Terjerat Pernikahan Di Atas Kertas

Terjerat Pernikahan Di Atas Kertas
Pinky Boy


__ADS_3

Selama perjalanan ke rumah Maya, Chika terus saja memandangi Haris sambil senyum-senyum sendiri. Sadar akan pandangan Chika, dalam hatinya Haris saat ini sangat berbunga-bunga. Karna baru kali ini ada wanita cantik yang memandangi dirinya.


"Ehem, kenapa non menatap saya terus? Awas nanti dikira Pak El saya menikung dia," ucap Haris yang berusaha bersikap datar dengan Chika.


Bukan menjawab, Chika malah tertawa mendengar ucapannya.


"Om, om, jangan terlalu pede jadi orang. Aku itu ngeliatin om bukan naksir sama om. Cuma aku mau bilang sesuatu tapi bingung dari mana," ucap Chika sambil menepuk-nepuk pundak Haris.


"Emang non Chika mau bilang apa? Jangan bilang mau menyatakan cinta sama saya? Kalau memang itu, maaf non bukannya saya menolak non Chika. Tapi saya gak enak sama Pak El. Lagipula saya belum cukup punya modal buat nikah non."


"Hahahaha, siapa juga yang mau bilang cinta sama kamu om. Aku tuh tadi mau ngasih tau kalau resleting celana om belum ditutup. Om mau, aku lihat pedang pora om," jawab Chika sembari menutup mulutnya.


Haris seketika panik, dan dengan segera menghentikan laju mobilnya.


"Ya ampun, kenapa non gak bilang dari tadi. Non Chika udah lihat ya?" ujar Haris panik.


"Enggak.. Enggak...,Chika belum lihat om. Cuma lihat warna cd nya aja. Tapi gak lihat bentuknya," jawab Chika.


"Ya sama aja non. Jangan bilang Pak El ya non."


"Hmmm, gampang om. Tapi kasih seratus ribu ya om, Chika gak punya duit."


"Halah cuma seratus ribu. Nanti saya kasih sejuta juga gak papa non."


"Sumpah om? Demi apa?" tanya Chika sambil memelototkan matanya.


"Demi non gak bilang sama Pak El."


"Beres om, yaudah buruan di kancingin om. Keburu terbang lho," ucap Chika hingga membuat wajah Haris memerah.


Haris segera keluar dari mobil. Setelah selesai membenahi resleting celananya ia kembali masuk kedalam mobil.


"Udah om? Masih utuh gak?" tanya Chika sambil tertawa.


"Sudah non jangan bahas lagi. Lebih baik saya segera antar non,karna saya masih ada tugas dari Pak El untuk mencari apartemen buat non."


"Iya deh om, tapi cariin apartemen paling mewah ya om. Yang deket sama sekolah."

__ADS_1


"Hmmm, udah non jangan bicara lagi ya. Saya mau fokus menyetir."


"Iya iya," jawab Chika.


Haris kembali melajukan mobilnya, namun di tengah perjalanan lagi lagi Chika tertawa sendiri hingga membuat Haris menjadi malu.


Beberapa saat kemudian, Sampai lah mobil Haris tiba di depan rumah Maya.


"Non, sudah sampai," ucap Haris.


"Makasih om. Terus mana?" ujar Chika sambil membuka tangannya.


"Apa non?"


"Duitnya lah om, katanya mau kasih aku uang sejuta. Mana? Atau om mau, aku cerita sama tuan, bi Ida...," ucap Chika yang langsung di potong oleh Haris.


"Eh jangan jangan non, iya iya sebentar," jawab Haris yang kemudian memberikan sepuluh lembar uang merah ke tangan Chika.


Mata Chika seketika berbinar. Sudah lama ia tidak memegang uang sebanyak ini.


"Ya ampun beneran nih om. Ikhlas kan?" tanya Chika sembari menghitung kembali uang dari Haris.


"Beres om, kalau gitu Chika turun dulu ya om."


"Iya non, jangan lupa loh non."


"Iya tenang aja. Kalau gitu hati hati ya om, cari apartemen yang paling bagus pokoknya."


"Iya non," jawab Haris.


Baru saja Haris membuang nafasnya, Chika kembali membuka pintu mobil.


"Eh non, ada apa lagi? Ada yang ketinggalan?" tanya Haris yang terkejut dengan kehadiran Chika kembali.


"Enggak cuma mau bilang, warna cd nya imut banget om. Aku gak nyangka kalau om pinky boy juga,hahaha," ujar Chika hingga membuat wajah Haris kembali memerah.


Selesai meledek Haris, Chika kembali menutup pintu mobil dan berlari masuk ke rumah Maya. Sedangkan Haris kembali membuka resleting celananya.

__ADS_1


"Ya Tuhan, bisa bisanya aku lupa memakai celana warna pink. Hancur sudah image ku sebagai cowok dingin. Pasti non Chika akan selalu membahas ini sampai kapanpun," batin Haris yang meratapi kesialannya hari ini.


Dengan hati yang kesal, Haris kembali menjalankan mobil dan melaksanakan perintah El untuk mencari apartemen buat Chika.


**********


Di rumahnya, El yang merasa kesal dan marah pada Haris berusaha menelpon Haris. Namun sayang, nomor Haris tidak aktif.


"Haris, kamu sebenarnya kemana. Gara gara kebodohan kamu, rumah saya di kepung asap. Awas saja kamu Haris, saya akan potong gaji kamu bulan depan," El berkata dalam hatinya sambil mengepalkan kedua tangannya.


Namun tiba tiba ditengah kekesalannya, ponsel El berbunyi. Ia berpikir jika Haris yang menghubungi dirinya, namun pikirannya salah. Ternyata mamanya yang menelpon dirinya saat ini.


"Mama? Ada apa mama telpon? Apa ada masalah dengan perusahaan di Amerika?" batin El.


El berjalan menjauh,agar suara bising dari mesin pemyemprotan tidak mengganggu pembicaraannya dengan mamanya.


"Halo mah, ada apa telpon aku?" ucap El.


"Hai boy, apa kabar?"


"Baik mah. Mama sama papa juga apa kabar?"


"Kami baik El, oh iya mama mau kasih kabar ke kamu kalau minggu depan kami sudah pulang ke Indonesia. Jadi tolong kamu jemput kami di Bandara ya minggu depan." ucap mama Diandara hingga membuat mata El langsung membulat.


"Apa mah? Kok cepet? Katanya masih 3 minggu lagi?" jawab El kaget.


"Kenapa El, kamu seperti tidak suka dengan kepulangan kami."


"Bukannya El gak suka mah, tapi El gak nyangka aja mama sama papa pulang lebih cepat. Memang masalah perusahaan disana udah selesai?" tanya El.


"Sudah El. Kalau kami pulang berarti itu tandanya masalah disini sudah selesai."


"Oh bagus deh mah. Minggu depan El sendiri yang akan jemput mama dan papa di bandara."


"Makasih sayang, kalau gitu sampai ketemu minggu depan ya El."


"Iya mah," jawab El yang langsung mematikan panggilannya.

__ADS_1


Setelah menutup ponselnya, El berusaha memutar otak kembali. Ia mulai menyusun rencana untuk mempertemukan Chika dengan kedua orang tuanya.


"Aku harus segera memberitahu Chika tentang kepulangan mama dan papa. Agar dia bisa menyiapkan mental untuk bertemu mereka. Dan aku harus memastikan kalau Chika tidak terlihat bodoh di depan mereka nanti. Dan Haris, kenapa dia sampai sekarang belum bisa di hubungi. Apa terjadi sesuatu dengan dia?" batin El sambil terus berusaha menelpon asistennya itu.


__ADS_2