

__ADS_1


El yang sibuk dengan ponselnya tidak sadar akan keberadaan Chika dan karyawan salon yang sudah berdiri di hadapannya.


"Ehem ehem, bos lihat deh cantik kan mbaknya."


"Hmmm, sama aja buat saya."


"Dih si bos, lihat dulu kek. Bagus gak jadi potongan saya."


"Iya, mana sih mana?" jawab El sambil mematikan ponselnya dan menatap lurus kedepan.


Mata El tak berkedip melihat potongan rambut Chika yang membuat dia terlihat semakin cantik. Namun El tetap berusaha bersikap tetap bersikap dingin dan acuh.


"Gimana bos, bagus kan?"


"Hmmm, biasa aja. Kalau orang udah jelek mau diapa apain juga sama aja. Chika cepat kamu ke kasir dan bayar pakai kartu kredit yang saya berikan sama kamu kemarin. Saya tunggu kamu di luar ya," ucap El.


"Sist, anterin aku dong ke kasir."


"Iya mbak. Bos eike balik kerja dulu ya. Sampai ketemu lain waktu ya bos."


"Hmmm, Chika cepat udah hampir jam 8."


"Iya iya tuan," jawab Chika.


Setelah membayar ke kasir, Chika menyusul El yang sudah menunggu dirinya di luar. Mereka pun melanjutkan berbelanja kebutuhan Chika. Hingga saat semua sudah terbeli, El mengajak Chika untuk makan di sebuah restoran.


Disana tanpa sengaja El bertemu dengan dokter Daniel sahabatnya.

__ADS_1


"El, sedang apa kamu disini?" tanya Daniel.


"Ya makanlah Niel. Kamu sudah dari tadi?"


"Belum, baru datang juga. Oh iya kata Bayu kamu akan datang ke pesta ulang tahun putrinya. Dan dia bilang kamu akan datang dengan calon istrimu, apa yang dimaksud itu dia?" ucap Daniel sambil menunjuk Chika.


"Eh tunggu, aku seperti tidak asing dengan gadis ini. Bukankah dia yang waktu itu aku periksa di rumah kamu El?" tanya Daniel kembali.


"Hmmm, benar itu dia. Dan sekarang aku dan dia sedang menjalin hubungan. Dan kami juga akan segera menikah. Iya kan Chika sayang," ucap El sambil melingkarkan tangannya ke pinggang Chika.


"Eh iya om," jawab Chika.


Daniel mengernyit heran dengan panggilan Chika pada El. Pandangan mata Daniel terarah ke mata El berharap ia akan mendapat penjelasan dari El.


"Om? Masak manggil pacar sendiri om sih? Benar kata Bayu, calon istrimu ini menggemaskan ya El. Udah gitu cantik lagi. Kalau kamu sudah putus dengannya, jangan lupa kabari aku ya El."


"DANIEL!!!" gertak El sambil memperlihatkan deretan gigi putihnya.


"Bercanda El. Aku bukan Bayu yang tega merebut kekasih sahabatku sendiri. Aku hanya bercanda El, ayolah jangan terlalu serius jadi orang."


"Hmmm, tapi bercandamu tidak lucu. Lebih baik kamu cari tempat lain saja. Jangan mengganggu waktu kencan kami, iya kan sayang?"


"Iiiii....iiii....iya sayang," jawab Chika terpaksa karna kakinya saat ini sedang diinjak oleh El.


"Apa apaan sih. Panggil sayang sayang segala,. Ihhh anjay banget sih si om," gerutu Chika.


Pertemuan Daniel dan Chika yang kedua ini mulai menimbulkan perasaan yang aneh di hati Daniel. Saat meninggalkan meja El dan Chika, Daniel selalu memandangi wajah Chika yang memang cantik dan menarik dari mejanya.

__ADS_1


"Andai saja aku yang lebih dulu mengenalnya, pasti aku bahagia. Meski masih SMA, tapi dia tidak terlihat seperti anak SMA pada umumnya. Gercep juga si El. Aku kira dia masih belum bisa mengingatkan Tania, ternyata dia sudah bisa move on dari Tania," batin Daniel sambil meminum kopinya dengan arah mata yang tak berpaling dari pandangannya terhadap Chika.


__ADS_2