
Dua minggu berlalu. Sejak kepulangannya dari hotel, El terpaksa mengikuti kemauan mama dan papanya untuk tinggal di rumah mereka. Itu semua karna Nyonya Sarah dan Tuan Aristya sudah menyiapkan sebuah hadiah rumah untuk dirinya dan Chika, namun sayangnya masih dalam tahap pembangunan.
Hari ini, tepat acara hari wisuda Chika di sekolah. Meski sudah merengek, memaksa El untuk menghadirinya, El tetap menolak dengan keras. Beralasan ada jika ia masih sibuk mengurusi cabang perusahaannya di luar kota.
Sikap El yang semakin hari semakin dingin, membuat hati Chika sakit. Ia selalu menangis, namun tangisan itu hanya ia keluarkan saat di kamar sendirian.
"Mas, apa yang membuat kamu berubah jadi seperti ini. Bahkan setelah sehari pernikahan kita, sikapmu bukannya semakin manis malah semakin acuh sama aku. Aku sungguh berharap kamu datang di hari bersejarah dalam hidupku, tapi urusan pekerjaan jauh lebih penting bagimu daripada aku. Apa salahku mas, kenapa setiap aku tanya kamu hanya diam," Chika menangis sendiri di dalam kamar, sesaat sebelum ia berangkat ke acara wisudanya.
Tok.. Tok.. Tok..
"Chika, ayo kita berangkat sekarang. Papa sudah menunggu di bawah," seru Nyonya Sarah dari balik pintu.
"Iya mah, sebentar lagi. Nanti Chika nyusul kebawah," jawab Chika yang langsung menghapus air matanya, dan menutupinya kembali dengan bedak.
Tak lama kemudian, Chika turun. Ia nampak anggun menggunakan kebaya berwarna hijau daun.
"Cantik sekali kamu sayang. Lihat pah, menantu kita. Cantik sekali bukan?" puji mama.
"Iya mah. Sayang El tidak bisa ikut bersama kita. Anak itu memang sudah keterlaluan. Bisa bisanya di acara penting istrinya, dia masih saja mengurus pekerjaan di kantor cabang," keluh papa.
"Gak papa mah, pah. Chika mengerti posisi mas El. Dia bekerja kan juga untuk kita semua."
"Tapi anak itu sudah keterlaluan sayang. Nanti sepulang dia dari luar kota, mama akan tegur dia. Mama lihat sikap dia juga bukannya membaik setelah menikah, malah semakin buruk. Apa kalian sedang ada masalah?"
"Gak ada kok mah. Mama sama papa salah menilai aja. Meskipun terlihat cuek, tapi Mas El selalu bersikap manis kok mah sama aku. Jadi mama sama papa jangan tegur Mas El ya. Nanti malah kita jadi salah paham."
"Sungguh? Kamu tidak sedang berbohong kan Chika?" Nyonya Sarah sedang memastikan kembali ucapan Chika.
Chika mengangguk pelan dengan sedikit senyum dari bibirnya.
__ADS_1
"Oh baguslah kalau begitu. Berarti kami yang tidak pernah melihat kebersamaan kalian. Sekarang kita berangkat, takut terlambat sampai sekolah kamu," sahut papa.
"Ayo Chika," imbuh mama.
"Iya mah, pah. Ayo," Chika menggandeng tangan mama mertuanya menuju mobil yang sudah di siapkan oleh Pak Amin.
Di dalam mobil, hati Chika sangat perih. Setiap hari ia harus menutupi masalahnya dengan El dari mama dan papa mertuanya. Ia masih ingat jelas pesan mamanya, seluruh apapun suami kamu, sebesar apapun masalah kamu, jangan pernah umur ke orang lain termasuk orang tuamu.
Itulah alasan Chika selalu terlihat baik baik saja di depan keluarga El.
****
Malam harinya, El sudah pulang dari luar kota. Meski datang larut malam, Chika masih setia menunggu dirinya di dalam kamar.
Ceklek..
"Kamu sudah pulang mas?" sapa Chika yang langsung mengambil tas kerja milik El.
"Kenapa kamu belum tidur?" tanya El.
"Aku sengaja menunggu kamu mas. Gimana aku bisa tidur kalau suamiku saja belum pulang," jawab Chika, hingga membuat hati El seperti tersayat pisau. Usahanya seakan sia sia. Chika sama sekali tidak mempermasalakan sikap dan perlakuannya pada Chika.
"Gak usah gombal malam malam gini. Aku mau mandi, cepat siapkan air hangat buat aku," titah El.
"Oke mas,sebentar ya."
Sebelum pergi ke kamar mandi, Chika sekilas mencium bibir El. Membuat El hanya dia terpaku. Meski hatinya ingin membuat Chika hidup tersiksa, tapi tubuhnya begitu merindukan belaian dari Chika.
"Chika, tunggu," seru El. Menghentikan langkah Chika yang langsung menoleh kebelakang.
__ADS_1
"Ada apa mas?"
Tanpa berkata, El menggendong tubuh Chika mengajaknya untuk mandi bersama. Tak hanya mandi, El yang sudah lama tak memberikan nafkah batin pada Chika mengeluarkan segala jurus dan gayanya di dalam bath up.
Tiga jam mereka di dalam sana. Membuat Chika sungguh kuwalahan mengimbangi permainan El. Hingga akhirnya El sudah cukup puas melampiaskan hasratnya. Dan mengajak Chika untuk tidur bersama didalam pelukannya.
"Mas," lirih Chika. Mungkin ini waktu yang tepat untuk berbicara dari hati ke hati dengan suaminya.
"Kenapa?" El berbicara dengan mata terpejam.
"Aku boleh tanya sesuatu?"
"Apa?"
"Kenapa kamu sekarang bersikap jauh lebih dingin mas. Apa yang membuatmu berubah. Kalau aku ada salah, bilang sama aku. Biar aku bisa instropeksi diri."
Mata El yang semula tertutup, kini mulai terbuka. Apa ini saatnya ia menanyakan semuanya pada Chika. Tapi apa dia akan jujur? Percuma juga kalau ditanyakan, mana ada maling mau mengaku.
El merasa di lema. Tapi logikanya masih tetap mengira Chika membohonginya. Buat apa juga ditanyakan. Ia pun memilih untuk tidak membahasnya lagi. Daripada hatinya terus sakit mengingat malam pertamanya yang kelabu.
"Mas, kok gak dijawab. Apa aku ada salah sama mas?" tanya Chika kembali.
"Gak ada. Jadi orang jangan baperan. Sikapku dari dulu sama seperti ini. Sudah ya Chika, besok aku harus berangkat pagi ke kantor. Lebih baik kita tidur. Aku lelah hari ini."
"Iya mas," jawab Chika.
Dalam pelukan El, Chika terus mengamati wajah suaminya. Sesekali ia mengusap wajah El dengan lembut.
"Mungkin benar kata Mas El, aku yang baperan kali ya. Kan emang dari dulu sifat mas El cuek bebek. Toh Mas El gak pernah selingkuh. Dia juga selalu perhatian sama aku, ya meskipun dengan sedikit kasar sih bicaranya. Kan emang gitu gaya bicaranya. Paling gara gara aku sudah menikah dengannya, jadi aku perasaanku gampang sensitif. Sepertinya begitu," Chika berbicara dalam hatinya, sembari menatap El hingga tanpa terasa matanya ikut terpejam do dalam pelukan suaminya.
__ADS_1